Dia bukan siapa-siapa di keluarganya sendiri. Dihina, dipukul, dan dianggap sampah oleh adik kandungnya sendiri, Su Yu hanya punya satu harga diri tersisa: kepatuhan. Ketika ia diperintahkan masuk ke Hutan Kelabu yang mematikan untuk mencari Tanduk Rusa Malam, ia tidak punya pilihan selain menurut.
Namun di dalam hutan, ia menyaksikan pertarungan antara dua makhluk dahsyat yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ketika seorang peri cantik terjatuh tak berdaya di hadapannya, Su Yu dihadapkan pada pilihan sederhana: pergi menyelamatkan diri, atau mempertaruhkan nyawanya untuk orang asing.
Ia memilih yang kedua.
Tanpa disadarinya, satu tindakan kecil itu akan mengubah takdirnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Aku Bukan Bagian Dari Kalian
Semua orang menatap Su Yu yang tergantung di tembok dengan seringai puas. Darah terus menetes dari dadanya yang tertembus pedang hijau, membentuk genangan kecil di atas tanah batu. Tidak ada satu pun yang merasa iba.
Tetua Pertama menoleh ke arah tubuh Su Jao yang tergeletak tak bernyawa di tengah halaman. Matanya menyipit, rahangnya mengeras, lalu ia mengalihkan pandangan kepada Su Yu dengan kebencian yang nyaris tak terbendung.
"Tangkap dia," perintahnya dengan suara rendah namun terdengar jelas di seluruh penjuru halaman. "Sebelum kematiannya, kita akan cari tahu apa rahasia dia tiba-tiba bisa berkultivasi."
Tetua Keempat yang berdiri paling dekat mengangguk sekali. "Aku setuju."
Pria berusia tiga puluhan itu melangkah mendekati Su Yu dengan senyum tipis.
Tepat ketika telapak kakinya menyentuh tanah di bawah Su Yu, kedua mata pemuda itu terbuka lebar.
"Belum selesai!"
Su Yu mencengkeram gagang pedang hijau yang menembus dadanya, lalu menariknya keluar dengan paksa.
CRASH!
Darah menyembur deras dari luka itu, memuncrat ke segala arah. Wajah Tetua Keempat terkena semburan paling banyak hingga matanya tertutup cairan merah.
"ARGHHH! SIALAN!" Tetua Keempat mundur terhuyung sambil mengusap kedua matanya dengan panik.
Su Yu jatuh ke tanah dengan lutut lebih dulu, lalu telapak tangan kirinya menopang tubuh. Napasnya memburu, tetapi seulas senyum muncul di sudut bibirnya.
"Tangkap dia!" teriak Tetua Pertama sambil melesat maju.
Namun terlambat.
Cahaya biru menyelimuti tubuh Su Yu dalam sekejap. Sosoknya menghilang dari tempatnya, meninggalkan genangan darah yang masih mengepulkan uap tipis.
Satu tarikan napas kemudian, langit sore di atas kediaman Klan Su menampilkan pemandangan yang membuat seluruh anggota klan mendongak.
Su Yu berdiri di atas punggung seekor burung raksasa berbulu biru. Tangan kirinya menekan dada yang berlumuran darah, sementara tangan kanannya mencengkeram pedang hijau milik Tetua Keempat.
"Burung spiritual apa itu?!" seru salah satu pemuda dengan suara nyaris tercekat.
"Kenapa makhluk sebesar itu bisa muncul bersama sampah itu?!"
Sementara para tetua, yang bisa merasakan makhluk itu tidak biasa, mata mereka melebar.
Su Yu tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan itu. Tatapannya turun, menyapu halaman klan yang kini dipenuhi wajah-wajah pucat. Suaranya terdengar lirih, tetapi setiap orang yang berdiri di bawah sana dapat mendengarnya dengan jelas.
"Mulai hari ini, aku bukan lagi bagian dari Klan Su." Ia menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat. "Di masa depan, kalian akan menerima pembalasan yang setimpal."
Xioutian mengepakkan kedua sayapnya lebar-lebar, menciptakan hembusan angin yang menerpa atap-atap rumah di bawahnya.
"Mari kita pergi, Tuan!" seru Xioutian.
"Baiklah. Pergi!" jawab Su Yu.
Burung raksasa itu melesat cepat ke langit sore, meninggalkan bayangan biru yang memanjang di antara awan-awan rendah.
Tetua Pertama tidak butuh waktu lama untuk bereaksi. Ia langsung mengeluarkan pedang spiritualnya yang berwarna perak.
"Kejar dia! Jangan biarkan dia kabur!"
Setelah mengatakan itu, tetua pertama melompat ke bilah pedangnya, lalu tubuhnya melesat seperti anak panah menuju arah burung itu.
Tetua Kedua menoleh kepada para pemuda dan pemudi yang masih terpaku di halaman.
"Kalian sampaikan kejadian ini kepada pemimpin! Cepat!"
Setelah mengucapkan perintah itu, Tetua Kedua dan Tetua Ketiga langsung melesat ke langit, menyusul Tetua Pertama.
Tetua Keempat masih mengusap kedua matanya yang perih. Ia menggeram pelan, lalu menghentakkan kakinya ke tanah dan ikut melesat ke udara. Wajahnya masih berlumuran darah, tetapi amarahnya jauh lebih panas daripada rasa sakit di matanya.
*****
Di atas punggung Xioutian, Su Yu sudah duduk bersila dengan kedua tangan mencengkeram bulu burung itu, dan mereka sudah terbang menjauh dari kota Yunwu.
Pedang hijau Tetua Keempat ia letakkan di samping pahanya. Darah dari dadanya masih mengalir, tetapi ia tidak punya waktu untuk menghentikannya sekarang.
"Xioutian, lebih cepat lagi!" seru Su Yu sambil menoleh ke belakang. "Mereka semakin mendekat!"
Xioutian melirik ke arah belakang tanpa mengubah arah terbangnya. Empat sosok tampak semakin jelas di kejauhan, masing-masing meninggalkan jejak energi spiritual berwarna berbeda di udara sore.
"Sial, mereka terlalu lancang mengejarku!" Xioutian mendengus keras. "Jika aku tidak terluka, membunuh mereka semudah membalikkan telapak tangan!"
"Jangan banyak mengeluh!" balas Su Yu sambil menekan dadanya lebih kuat. "Fokus pada kecepatanmu!"
biasanya novel karyamu selalu mendapatkan atensi yang banyak🤔🤔🤔