NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

“Hari ku baik-baik saja, hanya ada beberapa hal yang enggak nyaman aja,” jawab Amira pelan. Suasana hatinya yang tadinya tegang kini perlahan membaik menikmati belaian lembut di rambutnya. Tanpa sadar, jemarinya bergerak perlahan mengelus dada bidang Luki.

"Terus bagaimana dengan Rini?" tanya Luki santai namun penuh selidik.

"Sepertinya dia tidak terlibat dalam penjebakan itu. Dia benar-benar tidak tahu. Dia pergi meninggalkanku waktu itu karena ibunya mendadak kena serangan jantung."

Kamar itu mendadak hening. Hanya terdengar deru AC, detak jarum jam dinding, dan irama detak jantung mereka berdua yang sebenarnya sama-sama tidak stabil.

"Terus bagaimana reaksi dia setelah tahu kamu sudah menikah denganku?" lanjut Luki.

"Biasa saja, datar-datar saja."

"Dia enggak marah atau panik gitu?"

"Enggak..."

"Reaksinya terlalu sempurna, seolah-olah sudah dilatih," gumam Luki dingin.

Amira langsung bangkit dan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Luki pun ikut duduk di sampingnya, membuat jarak mereka tetap begitu dekat.

"Kamu masih curiga sama Rini?" tanya Amira menatap Luki.

"Reaksi dia terlalu sempurna, makanya aku curiga."

"Memang seharusnya seperti apa?"

Luki melirik Amira sekilas, lalu mengalihkan pandangannya menatap lurus ke arah jendela yang tertutup tirai.

"Coba bayangkan kalau kamu jadi Rini. Teman baik kamu tiba-tiba terjebak tidur dengan pria asing dan dijebak seseorang, kira-kira bagaimana reaksimu?"

"Tentu saja aku akan marah dan sedih! Aku akan cari orang yang sudah menjebaknya, dan aku sedih temanku dinodai pria asing," sahut Amira cepat.

"Nah, sedangkan Rini ekspresinya terlalu datar. Harusnya dia mencecar siapa lelaki yang tidur dengan kamu, merangkul dan menemani kamu, atau setidaknya berapi-api mencari pelaku yang menjebakmu."

"Mungkin dia lagi banyak pikiran, Luki. Apalagi ibunya kena serangan jantung, jadi respons dia biasa saja..." Amira mencoba membela.

"Berarti dia bukan teman dekatmu."

"Dia dekat sekali denganku! Kami berteman sejak SMA, sudah lama sekali!" tegas Amira tak terima.

"Justru karena sudah lama berteman, terasa makin aneh. Aku lihat dia sama sekali tidak peduli padamu."

Amira terdiam. Ia meresapi setiap kalimat yang keluar dari mulut suami barunya itu. Logikanya mulai goyah.

"Tapi kalau dia yang menjebakku... kenapa dia tidak menampakkan rasa takut atau malah kegembiraan?" gumam Amira makin bingung.

"Itulah alasannya. Aku rasa dia sudah melatih dirinya untuk berekspresi sedatar mungkin di depanmu."

Amira menggigit bibir bawahnya rapat-rapat. "Tapi dia teman yang paling dekat denganku... Apa mungkin dia setega itu mencelakaiku?"

Luki menoleh, menatap mata Amira dalam-dalam. "Orang yang paling dekat adalah orang yang paling berpotensi melindungi kamu... atau justru mencelakai kamu."

Amira memegang kepalanya yang mendadak pening. "Kepalaku jadi pusing..." ucapnya seraya menguap pelan.

"Kalau begitu, tidurlah."

Amira tertahan. Ia kembali menggigit bibir. Rasa hangat menjalar di dadanya—baru kali ini, semenjak almarhum papahnya meninggal, ada seseorang yang mengajaknya berbincang hangat sebelum tidur dan tulus menanyakan kabarnya.

"Apa... aku masih harus meluk kamu sampai pagi?" tanya Amira ragu.

Luki merangkul pundak Amira lembut, lalu berbisik pelan di dekat telinganya, "Kalau kamu nyaman, lakukan. Kalau tidak nyaman, jangan dipaksa."

"Baiklah..." ucap Amira pasrah. Ia mulai membaringkan tubuhnya di samping Luki.

Melihat Luki yang masih posisi duduk, Amira mendongak. "Mana tangannya?"

Luki tersenyum tipis. Ia membaringkan tubuhnya lalu kembali merentangkan lengan kirinya. Tanpa ragu, Amira menggeser kepalanya, berbaring berbantalkan lengan kekar Luki, lalu miring memeluk dada suaminya itu erat-erat.

"Kamu... nyaman enggak?" tanya Luki dengan suara yang sedikit terbata-bata menahan debar di dadanya.

"Aku ngantuk, mau bobo..." gumam Amira dengan suara serak khas orang mengantuk.

Luki kembali tersenyum manis. Diusapnya rambut Amira perlahan hingga napas perempuan di pelukannya itu terdengar teratur, terlelap dalam tidur nyenyaknya.

Sementara itu, suasana di kamar Risma berbanding terbalik. Kamar mewahnya yang biasa rapi kini kacau-balau. Risma sedang kalap, membanting dan memecahkan botol-botol parfum serta kosmetik mahal di meja riasnya hingga berkeping-keping.

"Kurang ajar kamu, Amira! Kenapa kamu selalu beruntung punya lelaki seperti itu?!" teriak Risma dengan napas memburu.

Risma menatap tajam pantulan dirinya di cermin, sorot matanya sarat akan kebencian yang mendalam pada Amira. Sedari kecil, Risma memang tidak pernah mau kalah sedikit pun dari saudara tirinya itu. Dalam hal kecantikan dan gaya busana yang modis, ia merasa sudah berhasil mengungguli Amira. Hanya satu hal yang belum bisa ia capai: karier.

Dulu, Risma terang-terangan menolak mengelola perusahaan keluarga yang hampir bangkrut dengan dalih ingin fokus menyelesaikan pendidikan magisternya. Namun, setelah kesempatan itu diberikan kepada Amira, dengan tangan dinginnya Amira justru mampu membangkitkan perusahaan yang hampir mati tersebut menjadi entitas bisnis yang sangat diperhitungkan. Nama Amira pun kembali bersinar menjadi primadona—bukan karena cara berpakaiannya yang glamor, melainkan karena prestasi dan profesionalitas kerja yang luar biasa.

"Seharusnya hari ini kamu frustrasi! Hidup sengsara bersama pria tua dan gemuk! Tapi kenapa kamu malah baik-baik saja?! Kenapa kamu selalu beruntung, Amira?!" jeritnya lagi seraya meremas jemarinya.

Cklek.

Pintu kamar mendadak terbuka. Hanya ada dua orang yang memiliki akses bebas masuk ke kamar mewah itu: Risma sendiri dan ayahnya.

"Risma! Apa-apaan kamu, hah?!" tegur Angga dengan nada suara tajam dan dingin. Tidak ada sedikit pun kelembutan pada raut wajahnya—sangat berbeda dari sosok suami penyabar dan bijaksana yang selalu ia tampilkan di depan Ratna.

"Aku kesal, Pah!" sungut Risma tanpa rasa takut.

"Walaupun kamu kesal, tidak usah merusak barang-barang terus!" omel Angga seraya melangkah masuk.

"Aku lagi marah besar, Pah! Aku bener-bener kesal sama Amira!"

"Kamu boleh kesal, tapi jangan pakai emosional begitu! Kita harus tetap tenang," balas Angga penuh penekanan.

Risma menggeram, menatap ayahnya dengan dada berombak. "Kenapa, Pah? Kenapa Amira masih bisa tersenyum dan baik-baik saja? Harusnya dia hancur dan frustrasi!"

Angga mendesis pelan. "Ini semua gara-gara si Rini yang tidak becus! Bisa-bisanya dia salah memasukkan orang ke kamar waktu itu!"

"Terus sekarang kita harus bagaimana, Pah? Sepertinya... suami ojol Amira itu bukan lelaki biasa," desis Risma, menyuarakan kecurigaan yang makin mengganggunya.

"Sepertinya memang bukan orang sembarangan," komentar Angga dengan mata memicing cerdik. "Dan sepertinya... kita harus menyusun kembali jebakan baru untuk Amira, tapi kali ini dengan perhitungan yang jauh lebih matang."

"Gimana caranya, Pah?" tanya Risma antusias, matanya berbinar licik.

Angga tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke arah pintu kamar Risma, lalu memutar kunci dan memastikan tidak ada seorang pun—termasuk Ratna—yang bisa mendengar pembicaraan mereka.

Setelah situasi dipastikan aman, Angga mendekat ke meja rias. Dan di dalam kamar mewah bernuansa kelam malam itu, ayah dan anak tersebut mulai merancang intrik busuk berikutnya untuk menghancurkan Amira hingga tak tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!