"Mas Akball itu mobilan Aqil balikin ngga!" teriak sebuah suara cempreng dari arah ruang tengah.
"Bukan! Ini punya Mas Akbar! Kemarin Aqil udah main yang warna merah, sekarang Mas yang biru!" balas Akbar
Sejak perceraiannya tiga tahun lalu, Abi memang mantap untuk tidak mempekerjakan ART. Ia ingin merawat dan membesarkan kedua buah hatinya dengan tangannya sendiri, meski statusnya sebagai duda beranak dua sering kali menguras energi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Jam sembilan pagi lewat sedikit, persiapan perpisahan kecil itu pun selesai. Bagasi mobil milik Arya sudah rapi terisi tas-tas pakaian, bekal masakan sup hangat dan ayam goreng dari Bu Marni, serta sekeranjang buah segar hasil belanjaan Abi di pasar pagi tadi.
Arya yang sudah tampil rapi siap berkendara bersalaman erat dengan Abi, lalu menyalami dan mencium tangan Bu Marni dengan penuh hormat. Nadia menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, memeluk Bu Marni cukup lama melampiaskan rasa berat hati harus kembali meninggalkan desa.
"Hati-hati bawa mobilnya ya, Ya," pesan Bu Marni lembut sambil mengusap pundak menantunya.
"Jangan ngebut-ngebut, kalau capek atau mengantuk istirahat dulu di rest area."
"Iya, Bu. Insya Allah Arya bawa mobilnya santai dan hati-hati," balas Arya.
Nadia beralih memeluk kedua keponakannya, Akbar dan Aqil, yang sibuk mengunyah sisa kue lapis di teras. "Mas Akbar, Aqil... Tante sama Paman pulang dulu ya. Jangan nakal, nurut sama Ayah dan Nenek."
"Siap, Tante Nadia! Nanti kalau main ke sini lagi bawakan mainan mobil-mobilan yang balu ya!" seru Aqil.
Abi terkekeh pelan sambil menepuk bahu Arya. "Titip Nadia ya, Ya. Sehat-sehat terus buat kalian berdua, makin hati-hati jaga kesehatan calon bayinya."
"Siap, Mas Abi. Matur nuwun sangat buat semuanya," sahut Arya mantap.
Setelah berpamitan untuk terakhir kalinya, Arya dan Nadia melangkah masuk ke dalam mobil. Mesin mobil menderu halus, lalu perlahan bergerak mundur melintasi halaman rumah kayu Bu Marni. Dari balik jendela yang terbuka setengah, Nadia dan Arya melambaikan tangan.
Bu Marni, Abi, serta kedua bocah kecil itu berdiri berjejer di pinggir jalan, membalas lambaian tangan hingga mobil hitam itu berbelok di ujung gang desa dan menghilang.
Bu Marni mengusap dadanya pelan sambil menatap ujung jalan yang kini sudah kosong, menghembuskan napas panjang. "Yah... rumah jadi sepi lagi deh," gumam Bu Marni raut wajahnya agak lesu.
Akbar yang mendengar ucapan neneknya langsung menyahut dengan wajah polosnya. "Kan ada Akbar sama Aqil, Nenek!"
Bu Marni seketika menoleh, terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala menatap kedua cucunya itu. "Ya ya... kalian mah bukan bikin ramai anteng, tapi bikin Nenek teriak-teriak tiap hari!"
"Akil kan ndak bikin Nenek teliak, Akil cuma pinjam sapu Nenek buat pedang-pedangan!" bela Aqil tak mau kalah.
Abi yang berdiri di samping ibunya langsung tertawa mendengarnya. Ia merangkul bahu Bu Marni hangat. "Nah, dengar sendiri kan, Bu? Nggak bakal ada kata sepi kalau dua jagoan ini masih di rumah."
"Bener kamu, Bi. Sepinya cuma semenit, pusingnya seharian," sahut Bu Marni, mengelus kepala Akbar dan Aqil yang kini malah asyik kejar-kejaran mengelilingi halaman rumah.
Abi memandangi kedua anaknya yang sedang asyik berlarian di halaman, lalu menoleh ke arah Bu Marni.
"Bu, Abi pamit mau ke rumah yang di ujung dulu ya. Udah lama ndak ke sana, mau lihat-lihat kondisi rumah dulu," pamit Abi.
Rumah di ujung desa itu adalah rumah baru milik Abi yang baru selesai dibangun beberapa waktu lalu, namun memang belum sempat ia tempati bersama kedua anaknya karena masih nyaman tinggal di rumah lama mereka.
"Oh, iya, Bi. Tengok gih, takutnya ada genteng bocor atau rumputnya udah pada tinggi," sahut Bu Marni mengangguk paham.
Abi lalu berjalan mendekati dua jagoannya yang sedang asyik bermain tanah di bawah pohon mangga.
"Bar, Qil... mau ikut Ayah ke rumah baru ndak? Kita lihat-lihat rumah kita yang di ujung."
Akbar mendongak sebentar, lalu menggeleng cepat. "Nggak mau, Ayah! Akbar mau main mobil-mobilan sama Aqil di rumah Nenek saja, asyik di sini!"
"Akil juga ndak mau, Yah! Mau main disini!" tambah Aqil dengan mulut cemprengnya tanpa mengalihkan pandangan dari mainannya.
Abi terkekeh melihat penolakan kompak dari kedua anaknya itu. "Ya sudah kalau ndak mau, jangan nakal ya. Nurut sama Nenek."
"Iya, Ayah!" jawab kedua bocah itu serempak.
"Abi berangkat sebentar ya, Bu. Titip anak-anak lagi," ucap Abi pada Bu Marni sebelum akhirnya berjalan menuju motornya untuk pergi ke rumah barunya di ujung desa.
Abi pun menaiki motornya dan melaju pelan menyusuri jalanan desa menuju area pemukiman paling ujung tak jauh dari rumah Pak Darno dan hamparan persawahan hijau. Udara siang terasa sejuk membawa aroma tanah dan padi yang menenangkan.
Sesampainya di lokasi, Abi menghentikan motornya tepat di depan halaman rumah barunya. Bangunan dua lantai bergaya modern itu berdiri kokoh dan tampak sangat luas, dilengkapi balkon kecil serta satu kamar utama yang berada di lantai atas. Walau berdesain modern, suasananya tetap terasa menyatu dengan alam sekitar, meski rumput-rumput liar sudah mulai tumbuh agak tinggi di sekitar pekarangan karena jarang ditengok. Selama ini Abi dan anak-anaknya memang tinggal di rumah milik Abi sendiri.
Abi mengelilingi rumah, memeriksa setiap sudut dari teras depan hingga bagian belakang. Genteng masih rapi, kayu pintu dan jendela juga dalam kondisi baik, hanya perlu sedikit pembersihan dari debu dan dedaunan kering.
Saat sedang asyik mencabut rumput liar di pagar depan, pandangan Abi teralih ketika melihat sosok gadis dari kejauhan yang sedang berjalan membawa tampah bambu berisi jemuran kerupuk.
Itu Kayla. Ia memang tinggal tak jauh dari sana bersama kedua orang tuanya, Pak Darno dan istrinya.
Kayla yang hendak menaruh tampah di atas meja bambu luar rumah orang tuanya tak sengaja menoleh dan menangkap sosok Abi. Gadis itu mengulas senyum ramah sambil menganggukkan kepala dari kejauhan.
Abi membalas senyuman itu dengan tulus, lalu menyapa pelan.
"Dek Kayla!"
"Eh, Mas Abi... Lagi ngapain di sini, Mas? Tumben," sapa Kayla ramah sambil berdiri di balik pagar.
"Ini, Dek, lagi nengok rumah. Sudah lama ndak dibersihkan, rumputnya makin tinggi," jawab Abi sambil menyapu keringat tipis di dahi dengan punggung lengannya.
"Anak-anak tadi diajak malah ndak mau, betah main di rumah Neneknya."
Kayla terkekeh pelan. "Iya lah, Mas. Di rumah Bu Marni kan ramai, ada Neneknya."
"Bagus dan luas banget ya rumahnya, Mas. Asri banget dekat sawah begini."
"Alhamdulillah, Dek. Pelan-pelan bangunnya kemarin," sahut Abi rendah hati.
"Nanti kalau sudah bersih dan siap diisi, Insya Allah baru pindah sama anak-anak."
"Masuk dulu, Dek," tawar Abi sopan dari balik pagar sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.
Kayla tersenyum halus. "Iya, Mas."
Abi melangkah mendekati pintu utama, memutar kunci di genggamannya, lalu mendorong pintunya pelan. Suara derit halus menyambutnya saat udara dingin dan aroma khas bangunan kosong meruak keluar.
Langkah kaki Abi bergema pelan di atas lantai keramik yang masih tertutup debu tipis. Ia berjalan menyusuri ruang tamu yang luas, menatap tangga kayu yang melingkar menuju lantai dua.
Pandangan Abi menerawang, menatap sudut-sudut ruangan kosong itu. Tatapannya mendadak meredup, membawa ingatannya melayang jauh ke masa lalu.
Dulu, Abi memeras keringat siang dan malam membangun rumah bergaya modern ini. Setiap bata yang terpasang dan setiap rupiah yang ia tabung adalah bentuk cintanya demi memberikan hunian impian yang layak untuk dirinya, mantan istrinya, serta kedua putra mereka.
Namun, pengorbanan dan ketulusan itu hancur berantakan. Namanya orang serakah dan tak sabaran, mantan istrinya justru tergoda oleh kemewahan instan. Di usia pernikahan mereka yang baru berjalan dua tahun lebih sedikit, wanita itu memilih selingkuh dan pergi meninggalkan Abi serta dua anak mereka yang masih sangat kecil demi pria kota kaya raya.
Abi menghembuskan napas panjang, mencoba mengusir sesak yang sempat mengimpit dadanya. Dulu tempat ini dirancang untuk menampung kebahagiaan sebuah keluarga utuh, namun kini menjadi saksi bisu ketegaran dirinya.
"Sudah berlalu," bisik Abi pelan pada dirinya sendiri, menyapu pandangan ke sekeliling ruangan.
Lamunan Abi mendadak terhenti ketika mendengar langkah kaki pelan dan ketukan di pintu teras yang terbuka.
"Permisi... Mas Abi?"
Abi menoleh dan melihat Kayla tiba-tiba datang berdiri di ambang pintu depan. Tangannya membawa sebuah tempat makan berbahan plastik tebal yang tertutup rapat.
"Eh, Dek Kayla," sahut Abi kaget, buru-buru menyapu raut sedih di wajahnya dan melangkah mendekat.
"Ada apa, Dek?"
Kayla menyodorkan tempat makan itu sambil tersenyum. "Ini, Mas... Saya sama Ibu baru selesai bikin kue tradisional tadi di dapur. Terus Bapak suruh kasih ini ke Mas Abi. Kata Bapak sekalian buat cemilan Mas Akbar sama Aqil."
Abi tertegun sejenak, lalu menerima wadah makanan itu dengan kedua tangan. Bau harum gurih kue yang masih hangat langsung tercium tipis dari celah penutupnya.
"Matur nuwun sangat ya, Dek. Jadi merepotkan Bapak sama Ibu," ucap Abi.
"Sama-sama, Mas. Ndak repot kok, orang bikinnya lumayan banyak tadi," jawab Kayla