NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Seorang CEO

Cinta Rahasia Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Koo nana

Abiyasa Mahendra (28) adalah CEO muda berdingin hati yang memimpin Mahendra Group, salah satu konglomerat terbesar di tanah air. Di mata publik dan rekan bisnisnya, Yasa adalah sosok perfeksionis, rasional, dan tak tersentuh oleh urusan asmara. Namun, hidupnya yang tertata rapi lenyap seketika ketika surat wasiat mendiang kakeknya memaksanya menikahi Nadira Kirana (18), seorang siswi SMA tingkat akhir yang ceria, impulsif, dan polos.
​Bagi Yasa, pernikahan ini tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan pemenuhan kewajiban demi mempertahankan posisinya sebagai CEO. Sementara bagi Dira, pernikahan impian yang ia bayangkan hancur berantakan saat harus berbagi atap dengan pria dewasa yang lebih mirip seperti dosen penguji daripada seorang suami.Akankah ikatan pernikahan tanpa cinta ini runtuh di tengah jalan saat Dira lulus sekolah, atau justru berubah menjadi kisah cinta sejati yang menyatukan dua peradaban yang jauh berbeda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Koo nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. TEMPAT BARU

Pesawat privat berlogo Mahendra Group mendarat mulus di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA). Udara pagi yang sejuk menyambut kedatangan Abiyasa dan Nadira.

​Sebuah mobil sedan hitam bersama pengawal pribadi sudah menunggu di area apron privat bandara. Pak Maman yang sengaja diberangkatkan lebih awal untuk menyiapkan segala kebutuhan di Jogja, membukakan pintu mobil dengan bungkukan hormat yang hangat.

​"Selamat datang di Jogja, Pak Abiyasa, Neng Nadira," sapa Pak Maman ramah seraya tersenyum lebar. "Semua persiapan di rumah Kaliurang sudah seratus persen selesai, Pak."

​"Terima kasih, Pak Maman. Langsung menuju rumah saja," jawab Abiyasa datar namun ramah seraya menuntun Nadira masuk ke dalam kabin mobil sejuk.

​Selama perjalanan menyusuri jalanan Jogja yang tenang, Nadira tak berhenti menatap ke luar jendela. Pohon-pohon rindang, deretan warung makan khas, dan megahnya Gunung Merapi di kejauhan yang tampak samar terhalang awan tipis membuat dadanya berdesir gembira.

​"Suka?" tanya Abiyasa pelan, jemari kokohnya menggenggam erat tangan kecil Nadira di atas pangkuan mereka.

​Nadira menoleh, senyum manis mekar sempurna di wajah mewahnya. "Suka banget, Mas! Udaranya sejuk, terus suasananya tenang banget. Beda banget sama Jakarta yang bising."

​Abiyasa menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh kehangatan yang kini begitu alami terukir di bibirnya. "Rumah kita terletak sedikit di atas perbukitan. Udaranya jauh lebih sejuk dari ini. Kamu pasti betah."

​Empat puluh lima menit kemudian, mobil memasuki sebuah gerbang kayu jati berukir yang megah di kawasan Kaliurang.

​Mobil berhenti di pelataran sebuah rumah vila dua lantai yang berarsitektur tropis-modern. Dinding batu alam, kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari, serta halaman rumput hijau yang luas dihiasi tanaman hias menyajikan pemandangan yang amat asri. Di belakang vila, membentang pemandangan pepohonan rindang dan latar bukit yang hijau.

​Nadira melangkah keluar dari mobil dengan mata membelalak takjub. "Mas Abi... ini beneran rumah kita?!"

​Abiyasa melangkah di sampingnya, meletakkan tangan kanannya di pinggang mungil Nadira secara protektif. "Tentu saja. Mari saya tunjukkan studio lukismu."

​Abiyasa menuntun Nadira masuk ke dalam rumah. Interior ruangan didominasi oleh perabotan kayu jati hangat, lantai marmer krem, dan pencahayaan alami yang melimpah.

​Saat mereka menaiki tangga kayu menuju lantai dua, Abiyasa membuka sebuah pintu kaca tebal berkusen kayu hitam.

​Nadira menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan pekikan bahagia.

​Sebuah ruangan studio seni yang sangat luas terhampar di hadapannya. Dinding bagian luarnya sepenuhnya terbuat dari kaca tebal yang menghadap langsung ke panorama alam dan puncak Merapi. Di dalam ruangan, sudah tersusun rapi beberapa easel kayu tempat menaruh kanvas, rak-rak berisi ratusan cat minyak berkualitas tinggi, kuas berbagai ukuran, kertas gambar impor, hingga meja kerja kayu yang sangat luas.

​"Mas... Abi..." panggil Nadira seraya berbalik, matanya berkaca-kaca menatap suaminya. "Ini... ini studio lukis paling impian yang pernah aku bayangin!"

​Abiyasa mendekat, menyunting beberapa helai rambut Nadira yang menutupi pipi. "Saya minta desainer interior khusus untuk merancangnya berdasarkan apa yang sering kamu impikan. Di ruangan ini, kamu bebas berkarya tanpa gangguan apa pun."

​Nadira tak sanggup lagi menahan rasa harunya. Ia langsung melempar tubuhnya ke dalam dekapan tegap Abiyasa, melingkarkan lengan kecilnya di leher suaminya dan menyembunyikan wajah mewahnya di ceruk leher Abiyasa.

​"Makasih ya, Mas Abi... Makasih banyak," bisik Nadira sesenggukan bahagia. "Aku nggak tahu harus bales semua kebaikan Mas Abi pakai apa..."

​Abiyasa merengkuh tubuh mungil istrinya erat-erat, mengecupi rambut dan pelipis Nadira dengan rasa cinta yang melimpah. "Kamu tidak perlu membalas apa pun, Nadira. Cukup menjadi istri saya yang bahagia dan tidak pernah melepaskan genggaman tangan saya. Itu sudah lebih dari cukup."

​Siang harinya, setelah merapikan sebagian barang bawaan, Abiyasa mengajak Nadira keluar untuk mampir ke area kampus guna mengecek jalur perjalanan dari rumah menuju Fakultas Seni Rupa.

​Mobil berhenti di dekat plaza fakultas yang teduh oleh pepohonan beringin dan mahoni besar. Suasana kampus tampak ramai oleh mahasiswa yang lalu lalang.

​Nadira dan Abiyasa turun dari mobil. Kali ini, Abiyasa mengenakan kemeja santai berwarna abu-abu yang lengannya digulung hingga siku, dipadukan dengan celana kain gelap—memberikan kesan seperti pria dewasa muda yang sangat tampan dan berwibawa.

​Mereka berjalan menyusuri trotoar kampus seraya bergandengan tangan dengan mesra.

​"Jarak dari rumah ke gedung fakultasmu ini hanya sepuluh menit jika jalanan lancar," terang Abiyasa seraya mengamati sekeliling. "Pak Maman akan selalu mengantarmu setiap pagi."

​"Mas Abi..." panggil Nadira seraya mendongak menatap suaminya. "Nanti kalau aku sudah kuliah, aku boleh naik sepeda ke kampus nggak? Teman-temanku bilang di Jogja banyak mahasiswa yang naik sepeda biar seger."

​Abiyasa menghentikan langkahnya, menatap Nadira dengan alis terangkat sebelah. "Naik sepeda? Di jalan raya Jogja?"

​"Iya! Jalurnya kan ada khusus sepeda, Mas!" rengek Nadira manja seraya menarik-narik lengan kemeja Abiyasa. "Boleh ya?"

​Abiyasa diam sejenak, memikirkan kalkulasi keamanannya. Namun melihat mata bulat Nadira yang menatapnya penuh harap, benteng ketegasannya kembali runtuh.

​"Boleh," putus Abiyasa akhirnya. "Tapi dengan dua syarat."

​"Apa aja syaratnya?!" tanya Nadira antusias.

​"Pertama, sepedanya harus dilengkapi alat pelacak GPS yang terhubung ke ponsel saya. Kedua, Pak Maman akan mengikutimu dari jarak lima puluh meter dengan mobil," ujar Abiyasa santai namun sarat akan nada posesif mutlak.

​Nadira memutar matanya seraya tertawa geli. "Mas Abi lebay banget sih! Masa aku naik sepeda dikawal mobil dari belakang?! Nanti dikira anak pejabat!"

​"Saya tidak peduli," sahut Abiyasa tegas seraya menyunggingkan senyum menawan.

"Keselamatan Nyonya Mahendra adalah harga mati."

​Saat mereka sedang terkekeh bersama di bawah rindangnya pohon mahoni, dua orang mahasiswa laki-laki berseragam jas almamater UG* melintas di dekat mereka. Salah satu mahasiswa sempat melirik ke arah Nadira yang tersenyum manis, memandangnya dengan rasa tertarik yang jelas.

​Namun, sebelum mahasiswa itu sempat melangkah lebih dekat, Abiyasa secara refleks memindahkan tangannya ke pinggang mungil Nadira, menarik tubuh istrinya mendekat hingga menempel sempurna di sisinya. Mata cokelat gelap sang CEO memberikan tatapan dingin dan tajam yang sangat mengintimidasi ke arah mahasiswa tersebut.

​Mahasiswa itu langsung menelan ludah pias, buru-buru memalingkan wajah dan mempercepat langkahnya pergi.

​Nadira yang menyadari interaksi singkat itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia menengadahkan wajahnya, menatap Abiyasa yang berpura-pura menatap ke arah gedung fakultas.

​"Mas Abi... posesifnya kumat lagi ya?" goda Nadira seraya mencubit pelan pinggang Abiyasa.

​Abiyasa menoleh, menatap istrinya dengan pendar cinta yang intens. "Saya hanya menegaskan batas wilayah. Kamu adalah milik saya, Nadira. Di Jakarta, di Jogja, atau di mana pun kita berada."

​Pipi Nadira seketika merona merah hangat. Senyuman paling manis dan bahagianya terpancar jelas. Ia merapatkan tubuhnya di lengan tegap Abiyasa seraya menyandarkan kepalanya sejenak di sana.

​"Iya, Pak Bos. Saya memang cuma milik Mas Abiyasa Mahendra seorang," bisik Nadira tulus.

​Abiyasa mengecup singkat puncak kepala Nadira di bawah naungan angin kampus Jogja yang sejuk. Di tempat baru ini, babak baru kehidupan mereka resmi dimulai.

1
Ariany Sudjana
semangat belajar juga yah Nadira, kejar cita-cita kamu untuk bisa meneruskan kuliah seni rupa 😄🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!