Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.11 Sentuhan Ibu
Luna mengamati rutinitas harian di mansion yang sangat formal dan sunyi. Para pelayan bekerja seperti robot tanpa senyum, dan pengawal bersenjata berdiri kaku di setiap sudut. Emily yang masih memendam trauma tampak sering murung karena suasana rumah yang tidak mencerminkan tempat tinggal anak seusianya.
Dengan izin terpisah dari Kepala Pelayan, Luna mulai mengubah beberapa sudut rumah demi kenyamanan psikologis Emily. Ia mengganti tirai-tirai tebal yang gelap dengan warna yang lebih terang, membiarkan sinar matahari masuk, serta menata sudut bermain khusus berisi gambar warna-warni karya Emily.
Dengan semangat Luna menata salah satu sudut ruangan menyulapnya menjadi arena bermain yang menyenangkan untuk anak-anak, Luna menempelkan gambar-gambar hasil karya Emily di dinding sudut ruangan itu "Mami Luna yang ini juga!" teriak Emily yang juga dengan semangat membantu Luna menata tempat bermainnya itu "Iya sayang, bawa kesini mami Luna akan tempelkan di sebelah sini," ucap Luna pada Emily sambil masih menata beberapa gambar di dinding.
"Bagus gak? Emily suka?" tanya Luna pada Emily.
Emily menganggukkan kepalanya berulangkali sambil tersenyum pada Luna "Emily suka, mami Luna," ucapnya dengan binar mata bahagia menatap ruangan itu yang terlihat berwarna-warni.
"Mami Luna," panggil Emily pada Luna yang masih sibuk menata beberapa boneka Emily di ruangan itu.
"Ya sayang," Luna menghentikan pekerjaannya dan menoleh pada Emily yang berdiri di sampingnya.
"Emily lapar, mami Luna," ucap Emily pada Luna.
Luna tersenyum memegang lengan Emily sambil bertanya "Emily mau makan apa?" tanya Luna lembut.
"Emily bosen dengan makanan yang ada di meja makan, Emily mau ayam krispi," ucap Emily dengan gaya manjanya pada Luna.
Luna mengusap lembut rambut Emily "Mami Luna akan buatkan ayam krispi kesukaan Emily ya," ucap Luna dan terlihat Emily tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Emily bermain di sini dulu ya, Mami Luna mau masakin ayam krispinya," ucap Luna sebelum pergi ke dapur.
"Iya mami Luna," kemudian Emily pun kembali bermain di arena bermain itu sementara Luna sudah berjalan masuk ke dalam dapur.
Luna mengambil alih dapur dan memasak makanan kesukaan Emily, Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya karena mansion selalu menyajikan hidangan formal buatan koki profesional. Aroma masakan manis dan hangat memenuhi ruang makan, memicu rasa penasaran dari para pekerja mansion.
"Nyonya, ada yang perlu di bantu?" tanya seorang pembantu yang melihat Luna masuk ke dalam ruang dapur.
"Aku mau masakin Emily ayam krispi," ucap Luna pada Bibik sambil tersenyum ramah.
"Oh, biar saya saja yang masakin Nyonya, Nyonya temani Non Emily saja di sana," ucap Bibik itu sungkan sekali pada Luna.
"Tidak apa-apa Bik, aku sudah terbiasa masak sendiri, Bibik tidak usah sungkan, sekarang Bibik siapkan saja bahan-bahannya," ucap Luna pada Bibik itu.
"Em...baik Nyonya," kemudian Bibik berjalan ke arah kulkas dan mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat ayam krispi itu dan meletakkannya di atas meja dapur.
"Nyonya, ini bahan-bahannya sudah siap," kata Bibik pada Luna.
"Iya Bik, terimakasih. Oh ya, tempatnya tepung, gula dan mentega di mana ya?" tanya Luna pada Bibik itu.
"Ada di lemari sebelah sana Nyonya," Bibik menunjuk pada sebuah lemari gantung yang yang terletak di sebelah kulkas dua pintu itu.
"Oh baik, terimakasih Bik."
"Nyonya, saya bantu memasaknya ya?"
"Enggak usah, Bibik istirahat saja kan pekerjaan Bibik sudah selesai," ucap Luna.
"Tapi...saya takut nanti kalau Tuan tahu kalau Nyonya memasak sendiri saya pasti akan kena marah sama Tuan, karena semua pekerjaan rumah itu yang mengerjakan kami," Bibik menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Bik, nanti aku yang akan bilang pada Tuan ya, Bibik tenang saja."
"Baiklah kalau begitu Nyonya, tapi kalau nanti Nyonya butuh bantuan bilang sama saya ya Nyonya," wajah Bibik itu terlihat masih khawatir.
Luna tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Bibik itu "Iya Bik."
Dan setelah Bibik itu pergi, Luna pun mulai bekerja memasak ayam krispi permintaan Emily dan setelah selesai memasak ayam krispi Luna melanjutkan dengan membuat kue coklat panggang yang biasanya banyak di sukai oleh anak-anak.
Luna meletakkan ayam krispi itu diatas sebuah piring keramik yang berbentuk bulat besar dan menyisihkannya ke meja dapur yang kosong.
Kemudian Luna beralih ke lemari tempat menyimpan bahan-bahan kue, Luna mengambil tepung, mentega, gula, telur dan juga coklat batang.
Luna mulai mengolah bahan-bahan tadi menjadi sebuah kue coklat panggang yang mengeluarkan aroma wangi dan menggugah selera.
Di meja makan, Luna mengajak Emily bermain tebak-tebakan ringan dan menyuapinya dengan penuh kehangatan. Suara tawa renyah Emily pecah di ruang makan megah itu, sebuah suara bahagia yang sudah bertahun-tahun tidak pernah terdengar di dalam kediaman Leon.
"Coba Emily tebak sekarang ya, hewan apa yang badannya besar dan punya belalai yang panjang...? Ayo tebak....," ucap Luna sambil menyuapi Emily makan sama ayam krispi buatannya tadi.
"Em...," Emily memutar-mutar kepalanya ke kanan ke kiri sambil berpikir.
"Ayo apa....?" kata Luna menggoda Emily yang masih belum bisa menjawab tebakannya itu.
"Emmm...apa ya....," Emily meletakkan jari telunjuknya di pelipisnya sambil memejamkan matanya bergaya orang yang sedang berpikir.
Luna tersenyum melihat tingkah lucu Emily "Bagaimana? Bisa jawab gak...? Kalau gak bisa jawab nanti mami Luna hukum loh....," canda Luna pada Emily.
"Bisa..! Bisa..! Aku bisa..!" teriak Emily pada Luna.
"Apa coba," goda Luna lagi.
"Gajah...!!"Emily tertawa kegirangan.
"Betul sekali...," Luna merentangkan tangannya memeluk Emily, Emily terlihat sangat bahagia sekali di peluk Luna.
Bibik senior yang diam-diam memperhatikan momen itu terlihat tersenyum melihat Emily yang bisa tertawa dan bergembira seperti itu, Emily tidak lagi murung dan diam menyepi sendiri di dalam kamarnya seperti hari-hari kemaren, kedatangan Luna ternyata bisa membuat Nona kecil itu bahagia dan tertawa lepas lagi.
Leon yang baru pulang dari urusan bisnis berdiri diam di balik pilar ruang tengah. Pria dingin itu mematung menyaksikan perubahan suasana rumahnya yang perlahan hidup dan berwarna. Untuk pertama kalinya, benih rasa kagum dan getaran asing menyusup ke dalam benak sang pimpinan mafia melihat tatapan penuh kasih sayang Luna pada putrinya.
"Emily terlihat sangat bahagia dan dekat sekali dengan Luna, setelah sekian tahun baru kali ini Emily terlihat segembira itu dan sepertinya dia sudah menemukan dunianya yang dulu sempat hilang sejak kepergian mamanya, Aleysa. Kamu bisa lihat sekarang Emily kita sudah tidak murung lagi dia sudah menemukan sosok orang yang mampu mengubah hidupnya kembali ceria seperti dulu saat ada kamu di sini," gumam batin Leon sambil terus memperhatikan Luna yang masih bercanda bersama Emily.