Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Sepetak Tembakau di Ambang Pintu
Pagi itu, selembar pengumuman ditempel di papan kompleks.
Aku berdiri sambil menggendong Sena, menebak isi tulisan kecil dari kerumunan ibu-ibu. Bu Tuti datang membawa keranjang sayur.
"Pemeriksaan kebersihan dan ketertiban oleh Persit," bacanya. "Kamar, halaman, saluran air, semua dicek."
Ia mendekatkan mulut ke telingaku. "Bu Ratna yang memimpin. Bersihkan sampai bawah kasur."
Kamarku tidak punya banyak barang. Aku menyapu, mengepel, menjemur kasur, mencuci botol, dan menata catatan Sena. Tuti membantu memegang bayi ketika aku mengangkat peti.
Di bawah ranjang hanya ada sandal, ember, dan kantong beras dua kilogram. Di dalam peti kususun pakaian di sebelah foto Wahyu, mukena, serta amplop berisi uang yang belum kukirim. Aku menghitungnya lagi. Setelah potongan mi dan kebutuhan sabun, jumlahnya cukup untuk dua kaleng formula ukuran kecil.
"Besok ada mobil logistik ke arah Sumberejo," kata Tuti. "Titip lewat sopir saja."
"Saya takut uangnya hilang."
"Buat amplop, tulis nama Mbah Wagiyem, lalu minta tanda terima. Di sini apa-apa harus ada catatan. Kamu sendiri yang mengajari kami itu."
Aku tersenyum. Nasihatnya benar. Setelah membereskan kamar, aku menulis surat singkat kepada Mbah, menyelipkan uang, dan mencatat jumlahnya di buku kecil.
Sena meraih amplop. "Ini buat adikmu, bukan mainan."
Tuti terkekeh. "Belum ketemu saja sudah mau rebut."
"Kamu terlalu kurus," katanya. "Telurnya jangan semua dikasih Sena."
"Dia cuma makan kuning sedikit. Putihnya buat saya."
"Bagus. Jangan sok jadi ibu yang hidup dari angin."
Menjelang siang, Ratna datang bersama dua anggota Persit. Ia memeriksa sudut kamar, tutup tempat air, dan kelambu. Tak ada yang bisa dipersoalkan.
Ia membuka tutup ember, mengusap bingkai jendela, bahkan menunduk memeriksa bawah ranjang.
"Botol susu direbus berapa lama?"
"Sesuai arahan klinik, Bu. Ini jadwalnya."
"Catatan banyak belum tentu praktiknya benar."
"Silakan tanya perawat yang menimbang Sena."
Pendampingnya memeriksa peti. Aku berdiri di sampingnya sampai semua barang dikembalikan pada tempat semula. Saat tangannya hampir menyentuh amplop uang, aku menutup peti.
"Itu kiriman untuk anak saya di kampung. Nggak berkaitan dengan kebersihan."
Ratna menatapku melalui pantulan kaca jendela. "Kami tidak berniat mengambil."
"Saya juga tidak bilang begitu. Saya cuma menjelaskan batas pemeriksaan."
Tuti yang berdiri di pintu pura-pura membetulkan gendongan Sena. Matanya menahan tawa.
Saat hendak pergi, salah satu pendamping menunjuk ambang pintu.
"Bu Ratna, ini apa?"
Di sisi luar kusen ada segenggam tembakau kering. Daunnya tercecer sampai lorong, persis sisa rokok linting.
Ratna menatapku. "Ada tamu laki-laki yang merokok di sini?"
"Nggak ada."
"Tembakau nggak berjalan sendiri."
Dua pintu tetangga terbuka. Ibu-ibu keluar melihat. Dalam hitungan detik, pemeriksaan kebersihan berubah menjadi tontonan.
Aku menyerahkan Sena kepada Tuti, lalu berjongkok tanpa menyentuh tembakau.
"Letaknya di luar kusen," kataku. "Lorong ini ruang bersama."
"Tepat di depan kamarmu."
"Karena orang yang menaruh ingin semua orang berpikir begitu."
Ratna merapatkan bibir. "Jangan menuduh tanpa bukti."
"Saya juga minta hal yang sama. Jangan menuduh saya tanpa bukti."
Aku menunjuk lantai. Debu halus di sekitar tembakau tidak memiliki bekas puntung atau abu. Daunnya masih kering meski lantai depan kamarku baru dipel pagi tadi.
"Kalau ada orang merokok semalam, pasti ada abu. Kalau jatuh sebelum saya mengepel, tembakau ini sudah basah. Berarti ditaruh setelah lantai kering, saat saya membawa Sena ke klinik pagi tadi."
Tuti mengangguk cepat. "Aku lihat sendiri kamar ini kosong dari jam delapan sampai sembilan."
"Pak Danyon dan Adi memang datang melihat Sena," lanjutku. "Itu kunjungan terkait anak dan tercatat. Keduanya juga tidak merokok di depan kamar bayi. Kalau Ibu mau, kita cek buku piket dan tanya penjaga lorong."
Salah satu pendamping Ratna mundur setapak.
Ratna tersenyum tipis. "Saya hanya bertanya. Nggak perlu defensif."
"Pertanyaan yang diajukan di depan orang banyak membawa akibat, Bu. Jawabannya juga harus didengar orang banyak."
Lorong hening. Sena menggeliat di gendongan Tuti lalu menguap, sama sekali tidak peduli reputasiku sedang dipertaruhkan oleh segenggam daun.
Ratna meminta pendampingnya menyapu tembakau. Aku menahan.
"Jangan dibuang dulu. Foto dan catat di lembar pemeriksaan. Kalau ini dianggap bukti, penyelesaiannya juga harus tercatat."
Seorang ibu di belakang berbisik, "Benar juga."
Akhirnya tembakau dimasukkan ke kantong plastik dan lokasi difoto. Ratna tak punya pilihan selain menulis bahwa benda ditemukan di lorong umum tanpa saksi.
Setelah rombongan pergi, lututku lemas. Aku duduk di lantai.
Telapak tanganku basah. Selama adu kalimat tadi, aku menyembunyikannya di lipatan rok. Tubuhku ingin gemetar sejak tembakau ditemukan, tetapi pikiranku terus menghitung: lokasi, waktu, saksi, dan siapa yang mendapat keuntungan.
Wahyu dulu sering berkata aku bisa mengubah pertengkaran menjadi daftar belanja. Ia menganggapnya lucu. Hari ini kebiasaan itu menyelamatkanku dari tuduhan.
Tuti mengembalikan Sena. "Kamu kelihatan tenang sekali."
"Kalau saya ikut panik, mereka menang."
"Menurutmu siapa yang taruh?"
Aku melihat ujung lorong. "Orang yang tahu jadwal pemeriksaan dan tahu saya pergi ke klinik."
Sore hari, Darman memanggilku ke pintu dapur. Ia tidak mengajak masuk, hanya menyerahkan sebungkus daun singkong.
"Buat tambahan makanmu," katanya. "Dan hati-hati."
"Soal tembakau?"
"Pembantu dapur lihat salah satu orang Bu Ratna mondar-mandir di lantai dua pagi tadi. Nggak lihat dia menaruh, jadi jangan pakai sebagai tuduhan."
"Terima kasih sudah bilang."
Darman menggaruk bekas luka di bahu. "Bu Ratna mulutnya manis. Hatinya lain. Dulu pernah bikin keluarga prajurit pindah blok cuma karena nggak mau ikut kelompok arisannya."
"Kenapa semua orang diam?"
"Karena serangan kecil susah dibuktikan. Orang capek duluan."
"Kalau yang pindah blok itu melapor?"
"Laporannya jadi soal ketidakcocokan antaristri. Nggak ada bukti ancaman. Cuma bisik-bisik, undangan yang sengaja nggak dikasih, anaknya dijauhi."
Aku memahami caranya. Ratna tidak mendorong orang dari tangga. Ia menaruh kerikil kecil di setiap anak tangga sampai korbannya memilih turun sendiri.
Sayangnya, aku tidak punya tempat lain untuk turun.
Aku menerima daun singkong itu. "Kalau begitu saya nggak boleh capek."
Dalam perjalanan pulang, kulihat Ratna berbicara dengan dua orang di dekat papan pengumuman. Ketika aku lewat, mereka diam.
Aku tersenyum dan menyapa seperti biasa.
Di kamar, kantong bukti tembakau masih ada di mejaku. Di sampingnya kutaruh kertas berisi jam keluar-masuk, nama saksi, dan lokasi penemuan.
Kalau Ratna ingin bermain dengan jejak, aku akan membuat setiap jejaknya punya waktu dan nama.
Besok pagi, sebelum siapa pun sempat mengubah ceritanya, aku akan mulai dari buku piket dan daftar lengkap orang yang memasuki lorong ketika kamarku kosong.