NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernafasan Gajah Bertanduk 2 Menerobos Ke Tingkat Menengah!

Derap kaki kuda dan rombongan kavaleri lainnya mulai terdengar, membelah keheningan desa perbatasan yang sedang di landa kecemasan.

Begitu sosok Simon dan tim Kapten Jon terlihat di gerbang desa, suasana seketika pecah oleh isak tangis dan teriakan haru.

Seorang wanita paruh baya dengan pakaian lusuh langsung berlari dan bersujud di hadapan kuda Kapten Jon, itu adalah ibu Lana.

Orang tua dari gadis-gadis desa lainnya mengikuti, menciptakan pemandangan memilukan di atas tanah yang membeku.

"Terima kasih... terima kasih banyak, Tuan Ksatria! Anda telah membawa kembali putri kami!" Ucap ibu Lana dengan suara terisak.

"Tanpa bantuan Anda, kami tidak tahu nasib apa yang menimpa putri-putri kami di tangan Sekte sesat yang terkutuk itu!"

Kapten Jon segera melompat turun dari pelananya dan membantu ibu Lana berdiri.

"Berdirilah, Nyonya. Ini sudah menjadi tugas kami sebagai pelayan Baron Brent untuk melindungi warganya yang lemah," ucap Kapten Jon dengan nada yang tegas.

Ia kemudian menoleh ke arah Simon di sampingnya yang terdiam.

"Namun, orang yang benar-benar harus kalian beri ucapan terima kasih adalah bocah ini," Kapten Jon menunjuk ke arah Simon.

"Tanpa keberaniannya menyusup sendirian ke markas mereka, mungkin saat ini anak-anak kalian sudah berada di dunia bawah sebagai tumbal."

Para orang tua tersebut menatap Simon dengan pandangan penuh kekaguman dan rasa syukur yang mendalam.

"Terima kasih, Tuan Muda Ksatria! Semoga Tuhan memberkatimu!" seru mereka serempak.

Di tengah kerumunan, Lana yang sejak tadi diam dengan tubuh gemetaran tiba-tiba berlari dan memeluk Simon.

"Syukurlah... syukurlah kamu baik-baik saja," isak Lana sembari membenamkan wajahnya di zirah kulit Simon.

"Kalau kamu mati di sana karenaku, aku tidak tahu harus bagaimana lagi... hiks..."

Simon tertegun sejenak. Ini pertama kalinya baginya di peluk oleh perempuan kecuali ibunya, ia secara naluriah ingin melepaskan pelukan itu.

Namun, melihat kerapuhan gadis di depannya, ia mengurungkan niat tersebut dan membiarkan Lana menangis di pundaknya selama beberapa detik.

"Tidak apa-apa, Lana," balas Simon dengan senyum.

"Untung teman-temanku datang tepat waktu, sehingga kami berhasil memberantas sekte sesat itu sepenuhnya."

Lana perlahan melepaskan pelukannya, wajahnya masih memerah dengan mata yang lembap karena air mata.

"Terima kasih, Simon. Kamu benar-benar pahlawan bagi kami," bisiknya pelan.

Simon hanya mengangguk kecil, sepasang matanya kembali melihat sekeliling.

"Pastikan kamu beristirahat. Di perbatasan ini masih menyimpan banyak bahaya tersembunyi," pesan dari Simon.

"Hmm.." Lana mengangguk.

Tak lama kemudian, Kepala Desa berjalan mendekat dan membungkuk rendah di hadapan Kapten Jon.

"Saya selaku kepala desa sangat berterima kasih atas jasa luar biasa para ksatria terhormat," ucap kepala desa tua itu dengan nada gemetar.

"Sama-sama. Melindungi warga adalah sumpah ksatria," jawab Kapten Jon dengan singkat.

Ia sempat melirik ke arah Simon yang sedang mengobrol kecil dengan Lana, bahkan melihat Simon dan Lana tertawa, sehingga Jon langsung berdehem keras.

"Ehem!"

Simon dan Lana tersentak lalu menoleh.

"Ara-ara~ Lana kalo di pikir-pikir umur mu sudah mau ke 17 tahun, apakah kamu masih belum menemukan calon suami?" Ibu Lana tertawa pelan menggoda anaknya.

"Lihat ksatria muda itu bukannya tampan?" Senggol ibunya dengan tangan.

"Ibuu..." Teriak Lana dengan pelan sambil memasang wajah merah.

Simon yang sangat peka terhadap situasi, segera menenangkan dirinya, dan kemudian dia bertanya kepada kepala desa.

"Begini kepala desa, kami membutuhkan ruangan yang aman untuk mengurung Uskup Sekte Widow ini sebelum kami membawanya ke hadapan Baron" ucap Simon sembari menunjuk ke arah pria berjubah compang-camping yang diikat erat dan diseret oleh Tomi.

Mendengar dirinya disebut, Sang Uskup mendongak dengan wajah yang menjijikkan menatap kepala desa.

"Ludahilah aku sepuas kalian! Jaring Dewi Laba-laba Merah tidak akan pernah putus! Kalian semua hanya sampah yang akan membusuk di neraka!" kutuk Uskup itu dengan gila.

PLAK!

Kepala desa maju dan menampar wajah Uskup itu dengan sangat keras hingga bibirnya pecah.

"Kauu..." Geram uskup.

"Diam kau, iblis! Kau telah menculik anak-anak kami dan merusak kedamaian desa ini!" teriak kepala desa dengan wajah penuh amarah.

Warga desa lainnya, yang tersulut emosinya, mulai mendekat dan melayangkan pukulan serta tendangan ke arah tawanan tersebut.

"Mati kau! Pembunuh!" teriak seorang warga sembari melemparkan batu kecil.

"Ceramahilah dirimu sendiri di tiang gantung Baron!" Sambar yang lain.

"Kalian semua bidat pantas mati!" Teriak uskup dengan sisa tenaganya.

Melihat situasi mulai tidak terkendali, Gogo segera maju dan menggunakan tubuh besarnya untuk memisahkan warga dari Uskup yang sudah babak belur itu.

"Cukup! Hentikan semuanya!" raung Gogo dengan suara menggelegar.

"Nanti kalau dia mati sekarang, urusannya bisa rumit. Kami butuh dia tetap bernapas untuk diserahkan sebagai bukti hidup kepada Baron Brent besok!"

Warga desa perlahan mundur, emosi mereka masih sangat tinggi dan rasa ingin memukul karena dendam yang tersisa masih ada namun mereka mengikuti perintah gogo.

"Bagus." Ucap Gogo.

Kapten Jon memberikan isyarat kepada Tomi untuk segera membawa Uskup tersebut ke ruang bawah tanah di rumah kepala desa, karena disanalah tempat yang paling kokoh.

..........

Setelah memastikan uskup sesat yang fanatik itu terbelenggu erat di ruang bawah tanah kepala desa, Simon segera kembali ke kamarnya untuk mengasingkan diri.

Suasana malam di perbatasan utara sangat dingin, namun bagi Simon, keheningan ini adalah laboratorium terbaik untuk menempa kekuatannya.

Di dalam kamar, Simon duduk bersila dan memulai rutinitasnya.

[ Pernafasan Laba-laba +1 ]

Ia mepraktikan Pernafasan Laba-laba dan seketika, bulu-bulu halus di lengannya berdiri tegak, menjadi sangat sensitif terhadap hal sekecil apa pun di sekitarnya.

[ Pernafasan Laba-laba +2 ]

[ Pernafasan Laba-laba +1 ]

Setelah indranya menjadi tajam, ia beralih ke Pernafasan Titan Jormungar, menarik napas berat yang membuat uap dingin pekat keluar dari mulutnya seolah-olah ia sedang menelan cairan es langsung ke paru-parunya.

[ Pernafasan Titan Jormungar +3 ]

[ Pernafasan Titan Jormungar +1 ]

[ Pernafasan Titan Jormungar +1 ]

Simon kemudian memusatkan seluruh perhatiannya pada Pernafasan Gajah Bertanduk 2.

[ Pernafasan Gajah Bertanduk +3 ]

Ia memaksa otot-ototnya berkontraksi dengan beban masif, meniru kekuatan gajah raksasa yang mampu menghancurkan gunung.

Keringat mulai bercucuran deras di dahinya meski suhu ruangannya dingin.

[ Pernafasan Gajah Bertanduk +5 ]

Bum!

Sebuah getaran hebat meledak dari pusat tubuhnya, merambat melalui tulang belakang dan menyebar ke setiap serat selnya.

Simon merasakan lonjakan kekuatan yang begitu besar hingga dadanya terasa sesak oleh energi yang meluap-luap ini.

Pada saat itu, muncul keinginan liar di benaknya untuk segera menerjang ke tepi pantai utara dan menghantamkan seluruh tubuhnya ke lautan luas untuk melampiaskan tekanan energi yang tak terbendung ini.

[ Pernafasan Gajah Bertanduk 2 (Menengah) 2/300 ]

Dengan napas yang mengepulkan uap, Simon berdiri dan segera melepas baju zirah serta pakaian atasnya yang basah kuyup oleh keringat.

Di bawah cahaya lilin yang redup, tubuh Simon menampakkan transformasi yang menakjubkan bagi seorang remaja berumur 16 tahun.

Lihatlah Otot perutnya yang sangat padat dan six-pack, sementara proporsi tubuhnya terlihat sempurna menyerupai patung Yunani yang dipahat dengan presisi, tidak terlalu besar namun sangat atletis dan fungsional.

Simon meraih sapu tangan pemberian Lana dan menyeka keringat di leher serta dadanya yang kotak.

Ia kemudian memanggil panel biru transparan yang melayang di depannya.

Nama: Simon Blake

Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 3

Ketrampilan:

Pernafasan Ular Hitam (Tinggi): 368/400

Pernafasan Gajah Bertanduk 2 (Menengah): 2/300

Pernafasan Titan Jormungar (Pemula): 22/100

Pernafasan Laba-laba (Pemula): 45/100

Teknik Pedang Silang (Menengah): 237/300

Tinju Riak (Dasar): 185/200

Farmasi (Pemula): 37/100

Penjinak Hewan (Pemula): 61/100

Simon menatap hasil kerja kerasnya dengan pandangan dingin yang puas.

"Hanya butuh sedikit lagi hingga Ular Hitam mencapai kesempurnaan.

Saat itulah aku akan menjadi Ksatria Formal sejati yang mampu memanipulasi Qi Pertempuran!

"Di tambah dengan teknik pernapasan lainnya, aku cukup yakin bisa menghadapi dua Ksatria Formal sekaligus tanpa kesulitan saat Qi pertempurannya bangkit."

Namun, ia juga merasakan keterbatasan sumber dayanya.

"Aku harus kembali ke pasar gelap untuk menemui Tuan Martin.

Tanpa ramuannya, peningkatanku menjadi sangat lambat," keluhnya dalam hati

"Juga, aku ingin menaikan poin kemahiran farmasi, dengan begitu racikan ramuanku kemungkinan gagal akan berkurang."

Tiba-tiba, suara decitan pintu kayu yang terbuka mengejutkan Simon.

Ia menoleh dengan cepat, masih dalam kondisi bertelanjang dada.

Di ambang pintu, berdiri seorang gadis berambut pirang, itu adalah Lana!

Lana mengenakan baju tidur yang sangat longgar dan terbuka di bagian leher, memperlihatkan kulit putih mulusnya yang merona kemerahan.

Potongan bajunya yang rendah secara tak sengaja mempertontonkan lekuk tubuhnya yang ramping di balik kain tipis tersebut.

"Simon..." ucap Lana dengan pelan suara yang sedikit bergetar dan imut, matanya menatap tajam ke arah otot-otot Simon yang seperti roti sobek, ototnya juga berkilau terkena sisa keringat.

Simon, yang biasanya selalu tenang dan tidak emosional, mendadak merasa tenggorokannya kering.

Ia menelan ludah dengan canggung, merasa gugup menghadapi situasi yang tidak bisa ia selesaikan. Dia hanya tau cara membunuh! Tolong!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!