Di hari pernikahannya. Aluna menggantikan sang adik untuk menikahi pangeran Arya. Adik dari raja yang rumornya menderita penyakit aneh. Setiap penyakit itu kambuh, Dia akan membunuh siapapun yang mendekatinya. Tetapi, Setelah bertemu Aluna. Penyakit Arya melunak, Bahkan begitu lembut menghadapi sifat kekanakan Aluna meskipun penyakitnya kambuh.
Lalu, Bagaimanakah Aluna hidup bersama Arya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Najmu Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI PERNIKAHAN
Para pelayan berlalu lalang, Dan menunduk hormat saat nyonya Fira mendatangi paviliun utama. Melihat sang ibu datang, Zephira bangkit dan tersenyum senang.
"Ibu...Bagaimana dengan pernikahan-ku?" Tanyanya dengan antusias. Sebenarnya ia sangat tahu hasil yang akan di dapat olehnya, Hanya saja ia sangat penasaran dengan kesengsaraan apa yang akan di dapatkan oleh Aluna kali ini.
"Tentu saja akan lancar, Kau akan menikah dengan putra mahkota. Sedangkan Si bodoh itu akan menikahi pangeran Arya." Ucap Fira tersenyum licik.
Senyum Zephira memudar...
"Ibu, Mengapa dia tidak di nikahkan dengan seorang prajurit biasa saja. Bagaimana jika pangeran Arya menerima pernikahan ini." Meskipun sudah mendapatkan pernikahan yang ia mau, Rasanya Zephira masih tak puas dengan apa yang akan di dapatkan oleh Aluna. Ia ingin, Aluna lebih menderita lagi.
"Kau tenang saja, Pangeran Arya itu tak akan bertahan lama. Dia memang sangat di segani karna jasanya dalam Medan perang. Tetapi, Dia punya penyakit aneh yang bisa kambuh kapan saja. Siapapun yang berada di sisinya. Akan ia bunuh."
Mendengar ucapan nyonya Fira, Zephira tersenyum puas.
"Apa itu artinya, Kehidupan Aluna tak akan sebaik diriku?" Tanyanya dengan Wajah bahagia yang puas.
"Tentu saja" Nyonya Fira mendorong pelan tubuh putrinya dan membantunya duduk menghadap meja rias. " Kau akan menjadi pengantin paling cantik dan paling mulia di antara semua gadis, Sedangkan dia. Dia hanya cocok berada di tempat yang buruk, Dan di tertawakan oleh semua orang." Puji nyonya Fira, Membuat Zephira tersipu malu.
"Ibu, Aku sangat bahagia. Terima kasih ibu." Zephira memeluk sang ibu dengan erat, Sekilas kedua matanya menjadi tajam sambil tersenyum miring. " Kau memang layak mendapatkan itu, Aluna." Gumamnya kecil.
Di satu sisi. Tepatnya di dalam gubuk reyot milik Aluna. Gadis itu sudah terbangun dari tidurnya. Hawa dingin malam hari menusuknya untuk yang kesekian kali. Hingga ia kini sedang berusaha memasukan sebuah kayu bakar di dalam tunggu untuk menghangatkan tubuhnya.
"Ini lebih baik." Gumamnya tersenyum senang.
***
3 Hari berlalu....
Kediaman wangsa di penuhi oleh beberapa tetangga dan rakyat yang ingin menyaksikan kedua gadis itu di jemput oleh mempelai lelaki. Semuanya merasa penasaran bagaimana dengan pernikahan keduanya.
Aluna, Gadis itu kini memakai penutup kepala yang menutupi seluruh kepala dan wajahnya. Ia berjalan bersama bibi Yun, Pelayan kepercayaan Fira.
"Cepatlah! Sangat lambat." Geram bibi Yun, Mendorong kasar Aluna. Sedangkan gadis itu terlihat gugup sambil memainkan kedua tangannya.
Keduanya keluar menunggu di depan gerbang keluarga wangsa, Menunggu calon mempelai pria untuk menjemput. Aluna datang dengan langkah yang gugup membuat beberapa orang berbisik.
'Lihatlah, Nona sulung berjalan dengan tidak benar.'
'Pakaiannya juga, Terlihat aneh.'
'Tentu saja, Dia kan memang terkenal karna bodoh. Berbeda dengan nona kedua. Dia cantik dan berbakat.'
Bisikan itu, Semakin membuat Aluna menunduk. Ia tahu bahwa adiknya memang jauh lebih baik darinya. Adiknya punya banyak pelayan untuk membantunya berhias, Sedangkan dirinya tidak, Ia harus berusaha memakai riasan dan baju berat ini sendirian.
Tak lama, Rombongan kereta kuda datang. Dengan berbagai kotak hadiah. Para prajurit menebar koin emas di sekelilingnya. Membuat penunggang kuda semakin di puji.
"Putra mahkota telah datang!" Teriakan itu mampu membuat beberapa orang terpukau dan berbisik.
Di balik tudung merahnya, Zephira tersenyum licik. Ia sangat senang melihat Aluna di permalukan di muka umum seperti ini. Apalagi, Ia tahu betul bahwa pangeran Arya sedang sakit keras, Sehingga tak akan datang untuk menjemput pengantinnya.
"Salam pangeran mahkota." Tuan Wangsa menunduk hormat, Pangeran baskara tersenyum dan mengangguk. Ia mengulurkan tangannya pada Zephira.
Zephira menerima uluran tangan itu, Semua rakyat yang menonton sangat mengagumi pasangan itu. Berbeda dengan Aluna yang masih berdiri gugup di depan gerbang keluarga wangsa. Menunggu calon mempelainya.
"Yang mulia, Ayo." Ucap Zephira menarik lembut pangeran baskara, Baskara mengangguk dan membantu Zephira menaiki tandu pengantin.
Entah mengapa, Baskara merasa cukup penasaran dengan kakak sulung Zephira, gadis bodoh yang di rumorkan semua orang. Awalnya, Ia tahu bahwa gadis itu lah yang seharusnya menjadi istrinya, Tetapi tuan Wangsa mengatakan bahwa gadis itu mengalami masalah pada otaknya saat kecil. Itu sebabnya ia menjadi gadis bodoh yang tak akan mampu menjadi putri mahkota.
Angin dingin berhembus kencang, Aluna memundurkan sedikit langkahnya. Tudung merahnya hampir tersibak angin. Tetapi gadis yang tak tahu seberapa pentingnya penutup wajah itu, Ia hanya diam saat angin mulai menampakan wajah cantiknya.
Beberapa rakyat berbisik kaget. Begitu pun baskara, Pemuda itu menatap dengan jelas. Betapa cantiknya gadis yang di rumorkan sangat bodoh itu. Bahkan kecantikannya tak di miliki oleh seluruh gadis kota.
"Yang mulia?"
Baskara menoleh terkejut, Zephira merasa heran dengan calon suaminya yang hanya diam di balik tandunya. Bukankah ini waktu yang cukup baik, Untuk segera berangkat.
"Yang mulia, Sebaiknya kalian segera berangkat. Ini adalah waktu yang sangat bagus untuk melanjutkan pernikahan." Ucap tuan Wangsa,
Dengan berat hati. Baskara menaiki kudanya, Ia sesekali melirik ke arah Aluna yang wajahnya sudah kembali tertutup kain merah. Di dalam hati kecilnya, Ia sedikit menyayangkan bahwa gadis itu akan menjadi bibinya. Menikahi paman Arya yang akan segera mati.
"Ayo, Kembali ke kediaman-ku!" Teriak baskara, Rombongan itu membawa pengantinnya pergi meninggalkan kediaman wangsa.
Setelah kepergian rombongan putra mahkota, Para tetangga menatap Aluna yang masih menunggu dengan wajah mengejek. Diam-diam Fira tersenyum senang. Sedangkan tuan Wangsa, Ia hanya mengibaskan hanfunya kasar, Merasa sangat malu melihat putri sulungnya.
Tak lama, Beberapa rombongan datang membawa sebuah tandu pernikahan, Seorang prajurit turun dan menunduk hormat pada tuan Wangsa.
"Salam tuan, Pangeran Arya tak bisa hadir. Tubuhnya sedang sangat lemah. Itu sebabnya ia mengutus saya untuk membawa pengantinnya menuju kediaman." Hormat Juna, Tuan wangsa tersenyum getir.
"Tidak apa, Saya mengerti keadaan pangeran Arya. Itu putri sulung saya. " Ucap tuan Wangsa, Beberapa orang berbisik.
'Benar-benar bernasib buruk, Bahkan calon suaminya tak menjemputnya'
'Kau tidak tahu, Pangeran Arya itu adalah orang yang akan segera mati.'
Para prajurit itu menatap tajam orang-orang yang sedang bergosip. Hingga kini, Semuanya menutup rapat mulutnya.
"Ini adalah mahar dari pangeran Arya."
4 orang prajurit mengangkat 1 buah peti emas, Beberapa tetangga yang melihat tertawa pelan. Berbeda dengan Zephira yang di berikan berpuluh-puluh kotak, Justru Aluna hanya di berikan satu kotak. Ini benar-benar penghinaan.
"Saya harap, Tuan wangsa mau menerimanya." Ucap Juna tersenyum miring, Tuan wangsa menunduk dengan gigi tertekan menahan amarah.
"Keluarga wangsa menerimanya, Sampaikan rasa terima kasih saya pada pangeran Arya."
Aluna menaiki sebuah tandu dengan wajah gembira, Ia tak sabar untuk memakan ayam dan paha babi. Terakhir ia memakan itu sewaktu kecil.
"Peti emas itu pasti cukup untuk makan paha ayam dan babi." Batinnya berpikir polos.
Rombongan pangeran Arya mulai melangkah meninggalkan kediaman wangsa, Nyonya Fira tersenyum senang. Membayangkan penderitaan apa saja yang akan di terima oleh gadis itu.
TBC
like dan komen.
ditunggu kelanjutannya 🙏