Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 11
“Hah gundik?!”
“Opo iyo-yo?”
“Bisa jadi. Pikir ae, mosok iyo pari bosok ora enek sebab musabab ee.”
“Sopo seng di maksud gundik?”
"Sulastri, ibu ee ketua tani!"
“Tapi, mosok iyo, bukane cerita gundik itu sudah terjadi puluhan tahun lalu, apa mungkin balak itu baru sekarang datang?”
“Mungkin saja, apalagi sekarang pertanian desa dipimpin darah keturunannya.”
Desas-desus merambat cepat, menembus gendang telinga para penduduk desa, menerobos barisan panjang bangku kayu hingga ke seluruh penjuru ruangan.
Di atas mimbar lebar, Anne meremas ujung kebaya nya hingga buku-buku jarinya memutih, matanya memerah dengan wajah mengeras. “Jangan pernah bawa nama ibuku dalam hal ini.”
Ia bergumam seraya menatap tajam wajah-wajah penduduk yang masih saling menggunjing.
“Pak Lurah, kalau benar gagal panen tahun ini karena balak, malapetaka akibat kesalahan pendahulu kita, desa harus mengambil tindakan. Cari penyebabnya sampai ke akar-akarnya.” Teriak penduduk desa, di sambut sahutan lainnya.
“Betul itu!”
“Betul!”
“Desa kita sedari dulu subur makmur, tapi …,” Sugi menggantungkan ucapannya, maju dua langkah lalu menunjuk tajam wajah Anne. “Tapi semenjak gundik ini datang, masalah selalu menghampiri!”
“Betul!”
“Usir keturunan gundik itu dari desa kita!”
“Betul. Usir semua yang bersinggungan dengan anak gundik itu!”
“Saudara-saudara. Tenang!” Kasmuri maju kedepan, dua tangan terangkat ke atas. “Tenang semua!”
Seruan perlahan mereda, namun sorot mata mencibir, menguliti, masih menjurus ke arah Anne.
“Saudara-saudara. Kita tidak boleh menebar fitnah yang belum tentu benar adanya. Ibu dari nduk ketua adalah orang baik, pendahulu juga sudah mengakuinya, kita pun merasakan hasilnya. Bagaimana mungkin kalian berpikir ini tulah, balak dari Gusti Allah?!” Dengan suara bergetar Kasmuri berusaha menyanggah tuduhan penduduk desa.
“Betul sekali saudara-saudara. Zaman telah maju, kita pun harus berpikir maju, masalah pertanian kita murni karena alam, tak ada kaitannya dengan mistis atau klenik.” Maria turut menimpali, ia telah berpindah tempat, ke sebelah sang sahabat memegangi lengan yang menegang.
“Noni Mantri Tani, Anda adalah seorang Belanda. Tidak paham dengan masalah seperti ini!” sahut salah satu penduduk desa.
Maria mengulas senyum tipis, menatap Anne sekilas, lalu berpindah ke penduduk desa. “Benar sekali aku adalah seorang Belanda, tapi aku tumbuh di lingkungan dengan adat ketimuran yang kental. Papa ku seorang Jawa, aku pun mengenal baik bibi Sulastri dan paman Petter. Jadi aku berani meyakini, tuduhan kalian semua tak berdasar, tak pula berbukti.”
“Buktinya pertanian kita rusak tanpa sebab musabab, bukankah itu sudah cukup sebagai petunjuk bahwa desa ini sedang dijatuhi balak?!” Salah seorang merangsek ke depan, berdesakan dengan beberapa orang yang semakin maju.
“Betul itu. Gagal panen kali ini pasti karena balak. Kalau tidak segera dihentikan, desa kita akan segera kehilangan kemakmurannya!” seruan kembali mencuat, sahut-menyahut bagai genderang di telinga Anne.
“Saudara-saudara. Tuduhan kalian sudah di luar batas. Opo usaha kami sebagai kamituwo benar-benar tak terlihat? Kami mati-matian sedang berusaha menyegarkan kembali padi-padi kalian, bahkan beberapa warga saat ini masih berada di sawah, membantu sawah kalian yang terdampak. Sedang kalian malah asal berteriak, melayangkan fitnah kepada keluarga Van Beek!” Begitu lantang Dasim melakukan pembelaan, ia memang ikut kumpulan, perairan sawah di serah kan pada Broto yang memang enggan bila di suruh berada di keramaian.
“Kami tidak mengatakan ini tentang keluarga Van Beek, tapi gundik yang pernah di selamatkan tuan Londo, dan kemudian sengaja naik ke ranjang agar dinikahi!” sambar penduduk desa.
“Sedari dulu cerita ini begitu tabu, dibiarkan mengalir bagai anak sungai. Itu semua jelas karena ada tuan Londo yang menjadi tameng, tak hanya untuk dirinya tapi juga warga desa. Kini tameng itu sudah tak berada di tempatnya sehingga penduduk desa terkena imbasnya. Memanglah benar gundik itu telah dibawa pergi, tapi darah keturunan serta jongos-jongosnya masih berada di tanah desa kita, menginjak dengan kaki kotor, penuh lumpur dosa!” Seorang petani setengah tua berujar dengan suara bergetar. “Bertahun-tahun desa kita makmur, loh jinawi, baru kali balak itu menghampiri, itu pasti karena beban dosanya!”
“Pak lurah, opo sampean akan terus diam saja tanpa mengambil tindakan?!”
“Atau sebenarnya sampean juga menyimpan gundik hingga begitu patuh, tak berani mengambil tegas keputusan!”
“Betul. Jangan-jangan darah itu juga mengalir di garis keturunannya.”
“Bukan tidak mungkin dia juga seorang gundik!”
Tuduhan miring itu bagai godam yang menghantam dada Anne, netranya mengabur, pijakannya sempat goyah, namun seketika menegak saat melihat Argono di barisan belakang, menatap ke arahnya dengan senyum miring.
Anne mengangkat dagunya, sorot matanya penuh keyakinan. “Kalian sudah melakukan kesalahan besar dengan menyeret nama ibu ku dalam masalah ini. Aku diam, menerima jika hanya aku yang kalian hinakan, tapi jika sudah menyangkut harga diri keluargaku, maka nyawa ini taruhannya.”
Ia melangkah maju, mendekatkan dahinya pada Sugi—orang yang paling keras meneriakkan perihal gundik. “Kita tunggu, kowe atau aku yang mati di tanah ini!”
Gadis dengan sorot mata bengis itu mengedarkan pandang seolah tengah menandai mulut-mulut yang meneriakkan tuduhan keji kepadanya.
“Aku Anneke Van Beek, bersumpah akan merobek mulut siapapun yang telah menghina ibuku. Kalian dengar, Demi harga diri keluarga Van Beek, aku tak hanya akan mundur dan pergi dari desa ini, tapi juga menyerahkan semua lahan pertanian milikku jika aku gagal menyelesaikan target panen tahun ini. Tapi …,” Anne berhenti sejenak, tatapan menjurus ke seorang menyeringai di depannya. “Jika aku berhasil membalikkan keadaan, tidak ada ampun untuk kalian, sekalipun kalian telah bersujud di kaki ibu ku.”
Ia kemudian berjalan dengan langkah mantap, dada membusung dan tatapan tegas, meninggalkan ruang pertemuan bersama kasak-kusuk dan hentakan teklek yang perlahan kehilangan gema nya.
“Anne!” Panggilan Maria menghentikan langkah Anne yang bersiap naik ke punggung temon.
“Anne, kenapa jadi rumit seperti ini?” tanya Maria, tangan kecilnya mengusap lengan sang sahabat.
“Karena semuanya janggal,” jawab Anne datar.
Maria menghela napas berat, membasahi bibir terasa kering, lalu berujar dengan suara pelan. “Maafkan aku, Anne. Aku tak bermaksud menimbulkan asumsi ambigu di kalangan penduduk desa, hasil pemeriksaan memang begitu adanya, semua normal.”
“Aku tak menyangka jika penduduk justru mengaitkan semua ini dengan hal mistis. Anne, kau percaya padaku, ‘kan?” lirih gadis berdarah Eropa itu dengan tatapan memohon.
“Sudahlah, Maria, kau tak bersalah dalam hal ini. Kita juga tak perlu membahasnya,” balas Anne.
“Anne, apakah tak sebaiknya kau turunkan sedikit egomu, maksudku masalah ini begitu pelik sampai membawa nama bibi Sulastri dan paman Petter, apa tidak sebaiknya kau mundur sejenak sampai masalah ini reda?” Sangat berhati-hati Maria menyampaikan pendapatnya.
Tawa Anne pecah hingga menarik perhatian beberapa orang yang berada di serambi balai desa. Jari telunjuknya menunjuk dada sang sahabat. “Kau meminta aku mundur hanya karena masalah sekecil ini, Maria? Lucu.”
“Bukan begitu maksudku, Anne. Hanya sam—”
“Lantas siapa yang menurutmu akan ditunjuk penduduk sebagai gantiku, pemuda pendatang baru itu atau dirimu sendiri?” sergah Anne, tatapannya menjurus pada netra bergetar Maria. “Selesaikan saja urusan yang kau anggap janggal, Maria, aku yang akan mencari tau penyebab kejanggalan itu.”
“Anne ….”
Maria berdecak pelan, menatap nanar punggung sang sahabat yang sudah menghilang di persimpangan jalan seraya bergumam. "Kenapa kau masih saja Jumawa Anne?"
Bersambung
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria