NovelToon NovelToon
Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Vah Peres

Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 05 - Tanpa Harga

Begitu pintu tertutup di belakangnya, aku tetap berdiri di tempat yang sama, masih merasakan panas tubuhnya dan gema tamparan itu di kulitku. Bukan penghinaan yang tertinggal, melainkan kekuatan yang ia letakkan dalam setiap gerakannya: kemarahan, martabat, penolakan untuk diperlakukan seperti barang dagangan. Sesuatu yang jarang terlihat di lingkungan seperti ini.

Beberapa detik kemudian, Rian masuk dan menutup pintu dengan hati-hati. Ia berhenti di sampingku, memandangku, lalu menoleh ke pintu tempat perempuan itu keluar dengan ekspresi bingung.

"Dia keluar dengan mata basah, seperti sedang menahan tangis," katanya lirih. "Apa yang terjadi? Dia tampak terguncang. Takut juga."

Aku tidak langsung menjawab. Aku bersandar pada meja, mengusap wajah, lalu menarik napas dalam, masih berusaha merapikan pikiranku sendiri.

"Bukan sesuatu yang perlu kamu pahami sekarang," jawabku datar. "Aku mau datanya. Semua yang ada tentang penyanyi malam ini. Nama lengkap, alamat, kontak, siapa yang merekomendasikannya. Semuanya."

Rian mengangguk. Dalam waktu kurang dari dua menit, ia membawa koordinator acara malam itu, seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi, tetapi wajahnya sudah memperlihatkan kegugupan, seolah ia menunggu keluhan apa pun.

"Tuan Arkan," katanya dengan suara gemetar begitu mendekat. "Saya harap semuanya berjalan baik. Tidak ada masalah dengan pertunjukannya, kan? Apa dia melakukan kesalahan? Bersikap buruk?"

"Justru sebaliknya," jawabku, menatapnya tajam. "Karena itu aku ingin tahu semua tentang dia. Dia bernyanyi sangat baik, lebih baik dari siapa pun yang pernah kau bawa ke sini. Suaranya mengikat, kau paham? Ada kehadiran yang sulit dijelaskan."

Melihat aku tidak menunjukkan kemarahan, pria itu mulai lebih tenang. Ia bernapas lebih lega sebelum melanjutkan.

"Ya, dia dipilih dari banyak orang. Bahkan bisa saya katakan dia sangat disukai. Banyak tamu datang berbicara dengan saya setelahnya, memuji penampilannya, bahkan meminta kontaknya untuk acara lain. Tapi saya selalu menjawab sama: saya hanya perantara, tidak bisa memberikan data pribadi tanpa izin."

"Bagus," kataku sambil mengangguk. "Sekarang berikan nomor teleponnya. Tuliskan untukku, dan dengarkan baik-baik: nomor itu tidak keluar dari ruangan ini. Jangan berikan kepada siapa pun, dalam keadaan apa pun."

"Baik, Pak. Tentu," jawabnya, segera mengambil buku kecil dan menulis terburu-buru. Ia menyerahkan kertas itu lalu tetap berdiri, tidak tahu apakah sudah boleh pergi.

"Kau boleh keluar," kataku, mengusirnya dengan isyarat tangan.

Begitu ia pergi, aku menoleh kepada Rian yang sejak tadi mengamatiku dengan saksama.

"Tempatkan orang kepercayaan untuk mengikutinya," perintahku tegas. "Diam-diam, jangan sampai mereka sadar. Aku ingin tahu persis siapa dia, di mana ia tinggal, dengan siapa ia hidup, dan apa yang ia lakukan di luar tempat ini."

Dahi Rian sedikit berkerut, tetapi ia tidak membantah.

"Mengerti. Aku akan minta Nata mengikuti dari jauh. Tapi boleh aku bertanya? Apa yang membuatmu begitu tertarik padanya?"

Aku memandang kertas berisi nama dan nomor teleponnya, lalu kembali teringat cara ia menatapku, cara ia bernyanyi, cara ia bereaksi saat aku menyebut harga.

"Aku belum tahu," jawabku, suaraku rendah dan penuh pikir. "Tapi aku ingin mencari tahu. Aku ingin tahu kenapa ia bernyanyi seperti itu, seolah sedang menceritakan rahasia kepadaku, lalu setelahnya membuatku merasa tidak memahami apa pun yang sedang terjadi. Dia tidak seperti perempuan lain, Rian. Dan itu membuatku lebih penasaran daripada lelang atau urusan apa pun malam ini."

Kusimpan kertas itu ke saku jas, lalu berjalan ke jendela dan memandangi kota di luar sana. Sesuatu mengatakan kepadaku bahwa pencarian ini bukan sekadar untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan awal dari sesuatu yang akan mengubah rutinitas kami semua.

Tak lama kemudian kami meninggalkan klub, aku, Rian, dan Malik, lalu masuk ke mobil yang akan membawa kami pulang. Malam masih tenang, tetapi di dalam diriku semuanya bergerak: suaranya, tatapan tegasnya, kekuatan tamparan itu, dan caranya berkata bahwa ia tidak punya harga.

Kami baru saja masuk ke kendaraan ketika mereka berdua mulai bicara dengan nada mengejek yang hanya bisa mereka gunakan.

"Aku tidak percaya," kata Malik, tertawa pelan sambil duduk. "Arkan kita, yang pernah menghadapi pria-pria bersenjata dan menutup kesepakatan yang bisa membuat orang lain gemetar, benar-benar kehilangan keseimbangan hanya karena seorang penyanyi."

"Benar," sambung Rian dengan senyum miring. "Bahkan ditampar pun tidak membalas apa-apa. Dia benar-benar membuatmu terkejut, ya?"

Aku hanya memandang ke luar jendela, tanpa menjawab, tanpa menunjukkan reaksi apa pun. Tidak ada gunanya berdebat dengan mereka, dan aku sendiri pun belum bisa menjelaskan dengan tepat rasa penasaran itu.

Kami tiba di rumah dan langsung menuju ruang keluarga, tempat Mama sudah menunggu seperti biasa, dengan nampan minuman dan tatapan awas.

"Malam yang ramai, sepertinya," komentarnya saat melihat wajah kami bertiga. "Apa yang terjadi? Kalian terlihat baru pulang dari kekacauan, bukan dari sebuah acara."

"Ah, Ma," jawab Malik sambil menuang minuman untuk dirinya sendiri, "malam biasa, tapi ada satu detail tak terduga. Arkan bertemu penyanyi yang benar-benar mengusiknya."

Mama mengernyit, belum mengerti.

"Seorang penyanyi? Kenapa itu berbeda dari yang lain?"

Sebelum aku sempat memotong pembicaraan, Rian mengangkat ponsel di tangannya, rasa penasaran dan kenakalan berkilat di matanya.

"Karena dia bukan sembarang perempuan," katanya, berjalan mendekati Mama. "Aku sempat mengambil foto cepat saat dia turun dari panggung, sebelum kamu bicara dengannya. Lihat, Ma, Mama akan mengerti kenapa."

Ia hampir menunjukkan gambar itu ketika akhirnya aku bergerak. Aku maju satu langkah, suaraku tegas, tatapanku jelas menunjukkan bahwa aku sama sekali tidak menyukai itu.

"Kamu memotretnya? Rian, itu tidak perlu."

"Ya, aku suka pertunjukannya. Tidak seperti kamu, sepertinya kamu suka seluruh paketnya," balasnya.

Ia tidak langsung menyimpan ponselnya. Ia hanya menatapku, menyadari bahwa reaksiku bukan sekadar marah, melainkan sesuatu yang lain. Malik pun terdiam, menunggu.

Aku menarik napas dalam, mengusap wajah, dan untuk pertama kalinya membiarkan kebenaran keluar tanpa berputar-putar.

"Ya, aku menyukainya. Jauh lebih dari yang ingin kuakui. Bukan cuma karena kecantikan atau suaranya. Ada cara ia berdiri untuk dirinya sendiri, cara ia membawa sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Dan fakta bahwa kamu memotretnya tanpa sepengetahuannya sama sekali tidak kusukai."

Mama melihat foto itu terlebih dahulu, lalu menatapku. Sorot matanya berubah, dari bingung menjadi paham.

"Jadi begitu," katanya pelan. "Tidak sembarang perempuan bisa menarik perhatian anakku seperti ini."

Rian menyimpan ponselnya.

"Aku mengerti. Maaf, Arkan. Aku tidak bermaksud buruk. Aku hanya merasa aneh melihatmu begitu terguncang. Tapi sekarang masuk akal."

Aku mengangguk, tanpa komentar tambahan, lalu berjalan ke balkon. Malam tampak terang, tetapi kepalaku masih dipenuhi pertanyaan. Jika sebelumnya aku sudah memutuskan untuk mencari tahu siapa dia, sekarang aku punya alasan lain: aku telah mengakui pada diriku sendiri bahwa ini bukan sekadar rasa ingin tahu. Ini awal dari ketertarikan yang tidak bisa lagi kuabaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!