Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang Menjelang Perjamuan Agung
Waktu berjalan terasa begitu lambat, berat, dan amat menyesakkan dada di dalam Kediaman Sterling yang megah namun terisolasi. Sesuai dengan titah mutlak yang telah dikeluarkan oleh para penguasa dunia bawah itu, seluruh gerbang utama mansion kini dikunci rapat dari segala penjuru dengan rantai baja tebal berlapis pengaman ganda, sementara sistem keamanan digital tingkat tinggi ditingkatkan hingga tiga kali lipat dari biasanya. Tidak ada celah sedikit pun bagi siapa pun untuk keluar atau masuk tanpa izin khusus yang langsung diverifikasi secara biometrik oleh Kaiser, Zero, maupun Lucid. Barisan penjaga bayaran bersenjata lengkap berpatroli tanpa henti di setiap sudut lorong dan halaman, mengubah tempat tinggal mewah tersebut menjadi sebuah benteng pertahanan militer yang paling ditakuti sekaligus paling mematikan di seluruh penjuru dunia hitam.
Di dalam kamar utamanya yang luas dan bernuansa klasik modern, Ceira duduk termenung di dekat jendela besar berbingkai kaca anti peluru yang langsung menghadap ke arah halaman depan mansion. Meskipun aktivitas kuliahnya dihentikan secara paksa untuk sementara waktu demi alasan keamanan mutlak, pikirannya sama sekali tidak merasa tenang. Ia sangat tahu betul, apa yang terjadi di taman kampus kemarin bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sekadar permulaan dari badai besar yang siap menghantam kapan saja dari berbagai arah tanpa diduga.
Suasana di luar jendela tampak begitu lengang, diselimuti oleh kabut tipis malam yang mulai turun. Lampu-lampu sorot pengamanan berputar perlahan, menyapu area taman yang kini bersih dari segala ancaman luar. Namun, ketenangan semu itu justru semakin membuat batin Ceira bergolak. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya kini telah terseret terlalu jauh ke dalam pusaran kegelapan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Wanita berambut pirang murahan bernama Clara itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya,” suara Scarlett mendengus tajam di dalam ruang kesadaran mereka, bernada penuh geram dan amarah yang membakar ubun-ubun. “Berani-beraninya dia mengirim preman-preman rendahan untuk menyerang kita di tempat umum. Kalau saja para penguasa gila itu tidak menyeret kita pulang kemarin, sudah kupecahkan kepala wanita sialan itu sampai tak berbentuk di atas tanah kampus!”
Ceira menghela napas pelan, meraba bahu kanannya yang masih terasa sedikit nyeri dan ngilu akibat hantaman benda tumpul kemarin. Meskipun fisiknya dibatasi dengan ketat di dalam sangkar emas berbalot kemewahan ini, ada satu perubahan besar yang terjadi pada dirinya—Ceira tidak lagi merasa rapuh atau cengeng seperti sebelumnya. Kehadiran Scarlett yang liar serta tempaan keras dari dunia bawah telah menempa mentalnya menjadi jauh lebih tahan banting, dingin, dan siap melawan setiap ancaman yang datang menerjang hidupnya. Ia tidak akan lagi membiarkan dirinya diinjak-injak oleh siapa pun, baik oleh wanita-wanita ambisius di luar sana maupun oleh para monster yang kini mengurung raganya.
Tiba-tiba, daun pintu kamar terbuka perlahan tanpa menimbulkan suara sedikit pun, memecah kesunyian di dalam ruangan.
King—yang kesadarannya kini tengah mendominasi raga fisik mereka dengan aura dingin yang begitu tenang—melangkah masuk ke dalam ruangan. Diikuti di belakangnya oleh Lucid, alter ego bayangan yang sesekali mengambil alih untuk memastikan detail strategi pengamanan berlapis berjalan sempurna tanpa cela. King mengenakan kemeja hitam polos dengan lengan digulung sebatas siku, memancarkan kharisma seorang pemimpin sindikat yang mutlak dan tidak terbantahkan oleh siapa pun di dunia ini.
"Kau melamun, Nyonya Sterling," suara bariton King mengalun rendah, memecah kesunyian di dalam kamar. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah mantap tanpa suara, lalu berdiri tepat di hadapan Ceira dengan tatapan mata yang tajam dan sulit diartikan.
Ceira mendongak perlahan, menatap lurus manik mata King tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun di wajahnya. "Aku tidak melamun. Aku hanya berpikir, sampai kapan kalian akan terus mengurungku di tempat ini seperti tawanan perang yang tidak punya hak hidup?" tanyanya dingin, menantang otoritas pria di hadapannya.
King menyunggingkan senyuman tipis—sebuah seringai dingin yang menyimpan ketertarikan dan obsesi mendalam. Pria itu membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan Ceira agar bisa menatap manik mata cokelat itu lebih dekat. "Kau bukan tawanan, Ceira. Kau adalah pusat dari seluruh benteng pertahanan ini," bisiknya lembut namun sarat akan mutlakitas. "Dan besok malam... di hadapan seluruh petinggi dunia bawah pada perjamuan agung sindikat, semua orang akan melihat dengan mata kepala mereka sendiri status mutlakmu di sisiku."
Mendengar kata "perjamuan agung" yang disebut-sebut, ingatan Ceira langsung melompat pada peringatan-peringatan keras yang ia terima, serta ancaman tersembunyi dari para musuh yang mengincar posisi berbahaya tersebut. Pertemuan tingkat tinggi para sindikat selalu menjadi ajang pertumpahan darah tak kasat mata, tempat di mana aliansi dibentuk dan musuh dihabisi dalam satu malam penuh intrik.
Di tempat terpisah, tepatnya di kediaman mewah keluarga Clara dan Audrey, malam menjelang perjamuan besar tersebut justru diisi oleh ketegangan yang amat pekat dan rencana-rencana busuk yang siap dieksekusi mati-matian demi ambisi pribadi yang telah membutakan akal sehat.
Di mansion megahnya yang bernuansa putih bersih, Clara mondar-mandir di kamar pribadinya dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Sebuah botol kecil berukuran mikro berisi cairan perangsang kuat kelas atas digenggam erat di dalam tas tangan mewahnya. Tangannya bahkan bergetar hebat saat membayangkan risiko besar dari tindakan nekat yang akan ia lakukan esok hari di hadapan para petinggi dunia bawah.
"Ayah... apa rencana ini benar-benar tidak akan gagal?" bisik Clara cemas dengan suara bergetar ketika ayahnya melangkah masuk memeriksa persiapan terakhir di kamarnya.
Sang ayah menatap putrinya dengan tatapan tajam penuh perhitungan dingin. "Jangan merasa takut sekarang, Clara! Ini adalah satu-satunya pertaruhan terakhir kita untuk merebut posisi di keluarga Sterling. Jika kita diam saja, kita akan tersingkir selamanya dan keluarga kita akan dihancurkan oleh mereka. Gunakan botol itu tanpa ragu saat perjamuan berlangsung pada tetesan minuman pertama!"
Sementara itu, di sebuah markas rahasia yang dikelilingi layar pemantau digital berukuran besar dan barisan server canggih, Zayn Al-Fayed berdiri tegak dengan tangan bersidekap di dada. Sorot matanya menyala tajam menatap potret digital Kediaman Sterling yang tertera di layar utama. Jari-jarinya mengetuk pelan meja kendali di hadapannya dengan ritme yang konstan, mencerminkan ketidaksabaran yang membara di dalam jiwanya.
"Perjamuan agung keluarga Sterling..." gumam Zayn pelan dengan senyuman miring penuh misteri yang mengerikan. "Nikmati perlindungan rapat kalian untuk terakhir kalinya malam ini. Karena besok, aku sendiri yang akan datang dan merobek ratu itu dari pelukan kalian."
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏
Semangat