NovelToon NovelToon
TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

TARGET JENDERAL BINTANG TIGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN MASA LALU DAN MURKA SANG JENDERAL

Waktu di dalam ruang kerja pribadi itu seakan membeku seketika. Suara detak jam dinding kuno berukuran besar di sudut ruangan terdengar begitu nyaring, beradu dengan debaran jantung Ziva yang bergemuruh keras di dalam dadanya. Bingkai foto kecil bergambar Anindita Mahendra yang retak masih tergenggam erat di tangan kanannya yang gemetar hebat, sementara di hadapannya, Letnan Jenderal Gibran Mahendra berdiri tegak bagai patung es yang siap menghancurkan apa saja.

Gibran melangkah masuk perlahan. Setiap derap sepatu pantofelnya yang menghantam lantai marmer terdengar bagaikan dentang lonceng kematian. Pria itu tidak langsung meneriaki Ziva atau merampas bingkai foto tersebut dari tangannya. Sebaliknya, manik mata hitam sang Jenderal menatap lurus ke arah Ziva dengan sorot yang teramat gelap, dingin, dan menyimpan badai kemarahan yang tertahan di balik garis rahangnya yang mengeras kaku.

"Kamu punya keberanian yang luar biasa untuk melangkah masuk ke ruangan ini, Ziva," suara Gibran mengudara, sangat rendah, berat, dan sarat akan ancaman mematikan. "Dan lebih lancang lagi, kamu menyentuh barang-barang pribadi saya."

Ziva menelan ludah kelat, tenggorokannya terasa kering kerontang. Ia mendongak, mencoba menegakkan dagunya meski lututnya terasa lemas seketika. "Aku... aku tidak sengaja..." suaranya tercekat. Ia melirik sekilas ke arah mangkuk perak tempat kunci cadangan berada, lalu kembali menatap mata Gibran yang kini semakin memangkas jarak di antara mereka.

Gibran berhenti tepat satu langkah di hadapan Ziva. Aroma maskulin khas cendana bercampur ketegangan militer mengepung tubuh mungil gadis itu. Tanpa kata-kata peringatan, tangan kekar Gibran terulur dan mencengkeram pergelangan tangan Ziva dengan cengkeraman kuat namun terukur, memaksa jemari gadis itu membuka dan melepaskan bingkai foto Anindita hingga terjatuh kembali ke atas karpet tebal.

Bruk. Bingkai itu jatuh tanpa suara tambahan, namun retakan di kacanya semakin melebar.

"Kamu sedang mencari jalan keluar?" bisik Gibran tepat di depan wajah Ziva, suaranya berubah serak dan pekat oleh rasa kepemilikan yang gelap. "Kamu mencari kunci untuk melarikan diri dari sisi saya, meninggalkannya begitu saja seperti bayangan di masa lalu?"

Ziva meronta pelan, mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman besi Gibran. "Iya! Aku mau keluar dari tempat ini!" teriak Ziva, keberaniannya tersulut oleh rasa frustrasi yang memuncak. "Aku bukan tawanan perangmu, Gibran! Dan melihat foto wanita itu... aku sekarang mengerti kenapa mantan istri Alm. Om bisa lari terbirit-birit meninggalkan rumah ini! Om adalah monster yang mengekang siapa pun yang ada di dekat Om!"

Kalimat telak itu meluncur begitu saja dari bibir Ziva, membawa serta seluruh amarah yang selama ini ia pendam.

Seketika itu juga, udara di dalam ruangan terasa tersedot habis. Wajah Gibran menggelap sempurna. Kilatan amarah yang membara membakar tajam di balik manik mata hitamnya sebuah reaksi instingtif yang teramat berbahaya ketika masa lalunya yang paling sensitif disentuh secara kasar oleh orang yang paling ia inginkan di dunia ini.

Sebelum Ziva sempat menarik napas, Gibran dengan gerakan kilat menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya, merengkuh pinggang Ziva dengan satu tangan hingga tak tersisa celah udara, sementara tangan yang lain mencengkeram tengkuk Ziva dengan mutlak.

"Jangan pernah berani menyebut nama wanita itu di hadapan saya, Ziva!" bentak Gibran dengan suara rendah yang menggelegar di dalam rongga dadanya, penuh murka yang tertahan di ambang batas. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang masa lalu! Kamu tidak punya hak untuk menghakimi jalan hidup saya!"

Ziva terkesiap, dadanya terhimpit erat di dada bidang Gibran. Air mata ketakutan dan amarah kembali tumpah membasahi pipinya. "Lepaskan aku... Om sakit..." rintihnya tertahan.

Gibran tidak mengendurkan cengkeramannya. Sebaliknya, ia justru membungkam bibir Ziva dengan sebuah ciuman yang kasar, menuntut, dan penuh hukuman. Tidak ada kelembutan di sana yang ada hanyalah letupan emosi yang tak terkendali dari seorang pria yang terbiasa memegang kendali atas segala hal, namun merasa kehilangan arah di hadapan satu-satunya gadis yang berani menantangnya. Ziva sempat memukul dada Gibran dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, namun perlawanan itu sia-sia belaka di bawah dominasi mutlak sang Jenderal.

Ketika Gibran akhirnya melepas ciumannya, napas keduanya memburu tak beraturan. Dahi Gibran bersandar di dahi Ziva, mata pria itu terpejam rapat sejenak untuk meredam gejolak badai di dalam dadanya.

"Dengarkan saya baik-baik, Ziva," bisik Gibran dengan suara parau tepat di daun telinga Ziva. "Kamu boleh membenci saya setengah mati. Kamu boleh menganggap saya monster. Tapi kamu tidak akan pernah bisa keluar dari ruangan ini, dari rumah ini, atau dari hidup saya. Jangan pernah mencoba mencari jalan keluar lagi... karena satu-satunya jalan keluar yang ada di dunia ini adalah bersama saya."

Malam kembali merayap turun di ibu kota, membawa serta gerimis tipis yang membasahi jalanan aspal di sekitar kawasan Menteng dan Dharmawangsa. Di sebuah kafe eksklusif berkonsep tertutup di bilangan Jakarta Selatan, suasana tampak tenang namun sarat akan ketegangan bawah tanah.

Bramantyo Adriana duduk seorang diri di sudut ruangan privat, menyesap kopi hitamnya yang telah mendingin. Di hadapannya, di atas meja marmer hitam, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal berisi dokumen investigasi independen yang baru saja dikirimkan oleh jaringan relasinya di luar negeri.

Pintu bilik privat terbuka perlahan. Seorang pria muda bertubuh atletis dengan potongan rambut rapi ala militer masuk ke dalam ruangan. Ia mengenakan jaket kulit hitam, membawa ransel perjalanan di bahunya, dan memancarkan aura kelelahan bercampur ketegangan yang pekat.

Bramantyo mendongak. Begitu melihat wajah pemuda itu, ia langsung berdiri dari kursinya.

"Aris," panggil Bramantyo dengan suara tertahan.

Aris Mahendra pemuda yang selama ini dikabarkan sedang memimpin penugasan strategis di Eropa Timur menunduk hormat kepada calon mertuanya, lalu memeluk singkat tubuh pria paruh baya itu. Perjalanan panjang dari belahan bumi lain langsung ia tempuh begitu ia mendengar kejanggalan dari laporan keluarga dan hilangnya kontak dengan Ziva selama berminggu-minggu.

"Maafkan saya baru bisa kembali sekarang, Om," suara Aris terdengar berat, rahangnya mengeras menahan amarah. "Konsorsium di sana sempat menahan dokumen kepulangan saya secara sepihak, dan saya baru menyadari ada yang tidak beres setelah pesan-pesan saya ke Ziva sama sekali tidak pernah terkirim."

Bramantyo menunjuk kursi di hadapannya, mempersilakan Aris duduk. Wajah diplomat senior itu tampak kuyu, sarat akan beban berat yang selama ini dipikulnya sendirian.

"Situasinya jauh lebih buruk dari yang kamu bayangkan, Aris," ucap Bramantyo lirih namun tajam. "Ziva bukan sekadar menghilang. Dia disekap. Dan orang yang menyekapnya... adalah paman kandungmu sendiri, Letnan Jenderal Gibran Mahendra."

Aris tertegun di tempatnya. Darahnya mendesak naik ke kepala, membuat manik matanya membelalak lebar tak percaya. "Paman Gibran? Om tidak sedang bergurau, kan? Untuk apa Paman melakukan hal gila seperti itu pada Ziva? Ziva adalah tunangan saya!"

Bramantyo mendorong amplop cokelat di atas meja ke hadapan Aris. "Baca sendiri dokumen itu. Selama berminggu-minggu saya mendatangi markas, memohon, dan mengajukan protes, Gibran menggunakan seluruh kekuasaan militernya untuk menutup mulut semua instansi. Ia mengancam karier dan keluarga kita jika kita berani melangkah lebih jauh."

Aris membuka amplop tersebut dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat laporan intelijen swasta, foto-foto pengawasan di gerbang Dharmawangsa, hingga catatan logistik yang membuktikan bahwa Ziva dibawa secara paksa ke kediaman pribadi Gibran pada hari pertama kepulangannya dari London.

Amarah yang membakar dada Aris meledak seketika. Ia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Selama ini ia menghormati Gibran sebagai figur ayah sekaligus panutan di dalam keluarga besar Mahendra. Namun kenyataan bahwa pamannya sendiri telah merampas wanita yang dicintainya dengan cara yang begitu keji menghancurkan seluruh rasa hormat itu dalam sekejap.

"Brengsek..." cibir Aris tertahan, giginya bergemeretup. Ia berdiri dari kursinya dengan napas memburu. "Paman sudah melewati batas. Kalau dia pikir dia bisa mempermainkan hidup kami sesuka hatinya, dia salah besar."

"Mau kemana kamu, Aris?" tanya Bramantyo cepat, menahan lengan pemuda itu. "Jangan bertindak gegabah. Gibran memegang kendali penuh atas keamanan markas dan pasukan di bawah komandonya. Kamu tidak akan bisa melawannya seorang diri."

Aris menatap calon mertuanya dengan tatapan tajam penuh tekad baja, kilatan api kemurkaan menyala terang di matanya. "Saya tidak peduli dengan jabatannya, Om. Malam ini juga, saya akan mendatangi kediaman Dharmawangsa. Saya akan merebut kembali Ziva dari tangan paman saya sendiri, bahkan jika itu harus mengakhiri hubungan keluarga kami selamanya."

Bramantyo terdiam, merasakan kengerian dan ketegangan yang luar biasa menyelimuti udara malam itu. Pertemuan antara paman dan keponakan di dalam benteng Dharmawangsa tidak lagi dapat dihindarkan sebuah perang saudara yang siap meledak di atas penderitaan Ziva.

1
syora
alhamdulillah sunat datang Ariana smoga mnjdi ank yg soleh
intinya yadoa yg terbaik buat baby dan kluarga kecil girang dan ziva😍😍
syora
up lg dong thor
syora
ya allah semoga dilancarkan segala urusannya
agar kluarga kecil mereka bhgia
+1
lagi🌚
+1
akhir dari segala baku tembak
syora
semoga samawa till jannah ya gibran ziva
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
syora
alhamdulillah apapu awal hubungan klian
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
+1
al kira ada +21
syora
alhamdulillah 🙏
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin
syora
semoga bisa langgeng
+1
lagi☻️
+1
roar☻️
+1
lagiiii☻️
+1
lagiiiiii🌚
+1
al baca sambil nahan nafas☻️
+1
dia hanya orang gagal yang haus kasih sayang☻️
+1
lagi🌚
+1
lagiiii🦖
+1
menanti +21🌚🌚🌚
+1
deg2an al 🦖
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!