Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Tentu saja. Lakukan check-in," ucap Chen Mo di dalam kepalanya.
Ding!
[Check-in Khusus Lokasi Perpustakaan Kuno berhasil.]
[Mendapatkan: Teknik Pernapasan Bintang Primal (Tingkat Dewa).]
[Mendapatkan: Skill Pasif - Mata Kebenaran (Level 1).]
[Mendapatkan: Poin Spiritual x30.]
Seketika itu juga, Chen Mo merasakan sakit yang luar biasa di bagian belakang kepalanya.
Seolah-olah ada sebuah palu godam tak kasat mata yang menghantam tengkoraknya dengan sekuat tenaga.
Jlebb!
Chen Mo terhuyung ke depan dan harus berpegangan erat pada ujung rak kayu agar tidak terjatuh.
Ribuan aksara emas kuno yang bersinar terang mengalir deras langsung ke dalam ingatannya.
Aksara-aksara itu menyusun sebuah metode pernapasan kuno yang sangat rumit dan kuno.
Metode ini dulunya digunakan oleh para dewa pertama untuk menyerap esensi murni dari alam semesta.
"Ugh, sistem sialan ini selalu suka memberi hadiah dengan cara yang brutal," keluh Chen Mo sambil memijat pelipisnya.
Napasnya memburu tajam, namun dia menyadari ada yang berbeda dengan tarikan napasnya.
Setiap kali dia menarik napas, energi spiritual murni di sekitar perpustakaan langsung tersedot masuk ke pori-porinya.
Energi itu tidak lagi melewati jalur yang tersumbat, melainkan mengalir mulus seperti sungai besar di dalam tubuhnya.
Titik spiritualnya yang tadinya kering kerontang kini melonjak hingga menyentuh angka 45.
Ini adalah jumlah poin spiritual yang biasanya hanya dimiliki oleh kultivator tingkat lanjut di akademi.
Chen Mo perlahan membuka kedua matanya, dan kilatan cahaya keemasan melintas di pupil hitamnya.
Skill pasif Mata Kebenaran telah aktif.
Kini saat dia melihat ke sekeliling, dia bisa melihat aliran energi spiritual yang menguar dari setiap buku tua di sana.
"Benar-benar panen besar hari ini," gumam Chen Mo dengan senyum puas yang terlukis di bibirnya.
Tap. Tap. Tap.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang sangat pelan terdengar bergema dari lorong di sebelah kirinya.
Chen Mo segera mematikan kilatan keemasan di matanya dan menetralkan auranya menggunakan skill Penyamar Aura.
Dia meraih sebuah buku tebal berdebu dari rak secara acak dan berpura-pura sedang membacanya dengan serius.
Langkah kaki itu semakin mendekat dan akhirnya berhenti tepat di ujung lorong tempat Chen Mo berdiri.
Aroma wangi bunga teratai es samar-samar tercium di udara, mengusir bau apek perpustakaan kuno ini.
"Siapa di sana? Bukankah area ini terlarang untuk murid kelas dasar?"
Sebuah suara wanita yang sangat merdu namun sedingin es memecah keheningan ruangan.
Chen Mo menoleh dengan santai dari balik buku tebal yang dipegangnya.
Berdiri di sana seorang gadis muda yang memiliki kecantikan luar biasa, jauh melampaui Su Mengqi.
Rambut peraknya dibiarkan tergerai panjang hingga ke pinggang, memantulkan cahaya redup dari jendela.
Dia mengenakan seragam elit akademi berwarna putih dengan lambang naga emas yang bersinar di dada kirinya.
Gadis itu menatap lencana Rank F yang terpasang di kerah seragam Chen Mo dengan kening berkerut.
"Apakah kau tersesat, murid baru?" tanya gadis berambut perak itu tanpa emosi.
"Tidak, aku hanya sedang mencari udara segar dan tempat untuk membaca," jawab Chen Mo datar.
Gadis itu berjalan mendekati Chen Mo, matanya menatap tajam seolah mencoba menembus rahasia pemuda itu.
"Ini adalah Perpustakaan Kuno Naga Bintang, bukan taman bermain untuk mencari udara segar."
"Buku-buku di sini mengandung sisa niat dari pendiri akademi, mental Rank F sepertimu bisa hancur jika membacanya terlalu lama," ucap gadis itu dengan nada memperingatkan.
Meski kata-katanya terdengar meremehkan, namun Chen Mo tahu gadis ini sebenarnya hanya memberikan peringatan logis.
Sayangnya, Chen Mo sama sekali tidak tertarik untuk berurusan dengan gadis elit mana pun saat ini.
"Terima kasih atas kekhawatiranmu yang berlebihan, Nona."
"Tapi buku yang kupegang ini sepertinya hanya catatan sejarah biasa, tidak ada niat membunuh yang keluar dari halamannya," balas Chen Mo santai sambil membalik halaman buku.
Gadis berambut perak itu menyipitkan matanya.
Dia adalah Ye Qingxue, murid jenius Rank S+ tahun ketiga sekaligus cucu dari kepala akademi.
Sepanjang hidupnya, setiap pria yang berbicara padanya pasti akan tergagap, mencari perhatian, atau menunduk hormat.
Namun pemuda berpangkat rendah di depannya ini berbicara dengan nada yang luar biasa santai dan terkesan bosan.
"Kau sangat sombong untuk ukuran seseorang yang tidak memiliki fluktuasi energi spiritual sedikit pun."
"Apakah guru kelasmu tidak mengajarimu tata krama saat berbicara dengan senior elit?" tanya Ye Qingxue dengan nada sedikit menekan.
"Aku bolos dari kelas dasar sepuluh menit yang lalu," jawab Chen Mo jujur.
"Guruku lebih suka bermain game di ponselnya daripada mengajariku tata krama, jadi salahkan saja dia."
Ye Qingxue sedikit tertegun mendengar jawaban yang kelewat jujur dan tidak tahu malu itu.
Dia bahkan nyaris tersenyum, namun dia segera mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi dingin seperti balok es.
"Kau benar-benar berani, atau mungkin sekadar bodoh karena tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi sekarang," ucap Ye Qingxue.
"Mungkin keduanya. Tapi apa pentingnya itu?"
"Kita bertemu secara kebetulan di perpustakaan tua, kau mencari bukumu, aku membaca bukuku. Tidak perlu dibuat rumit," Chen Mo menutup buku tebalnya.
Debu berterbangan saat buku itu tertutup rapat, membuat Ye Qingxue sedikit memundurkan tubuhnya.
"Kau sedang membaca buku apa memangnya?" tanya Ye Qingxue, tiba-tiba merasa penasaran dengan buku pilihan pemuda aneh ini.
Chen Mo mengangkat sampul buku itu agar Ye Qingxue bisa membacanya.
"Cara Beternak Babi Hutan Mutan di Dataran Tandus."
Chen Mo membacakan judul buku itu dengan nada datar yang sangat serius.
Hening.
Ye Qingxue menatap judul buku itu, lalu menatap wajah Chen Mo secara bergantian.
Urat kekesalan samar mulai muncul di dahi mulus gadis berambut perak tersebut.
"Kau datang jauh-jauh ke Perpustakaan Kuno Akademi Naga Bintang hanya untuk membaca buku tentang peternakan babi?!" suara Ye Qingxue sedikit meninggi dari biasanya.
"Pengetahuan tidak boleh dibatasi oleh tempat, Nona."
"Siapa tahu suatu saat nanti akademi bangkrut dan aku harus mencari pekerjaan sambilan sebagai peternak," jawab Chen Mo dengan wajah tanpa dosa.
Ye Qingxue menarik napas panjang dan memijat pangkal hidungnya pelan.
"Aku membuang waktuku berbicara dengan orang gila," gumam gadis itu.
"Terserah kau saja, bacalah buku babi itu sampai kau puas."
"Tapi jangan pernah menyentuh gulungan merah di rak lantai dua, atau kau akan mati terbakar energi spiritual," Ye Qingxue memberikan peringatan terakhirnya sebelum berbalik.