NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Jangan Bilang Siapa-Siapa

Keesokan sore, setiap pekerja rumah yang melihat Den Nara menyentuh hidungnya sendiri langsung menahan senyum.

Bu Nah rupanya benar-benar menceritakan kejadian mimisan itu. Den Nara melewati dapur dengan wajah dingin, sementara aku pura-pura sibuk mengupas kentang. Saat dia menoleh, aku cepat-cepat menunduk.

"Sekar."

Pisauku berhenti. "Iya, Den?"

"Ikut sebentar. Bu Nah, Sekar saya ajak bicara di teras samping."

Bu Nah mengangguk dengan senyum lebar. "Silakan, Den. Terasnya terbuka sekali. Semua orang bisa lihat."

Sindiran itu membuat telingaku panas. Den Nara tidak menjawab. Dia berjalan menuju teras samping, ruang semi terbuka yang terlihat dari dapur dan taman tengah.

Aku mengikuti dengan jarak beberapa langkah.

"Den mau memarahi saya karena Bu Nah tahu?"

"Tidak."

"Saya tidak cerita banyak."

"Berapa banyak?"

"Hanya bahwa Den mimisan."

"Dan penyebabnya?"

Aku menahan senyum. "Katanya pendingin ruangan."

Dia menatapku datar. "Bagus. Pertahankan versi itu."

Angin sore menggerakkan daun bambu di halaman. Suasana di antara kami lebih ringan daripada biasanya, tetapi wajah Den Nara perlahan menjadi serius.

"Saya memanggilmu bukan soal mimisan."

Senyumku hilang.

"Bayu sudah menyelesaikan pemeriksaan awal. Ancaman dari Sukir belum dekat, tetapi bisa berubah. Saya ingin memastikan satu hal." Dia berdiri di sisi lain meja teras, menjaga jarak. "Apa pun yang saya tahu tentang ramuan, aroma, dan masa lalumu tidak akan saya ceritakan kepada siapa pun. Bukan kepada Ibu, Bapak, atau Bagas."

"Kalau keselamatan Arka terancam?"

"Kita sudah memastikan penggunaannya. Kalau ada risiko baru, saya bicara kepadamu dulu, kecuali keadaan darurat."

"Kalau keluarga meminta Den bersumpah?"

"Saya tidak akan berbohong untuk hal yang membahayakan orang, tetapi saya bisa menolak menjawab pertanyaan yang bukan hak mereka."

Aku memikirkan perbedaan itu. Menjaga rahasia bukan berarti menutup semua kebenaran dengan kebohongan. Den Nara sedang memberi batas yang bisa diuji, bukan janji kosong yang tergantung suasana hati.

"Mas Bayu?"

"Dia tahu soal utang dan kekerasan karena itu bagian ancaman. Dia tidak tahu mekanisme aroma."

"Mbak Ratih curiga."

"Curiga bukan tahu. Jangan mengaku karena takut pada tuduhan."

Aku memandang jemari sendiri. "Kalau suatu hari Den marah kepada saya?"

"Rahasia bukan senjata."

"Orang sering bilang begitu sebelum marah."

Den Nara terdiam. Dia tidak tersinggung.

"Saya tidak bisa meminta kau percaya hanya karena saya mengatakannya," ujarnya kemudian. "Jadi lihat tindakan saya. Kalau saya melanggar, jangan percaya lagi."

Jawaban itu tidak menjanjikan bahwa dia sempurna. Justru karena itu, aku lebih mudah menerimanya.

"Rahasiamu aman dengan saya," lanjutnya. "Kau bisa percaya sedikit demi sedikit. Tidak harus sekaligus."

Mataku panas. Aku buru-buru melihat taman agar Bu Nah tidak melihatku menangis dari dapur.

"Saya tidak pernah punya orang untuk menyimpan cerita," kataku. "Mbah Sari tahu ramuan, Bu Tumi tahu saya kabur. Tapi tidak ada yang tahu keduanya sekaligus."

"Sekarang ada."

Dua kata itu menyentuh tempat paling sepi dalam diriku.

Di dapur, piring beradu dan Bu Nah memanggil pekerja lain. Rumah tetap bergerak seperti biasa, tetapi dunia kecilku berubah. Selama ini rahasia berarti beban yang harus kuangkat sendiri. Kini ada orang lain yang mengetahui beratnya dan tidak mencoba mengambil alih.

"Kalau Den suatu hari merasa keberatan, bilang kepada saya," ucapku. "Saya tidak mau rasa kasihan menjadi kewajiban."

"Saya tidak kasihan."

"Lalu apa?"

Dia menatapku begitu lama sampai aku menyesal bertanya. "Saya peduli. Kita sudah membicarakan itu."

Jantungku melompat. Den Nara selalu mengucapkan kata paling berbahaya dengan nada seperti membacakan jadwal rapat.

"Terima kasih, Den."

"Ada satu hal lagi."

Aku menunggu.

"Jangan menyuruh Bu Nah menirukan cara saya mimisan di depan satpam."

Aku gagal menahan tawa. Den Nara menghela napas, tetapi sudut bibirnya bergerak.

"Saya tidak menyuruh."

"Kau tertawa, berarti ikut bersalah."

"Baik. Saya minta maaf."

"Tidak terdengar menyesal."

"Karena memang sedikit lucu."

Dia menatapku tajam. Aku mundur satu langkah sambil masih tertawa, lalu berbalik ke dapur sebelum keberanianku habis.

Untuk pertama kalinya, aku meninggalkan percakapan dengannya tanpa rasa takut.

***

Malam berikutnya, aku merapikan barang-barang di kamar. Botol kecil kusimpan dalam kotak berkunci yang diberikan Den Nara lewat Bu Nah. Baju kerja dilipat. Uang gaji pertama kutulis dalam buku tabungan kecil.

Saat hendak menyimpan sapu tangan, tanganku menyentuh saku kosong.

Aku memeriksa saku blus lain, keranjang cucian, dan bawah bantal. Sapu tangan dengan sulaman S tidak ada. Aku biasa membawa dua, tetapi keduanya menghilang setelah kejadian mimisan.

Aku bertanya kepada Bu Nah keesokan paginya apakah ada sapu tangan terselip di cucian. Dia memeriksa keranjang dan menggeleng.

"Coba tanya Den Nara. Kemarin ada kain di tangannya."

"Nanti saja."

Bu Nah menyeringai. "Takut dia mimisan lagi kalau kau dekat?"

"Bu!"

Tawanya mengikuti sampai aku keluar dapur. Aku mulai curiga seluruh rumah akan mengingat kejadian itu lebih lama daripada Den Nara sendiri.

Aku teringat Den Nara memasukkan dua kain ke saku.

Katanya akan mencuci yang kotor. Mengapa yang bersih juga dibawa?

Aku berjalan sampai depan kamar, berniat naik dan meminta kembali. Lalu kuingat waktu sudah hampir pukul sepuluh. Mengetuk ruangannya malam-malam hanya untuk sapu tangan akan mengundang salah paham.

Besok saja.

Aku kembali ke ranjang dan membuka tas kanvas. Masih ada satu sapu tangan tua milik almarhumah Ibu. Kainnya sudah tipis, jadi aku jarang menggunakannya.

Kehilangan dua sapu tangan seharusnya bukan perkara besar. Harganya murah. Aku bisa membeli lagi setelah gajian.

Namun sulaman S kubuat sendiri saat berusia enam belas tahun. Benda itu ikut di dalam tas ketika aku memanjat tembok rumah dan tidak pernah kembali.

Pada salah satu sudutnya ada noda samar dari tanah malam pelarian. Sudah kucuci berkali-kali, tetapi warnanya tidak pernah benar-benar hilang. Benda murah itu adalah saksi bahwa aku pernah cukup berani memilih hidupku sendiri.

Aku menyentuh saku kosong sekali lagi.

Di lantai atas, tanpa kuketahui, dua sapu tangan itu tersimpan rapi di laci Den Nara bersama satu kain lain yang pernah kujahit.

Aku mematikan lampu dengan perasaan kehilangan yang aneh, tidak tahu bahwa barangku tidak hilang.

Malam itu aku bermimpi memanjat tembok desa lagi. Bedanya, saat mendarat di sisi lain, seseorang mengulurkan sapu tangan bersulam S kepadaku. Wajahnya tidak terlihat, tetapi suara rendahnya mengatakan aku tidak perlu berlari sendirian.

Aku terbangun dengan dada hangat dan saku tetap kosong.

Seseorang hanya belum rela mengembalikannya, sementara aku belum berani menanyakan mengapa benda sederhana itu begitu ingin dia simpan sendiri sampai selama itu.

1
sunaryati jarum
Mungkin kalian berjodoh.Sekar kamu jangan menyiksa diri,lambung butuh diisi cukup tubuhmu butuh nutrizi.
sunaryati jarum
Baru mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!