NovelToon NovelToon
Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Istri Pengantin Untuk CEO Lumpu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Langkah Kecil yang Berani

Keesokan paginya, sinar matahari tampak lebih cerah menyelinap masuk lewat jendela ruang makan. Argan sudah duduk di tempatnya, namun kali ini ia tak hanya diam menatap secangkir kopinya yang mengepul. Saat melihat Aruna masuk dengan penampilan rapi dan senyum yang tak lagi dipaksakan, ia mengangguk pelan memberi isyarat agar gadis itu duduk di sebelahnya.

“Hari ini kita akan berkeliling ke kantor pusat,” ucap Argan saat pelayan mulai menuangkan teh hangat ke cangkir Aruna. “Kau akan bertemu dengan para kepala divisi, melihat bagaimana pekerjaan berjalan, dan mengenal siapa saja orang-orang yang bisa kita percaya—dan yang perlu kita waspadai.”

Aruna mengangguk pelan, menyembunyikan rasa gugupnya di balik senyum sopan. “Saya siap. Apa saja yang perlu saya perhatikan?”

“Lihatlah mereka bekerja, dengarkan saran mereka, tapi jangan mudah percaya begitu saja,” jawab Argan tenang. “Di dunia bisnis, senyum tak selalu berarti persahabatan. Namun satu hal yang harus kau ingat: kau adalah istriku. Tak ada yang berhak meremehkan atau merendahkanmu, apa pun alasannya.”

Perjalanan menuju gedung pencakar langit milik keluarga Adhyaksa berjalan tenang. Sesampainya di sana, pintu mobil dibukakan oleh Bimo, dan Aruna membantu mengarahkan kursi roda Argan dengan hati-hati namun cekatan. Kedatangan mereka disambut keramahan para staf, namun Aruna bisa menangkap sekilas tatapan heran dan bisik-bisik samar yang masih tersisa—tentang pengantin yang hilang, tentang gadis yang menggantikan kakaknya, dan tentang pria perkasa yang kini duduk diam di kursi roda.

Namun kali ini Aruna tak lagi merasa ingin menunduk. Ia berdiri tegak di samping Argan, menyapa setiap orang yang lewat dengan tatapan yang tenang dan mantap.

Saat memasuki ruang rapat utama yang luas, suasana mendadak hening. Para direktur dan manajer yang hadir menatap bergantian pada Argan dan Aruna. Beberapa wajah terlihat hormat, namun tak sedikit yang menyembunyikan keraguan—terutama pada Aruna yang terlihat begitu muda dan asing di antara mereka.

“Selamat pagi semuanya,” suara Argan terdengar tegas dan berwibawa, seketika membuat keraguan itu meredup. “Izinkan saya memperkenalkan istri saya, Aruna Adhyaksa. Mulai hari ini, beliau akan mendampingi saya dalam setiap urusan penting perusahaan. Apa yang beliau katakan atau lakukan atas nama saya, adalah sama dengan perkataan dan perintah saya sendiri.”

Kalimat itu bagai tamparan halus bagi siapa saja yang berniat meremehkan gadis di sampingnya. Aruna merasakan dada menghangat, bukan karena sombong, melainkan karena merasa dilindungi dan dihargai oleh orang yang paling berarti baginya saat ini.

Pertemuan berjalan berjam-jam. Argan menjelaskan rencana kerja, menyikapi laporan kerugian yang diduga akibat kebocoran data yang dilakukan Aisyah bersama Dimas, dan mengambil keputusan-keputusan berani untuk mengamankan posisi perusahaan. Aruna mendengarkan dengan saksama, mencatat poin-poin penting, dan sesekali—saat ada pertanyaan yang ditujukan padanya—ia menjawab dengan bijak sesuai apa yang ia pelajari dari Argan.

Di sela jeda rapat, seorang manajer tua yang setia sejak masa ayah Argan mendekat dengan senyum tulus. “Kami lega melihat Tuan Muda tidak menyerah. Dan Nyonya... Anda telah membawa kembali semangat yang sempat hilang dari wajah Tuan Argan. Terima kasih.”

Aruna hanya tersenyum sopan, namun kalimat itu tertanam dalam di hatinya.

Sore harinya, saat mereka berada di ruangan pribadi Argan di lantai teratas, Argan menatap pemandangan kota yang terhampar luas di bawah mereka. “Kau melakukannya dengan sangat baik hari ini. Kau tidak goyah walau tatapan mereka begitu berat.”

“Karena saya tahu saya tidak sendirian,” jawab Aruna pelan berdiri di samping kursi roda itu. “Langkah saya kecil, Argan. Tapi saya berani melangkah karena Anda ada di samping saya.”

Argan menoleh perlahan. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan mengalir di hatinya—perpaduan rasa aman, kagum, dan sesuatu yang mulai tumbuh perlahan namun pasti. Ia meraih tangan Aruna yang tergantung di sisi tubuhnya, menggenggamnya erat namun lembut.

“Langkah kecil yang berani itulah yang akan membawa kita melewati segala rintangan,” ucapnya pelan. “Dan mulai sekarang, kita melangkah bersama. Tidak ada lagi kau dan aku. Hanya ada kita.”

Di tengah gedung tinggi yang menjadi saksi perjuangan keluarga mereka, hari itu menjadi awal yang baru. Langkah kecil Aruna yang penuh keberanian telah mengubah segalanya—membuka pintu hati yang sempat tertutup rapat, dan menyalakan kembali api semangat yang sempat hampir padam.

 

Lanjut ke Bab 9?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!