NovelToon NovelToon
Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Lima Tahun Dipenjara, Kini Seluruh Keluarga Berlutut

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Putri asli/palsu / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:28.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vira Dusk

Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.

Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.

Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.

Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.

Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.

Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.

Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1

Pintu Besi yang Terbuka

Kaki kiri Keira Pratama yang telah berubah bentuk terseret pelan ketika ia melewati pintu besi Lapas Perempuan Tangerang.

Krek.

Sol sepatu kainnya menggesek aspal. Satu langkah, satu tarikan napas. Gerbang di belakangnya menutup dengan bunyi berat, seolah lima tahun hidupnya baru saja dikunci di sisi lain.

Keira tidak menoleh.

Matahari pagi menyentuh wajahnya yang kurus dan pucat kekuningan. Seragam SMA abu-abu putih yang melekat di tubuhnya sudah pudar. Bagian sikunya tipis, roknya terlalu longgar, dan benang pada lambang sekolah di dada telah terurai.

Itulah satu-satunya pakaian yang dikembalikan kepadanya.

Pakaian yang ia kenakan saat masuk pada usia delapan belas tahun.

Di seberang jalan, sebuah Bentley hitam mengilap menunggu di bawah bayangan pohon. Mesin mobil itu menyala halus. Kaca belakangnya gelap, bodinya bersih tanpa setitik debu.

Pintu pengemudi terbuka.

Kevin Pratama turun dengan setelan biru gelap dan jam tangan yang harganya mungkin cukup untuk membayar makan satu blok lapas selama berbulan-bulan. Ia menatap Keira dari kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti pada kaki kiri Keira, tetapi hanya sesaat.

"Akhirnya keluar juga."

Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan apakah ia sakit.

Keira berdiri di depan gerbang dengan kantong plastik bening berisi kartu identitas lama, selembar surat pembebasan, dan uang sisa yang bahkan tidak cukup untuk naik taksi sampai Jakarta Selatan.

Kevin berjalan mendekat. Alisnya berkerut ketika Keira tidak menyambutnya seperti dulu.

Lima tahun lalu, gadis itu akan berlari kecil sambil memanggil, "Ko Kevin," hanya karena kakaknya datang menjemput dari sekolah. Ia akan tersenyum meski Kevin menyuruhnya duduk jauh dari Vanessa. Ia akan mengucapkan terima kasih untuk hal-hal yang seharusnya tidak perlu ia mohon.

Hari ini, Keira hanya memandangnya seperti memandang orang asing.

"Masuk ke mobil," kata Kevin. "Papa dan Mama sudah menyiapkan pesta sambutan di rumah. Jangan membuat semua orang menunggu hanya karena kamu ingin terlihat menyedihkan."

Jari Keira mengencang pada kantong plastik.

Ada rasa getir yang sempat naik ke pangkal lidahnya. Begitu cepat, begitu akrab. Kalimat pertama dari keluarganya setelah lima tahun tetap sebuah tuduhan.

Ia menelannya kembali.

"Aku memang berjalan seperti ini."

Suara Keira serak karena terlalu jarang digunakan. Namun setiap katanya terdengar jelas.

Kevin kembali melirik kakinya. "Kamu baik-baik saja saat masuk. Jangan bilang sekarang kamu pincang."

Keira tidak menjawab. Angin pagi meniup ujung rambutnya yang dipotong tidak rata. Di balik kain seragam, tulang yang pernah dihancurkan enam tongkat telah menyatu dalam posisi yang salah. Setiap langkah menekan rasa sakit lama ke atas lututnya.

Kalau Kevin benar-benar ingin tahu, ia punya enam puluh bulan untuk bertanya.

Suara langkah cepat terdengar dari sisi jalan.

"Keira!"

Tubuh Keira membeku sebelum ia sempat mengendalikan diri.

Lucas Lukas berlari ke arah mereka. Kemeja putihnya rapi, tas kerja kulit tergantung di bahu, dan sepatu hitamnya memantulkan cahaya. Lima tahun telah mengubah pemuda kurus dari panti asuhan menjadi seorang pengacara yang terlihat mapan.

Namun Keira masih bisa melihat lelaki yang berdiri di ruang sidang dengan toga hitam, mengarahkan telunjuk kepadanya, lalu menyusun kebohongan demi kebohongan untuk membela Vanessa.

Lucas tahu Keira tidak mendorong Evelyn dari tangga.

Lucas juga tahu siapa yang melakukannya.

Tetapi di depan hakim, lelaki yang pernah berjanji akan melindunginya justru berkata bahwa Keira pemarah, iri, dan terobsesi mengambil tempat Vanessa di keluarga Pratama.

Lima tahun penjara dijatuhkan sesudah kesaksiannya.

"Aku menunggumu sejak tadi," ujar Lucas, terengah. "Aku datang untuk menjemputmu. Kita bisa bicara dulu."

Keira melewatinya.

Lucas meraih pergelangan tangannya, tetapi Keira segera menarik diri. Gerakannya membuat kaki kirinya kehilangan tumpuan. Tubuhnya oleng, kantong plastik di tangannya berderak keras.

Tidak satu pun dari dua lelaki itu sempat menangkapnya.

Keira menahan tubuh pada kap mobil. Telapak tangannya tergores permukaan logam yang panas. Ia menegakkan punggung sendiri.

"Jangan sentuh aku."

Wajah Lucas memucat. "Keira, aku tahu kamu marah. Waktu itu aku hanya menjalankan tugasku sebagai pengacara. Vanessa adalah klienku."

"Kamu menjalankan tugasmu dengan baik." Keira menatap lurus ke matanya. "Lima tahun penuh."

"Dengarkan penjelasanku dulu."

"Tidak perlu."

Lucas melangkah menghalangi pintu mobil. "Aku bisa membantumu memulai lagi. Kamu tidak harus kembali ke keluarga Pratama."

Tawaran itu seharusnya terdengar seperti jalan keluar. Delapan tahun lalu, di panti asuhan, Keira mungkin akan mempercayainya tanpa berpikir. Lucas pernah berbagi setengah roti dengannya. Pernah berdiri di depan anak-anak yang mengejeknya. Pernah berkata mereka hanya memiliki satu sama lain.

Justru karena itulah pengkhianatannya paling mudah diingat.

"Minggir," kata Keira.

"Keira..."

"Setidaknya Kevin tidak pernah memberiku harapan palsu."

Lucas terdiam.

Kevin juga tidak segera bergerak. Rahangnya menegang, seakan tidak tahu apakah kalimat itu penghinaan atau pengakuan.

Keira membuka pintu belakang Bentley. Aroma parfum bunga yang manis menyerangnya. Sebuah bantal merah muda dengan sulaman huruf V memenuhi sudut kursi. Di saku belakang jok depan terselip foto Kevin dan Vanessa yang tersenyum di sebuah pesta. Di sampingnya tergantung gaun putih berlabel butik mewah, terbungkus plastik pelindung sebening kaca.

Tidak ada ruang yang disiapkan untuk Keira. Bahkan di mobil yang katanya datang untuk menjemputnya.

Ia menggeser ujung gaun itu agar tidak menyentuh seragamnya, lalu duduk. Kaki kirinya harus ia angkat dengan kedua tangan. Keringat dingin muncul di pelipis ketika sendi yang rusak itu menekuk.

Kevin masuk ke kursi pengemudi. Lucas berdiri di luar, telapak tangannya menempel pada kaca.

"Aku akan menghubungimu," katanya.

Keira memalingkan wajah.

Mobil bergerak meninggalkan gerbang. Melalui kaca samping, Keira melihat Lucas makin kecil, lalu hilang di tikungan. Tidak ada rasa lega. Hanya sebuah pintu lama yang akhirnya ia tutup tanpa ragu.

Beberapa menit pertama diisi dengung pendingin udara.

Kevin berkali-kali melihatnya melalui kaca spion. "Kamu bisa berhenti bersikap seolah kami membuangmu. Papa sibuk mengurus perusahaan. Mama juga tidak sanggup melihatmu di tempat seperti itu. Aku sendiri harus mengurus banyak hal."

Keira menatap foto Vanessa yang bergoyang kecil di bawah kaca spion.

"Lima tahun itu lama, Kei," lanjut Kevin. "Kami semua punya hidup."

"Enam puluh bulan," jawab Keira.

Kevin mengernyit. "Apa?"

Keira mengangkat pandangannya. Untuk pertama kali pagi itu, ia menatap kakaknya melalui kaca spion.

"UU Pemasyarakatan menjamin hak kunjungan. Enam puluh bulan, setiap bulan boleh dikunjungi satu kali." Suaranya tetap datar. "Total kunjungan: nol."

Tangan Kevin menegang pada setir.

Bentley sempat bergeser mendekati garis putih sebelum ia meluruskannya kembali. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada satu alasan pun yang keluar.

Keira tidak memberinya waktu untuk menyusun kebohongan.

"Jadi jangan bilang kalian tidak membuangku, Ko Kevin. Angkanya tidak setuju denganmu."

Panggilan itu terdengar sopan. Justru jaraknya membuat tengkuk Kevin kaku.

Ia menekan pedal gas lebih dalam. Gedung-gedung Tangerang tertinggal, digantikan jalan menuju Jakarta. Di layar navigasi, tujuan mereka muncul jelas: Pondok Indah.

Keira kembali memandang foto di bawah kaca spion. Vanessa berdiri di tengah, pipinya menempel pada bahu Kevin, mengenakan mahkota kecil dan senyum seorang putri yang tidak pernah kehilangan apa pun.

Sudut bibir Keira terangkat tipis.

Di rumah keluarga Pratama, sebuah pesta sambutan sedang menunggunya.

1
Intan Marliah
mewekkk banget... ceritanya disusun seepik ini.
Iba Sa Iba Daud
apa ginjal tu tuk bokapnya ato evelyn
Iba Sa Iba Daud
Kluarga bangat iblis... si kevin ni ga bs apa" klo udh depan bokapny.. bilang priksa CCTV tp bentakn bokap diam..
Iba Sa Iba Daud
sungguh orgtua yg pling kejam.. tunggu sj katmamu tua bngka
Iba Sa Iba Daud
kavin klo lo sayg kaira cari tau ksuus 5 thn llu dn sobeknya baju adk tiri manja lo tu
Rina Arie
good book
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!