Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21. Kalimat tegas yang justru membuat jantungku berdebar
Hari itu, suasana di dalam kelas terasa berbeda dari biasanya. Udara seakan lebih tegang, dan tatapan Arga saat masuk ruangan terasa lebih tajam dari biasanya. Langkah kakinya tegas, dan begitu berdiri di depan meja dosen, ia meletakkan berkas-berkas di tangannya dengan bunyi yang cukup keras hingga membuat beberapa mahasiswi tersentak kaget. Jantungku yang tadinya berdetak tenang seketika berpacu kencang, bukan karena takut, melainkan karena merasakan ada sesuatu yang berbeda pada dirinya hari ini.
"Sebelum kita mulai pelajaran hari ini," suaranya terdengar tegas, lantang, dan tanpa nada bercanda sedikit pun. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan yang serius. "Saya ingin menyampaikan satu hal penting. Di dalam kelas ini, hubungan antara dosen dan mahasiswa harus tetap terjaga dengan profesionalisme yang tinggi. Tak boleh ada perlakuan istimewa, tak boleh ada kedekatan pribadi yang melampaui batas, dan tak boleh ada hal-hal yang dapat meragukan kehormatan institusi maupun diri pribadi masing-masing."
Beberapa mahasiswa saling berpandangan, ada yang berbisik pelan, ada yang mengangguk serius. Namun bagiku, kalimat-kalimat itu terasa seperti ditujukan langsung kepadaku. Setiap kata yang keluar dari bibirnya begitu tegas, begitu dingin, seakan ingin menegaskan batas yang tak boleh kulangkahi sedikit pun. Dadaku terasa sesak. Apakah... apakah ia sedang menyadarkanku? Apakah ia merasa aku terlalu berani menunjukkan perasaanku? Apakah ia menyesal telah menjalin hubungan ini?
Namun di tengah kecemasan itu, ia berhenti sejenak. Matanya berhenti tepat di wajahku, menatapku lekat-lekat tanpa berkedip sedikit pun. Dan di sinilah kalimat itu meluncur—kalimat yang begitu tegas, namun justru membuat jantungku berdebar kencang tak tertahankan, membuat seluruh tubuhku terasa panas dan dingin sekaligus.
"Dan bagi siapa pun yang merasa memiliki hubungan pribadi dengan saya di luar kampus," ucapnya dengan nada rendah namun tegas, cukup terdengar jelas olehku namun tak menarik perhatian orang lain, "ingatlah satu hal: ketegasan saya di sini bukan berarti saya tidak peduli. Justru karena saya sangat peduli, saya harus bersikap tegas. Agar nama baikmu tetap terjaga, agar kelak saat kita bisa berdiri berdampingan tanpa perlu menyembunyikan apa pun, tak ada satu pun orang yang bisa meragukan bahwa dirimu pantas berdiri di sampingku."
Napasku tertahan. Kata-kata itu begitu sederhana namun maknanya begitu dalam dan begitu kuat. Kalimat yang terdengar seperti peringatan, ternyata bukan larangan melainkan janji. Bukan penolakan, melainkan perlindungan yang terselubung di balik ketegasan. Ia bersikap tegas bukan untuk menjauhkanku, melainkan untuk menjagaku. Bukan karena tak peduli, melainkan karena terlalu peduli hingga tak ingin ada sedikit pun noda yang jatuh pada namaku.
Dadaku yang tadinya terasa sesak kini perlahan melebar, digantikan oleh rasa hangat yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Jantungku berdebar semakin kencang, kali ini bukan karena cemas, melainkan karena haru dan rasa bahagia yang meluap-luap. Di balik sikap tegasnya, di balik kata-katanya yang dingin dan tak kenal ampun, tersembunyi perhatian yang begitu dalam dan begitu tulus. Ia sedang berjuang bersamaku, bukan melawanku. Ia sedang membangun pondasi yang kuat agar kelak hubungan kita bisa berdiri tegak tanpa perlu takut dihujat siapa pun.
Setelah mengucapkan itu, ia melanjutkan pelajarannya seperti biasa. Wajahnya kembali tenang dan serius, menjelaskan materi dengan rinci dan cermat seakan tak ada hal istimewa yang baru saja terucap. Namun bagiku, sejak saat itu, setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa berbeda. Setiap kali ia menatapku, aku tahu bahwa di balik tatapan tegas itu, ada kasih sayang yang tak boleh ditunjukkan kepada siapa pun. Setiap kali ia bersikap keras padaku, aku tahu bahwa itu adalah caranya menjagaku, bukan menindasku.
Saat jam pelajaran usai dan mahasiswa mulai beranjak keluar, ia sempat menatapku sekilas sebelum berbalik pergi. Sekilas saja, namun cukup untuk menyampaikan satu hal yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata: Tetaplah kuat. Bersabarlah. Semua ini demi kebaikan kita berdua.
Aku duduk diam di bangkuku, memegangi dadaku yang masih berdebar kencang. Kalimat tegas yang tadi ia ucapkan, yang sempat membuatku cemas dan takut, ternyata justru menjadi hal yang paling membuatku jatuh cinta padanya. Karena dari situlah aku paham: pria yang bersikap tegas demi menjaga kehormatanmu adalah pria yang mencintaimu dengan cara yang paling tulus dan paling bertanggung jawab. Dan sejak hari itu, setiap kali ia bersikap tegas kepadaku, aku tak lagi merasa takut atau sedih. Sebaliknya, jantungku justru berdebar—karena aku tahu, di balik ketegasan itu, ada cinta yang jauh lebih besar dan jauh lebih berharga daripada sekadar kata-kata manis yang mudah diucapkan.
bersambung...