"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Baru 34
Oza menekan tengkuknya yang terasa kaku. Dia tidak menyangka bahwa Trisna akan meluap-luap seperti ini. Dia pikir Trisna akan terus diam seperti sebelumnya.
"Al, kenapa jadi sulit gini sih. Aku cuma pengen bales orang yang sudah buat kamu meninggalkan aku. Cuma itu aja, Al. Tapi kenapa orang itu malah baik-baik aja. Kenapa orang itu nggak ada sedih-sedihnya. Padahal aku udah buat dia kehilangan orang yang dicintai dan juga orang terdekatnya. Tapi, kenapa dia tetap baik-baik aja?"
Oza yang masih berdiri di depan kaca, kembali melihat ke luar. Matanya membelalak saat melihat Rhea yang tertawa riang. Reflek, Oza mengepalkan tangannya dan memukul kaca.
Dugh!
Di bawah sana, Rhea memang tertawa, itu karena ulah Tono yang tengah menceritakan kisah lucu. Setidaknya bagi mereka berdua. Karena sang bos hanya diam saja tanpa berekspresi apapun.
Sebenarnya baik Tono maupun Rhea tidak tahu, mengapa tiba-tiba Nayaka mengajak pergi ke luar. Pasalnya mereka hari ini sedang tidak ada jadwal untuk bertemu klien di luar atau mengunjungi 'garasi' mereka.
"Kita mau kemana sih Pak Tono?" bisik Rhea sebelum mereka masuk ke mobil.
"Nggak tahu, Mbak. Soalnya nggak ada warning apapun sebelumnya," jawab Tono dengan berbisik pula.
Keduanya yang sama-sama tidak tahu itu memilih untuk diam lalu masuk ke mobil bersamaan. Posisinya adalah Tono menyetir, dimana Rhea duduk di sebelahnya, dan Nayaka duduk di kursi penumpang.
"Jadi, kemana kita Pak Nayaka?" tanya Tono, ia melihat ke arah kaca spion dalam.
"Ke warung kopi, mana aja bebas. Yang penting ada kopi hitamnya," jawab Nayaka. Wajahnya menatap ke arah luar jendela.
"Kalau tidak keberatan, saya ada rekomendasi, Pak. Kopi hitamnya di sana insya Allah enak," jawab Rhea sambil tersenyum.
"Ya udah kita ke sana," sahut Tono.
Mobil di jalankan, dan mereka melesat pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh Rhea. Selama di dalam mobil, mereka tak ada yang bicara. Terlebih kepala Rhea sekarang sangat penuh, memikirkan tentang bagaimana memulai bicara soal ucapan terimakasih yang harus dia sampaikan ke Nayaka dan Tono atas pertolongannya waktu itu.
"Kita sampai," ucap Tono. "Bener di sini kan Mbak Rhea?" sambungnya.
"Eh, oh ita sudah sampai. Iya benar Pak," jawab Rhea sambil celingukan. Dia tidak menyangka bahwa sudah sampai di tempat tujuan.
"Mari kita masuk Pak Tono, Pak Nayaka," ajak Rhea.
Tono dan Nayaka saling pandang.
"Dia kayak udah sering ke sini ya, Pak?" ucap Tono.
Dugaan Tono tersebut semakin jelas saat seorang karyawan kafe menyapa Rhea, dan bahkan hapal dengan pesanan Rhea.
Tono sedikit terkejut mengetahui bahwa Rhea menyukai kpi hitam. Selama ini Rhea tidak pernah terlihat meminumnya.
"Kamu sering kesini?" tanya Nayaka.
"Iya Pak, sebelum saya bekerja di Malaysia, saya cukup sering kemari," jawab Rhea. Tatapan wanita itu seolah menerawang jauh. Nayaka bisa menangkapnya sejenak.
Setelah semua pesanan datang, mereka menikmati kopi mereka masing-masing dalam diam.
Ekor mata Nayaka menangkap senyum Rhea setiap kali meneguk kopi. Dimana hal itu juga membuat Nayaka tersenyum, meski hanya sangat tipis.
"Jadi, ada apa Pak Bos ngajak kita kemari? Apa ada yang mau dibicarakan secara khusus?"
Tono membuka percakapan. Dia tentu sangat penasaran mengapa sepagi ini Nayaka sudah mengajak mereka pergi ke luar, bahkan tanpa adanya pekerjaan.
"Nggak ada, lagi pengen aja."
Mulut Ton langsung mengangan degan lebar. Sedangkan Rhea ia langsung mengarahkan pandangannya kepada Tono.
"Seriusan nggak ada apa-apa? Jangan-jangan abis ini kita disuruh kerja rodi lagi," ucap Tono sambil menyipitkan kedua matanya. Tatapan tak percaya itu tergambar nyata pada wajahnya.
"Suudzon."
Hanya sata kata itu saja yang keluar dari bibir Nayaka. Setelahnya, pria tersebut diam dan tak bicara apapun sambil menikmati kopi panasnya.
Rhea mengamati gerak gerik Nayaka. Dalam hatinya muncul dorongan besar. Saat ini adalah momen yang tepat menurutnya untuk mengatakan terimakasih.
Rhea mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Dia meletakkan gelasnya lebih dulu, lalu menggenggam kedua tangannya sendiri.
"Pak Nayaka, Pak Tono, terimakasih untuk waktu itu. Terimakasih telah menolong saya."
Mata Rhea terpejam saat berkata demikian.
Nayaka yang tadinya melihat ke arah lain, langsung menatap ke arah Rhea. Tono pun demikian, dia meletakkan gelasnya dan juga melihat ke arah Rhea.
"Saya baru ingat, ternyata Pak Nayaka yang menolong saya hari itu. Saya sungguh berterimakasih karena berkat Bapak, saya masih di sini sekarang. Pak Tono juga, terimakasih. Saya berterimakasih karena Anda berdua bahkan sama sekali tidak bertanya apapun saat kita bertemu lagi. Terimakasih Pak Nayaka, Pak Tono."
Senyum Rhea begitu tulus. Nayaka bisa melihat pancaran mata penuh kesungguhan. Ia bernafas panjang.
"Hiduplah dengan baik. Jangan lagi melakukan tindakan bodoh sepert itu lagi," ucap Nayaka.
"Ya, saya bersumpah tidak akan melakukannya," jawab Rhea dengan sungguh-sungguh.,
Nayaka tersenyum tipis. Dia merasa lega, karena ternyata kegelisahannya semalaman tidak terbukti.
"Gelisah? Aku? Karena bocah ini? Nggak lah, itu nggak mungkin," ucap Nayaka dalam hati. Matanya melirik sekejap ke arah Rhea yang tengah berbicara kepada Tono. Ia lalu menggelengkan kepalanya cepat.
TBC
Rhea ga berhasil kekejar eeh yg kau dapat hanya penyesalan mendalam, lu kira kamu guanteng bangett gitu sampe2 mikir Rhea msh mau sm kamu?? percaya diri kali kau 😆😆
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭