Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.
Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.
Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.
Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANJI SUCI
Alarm pagi berbunyi menandakan waktu memasuki subuh. Udara dingin lereng bukit yang menyegarkan. menyusup melalui celah-celah dinding kayu rumah panggung milik Hafiz. Di dalam kamar, keheningan pagi terasa begitu hangat dan menentramkan. Selimut tebal masih membungkus dua raga yang semalam telah resmi menyempurnakan separuh agama mereka.
Hafiz menjadi yang pertama terbangun. Kelopak matanya terbuka perlahan, langsung disambut oleh pemandangan indah di depannya. Nabila tertidur lelap dengan kepala bersandar nyaman di dada bidangnya. Rambut hitam pekatnya yang panjang terurai acak di atas bantal, menyebarkan aroma harum minyak zaitun yang lembut. Pipi mulusnya sedikit merona di bawah pendar sinar lampu temaram.
Hafiz mengukir senyum penuh rasa syukur. Dengan gerakan yang sangat halus agar tidak mengganggu lelapnya sang istri, Hafiz mengusap lembut helai-helai rambut yang menutupi dahi Nabila, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di sana.
Sentuhan lembut itu membuat Nabila bergerak pelan. Napasnya teratur sebelum akhirnya kelopak matanya terbuka. Meski pandangannya hanya menangkap kegelapan yang sama, Nabila bisa merasakan kehangatan dekapan suaminya dan detak jantung Hafiz yang berpacu tenang di dekat telinganya.
"Assalamu'alaikum, Billa..." bisik Hafiz lembut tepat di pelipisnya.
Nabila menyunggingkan senyum manis, senyuman pertama di pagi hari yang begitu memesona. "Wa'alaikumus salam, Mas Hafiz..." jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Nabila hendak menggerakkan tubuhnya untuk bangun, namun rasa nyeri dan pegal di bagian bawah tubuhnya seketika menyengat, membuat wanita itu meringis pelan dan menahan napas.
Hafiz yang sigap merasakan perubahan reaksi tubuh istrinya langsung merapatkan pelukan, menahan bahu Nabila dengan lembut. "Jangan dipaksa bangun dulu, Sayang. Masih sakit, ya?"
Nabila menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang merona merah di ceruk leher Hafiz. "Sedikit, Mas..." bisiknya jujur.
Hafiz terkekeh halus, rasa gemas dan cinta membuncah di dadanya. Ia mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kehangatan. "Terima kasih untuk semalam ya, Billa. Terima kasih sudah menjadi istri yang sangat sempurna dan ikhlas untuk Mas. Mas benar-benar merasa menjadi pria paling beruntung di dunia."
"Billa yang harusnya berterima kasih, Mas," tutur Nabila tulus seraya meremas pelan kain selimut. "Mas Hafiz begitu lembut dan sabar membimbing Billa. Billa merasa sangat dihargai dan disayangi."
Hafiz tersenyum, lalu mengecup dahi Nabila sekali lagi. "Ya sudah, sekarang Billa istirahat saja dulu di ranjang. Mas yang akan mandi duluan, lalu Mas siapkan air hangat untuk mandi wajib Billa, ya? Biar nanti kita sholat subuh berjamaah ya?"
"Eh, tidak usah, Mas... Billa bisa sendiri," tahan Nabila merasa tak enak hati.
"Tidak ada penolakan, Sayang," potong Hafiz penuh kasih sayang namun tegas. "Tugas suami adalah memuliakan istrinya. Biarkan pagi ini Mas yang melayani Billa."
Sebelum Nabila sempat membalas, Hafiz menyibak selimut, melangkah menuju kamar mandi untuk menyucikan diri dan menyiapkannya untuk sang istri.
Satu jam berlalu. Setelah keduanya menyucikan diri dan melaksanakan sholat subuh berjamaah yang diiringi doa-doa indah dan dilanjutkan membaca Al-Qur'an bersama, suasana rumah panggung terasa kian syahdu. Hafiz menuntun Nabila menuju teras depan rumah panggung. Udara pagi yang segar bertiup mengibarkan jilbab lebar berwarna pastel yang dikenakan Nabila, salah satu pakaian yang dibelikan Hafiz di Jogja kemarin.
Hafiz mendudukkan Nabila di kursi kayu teras, lalu ia sendiri duduk bersandarkan lantai kayu tepat di dekat kaki istrinya. Di atas meja kecil, telah tersedia dua cangkir teh manis hangat yang aromanya menyatu dengan wangi tanah basah oleh embun.
"Udaranya sejuk sekali ya, Mas," puji Nabila seraya menghirup dalam-dalam udara pagi.
"Iya, Billa. Di depan kita ini, hamparan sawah hijau membentang luas. Embun pagi masih menempel di ujung-ujung daun padi, memantulkan cahaya matahari yang mulai terbit dari balik bukit," cerita Hafiz, kembali menjadi "mata" bagi wanita tercintanya.
Nabila mendengarkan dengan penuh rasa takjub. Ia menyentuh bahu Hafiz dari belakang. "Mas..."
"Iya, Sayang?" Hafiz menoleh, menggenggam jemari Nabila yang berada di bahunya.
"Semalam... Billa bermimpi indah sekali," bisik Nabila dengan binar kebahagiaan di raut wajahnya.
"Mimpi apa, Billa?"
"Billa bermimpi berada di sebuah taman bunga yang sangat luas dan indah. Di sana, Billa bisa melihat lagi... dan orang pertama yang Billa lihat berdiri di tengah taman itu adalah Mas Hafiz, memegang tangan seorang anak kecil yang sangat tampan."
Hafiz tertegun mendengarnya. Perasaannya berdesir hebat, tersentuh oleh kepolosan dan keindahan harapan yang tersirat dari mimpi istrinya. Hafiz bangkit dari duduknya, lalu berlutut di hadapan Nabila dan meraih kedua tangan istrinya.
"Insyaallah mimpi itu adalah pertanda baik, Billa," tutur Hafiz dengan pendar mata berkaca-kaca oleh rasa haru. "Semoga Allah mengijabah doa-doa kita semalam... menyemaikan benih yang sholeh atau sholeha di dalam rahimmu, yang kelak akan menjadi pencerah dan pelengkap kebahagiaan rumah tangga kita."
"Aamiin ya Rabbal 'aalamiin..." sahut Nabila penuh keikhlasan.
Hafiz mendekatkan kedua tangan Nabila ke bibirnya, mencium punggung tangan itu berulang kali. Tidak ada lagi bayang-bayang duka, tidak ada lagi rasa bersalah atas masa lalu. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang telah terikat kuat oleh takdir dan cinta yang bermuara pada ridho Sang Maha Kuasa. Di atas rumah panggung yang sederhana itu, mereka siap melangkah bersama mengarungi babak baru kehidupan sebagai sepasang suami istri sejati.