NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:564
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Pertama di Tanah Gersang

Dua hari masa persiapan berlalu dengan sangat cepat. Suasana di kawasan Akademi Sihir Grandoria mulai berangsur-angsur tenang, meski jejak-jejak pertempuran dahsyat di bawah Gerhana Bulan Merah masih terlihat jelas di sudut-sudut benteng perbatasan. Di bawah bimbingan para pengajar senior, benteng-benteng yang roboh perlahan dibangun kembali menggunakan sihir elemen tanah dan batu, sementara pilar-pilar es abadi milik Profesor Vane yang mengurung Naga Hitam tetap berdiri kokoh menjulang ke langit seperti monumen kemenangan.

Pagi itu, di pelataran utama akademi, ratusan murid, guru, dan warga ibu kota berkumpul untuk melepaskan keberangkatan Pasukan Ekspedisi Khusus. Angin pagi musim gugur berembus cukup kencang, menggoyahkan jubah-jubah biru berlambang perak milik kelima anggota Tim Vanguard.

Di barisan depan, Monica berdiri tegak dengan rambut hitam kuncir kudanya yang berkibar rapi. Di tangannya, tongkat safir berpendar emas sejuk, memancarkan aura ketenangan yang menenangkan siapa saja yang melihatnya.

Di sisinya, Reno tampak gagah dengan zirah Aegis of the Iron Titan yang telah diperbaiki total oleh para pandai besi akademi. Perisai besinya kini diperkuat dengan ukiran batu runa pelindung baru di permukaannya. Kazuma membawa beberapa gulungan peta sihir baru di dalam tas selempangnya, Elena menyunggingkan busur Celestial yang baru dipasangi tali serat energi murni, sementara Danis berdiri tenang di balik bayangan jubahnya seraya meremas gagang belati kembarnya.

Kepala Sekolah Alaric melangkah mendekati kelima anak muda tersebut. Pria tua itu menggenggam tongkat naganya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya terangkat untuk menepuk bahu Monica.

"Ingatlah, anak-anakku," ucap Alaric dengan suara berat yang dipenuhi kehangatan dan rasa bangga.

"Gurun Tengkorak Merah adalah wilayah liar yang berada di luar jangkauan hukum dan perlindungan sihir Kerajaan Grandoria. Di sana, Miasma kuno mengendap di dalam pasir dan badai angin bisa berubah menjadi ancaman mematikan dalam sekejap. Tetaplah saling percaya, dan jangan biarkan satu pun dari kalian tertinggal."

"Kami tidak akan mengecewakanmu, Kepala Sekolah," jawab Monica tegas seraya memberikan penghormatan penuh. "Kami akan kembali membawa kedamaian untuk benua ini."

Dengan diiringi sorak-sorai dan doa dari seluruh warga akademi, Tim Vanguard memacu kuda-kuda sihir mereka, melesat meninggalkan gerbang utama Grandoria. Langkah kaki kuda yang dilapisi aura cahaya menapak tanah dengan mantap, membelah padang rumput hijau yang perlahan-lahan berganti menjadi daratan berbatu cadas saat mereka bergerak kian jauh ke arah selatan.

Perjalanan menuju batas perbatasan memakan waktu seharian penuh.

Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, vegetasi hijau yang tadinya menyelimuti lanskap tanah kerajaan sepenuhnya menghilang. Tanah subur berganti menjadi daratan gersang berwarna merah bata yang retak-retak akibat paparan panas ekstrem selama ratusan tahun. Udara yang semula segar dan sejuk perlahan berganti menjadi panas, kering, dan berbau debu mineral yang menyengat.

Di hadapan mereka, berdiri sebuah jurang raksasa yang dikenal sebagai Celah Tengkorak—pintu masuk alami menuju Gurun Tengkorak Merah. Dinding-dinding tebing batu di sekeliling celah tersebut mengikis membentuk bukit-bukit kapur yang dari kejauhan menyerupai deretan tengkorak raksasa yang sedang melotot ke arah siapa pun yang berani melintasi perbatasan.

"Suhu udara di sini naik hampir dua kali lipat dibanding di akademi," gumam Kazuma seraya mengusap keringat di dahinya dan menyapu pandangan ke sekeliling. Ia mengeluarkan perkamen peta sihirnya dan mengaktifkan jarum kompas mana. "Dan seperti perkiraanku... aliran energi mana alami di tempat ini sangat kacau. Kompas sihir biasa tidak akan bisa berfungsi di dalam gurun ini."

"Kabut di depan sana juga tidak alami," tambah Danis seraya melompat turun dari kuda sihirnya untuk memeriksa tanah. Pemuda ahli bayangan itu berlutut, menyentuhkan jemarinya ke pasir berwarna merah pekat di dekat kakinya. "Ada sisa-sisa Miasma tingkat rendah yang menyatu dengan partikel pasir. Jika kita menghirupnya terlalu banyak tanpa perlindungan, saluran mana di dalam tubuh kita bisa tersumbat secara perlahan."

"Kalau begitu, aku akan menjaga sirkulasi udara kita," kata Monica mantap.

Monica memutar tongkat safirnya di udara, lalu menghentakkannya perlahan ke permukaan tanah gersang tersebut.

"Arcana Domain: Celestial Breeze!"

Kubah cahaya emas tipis berdiameter sepuluh meter merekah mengelilingi Tim Vanguard.

Berbeda dari perisai tempur Celestial Sanctum yang tebal dan memakan banyak mana, Celestial Breeze menghasilkan aliran angin sejuk yang terus-menerus menetralkan debu Miasma beracun sekaligus menjaga suhu udara di sekitar mereka tetap nyaman.

"Hah... rasanya jauh lebih segar sekarang!" seru Reno seraya menghela napas lega dan melonggarkan pelindung leher pada armor besinya. "Terima kasih, Ketua!"

"Jangan terlalu santai dulu, Reno," peringat Elena seraya memasang anak panah cahaya di busurnya dan menatap tajam ke arah kegelapan Celah Tengkorak di depan mereka. "Aku merasakan pergerakan di balik tebing batu itu. Seseorang... atau sesuatu... sedang mengawasi kedatangan kita sejak kita menyeberangi perbatasan."

Ruangan di bawah celah tebing batu mendadak menjadi sangat hening. Hanya ada suara cicitan angin gurun yang berembus melintasi celah-celah batu cadas, menciptakan suara siulan parau yang mengerikan.

Tiba-tiba, pasir merah di bawah kaki kuda-kuda sihir mereka meletus hebat!

SRRRRRH!

Dari balik tumpukan pasir gurun, tiga ekor monster raksasa berwujud kalajengking berkulit zirah hitam melompat keluar dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Sengat-sengat tajam mereka berpendar merah keunguan, memancarkan racun Miasma pekat yang siap menusuk apa saja di depan mereka.

Monster-monster itu adalah Scorpion Miasma—makhluk buas endemik gurun yang telah bermutasi akibat terpapar energi kegelapan milik Ordo Umbra.

"Musuh datang! Pasang formasi!" teriak Monica nyaring.

Reno bergerak refleks tanpa keraguan sedikit pun. Ia melompat dari atas kudanya, menghantamkan perisai besinya ke tanah dengan kekuatan penuh.

"Aegis of the Iron Titan!"

BOOOM!

Gelombang kejutan emas terpancar dari perisai Reno, menahan pukulan penjepit raksasa dari kalajengking pertama hingga tercipta percikan api yang menyilaukan. Benturan itu membuat kalajengking Miasma tersebut terhempas mundur belasan meter, meringis histeris akibat aura pemulihan emas yang membakar zirah hitamnya.

Di saat bersamaan, Kazuma menarik napas dalam-dalam, menari cepat merapal lingkaran sihir ganda di udara. Semburan api keemasan meletus dari telapak tangannya, membentuk burung api raksasa yang meluncur lurus menghantam kalajengking kedua.

"Hellfire Phoenix!"

Kobaran api suci Kazuma membakar habis zirah pelindung monster tersebut hingga berubah menjadi abu dalam hitungan detik. Sementara itu, Elena dengan ketelitian tingkat tinggi meluncurkan dua tembakan panah cahaya Celestial Arrow: Starfall yang menembus tepat di sepasang mata kalajengking ketiga, mematikan pergerakan monster itu secara instan.

Dalam waktu kurang dari dua menit, ketiga monster perintis gurun tersebut berhasil dilumpuhkan total oleh kerja sama tim yang sangat presisi.

Danis melangkah mendekati bangkai monster yang terbakar, lalu menunjuk sebuah ukiran simbol kecil yang terpatri di bagian bawah cangkang kalajengking tersebut. Ukiran itu berbentuk mata satu yang dilingkari oleh lima rantai—simbol pribadi milik pimpinan tertinggi Ordo Umbra, Lord Inquisitor Malakor.

"Monster-monster ini tidak bergerak atas insting liar," kata Danis dingin seraya mendongak menatap kegelapan jurang di depan mereka. "Mereka adalah penjaga garis depan yang disiagakan khusus untuk menyambut kedatangan kita."

Monica membetulkan kuncir kuda rambut hitamnya, lalu menggenggam tongkat safirnya erat-erat.

Cahaya biru jernih di matanya memancarkan keteguhan yang tak tertandingi saat menatap hamparan Gurun Tengkorak Merah yang luas dan penuh misteri di hadapan mereka.

"Malakor tahu kita datang," tutur Monica pelan namun tegas, suaranya mengalun membelah deru angin gurun. "Dan itu artinya kita berada di jalur yang benar. Tetap waspada, Tim Vanguard! Perjalanan kita di tanah terlarang ini baru saja dimulai!"

Dengan keberanian yang telah ditempa dalam pertempuran, kelima anggota Tim Vanguard melangkah mantap memasuki kegelapan Celah Tengkorak, siap menyambut bahaya dan teka-teki baru di Episode 24!

1
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!