Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — PERTENGKARAN KECIL
Sore itu, suasana di lorong lantai dua rumah keluarga Faruqi terasa agak terburu-buru. Aurel melangkah keluar dari kamar mandi dengan rambut bergelombang yang masih setengah basah, mengenakan celana kulot hitam dan blouse rajut warna marun yang anggun.
Ponsel di genggamannya berdering untuk ketiga kalinya. Nama Maya tertera di layar.
"Iya, May, ini aku baru kelar siap-siap," ujar Aurel seraya menjepit ponselnya di antara telinga dan bahu, sementara jemarinya sibuk merapikan rias tipis di wajahnya. "Acara syukuran kelulusan anak-anak pameran di mana jadinya? Di Resto Dermaga?"
"Iya, Rel! Anak-anak udah pada kumpul nih dari jam lima. Dito juga udah di sini. Kamu cepetan ya, tinggal nunggu kamu doang!" suara Maya terdengar riuh dari seberang telepon.
"Oke, oke, aku jalan sekarang."
Aurel menyambar tas bahunya, lalu melangkah cepat menunju tangga turun. Namun, saat baru menjejakkan kaki di anak tangga pertama, langkahnya terhenti.
Rasyid sedang berdiri di dekat meja sudut ruang tengah. Pria itu baru saja pulang dari kompleks pesantren, masih mengenakan baju koko katun warna putih bersih dan kain sarung tenun bernuansa hijau botol. Di tangannya, Rasyid memegang sebuah tas laptop kulit cokelat yang tampak agak berat.
Mendengar derap langkah terburu-buru Aurel, Rasyid mendongak. Matanya yang jernih menyapu penampilan Aurel dari ujung kepala hingga ke sepatu hak rendah yang sudah melekat di kakinya.
"Kamu mau pergi, Aurel?" tanya Rasyid pelan. Suaranya halus seperti biasa, namun ada raut lelah yang samar terpatri di sudut matanya.
Aurel menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. "Iya. Ada acara syukuran pameran anak-anak Seni Rupa di Resto Dermaga. Maya sama Dito udah nungguin dari tadi."
Rasyid mengerutkan dahi pelan. Ia melirik jam dinding kayu di ruang tengah yang sudah menunjukkan pukul 17.40 WIB.
"Pulang jam berapa?" tanya Rasyid.
Aurel menghela napas pendek, merasa sedikit terdesak oleh waktu. "Nggak tahu. Tergantung acaranya kelar jam berapa. Kan makan malam bareng anak-anak angkatan."
Rasyid meletakkan tas laptopnya di atas meja sudut. Pria itu memandang Aurel lurus-lurus, menarik napas dalam sebelum berucap.
"Aurel..." panggil Rasyid. Intonasinya rendah, tetapi mengandung bobot ketegasan yang tak bisa diabaikan.
Aurel mengerutkan kening, memasang gesture agak defensif. "Kenapa?"
"Acara ini... kenapa baru kamu beri tahu sekarang?" Rasyid bertanya dengan sangat halus, namun pertanyaan itu terasa seperti kerikil yang tersangkut di tenggorokan Aurel. "Kamu tahu acara ini dari kapan?"
"Dari tadi siang di kampus," jawab Aurel jujur, walau suaranya mulai menyisakan nada ketus. "Tapi tadi di kampus aku riweh banget ngurusin draf bab empat, jadi nggak sempet megang HP buat ngetik pesan. Kan cuma acara makan-makan biasa, Rasyid."
Rasyid menatap istrinya dalam-dalam. "Aku tidak melarang kamu pergi, Aurel."
"Terus kenapa mukamu langsung kaku gitu?" sergah Aurel cepat, amarah kecil yang mengendap karena dikejar waktu mulai mencetuskan percikan. "Setiap kali aku mau pergi sama temen-temenku, kamu selalu nanya jam berapa pulang, pergi sama siapa, lokasinya di mana. Aku tuh rasanya kayak anak SMA yang lagi diceramahi wali kelas!"
Keheningan melayang sejenak di antara mereka. Suara detik jam dinding terasa begitu nyaring memecah ruang tengah.
Rasyid memejamkan matanya sejenak, mengendalikan emosi lelah yang menumpuk usai seharian mengajar di madrasah dan mengurus berkas pesantren. Ketika ia membuka matanya kembali, sorot matanya jernih, memancarkan rasa terluka yang sangat tipis.
"Aku tidak sedang ceramah, Aurel," kata Rasyid pelan. "Dan aku tidak pernah berniat mengurungmu."
"Tapi rasanya gitu!" Aurel bersedekap, suaranya meninggi satu tingkat. "Aku sudah nikah, Rasyid. Tapi bukan berarti aku harus kehilangan seluruh kehidupan sosialku kan? Bukan berarti semua hal dalam hidupku harus dilaporkan detik demi detik ke kamu!"
"Aurel," potong Rasyid mantap, membuat suara Aurel seketika tertahan.
Rasyid melangkah dua tindak mendekati Aurel, berhenti dalam jarak satu meter. Matanya menatap netra cokelat terang milik Aurel tanpa berkedip.
"Aku tidak pernah meminta kamu kehilangan hidupmu," ujar Rasyid dengan suara yang begitu dalam, jujur, dan menembus dada. "Aku tidak pernah melarang kamu bertemu Dito, Maya, atau siapa pun. Tapi mengapa setiap kali aku meminta kabar, kamu selalu menganggapnya sebagai bentuk pengekangan?"
"Ya karena—"
"Karena sekarang ada seseorang yang menunggumu pulang, Aurel," sela Rasyid pelan, setiap kata terucap dengan kejujuran yang telanjang. "Dulu, mungkin tidak ada yang peduli jam berapa kamu tiba di rumah. Tapi sekarang... ada aku. Ada suami yang akan merasa cemas jika jalanan malam makin sepi dan kamu belum memberi berita."
Kalimat sederhana itu meluncur begitu jernih. Tanpa dalil yang menggurui, tanpa ancaman otoritas. Hanya sebuah pengakuan polos dari seorang pria yang peduli.
Aurel terpaku di tempatnya.
Kata-kata itu menghantam dadanya tepat di titik paling rapuh. Tenggorokannya mendadak terasa tersekat, dan kalimat-kalimat ketus yang sudah ia susun di kepala mendadak runtuh tak berbekas. Pipinya memanas oleh campuran rasa bersalah dan gengsi yang masih bergolak.
Namun, rasa gengsi dan kebiasaannya untuk tidak mau terlihat menyerah membuat Aurel tetap mempertahankan pertahanan luarnya.
Aurel membuang pandangannya ke arah pintu depan, meremas tali tas bahunya kencang-kencang. "Ya... ya udah. Aku tetep pergi. Anak-anak udah nungguin."
Aurel berbalik dan melangkah terburu-buru menuju pintu keluar sebelum Rasyid sempat membalas lagi. Suara derit pintu kayu yang ditutup agak kencang menyisakan keheningan yang pekat di dalam rumah.
Rasyid berdiri sendirian di ruang tengah, menatap pintu yang tertutup rapat itu. Pria itu memejamkan mata, memegang pelipisnya seraya mendesah pelan.
Restoran Dermaga malam itu dipenuhi gelak tawa dan riuh rendah denting sendok dari puluhan mahasiswa Seni Rupa. Makanan laut segar terhidang melimpah di atas meja panjang, dan tawa Maya serta candaan Dito mewarnai suasana.
Namun, di tengah keriuhan itu, Aurel duduk terdiam di sudut meja.
Ia memandangi piring ikannya yang baru tersentuh beberapa suap. Pikirannya melayang jauh, tertambat pada raut wajah lelah Rasyid saat berdiri di ruang tengah tadi. Kalimat pria itu terus bergema di telinganya seperti pola lagu yang tak bisa dihapus:
Karena sekarang ada seseorang yang menunggumu pulang, Aurel.
Aurel melirik jam di layar ponselnya. Pukul 20.15 WIB.
"Rel, kamu kok bengong aja dari tadi?" tegor Dito dari seberang meja seraya mengunyah udang goreng. "Ikanmu nggak dimakan? Kalau nggak mau, buat aku nih."
"Ambil aja," sahut Aurel pelan, mendorong piringnya ke arah Dito.
Maya menyikut lengan Aurel, menatap sahabatnya dengan tatapan selidik. "Kamu ada masalah sama Mas Rasyid ya, Rel? Mukamu kerung banget dari pas dateng tadi."
Aurel menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Nggak ada masalah gimana-gimana kok, May. Cuma... kepikiran aja."
Aurel meraih ponselnya. Jemarinya gemetar pelan saat membuka aplikasi pesan singkat. Nama Rasyid berada di urutan atas obrolan. Tidak ada pesan masuk dari pria itu sejak ia keluar rumah tadi—sebuah keheningan yang justru membuat dada Aurel terasa seribu kali lebih sesak.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya... untuk pertama kalinya sejak ikatan pernikahan ini terjalin... Aurel menurunkan rasa gengsinya secara total.
Jemarinya menari di atas papan ketik ponsel, mengetik sebuah baris pesan singkat:
Aku pulang agak malam. Ini lagi makan bareng anak-anak di Resto Dermaga. Nanti kalau sudah mau jalan pulang, aku kabarin lagi. Kamu jangan lupa makan malam.
Aurel menahan napasnya seraya menekan tombol kirim.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit hingga tanda centang biru berubah dan sebuah balasan masuk dari Rasyid:
Baik. Hati-hati di jalan. Makanan malammu sudah aku tutup di meja makan. Kalau sudah mau jalan pulang, kabari aku ya.
Aurel menatap dua baris kalimat singkat itu di layar ponselnya selama waktu yang terasa lama.
Tidak ada ledakan amarah dalam pesan itu. Tidak ada ancaman atau kalimat sindiran. Hanya sebuah penerimaan yang tenang dan kehangatan yang amat tulus.
Aurel mengulum senyum tipis yang tak sanggup ia tahan, merapatkan ponsel itu ke dadanya. Dan di tengah keriuhan kawan-kawannya di restoran malam itu, Aurel akhirnya menyadari satu hal yang teramat pasti: benteng pertahanan yang selama ini ia agung-agungkan telah benar-benar runtuh, digantikan oleh rasa rindu yang pelan-pelan ingin membawanya segera pulang.p