Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Penangkapan (1)
Taksi yang dikendarai Nathan melaju liar menyusuri jalan bebas hambatan.
Jarum spedometer terus melonjak melewati angka 120 km/jam.
Suara mesin mobil raungan tua itu menjerit keras, namun Nathan memegang kemudi dengan sangat tenang.
Tatapannya terkunci rapat pada lampu belakang sedan mewah hitam di depannya.
Di dalam sedan mewah, sang Direktur melirik ke kaca spion belakang dengan wajah pucat pasi.
"Kenapa taksi sialan itu masih bisa mengejar?!" teriaknya pada pengawalnya yang duduk di kursi kemudi.
"Saya tidak tahu, Bos! Pengemudinya gila, dia mengambil jalur darurat!" jawab pengawal berbadan tegap itu sambil menekan pedal gas sejauh mungkin.
Pengawal kedua yang duduk di kursi penumpang depan membanting pintu kaca jendela bawah.
Dia mengeluarkan sebuah pistol rakitan, mengarahkannya ke belakang, dan melepaskan tiga tembakan berturut-turut.
TAR! TAR! TAR!
Kaca depan taksi yang dikendarai Nathan retak parah.
Peluru merusak bagian sudut kap mesin hingga memercikkan api.
Nathan refleks merundukkan kepala sedikit, memutar kemudi ke kanan secara mendadak untuk menghindar. Ban taksi mencicit keras di atas aspal.
Tanpa rasa takut sedikit pun, Nathan menginjak pedal gas lebih dalam.
Menggunakan keahlian mengemudi dari masa lalunya saat menjadi polisi lapangan, ia memanfaatkan celah sempit di antara dua truk kontainer besar yang sedang melaju lambat.
Dengan manuver tajam, taksi itu menyelinap melintasi celah truk dan langsung berada sejajar dengan sisi kiri sedan mewah sang Direktur.
Pengawal di dalam sedan terkejut setengah mati saat melihat taksi hancur itu berada tepat di samping mereka.
Nathan menoleh perlahan, menatap dingin ke arah sang Direktur dari balik kaca yang retak.
Nathan membanting setir ke kanan dengan keras.
BRAKKK!
Bodi taksi menghantam bodi sedan hingga percikan api membakar udara malam.
Sedan mewah itu tergoncang hebat dan oleng ke sisi jalan.
Sementara itu, di kediaman mewah sang Direktur, suasana sangat kacau.
Gavin berdiri di tengah ruang tamu yang kosong dengan napas memburu.
Lusinan polisi bersenjata lengkap menyisir setiap sudut rumah, namun target utama mereka tidak ada di sana.
"Sialan! Mana orangnya?!" bentak Gavin sambil menendang meja kaca hingga hancur berkeping-keping.
Seseorang dari tim investigasi berlari mendekat dengan raut wajah panik. "Komandan Gavin! Pintu rahasia di area garasi terbuka. Pelaku sudah melarikan diri menggunakan mobil sedan hitam beberapa menit sebelum kita sampai!"
"Kenapa kalian baru tahu sekarang, bodoh?!" teriak Gavin murka.
Tiba-tiba, radio panggil di sabuk Gavin berbunyi nyaring. Suara operator pusat terdengar tergesa-gesa.
"Panggilan untuk semua unit Distrik 1! Terjadi aksi kejar-kejaran berkecepatan tinggi di jalur bebas hambatan menuju pelabuhan. Sebuah taksi kuning tanpa identitas terlihat mengejar sedan hitam tersangka. Pengemudi taksi dilaporkan melakukan manuver berbahaya!"
Reno dan Niko yang berada di lokasi penyergapan langsung saling tatap.
"Taksi?" gumam Niko bingung. "Bukannya tadi Nathan pergi naik taksi?"
Reno membelalakkan mata. "Jangan-jangan si bodoh itu mengejar pelaku sendirian?!"
Gavin menyambar radio dari dadanya. "Operator! Siapa yang mengendarai taksi itu?!"
"Kami belum bisa mengonfirmasi, Komandan! Tapi kamera pengawas merekam seorang pria berseragam polisi yang mengambil alih kemudi secara paksa!"
Wajah Gavin memerah padam akibat perpaduan antara kesal dan gengsi yang terluka.
Seorang junior baru berani mendahului perintahnya dan bertindak sendiri.
"Semua unit! Nyalakan sirine! Kita bergerak ke jalur pelabuhan sekarang juga!" perintah Gavin tegas.
Di jalanan menuju kawasan industri pelabuhan, aksi kejar-kejaran mencapai puncaknya.
Jalanan di area ini sepi dan dipenuhi tikungan tajam serta tumpukan kontainer tua.
Sedan mewah sang Direktur berusaha memotong jalan di tikungan patah dekat area konstruksi.
Nathan membaca pergerakan itu. Ia menarik rem tangan secara mendadak sambil membanting setir.
Taksi kuning itu melakukan drifting tajam, memutar 180 derajat, dan langsung menghantam bagian belakang samping sedan mewah dengan PIT maneuver yang presisi.
DUAARRR!
Sedan mewah itu kehilangan kendali total. Mobil itu berputar berkali-kali di atas jalanan sebelum akhirnya menghantam benteng semen konstruksi dengan benturan yang sangat keras. Bagian depan sedan itu hancur total dan mengeluarkan asap hitam tebal.
Taksi Nathan ikut terlempar dan berhenti 10 meter di depannya. Ban taksinya meletus dan mesinnya mati total.
Nathan menendang pintu taksi yang penyok hingga terbuka.
Ia keluar dari mobil, merapikan kerah seragam polisinya, lalu berjalan tenang mendekati bangkai sedan mewah tersebut.
Pintu sedan terbuka secara paksa. Pengawal pertama keluar sambil memegang kepalanya yang berdarah.
Melihat Nathan mendekat, pengawal berbadan besar itu meludah ke tanah dan merogoh pisau lipat dari saku celananya.
"Polisi tengil... mati kau!" teriak pengawal itu sambil menerjang maju dengan tusukan mengarah ke dada Nathan.
Nathan tidak bergeming. Saat jarak pisau tinggal beberapa sentimeter dari bajunya, Nathan menggeser tubuhnya ke kiri secara efisien.
Tangannya bergerak cepat mencengkeram pergelangan tangan lawan, lalu memutarnya ke belakang hingga bunyi tulang bergeser terdengar keras.
KLEKK!
"AAAGHH!" pengawal itu menjerit histeris.