NovelToon NovelToon
Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Bukan Kakak yang Kau Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Menikah dengan Kerabat Mantan
Popularitas:618
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Sejak kecil, Sekar hanya "anak nomor dua" di rumahnya sendiri.

Semua yang terbaik selalu untuk sang kakak, Laras—si sulung yang sempurna, cerdas, dan dibanggakan. Sekar? Cukup pakai baju bekas kakaknya, tidur di kamar bekas gudang, dan tersenyum saat dilupakan.

Maka ketika Laras membawa pulang tunangannya saat Lebaran—**Damar Wirajaya**, pewaris konglomerat yang dingin, tampan, dan kaya raya—Sekar pikir pria itu tak ada urusannya dengannya.

Ia salah besar.

Karena tatapan datar Damar selalu berhenti terlalu lama… di wajahnya. Karena hadiah, perhatian, dan "kebetulan-kebetulan" itu semua mengarah padanya. Dan pada satu malam yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, Sekar menyadari kebenaran yang mengerikan:

**Bukan kakaknya yang diinginkan pria itu. Tapi dirinya.**

Damar tak akan melepaskannya. Dengan utang miliaran rupiah, perjanjian pranikah yang mengikat, dan kuasa yang bisa menghancurkan seluruh keluarganya, ia menyeret Sekar ke dalam pernikahan yang tak pernah Sekar inginkan—sementara satu-satunya cinta yang tulus, sahabat kecilnya **Rangga**, hanya bisa menatap dari kejauhi.

Tapi Sekar bukan lagi gadis yang menunduk dan menerima.

Di balik senyum patuhnya, ia menghitung. Ia menunggu. Dan ketika rahasia kelahirannya sendiri terbongkar—bahwa darah yang mengalir di tubuhnya jauh lebih rumit dari yang siapa pun tahu—Sekar berhenti menjadi mangsa.

Kali ini, dialah yang memegang pisau.

*Berapa harga sebuah kebebasan? Sekar siap membayarnya—sampai tetes terakhir.*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27: Ayah Memilih Percaya

Tiga hari kemudian, Ayah menungguku di taman kecil dekat warung soto, mengenakan jaket cokelat yang biasa dipakainya untuk pergi ke pasar.

Ia duduk di bangku paling jauh dari jalan. Dua gelas teh hangat berada di sampingnya, tetapi salah satunya sudah kehilangan uap.

"Ayah datang sendiri?"

Ia mengangguk. "Ibumu pikir Ayah mengurus pengembalian uang gedung."

Aku duduk dengan menyisakan jarak. Bukan karena takut kepada Ayah, melainkan karena tubuhku sekarang selalu menghitung jalan keluar sebelum merasa aman.

Ayah memperhatikan gerakanku. Kesedihan melintas di wajahnya.

"Maaf," katanya.

"Untuk apa?"

"Untuk terlalu banyak hal."

Angin sore menggoyangkan daun flamboyan di atas kami. Dari warung terdengar denting mangkuk dan suara radio lama.

"Ayah percaya ucapanmu tentang Damar," katanya. "Bukan ucapan yang kamu tarik kembali. Ucapan pertama."

Tenggorokanku mengencang. Selama berhari-hari aku membayangkan bagaimana rasanya mendengar satu anggota keluarga mengatakan itu. Ketika akhirnya terjadi, yang keluar dari mulutku justru pertanyaan kecil.

"Kenapa?"

"Karena Ayah melihat wajahmu saat bicara. Karena Ayah melihat wajahmu saat dipaksa membantahnya." Jemarinya meremas tutup gelas. "Dan karena Ayah seharusnya sudah melihat lebih awal."

Aku menunduk.

"Ayah ingat malam hujan itu," lanjutnya. "Damar bilang mencari kamar mandi, padahal kamar mandi tamu ada dekat ruang makan. Setelah itu kamu sakit dan tidak mau melihat siapa pun. Ayah bertanya sekali. Kamu bilang cuma masuk angin, lalu Ayah memilih jawaban yang paling mudah."

"Aku juga memilih jawaban yang paling mudah."

"Kamu ketakutan. Ayah orang tuamu. Tanggung jawab kita berbeda."

Kata-kata itu memecahkan sesuatu yang keras di dadaku. Aku menggenggam gelas teh meski isinya sudah dingin.

"Aku nggak ingat semuanya," bisikku. "Ada bagian yang kosong. Aku cuma ingat bau, suara pintu, dan bangun dengan tubuh terasa salah."

Ayah memejamkan mata. Napasnya bergetar, tetapi ia tidak meminta rincian.

"Kamu tidak perlu menceritakan lebih banyak hari ini."

"Ada sisa teh yang kusimpan. Dan gelang giok dari Damar. Keduanya ada di laci kamar, kukunci sebelum pergi."

"Kuncinya masih padamu?"

Aku mengeluarkan rantai dari balik baju. Kunci kecil itu menggantung di ujungnya.

"Damar bilang dia tahu apa yang ada di laci."

Wajah Ayah menegang. "Kapan terakhir kamu memeriksanya?"

"Sebelum ke Surabaya."

"Jangan pulang sendirian untuk mengambilnya. Ayah akan cari waktu saat Ibumu keluar. Kita periksa bersama."

"Kalau barangnya hilang?"

"Kita catat bahwa barang itu hilang. Jangan mengubah ceritamu hanya karena orang lain mengubah buktinya."

Aku menatapnya. Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang mungkin dikatakan Rangga atau Bara, bukan Ayah yang selama ini meredakan semua pertengkaran dengan meminta pihak terluka mengalah.

"Ayah berubah," kataku.

Senyumnya pahit. "Terlambat."

"Tapi berubah."

Ia mengangguk pelan. Lalu, tanpa menatapku, ia berkata, "Ayah sering membiarkan Ibumu lebih membela Laras karena mengira kamu lebih kuat. Kamu cepat belajar, jarang minta sesuatu, selalu bilang tidak apa-apa. Ayah memakai kekuatanmu sebagai alasan untuk memberimu lebih sedikit."

Air mataku jatuh ke punggung tangan.

"Waktu hadiah Lebaran kurang satu, Ayah tahu," lanjutnya. "Waktu telur hanya tersisa satu dan diberikan kepada Laras, Ayah tahu. Ayah menyelipkan uang atau membelikan makanan setelahnya, seolah tindakan diam-diam bisa mengganti keberanian yang seharusnya Ayah tunjukkan di depan mereka."

"Aku kira Ayah nggak melihat."

"Ayah melihat." Suaranya serak. "Itulah yang membuatnya lebih buruk."

Untuk pertama kalinya, aku tidak buru-buru menghiburnya. Penyesalan itu milik Ayah. Aku boleh menyayanginya tanpa membebaskannya dari akibat.

"Kalau Ayah benar-benar mau membantuku, jangan hanya percaya saat kita berdua," kataku. "Aku nggak meminta Ayah bertengkar setiap hari. Tapi kalau Ibu menyebutku pembohong lagi, jangan diam."

Ayah menelan ludah. Permintaanku jelas membuatnya takut. Puluhan tahun hidup bersamanya mengajarkanku bahwa diam adalah cara Ayah mempertahankan kedamaian, meski kedamaian itu selalu dibayar oleh orang yang suaranya paling kecil.

"Ayah akan bicara," katanya.

"Walaupun Mbak Laras marah?"

"Walaupun seluruh keluarga besar marah."

Aku belum sepenuhnya percaya janji itu. Kepercayaan tidak pulih karena satu pertemuan dan dua gelas teh. Namun aku melihat tangannya yang gemetar dan caranya bertahan menatapku setelah mengakui kesalahan. Setidaknya, kali ini ia tidak meminta maaf sambil menyuruhku memahami Ibu.

"Aku akan menilainya dari yang Ayah lakukan," kataku.

"Memang seharusnya begitu."

"Aku belum mau pulang," kataku.

"Ayah tidak akan memaksa."

"Aku mungkin datang mengambil dokumen kerja dan memeriksa laci. Setelah itu aku kembali ke rumah Bu Lina."

"Baik. Kabari Ayah dulu."

Ia mengeluarkan amplop dari saku. Aku langsung menggeleng.

"Bukan untuk membelimu pulang," katanya. "Ini uang hasil tabunganmu yang dulu Ibu titipkan di rekening keluarga. Ayah pindahkan bagianmu. Kamu berhak memegangnya sendiri."

Aku menerima amplop itu. Di dalamnya ada buku rekening baru atas namaku dan secarik kertas berisi nomor yang bisa kuhubungi jika ponsel Ayah dipegang Ibu.

Sebelum kami berpisah, Ayah bertanya apakah Rangga memperlakukanku dengan baik.

"Dia selalu bertanya sebelum membantu," jawabku.

Ayah memandang jalan di depannya. "Bagus. Seharusnya memang begitu."

Ia tidak memelukku. Hanya berdiri dan menunggu sampai aku lebih dulu melangkah, memberi ruang yang tidak pernah diminta Damar.

Di ujung taman, aku menoleh. Ayah masih berdiri di dekat bangku. Ia mengangkat tangan, kecil dan ragu, seperti seseorang yang belum tahu apakah ia masih berhak disebut tempat pulang.

Aku membalas lambaian itu.

Saat berjalan kembali ke warung, aku menyadari sesuatu yang sederhana.

Aku belum mendapatkan kembali rumahku.

Namun hari ini, aku mendapatkan kembali seorang ayah.

1
ceuceu
ga jelas lah,maaf thor aku skip
ceuceu
membungungkan antara cerita dan dialog
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!