Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Malika.
Ani duduk di ruang tunggu rumah sakit. Hari ini ia datang ke rumah sakit, tetapi enggan untuk melihat keadaan suaminya. Hatinya masih kesal kepada suaminya. Ani menyapu pandangan ke sekeliling ruang tunggu. Tiba-tiba ia melihat Ardi, Ardi menggunakan seragam dinas kepolisian. Ardi berjalan sambil menuntun seorang gadis kecil yang usianya 4 tahun.
Gadis kecil itu memakai gaun berwarna merah muda serta memakai sepatu berwarna merah muda. Gadis itu memakai bondu, rambutnya panjang sebahu. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena jarak mereka agak jauh dari tempat Ani. Di belakang mereka nampak seorang perempuan muda menggunakan hijab yang mengikuti mereka. Gadis kecil itu berjalan sambil merengek. Ia menghentak-hentakkan kakinya dan menggoyangkan tangan Ardi. Ardi terlihat begitu sabar menghadapi gadis kecil itu. Ani memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.
Tiba-tiba Ardi menunjuk ke arah Ani sambil mengatakan sesuatu pada gadis kecil itu. Gadis kecil itu melihat ke arah Ani. Ardi membawa gadis kecil itu mendekati Ani. Ketika mereka semakin mendekat, Ani semakin mendengar suara rengekan gadis kecil itu. “Malika mau lihat Mama,” kata gadis kecil itu sambil menggoyang-goyang kan tangan Ardi dengan manja.
“Malu, tuh, dilihat Tante Ani.” Ardi menunjuk ke Ani. Gadis kecil itu langsung berhenti merengek. Ia menatap Ani sambil mengedip-ngedipkan matanya yang basah bekas menangis. Ia terlihat menggemaskan. “Itu siapa, Pa?” Tangan gadis kecil itu sambil menunjuk Ani.
“Itu teman Papa, teman Mama juga,” jawab Ardi. “Nanti Malika salam sama Tante, ya!” lanjut Ardi. Gadis kecil itu menjawab dengan mengangguk.
Ardi dan gadis kecil itu pun menghampiri Ani. “Salam dulu sama Tante!” kata Ardi. Gadis kecil itu mendekati Ani lalu mencium tangan Ani.
“Aduh, pintar sekali. Siapa namanya?” Ani mencolek dagu gadis kecil itu.
“Malika,” jawab gadis kecil itu.
Ani membungkukkan badannya agar tingginya setara dengan Malika. “Malika kenapa nangis?” tanya Ani. “Tadi Tante perhatikan dari jauh Malika sedang menangis,” lanjut Ani.
“Malika mau ketemu sama Mama,” jawab Malika sambil mengerucutkan bibirnya.
“Sudah ketemu sama Mama?” tanya Ani. Malika menjawab dengan gelengan kepala.
“Kenapa?” tanya Ani sekali lagi.
“Kata Pak Satpam, anak kecil nggak boleh masuk,” jawab Malika.
Ani tersenyum mendengar jawaban Malika. “Lebih baik Malika doakan Mama, supaya Mama cepat sembuh dan bisa ketemu dengan Malika,” ujar Ani. Malika menjawab dengan menganggukan kepala.
“Sekarang kita main saja. Di sebelah sana ada tempat bermain. Ada ayunan dan perosotan.” Ani menunjuk ke arah Poli Spesialis Anak. “Mau nggak Malika main di sana?” tanya Ani.
“Mau,” jawab Malika dengan wajah yang berbinar.
Malika menepuk-nepuk tangan Ardi. “Papa … Papa … Papa…” Ardi menoleh ke Malika. “Malika mau main ayunan dan perosotan,” kata Malika.
“Iya, boleh,” jawab Ardi.
Ardi menoleh ke Ani. “Di sebelah mana, Bu?” tanya Ardi.
“Di dekat Poli Spesialis Anak,” jawab Ani.
“Ayo Tante kita ke sana.” Malika menarik tangan Ani. Ia sudah tidak sabar untuk main di tempat bermain anak.
Ani berjalan sambil menuntun Malika menuju ke Poli Spesialis Anak. Sedangkan Ardi dan pengasuh Malika mengikuti mereka dari belakang. Jalan menuju ke Poli Spesialis Anak lumayan jauh. Namun, Malika tidak rewel. Ia berjalan dengan wajah gembira walaupun harus berjalan jauh.
Akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Di tempat tersebut ada beberapa anak yang sedang asyik bermain. Beruntung tidak banyak anak yang bermain di sana, sehingga Malika bisa bermain tanpa harus berebutan. Ani menemani Malika bermain. Ardi duduk memperhatikan Malika yang sedang bermain. Ani terlihat senang menemani Malika bermain. Ia mengikuti ke mana pun Malika berjalan hingga Ani terlihat cape karena Malika tidak berhenti bermain.
Ardi merasa kasihan kepada Ani. Ia menghampiri Malika yang sedang main ayunan. “Malika ditemani Mbak Tri, ya. Kasihan Tante Ani sudah cape,” ucap Ardi.
“Iya,” jawab Malika sambil naik tangga papan seluncur.
“Tidak apa-apa, Pak. Saya senang bermain dengan Malika,” jawab Ani dengan napas ngos-ngosan. Ia mengusap keringat di kening dengan punggung telapak tangan.
“Ibu istirahat dulu. Biar Tri yang menemani Malika,” ujar Ardi. Akhirnya Ani mengikuti saran Ardi. Ani dan Ardi meninggalkan area permainan anak. Tri yang menemani Malika. Ani dan Ardi duduk di tempat tadi Ardi duduk.
Ardi memberikan sebotol minuman kepada Ani. “Terima kasih.” Ani menerima minuman pemberian Ardi. Ia membuka tutup botol lalu meneguk minuman tersebut hingga habis sepertiga botol. Rasa dahaga-nya pun hilang. Ani menutup kembali minuman tersebut.
Mereka duduk sambil memperhatikan Malika. “Malika anak yang pintar, lincah dan juga cantik,” puji Ani sambil memperhatikan Malika yang sedang bermain. “Dia pasti cantik seperti mamanya,” lanjut Ani. Ia belum pernah melihat wajah Nadira. Pasti wajah Nadira sangat cantik sampai Fardan selingkuh di belakangnya.
Ardi menarik napas panjang lalu menundukkan kepalanya. “Mudah-mudahan Malika tidak mengikuti sifat Nadira,” ucap Ardi. Ani diam dan terus memperhatikan Malika dari jauh. Tidak ada pembicaraan yang mereka bicarakan.
Sepuluh menit kemudian. “Pak Ardi.” Ani memanggil Ardi. Ardi menoleh ke Ani. Pandangan Ani masih tertuju ke Malika. Perlahan Ani menoleh ke Ardi. “Apakah Bapak ada niat untuk tes DNA Malika?”