Seri ini adalah lanjutan dari novel Story/the wandering witch Serena.
——Di dunia bernama Cardinal.
Seorang gadis bernama Serena tinggal di kota Wistoria. Ia bercita-cita menjadi penyihir pengembara yang dikenal banyak orang, namun setiap perjalanan tidak selalu membawa kebahagiaan.
Di balik dunia yang indah, terdapat berbagai konflik, misteri, dan kisah yang perlahan mengubah perjalanan Serena.
Inilah kisah perjalanan seorang penyihir muda dalam menemukan arti dari dunia yang ia tinggali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizz the writter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 24—START OF THE JOURNEY
VOLUME 2—Start of the journey
◇◇◇
Beberapa jam berlalu sejak ia memulai perjalanannya. Saat ini, Serena telah memasuki wilayah pegunungan Dinasti Shen.
Langit perlahan berubah dari biru cerah menjadi oranye keemasan, disertai hujan salju.
Akhirnya, ia memutuskan untuk bersinggah sementara di tepi sungai yang membeku untuk mendirikan tenda dan bermalam di sana, mengingat badai salju tidak bisa diprediksi.
Setelah turun, Serena mencari lahan yang sedikit luas, setidaknya cukup untuk mendirikan sebuah tenda.
Langkahnya terhenti beberapa meter dari sungai. Lahan tersebut memang tidak terlalu besar, namun masih cukup untuk mendirikan tenda beserta api unggun.
"Sip. Kayaknya di sini cocok," gumam Serena sambil mengeluarkan gulungan tendanya dari dalam tas.
Tenda telah didirikan, kayu untuk api unggun juga telah disusun, dan sekarang ia hanya perlu menyantap bekal yang diberikan ibunya tadi pagi.
Serena duduk di sebuah kursi kecil tepat di depan perapian sambil memegangi kotak bekal yang ia sendiri tidak tahu apa isinya.
"Kira-kira apa yang ibu berikan?" ucapnya pelan sambil membuka kotak bekal tersebut.
Isi dari kotak bekal tersebut adalah dua buah sandwich.
"Sandwich? Hm... Lumayan, deh."
Tanpa mengeluh sedikit pun, ia langsung melahap sandwich tersebut dengan santai.
Ya, selama malam musim dingin ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan selain badai salju. Para hewan buas mungkin sedang hibernasi, beberapa monster mungkin sedang melindungi sarangnya, dan hewan yang memiliki kawanan biasanya juga bermigrasi mencari tempat yang suhunya lebih tinggi.
Sambil memakan bekalnya, Serena memandangi langit sore yang perlahan semakin gelap.
Setelah menghabiskan makanannya, ia segera mematikan api unggun dan masuk ke dalam tenda.
Di dalam tenda sudah terdapat lentera magi yang memancarkan cahaya oranye hangat, serta sebuah kasur kecil lengkap dengan bantal dan selimut.
Serena melepaskan jaket panjangnya beserta syal di lehernya sebelum meletakkannya di sebelah bantal.
"Sambil nunggu ngantuk, baca novel aja, deh."
Ia mengambil sebuah buku berjudul Pride is killing you, sebuah novel psikologi yang sedang tenar belakangan ini.
Sepuluh menit, dua puluh menit, hingga satu jam berlalu. Serena masih membaca novel tersebut.
Angin malam yang dingin semakin kencang, salju yang turun semakin banyak, dan suara salju berjatuhan dari dahan pohon terdengar jelas olehnya.
Setelah merasa cukup mengantuk, ia pun akhirnya menyelimuti dirinya dan tidur.
◆◆◆
Keesokan paginya, matahari mulai terlihat sedikit naik dari balik pegunungan Elder yang bersalju. Hujan salju juga sudah berhenti, menyisakan salju tebal di tanah dan pepohonan.
Serena telah menyelesaikan sarapannya. Ia kemudian membereskan tenda sebelum memasukkannya kembali ke dalam magic bag.
"Ok, semuanya siap," ucapnya sambil memperhatikan peta sementara ketiaknya mengapit tongkat sihirnya. "Satu kilometer ke arah barat... ada kota Kirin."
Sambil memasukkan kembali petanya ke dalam tas, ia bergumam, "Ya, jarak segitu lumayan deket, lah."
Serena kemudian memegang erat tongkat dengan tangan kirinya sebelum mendudukinya lalu terbang.
Beberapa menit berlalu sejak ia melanjutkan perjalanannya. Dari balik pegunungan salju, Serena melihat sebuah sosok yang cukup besar sedang bersinggah di sana.
"Apa itu?" gumamnya sambil menyipitkan mata. "Naga?"
Setelah melaju lebih dekat, sosok tersebut kini terlihat jelas. Makhluk itu adalah seekor naga merah yang sedang tidur santai. Tentu saja, melihat naga merah sebesar itu bukanlah penemuan yang bagus.
"Gawat, mana itu jalan terdekatnya lagi. Kalau muter bisa kejauhan," gumamnya sambil memperlambat laju terbangnya.
Sebelum ia sempat memilih untuk melaju atau berputar, naga tersebut sudah bangun dan menatap tajam ke arah Serena.
Keringat dingin mengucur melewati pipinya.
Namun anehnya, naga tersebut tidak mengaum ataupun mencoba menyerangnya. Hal itu sudah terasa janggal, tetapi kejanggalan tersebut semakin bertambah ketika sebuah suara yang menggelegar terdengar oleh Serena.
"Wahai pendatang, siapa dirimu, untuk apa kau kemari?"
Suara yang berat dan mengintimidasi tersebut ternyata berasal dari naga itu.
𝘋-𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘪𝘤𝘢𝘳𝘢? 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘮𝘪𝘮𝘱𝘪, 𝘬𝘢𝘯? pikir Serena sambil menghentikan laju tongkatnya.
"Kemari, aku tidak akan membunuh orang sembarangan."
Naga itu terlihat sedikit meyakinkan. Sambil berbicara, naga tersebut duduk bersila dengan kedua tangannya memegangi dengkulnya, membiarkan sayap merahnya terbentang luas di pundaknya.
"Maksudmu aku? Kau memanggilku?" tanya Serena walaupun masih belum berani mendekat.
"Tentu saja, mari kita berbicara sebentar," jawab naga itu dengan santai, walaupun wajahnya terlihat begitu mengintimidasi dengan mata biru yang melirik tajam ke arahnya.
Melihat gaya bicara naga itu yang terasa berwibawa, Serena akhirnya mendekatinya perlahan dan berhenti belasan meter di depan wajah naga tersebut.
Ia tidak langsung berbicara. Dirinya justru semakin terkejut karena ukuran naga tersebut ternyata jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Bahkan, ukuran matanya saja sudah setengah dari tubuh manusia dewasa.
"Akulah sang naga Vulkanik. Penjaga pegunungan terpanjang di dunia. Namaku Reid."
Suaranya terdengar begitu keras dari jarak sedekat ini. Bahkan, Serena merasa tubuhnya sedikit terdorong karena suara tersebut.
"A-anu, namaku Serena, seorang Great Mage awam sekaligus seorang musafir," jawab Serena meski terdengar sedikit canggung.
"Oh, penyihir pengembara, ya?"
Jawaban singkat itu membuat Serena sedikit lega, karena ia berpikir bahwa naga tersebut mungkin anti-sosial.
"Kau tidak memiliki niat jahat apa pun... Sepertinya kau bukan orang itu. Aku persilakan kau pergi, tapi berhati-hatilah, ada banyak kriminal di sini."
"Baik, kupegang ucapanmu," kata Serena dengan lantang.
Whosh...
Udara dingin yang menekan di sekitar pegunungan terasa menghilang, seolah angin hangat baru saja menghembuskan udara dingin menjauh.
𝘌𝘩? 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪? 𝘈𝘯𝘨𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢... 𝘔𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘵𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨? pikir Serena dengan terbelalak.
"Pergilah, aku sudah membukakan jalan untukmu." Reid berbicara tenang sambil menunjuk hutan di belakangnya.
"A-ah! Ya! Terima kasih," jawab Serena sambil melaju meninggalkan naga tersebut di belakangnya.
Hal yang membuatnya terkejut tentu saja bukan hanya naga itu bisa berbicara, tetapi udara di sekitar naga tersebut seperti dimanipulasi agar menjadi lebih tenang, atau mungkin tidak. Yang jelas, Serena masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa menit kemudian, dari kejauhan terlihat sebuah gerbang kota yang terbuka megah. Ternyata, kota Kirin jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Ketika ia turun, dua penjaga menahannya di pintu masuk untuk diperiksa.
"Ada kartu identitas? Dari mana asalmu?" ucap seorang prajurit di sebelah kanannya.
Dengan tenang, Serena mengeluarkan bros bintang magi dari balik jaketnya. Bros emas dengan logo bintang tersebut merupakan tanda pangkat seorang penyihir dengan tingkatan Great Mage.
"Aku seorang pengembara dan ke kota ini hanya untuk singgah sementara," ucap Serena santai.
Melihat bros tersebut, kedua penjaga itu hanya saling menatap dan mengangguk.
"Baiklah, silakan masuk, Nona."
Setelah masuk, suasana kota terlihat cukup berbeda dari Wistoria. Walaupun masih ditutupi salju, bentuk rumah, jalanan, kedai, dan pakaian orang-orang terlihat lebih beragam di sini.
Bahkan, ada beberapa wanita yang mengenakan Qipao khas Dinasti Shen.
Mungkin sekarang ia harus mencari penginapan untuk bermalam di sini.
"Unik juga, ya..." gumamnya sambil berjalan. Pandangannya tidak berhenti mengagumi bentuk rumah di sekitarnya.
Ya, berbeda jauh dengan infrastruktur di Asteria. Di Dinasti Shen, masyarakatnya membuat rumah dan bangunan mereka jauh lebih kreatif.
Walaupun kebanyakan terbuat dari kayu, Serena cukup mengagumi seni ukir yang terdapat pada kayu-kayu tersebut. Tidak hanya rumah, ukiran kayu tersebut juga terdapat pada jembatan, tempat duduk umum, dan tiang lampu magi.
Tidak jauh di hadapannya, beberapa kerumunan memenuhi guild petualangan.
Serena menghentikan langkahnya sebelum menyilangkan tangan.
"Ada apa, tuh rame-rame?"
Satu alisnya terangkat.
Setelah ia mendekat beberapa langkah, Serena mendengar dari beberapa obrolan petualang bahwa grup petualang terkuat di Dinasti sedang mencari anggota tambahan untuk membantu mereka menjalani misi tersulit di guild.
Merasa itu bukan urusannya, ia memilih pergi untuk mencicipi beberapa makanan khas daerah ini, sekalian mencari penginapan untuk bermalam di sini.
Sambil berjalan, tatapannya tidak berhenti melihat-lihat. Sampai akhirnya, ia melihat sebuah toko dengan kesan tradisional di tengah banyaknya toko modern.
Toko itu hanya terbuat dari kayu, namun memiliki tiga tingkat. Ketika ia memasuki toko tersebut, ia menyadari bahwa toko itu juga memiliki sebuah penginapan dan pemandian air panas.
𝘒𝘰𝘮𝘣𝘪𝘯𝘢𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢! pikirnya sementara pandangannya menyapu seluruh ruangan.
Tidak ada kursi, hanya ada meja pendek dengan alas di sekitarnya.
Sementara di tembok tempat makan terdapat banyak lukisan dan ukiran khas dinasti, seperti naga, ikan, dan simbol lainnya.
Ketika ia sedang sibuk sendiri, seorang pria paruh baya dengan pakaian tradisional Dinasti dan janggut abu-abu panjang, disertai mata sipit, melihat hal itu.
Serena berkata dalam benaknya, 𝘏𝘮... 𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘢𝘮𝘱𝘪𝘭𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘥𝘪𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘥𝘶𝘥𝘶𝘬 𝘢𝘴𝘭𝘪? 𝘠𝘢, 𝘺𝘢... 𝘈𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘢𝘴𝘭𝘪 𝘴𝘪𝘯𝘪.
Dari banyaknya orang yang ia lihat di negeri ini, hanya pria itulah yang penampilannya terlihat paling khas dan cocok untuk negeri ini.
Pria tersebut menghampirinya sebelum menundukkan kepala.
"Nona, apa ada yang bisa saya bantu?" sambutnya dengan ramah.
"Ah, ya. Aku ingin menyewa penginapan di sini, kira-kira berapa harganya untuk semalam?" Serena menjawabnya dengan sopan.
"50 koin perak sudah termasuk pemandian air panas, untuk biaya makan itu terpisah," ucap pria tersebut sambil memberikannya sebuah kertas.
Kertas tersebut berisi daftar menu makanan khas Dinasti itu.
𝘔𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬, pikirnya.
"Kalau begitu, aku ambil inap semalam dan seporsi pangsit." Jari Serena menunjuk sebuah gambar makanan pada kertas menu tersebut.
Beberapa menit berlalu. Setelah menyelesaikan makan siangnya, Serena membawa barang-barangnya ke kamar penginapan dan menatanya satu per satu.
Setelah semuanya selesai, ia keluar dari kamar dan kembali ke lantai bawah.
Kini, ia sudah siap berjalan-jalan dan melihat-lihat kota Kirin.