Berawal dari membaca buku yang ditemukan di lemari tua, Mayanza mempunyai kekuatan merapal mantra.
Kesalahan mengambil bunga teratai emas..
Menentukan nasib di Kehidupan Mayanza
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novita Tory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arti Gelang
Aku sudah berganti pakaian, dan Raja Yuko pun begitu, dengan Kaos Putih dan Celana Pendek dia ikut denganku kembali ke Duniaku.
Ternyata dia masih menyimpan baju yang aku pinjamkan, aku membuka gerbang dan kembali ke dalam mobil yang kuparkir di pinggir jalan, beruntung mobilku tidak ditilang.
Kami kembali ke Rumah, kuajak Raja Yuko masuk ke rumah namun dia tidak mau turun dari mobil, aku berpamitan dengan Ibu terpaksa aku berbohong kalau ada kegiatan amal di medan perang aku akan pergi ke luar negeri, kubawa peralatan dan obat-obatan di dalam koperku.
"Mendadak sekali" kata Ayah
"Iya, sangat mendadak. Mau bagaimana lagi" ucapku berbohong, aku memeluk Ayah dan Ibu berpamitan.
Mereka mengantarku sampai depan mobil.
Ayah ikut memasukan koper ke bagasi.
Aku masuk ke mobil, membuka pintu.
"Dokter...kenapa tidak di bawa masuk Mayanza" Ibu menengok-nengok ke mobil.
"Kalian berangkat bersama?"
Aku terpaksa membuka kaca mobil,
"Emhhh.. Iya bu, karena buru-buru iya kan dok?" kataku, Raja Yuko diam saja.
Ibu malah meraih tangan Raja Yuko dari jendela karena tidak keluar dari mobil.
Aku mendorong bahunya, dia melotot ke arahku, aku lebih melotot.
Kapan lagi medorong bahu seorang Raja, kalau di duniaku aku Ratunya.
Sempat terlintas di pikiran konyolku.
Raja Yuko memberikan tangannya pada ibu,
"Tolong jaga putriku", kata Ibu.
Aku tersenyum di balik setir gugup dengan jawaban Raja Yuko nanti.
Dia hanya mengganguk kepada ibu, ayah memandangnya dari luar.
"Terima kasih" kata ibu menarik tangannya.
"Obatnya sudah kami makan teratur" kata Ayah yang juga berpikir ini dokter Yuki.
"Baiklah, kami berangkat ayah, ibu jangan lupa jaga kesehatan ya..." kataku.
Aku menutup jendela, Ayah dan Ibu melambaikan tangan pada kami.
Sekitar satu kilometer dari rumah, aku berhenti di pinggir jalan raya.
"Kenapa berhenti?" kata Raja Yuko padaku.
"Perkerjaanku" kuambil tab dari dasboard mobil.
Kuketik cuti di aplikasi dengan alasan merawat orang tua, aku tidak memikirkan apakah disetujui atau tidak sejak aku sering mangkir menghilang dengan petualanganku di Dunia Zink.
Berkas Cutiku
Sukses Terkirim...
Aku masukan tab
kembali ke dasboard.
"Baiklah Baginda Raja" kataku
"Kita siap kembali..."
Jalan Raya sepi, gerbang besar terbuka, aku tancap gas masuk ke dalam gerbang yang dibuka Raja Yuko.
Mobil Sport berwarna merahku terparkir di Istana selatan.
Selesai di tutup dengan jerami,
Kami berganti pakaian dengan Jubah masing-masing di Kediaman Raja Yuko.
**
"Mau kemana?" tanyanya.
"Ke Kamarku" jawabku pada Raja Yuko.
"Siapa yang menyuruhmu kesana?" tanyanya.
"Aku sendiri yang mau" jawabku.
Raja Yuko mengambil pedangnya.
Aku mundur.
Apa aku akan dibunuh, gemetaran, sampai aku lupa mantra, kutepuk kepalaku.
Kenapa tidak ada yang bisa keluar, di kamar ini, apa di segel lagi.
Aku berpikir melihat sekitar.
"Kita pergi, ikuti aku" kata Raja Yuko.
Sudah hampir tengah malam, aku menyesal tidak makan camilan gula-gula tadi malah berjalan kaki mengikuti jejaknya, lumayan jauh, pengawal mengikuti kami.
Aku terengah-engah.
"Berhenti, kita kemana kataku" aku kehausan bersender di tiang bangunan.
Raja Yuko malah berjalan terus di depan tanpa memperdulikan aku yang tertinggal.
aku menyusul, ternyata kami ada di bagian dalam istana timur, kenapa tidak naik kuda saja pikirku, kakiku lecet.
Kulihat lagi tempat yang kami kunjungi.
Aku tau tempat ini air sumur suci dan kediaman Tabib Zhii serta Swanzi, tidak jauh dari situ kediaman Permaisuri dan Putri Rena.
"Aku haus" kataku terengah-engah.
"Ambil saja di sumur" kata Raja Yuko menunjuk sumur.
"A..apa?" aku terkejut, bisa-bisanya aku tidak diberi minum langsung dari sumur yang belum matang.
Aku berusaha tenang, pengawal malah memberikan centong besar, memangnya aku kuda.
Tapi aku tetap minum juga, akhirnya aku merasa lebih segar.
Kupandangi mereka satu-satu termasuk Raja Yuko.
Kenapa mereka begitu kuat berjalan dari istana selatan jaraknya sangat jauh.
Sehari-hari Raja Yuko juga sering mengunjungiku di Istana Timur, aku geleng-geleng kepala.
"Kenapa?sudah selesai minumnya" Raja Yuko melihat kearahku.
Aku mengangguk.
Aku ikut menaiki tangga kediaman Swanzi.
Pengawal berjaga diluar, Raja Yuko mencabut pedangnya.
Pintu terbuka.. Cahaya lilin menerangi ruangan itu.
Banyak mantra tertempel di dinding dengan kertas kuning dan tulisan tinta darah ayam di dinding.
Aroma dupa kamar Swanzi masih menempel di ruangan.
Isi kamarnya kosong.
Jendela kamar di buka tiap ruang di kediaman itu kosong.
Pelayannya juga sudah pergi.
Saat aku berbalik, ingin keluar mengikuti langkah Raja Yuko, kakiku seketika ditangkap dari bawah...
Tangan-tangan menjerat di lantai.
Raja Yuko menebas tangan itu berkali-kali juga pengawal, terdengar teriakan dan rintihan.
Mataku bercahaya seperti kilatan sesaat, melihat bayangan hitam.
aku mengambil busur panah pengawal dan menembakan anak panah ke kasur tempat Swanzi berbaring.
terdengar erangan sangat kuat.
Raja Yuko datang menebas tirai yang bergoyang... Bayangan hitam itu keluar dengan cepat pergi menuju kediaman Permaisuri dan Putri Rena.
Aku berlari tidak sadar melompat jendela.
aku mengeluarkan kemampuanku, merapalkan mantra yang terpatri dari dalam pikiranku menyerap energi yang ada, kubuka telapak tanganku bunga teratai emas seperti hologram terbentuk memecah mengikat bayangan hitam dengan cahaya terang memusnahkan bayangan hitam tak berbentuk itu menjadi abu di udara. Dan lenyap.
Aku merasakan kakiku sakit sekali.
Duduk bersimpuh di tanah, dayang berlari membantuku berdiri. Raja Yuko berdiri di balik jendela kediaman Swanzi.
**
Pagi-pagi kakiku pegal semua.
Dayang datang menyiapkan air mandi.
"Setelah aku mandi, bisa membantu memijit kakiku kan? " tanyaku
"Baik Nona... " jawab dayang.
Pakaianku sudah di siapkan bersama riasan rambut, dayang membantuku menata rambut dan berias wajah.
Aku ikut- ikut saja anggaplah ini pelayanan eksklusif kerajaan.
Aku sarapan sayuran, buah dan ikan kukus.
Lezat juga masakan koki istana.
"Mayanza... " Permaisuri masuk ke kamarku.
Aku yang sedang menikmati makanan cepat minum air putih.
"Aku dengar yang terjadi semalam" kata Permaisuri lalu memegang kedua tanganku.
Aku tidak langsung menjawab karena masih menelan air putih.
Aku mengangguk pelan.
"Terima kasih telah membantu kami, bagaimana kalau kau segera menikah dengan Raja Yuko" katanya.
"Uhukkk... " aku terbatuk, tersedak.
"Maaf membuatmu terkejut" kata Permaisuri.
"Dalam ramalan Tabib Zhi gadis pelindung kerajaan harus di nikahkan dengan Raja Yuko" kata Permaisuri tanpa memperdulikan kebingunganku.
Aku melepas genggaman Permaisuri.
"Aku pikir tidak begitu, aku disini hanya membantu sebagai tabib" kataku memberi penjelasan.
Putri Rena datang.
Aslinya jika seluruh wanita datang inilah awal dari bencana.
Ibu dan Anak ini sibuk berbicara sendiri sementara aku belum menghabiskan sarapanku setelah kelelahan.
"Bagaimana menurutmu" tanya Putri Rena.
"Hah, apa? " aku tidak mendengar apa yang mereka berdua katakan.
"Bagaimana kalau menikah dengan Raja Yuko dipercepat?akan mengakhiri bencana ini" kata Putri Rena.
"Tidak... Ti... Tidak" kataku mengangkat tangan di bahu sambil mengoyangkan jari-jari menegaskan maksud.
"Aku kemari menyelesaikan masalah yang aku timbulkan, dan aku harus kembali ke duniaku" jawabku.
"Namun di ramalan itu Raja akan menikah dengan orang dari negeri yang jauh" kata Permaisuri.
"Mungkin itu orang lain, belum datang saja. Yang jelas bukan aku" kataku jelas-jelas menolak.
" Tidak mungkin, kamar ini di siapkan untuk menjadi permaisuri Raja" kata Putri Rena.
"Apalagi kalian berpergian sering sekamar" katanya lagi dan memandang ibunya.
" Bu.. Bukan begitu kami tidak sekamar seperti yang dimaksud." kataku
"Lalu apa? Kami semua sudah tau kamu tinggal sekamar dengan Raja Yuko waktu di camp, dan aku serta ibu tau gelang yang kamu gunakan itu gelang kembar berpasangan Kerajaan dari leluhur, hanya pasangan Raja yang dapat memakainya" Putri Rena menjelaskan.
"Mohon maaf sepertinya ini salah sangka, memang benar kami sekamar aku tidur di ujung dan Raja Yuko berada di sisi yang lain, dan aku saat itu menjadi tawanan.
Gelang ini memang diberikan Raja Yuko padaku, bukan apa-apa hanya digunakan untuk melacak keberadaanku" jawabku memberi pengertian.
Permaisuri menggeleng kepala.
"Bukan itu yang di maksudkan di ramalan"
"Betul... Karena Mayanza adalah yang terpilih" kata Putri Rena.
**
Bersambung...