Disebuah kerajaan bulan yang dihuni ribuan manusia Srigala. Disaat gerhana bulan merah, permaisuri Lira baru saja melahirkan seorang anak perempuan yang cantik namun tidak memiliki aura Srigala yang membuat sang Raja Argan harus membunuh anak kandungnya sendiri karena dianggap aib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 024: Ancaman di Goa dan Jejak Sumber Kehidupan
Setelah kabut es lenyap dan luka Kaelan pulih sepenuhnya, Seraphina dan Kaelan tak berlama-lama beristirahat. Mereka kembali melangkah membelah hutan purba, menuju lokasi di mana sumber kehidupan Morgarth tersembunyi, satu-satunya cara untuk mengakhiri ancaman kegelapan yang semakin meluas. Langkah mereka tetap mantap, namun kewaspadaan tak pernah surut.
"Tuan Putri, apakah di depan sana masih menanti jebakan lain?" tanya Kaelan pelan, matanya terus memindai pepohonan lebat yang menjulang tinggi di sekeliling mereka.
"Aku juga tidak tahu pasti, Kae. Tapi yang jelas, semakin dekat kita ke tujuan, semakin berbahaya jalannya. Kita harus lebih berhati-hati dari sebelumnya," jawab Seraphina, suaranya rendah namun tegas. Ia terus menatap sekeliling, menyisir setiap inci wilayah di sekitar mereka.
"Baik, Tuan Putri. Kali ini aku akan tetap waspada dan tak akan lengah lagi," jawab Kaelan mantap, tangannya erat mencengkeram gagang senjatanya.
Suasana hutan semakin mencekam. Pepohonan rapat menutupi cahaya langit, membuat suasana redup dan dingin. Angin berhembus pelan namun membawa aura gelap yang samar, seolah seluruh alam sedang menahan napas menyaksikan perjalanan mereka.
Sementara itu, di tempat lain, Elara berdiri tegak di depan mulut sebuah goa kuno yang tersembunyi di balik rimbunnya tanaman merambat. Di sampingnya berdiri Drakar dan Gorah, siap melaksanakan setiap perintahnya. Ini adalah goa tempat Srigala Bangsawan Rian disembunyikan dan dilindungi.
Di dalam goa, Nazar dan Rian berdiri siaga di bagian terdalam. Rian tampak gelisah, wajahnya penuh kekhawatiran karena Seraphina belum juga kembali.
"Nazar... mereka datang. Aku bisa merasakan aura Elara. Dia pasti datang untuk menangkapku dan mengambil inti kehidupanku," ucap Rian dengan suara gemetar, matanya menatap pintu masuk goa yang gelap.
"Jangan khawatir, Rian. Aku akan melindungimu dengan nyawaku, sesuai janjiku kepada Tuan Seraphina," ucap Nazar tegas, menenangkan sekaligus mempertegas tekadnya. Ia melangkah maju, berdiri di depan Rian sebagai tameng pertama.
Di luar, Elara tersenyum sinis lalu mengangkat kedua tangannya. Aura gelap melingkar di telapak tangannya, dan ia mulai merapalkan mantra penghancur yang kuat. Batu-batu besar menutup pintu goa bergetar hebat, lalu pecah berantakan seketika. Pintu masuk yang tadinya tertutup rapat kini terbuka lebar. Elara melangkah masuk dengan anggun namun penuh ancaman, diikuti Drakar dan Gorah di belakangnya.
"Nazar... kita bertemu lagi," ucap Elara dingin, matanya berkilat tajam. "Serahkan Srigala Bangsawan itu padaku, dan mungkin aku akan membiarkanmu hidup."
"Aku tak akan pernah menyerahkannya kepada wanita iblis sepertimu!" balas Nazar tegas, tak sedikit pun gentar.
"Baiklah... jika kau tak mau menyerahkan dengan sukarela, maka aku akan mengambilnya sendiri!" Elara kembali merapalkan mantra, dan seketika ribuan gagak hitam muncul dari kegelapan, mengepakkan sayap dengan suara berisik lalu menyerang Nazar secara bersamaan. Namun Nazar tak berpindah tempat sedikit pun. Dengan satu lambaian tangannya, ia memancarkan cahaya keemasan yang membuat gagak-gagak itu berteriak lalu lenyap seketika.
Elara mengertakkan gigi, kemarahannya memuncak. Ia mulai merapalkan mantra terlarang yang jauh lebih kuat, aura hitam pekat menyelimuti seluruh tubuhnya. Nazar pun tak tinggal diam, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menahan serangan sihir gelap itu, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya saat kekuatan mantra itu menekannya semakin kuat.
Di saat yang sama, Seraphina dan Kaelan terus mendaki tebing yang sangat curam dan berbahaya. Di bawah sana terlihat jurang yang dalam dan berkabut. Namun tiba-tiba mata Seraphina terbelalak di kejauhan, di celah tebing yang tersembunyi, ia melihat mulut sebuah goa yang memancarkan aura gelap dan terkuat yang pernah ia rasakan.
"Itu... itu dia! Goa tempat sumber kehidupan Morgarth berada!" batin Seraphina bersemangat, namun hatinya seketika terasa berat. "Tapi... aku bisa merasakannya. Elara sudah mulai bergerak lagi. Dia sedang berusaha mengambil inti kehidupan Srigala Bangsawan yang ada di dalam tubuh Rian! Aku harus segera sampai ke sana!"
Di dalam goa, pertarungan antara Nazar dan Elara semakin dahsyat, tak ada pihak yang mau mengalah.
Sementara itu, Rian yang tak bisa hanya berdiam diri, melesat maju untuk melawan Drakar dan Gorah sendirian. Cahaya perak dan bayangan hitam saling bertabrakan di udara. Kekuatan mereka masih seimbang, namun waktu terus berjalan dan Seraphina harus segera memilih: menuju sumber kehidupan Morgarth, atau kembali menyelamatkan Rian dan Nazar?