Alena Wijaya, 24 tahun, tidak pernah membayangkan hidupnya akan berubah total hanya karena satu tanda tangan di atas kertas. Perusahaan keluarganya di ambang kebangkrutan setelah ayahnya terjerat masalah bisnis yang tidak lagi bisa ditutupi, dan satu-satunya jalan keluar datang dari pihak yang paling tidak ia duga: keluarga Mahardika, salah satu konglomerat terbesar di negeri ini.
Syaratnya sederhana di atas kertas—Alena harus menikahi Adrian Mahardika, putra sulung yang dikenal publik sebagai pewaris lumpuh sejak kecelakaan dua tahun lalu. Satu tahun menikah, utang lunas, lalu bercerai baik-baik. Tidak ada cinta yang diminta, hanya status di depan dewan direksi dan media.
Alena datang ke rumah keluarga Mahardika dengan satu niat sederhana: bertahan selama setahun, lalu pergi tanpa menoleh ke belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinyo widi Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AYAH BILANG AKU HARUS MENIKAH
"PRANG."
Gelas tergelincir dari genggaman Alena—pecahan memercik, satu serpihan menancap di sela jemarinya. Lantai keramik dingin, suara kaca yang pecah masih bergaung ketika kata terakhir ayahnya terhenti di udara
"Ayah... bercanda, kan, Yah?" Suara Alena terdengar tipis. Herman—yang biasanya berdiri tegak seperti pagar—duduk dengan punggung melengkung, kedua telapak menekan pelipisnya.Ia tidak menjawab. Dan diamnya itu jauh lebih menakutkan daripada teriakan apa pun.
Alena berjongkok, memunguti potongan-potongan gelas itu perlahan. Jari-jarinya gemetar sehingga beberapa serpihan nyaris meleset. Serpihan terakhir menggores telapak; darahnya masih hangat, tapi ia menekannya saja tidak perduli.
Ayah bilang aku harus... menikah? Sama orang yang aku bahkan belum pernah lihat?" Alena menatap Herman, napasnya tersendat. Di ambang pintu, Ibu menahan suaranya seperti sesak didada. "Duduk dulu, Nak," suaranya pelan, getir. "Biarkan Ayah jelaskan."
Alena duduk juga, padahal setiap sel tubuhnya ingin bangkit dan kabur—meninggalkan rumah, meninggalkan nama keluarga yang kini terdengar seperti beban. Tapi dia tetap duduk, menunggu alasan yang bisa membuat akalnya menerima kebohongan in
Herman mengangkat kepala. Matanya merah, bukan karena marah tapi karena sesuatu yang lebih pekat: malu yang terasa seperti batu di tenggorokan. Ia menatap Alena bukan seperti ayah yang biasa menasehati, melainkan seperti orang yang sedang meminta pengampunan dan pengertian.
"Perusahaan Ayah... sudah di ujung tanduk, Nak. Bukan cuma rugi. Sudah diambang bangkrut. Ia mengeluarkan selembar surat dari sakunya, tepi kertasnya terkulai. "Ini surat dari bank.Mereka minta pelunasan pekan ini. Kalau tidak, aset disita: rumah, tabungan Ibu, bahkan uang kuliah adikmu." Ia menyodorkan kertas itu seperti sudah pasrah dengan keadaan.
"Kenapa harus aku?" Alena menyentak. "Kenapa bukan Ayah yang cari jalan lain—pinjaman, restrukturisasi, apapun?" Tangannya mengepal di pangkuan, seperti menahan sesuatu yang ingin ia lepaskan.
Sudah, Nak." Suara Herman patah. "Ayah sudah putar semua pintu—bank menutup, investor mundur begitu berita bocor. Hanya satu pihak yang mau ambil risiko dan menutup semuanya dalam semalam."
"Siapa?"
Herman menurunkan suara sampai serak. "Keluarga Mahardika."
Saat disebut "Mahardika" seperti kata yang menelan udara. Di televisi, nama itu mengisi kepala dengan logo dan angka. Bagi Alena, itu sebelumnya cuma judul di koran—sekarang tiba-tiba masuk ke ruang makan keluarganya, berat dan asing.
Semua orang di Jakarta tahu nama Mahardika—salah satu grup bisnis terbesar di negeri ini, tangannya ada di properti, energi, sampai teknologi. .
"Mereka nggak asal baik hati, Yah. Pasti ada syaratnya."
Herman meraih bawah meja, mengeluarkan sebuah map cokelat yang disisipkan erat. Tangannya bergetar waktu mendorongnya ke arah Alena, seperti menaruh bom kecil di pangkuan anaknya.
"Mereka mau kamu menikah dengan putra sulung keluarga itu. Namanya Adrian Mahardika."
Alena membuka map itu dengan tangan yang masih basah oleh darah tipis dari luka goresan tadi. Di dalamnya ada satu lembar foto—seorang pria duduk di kursi roda, mengenakan jas hitam rapi, wajahnya tajam namun datar, seolah sengaja tidak menunjukkan emosi apa pun untuk kamera.
"Dia... pakai kursi roda?" Alena bertanya, dengan wajah bingung.
Herman mengangguk. "Kecelakaan dua tahun lalu. Media bilang dia lumpuh dari pinggang ke bawah." ,Herman menatap putrinya dengan mata memohon. "Alena, Ayah tahu ini nggak adil buat kamu. Tapi keluarga itu cuma minta satu tahun. Satu tahun jadi istrinya, lalu kalian bisa bercerai baik-baik, dan semua utang kita lunas."
"Satu tahun," Alena mengulang, suaranya kosong seperti mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa angka itu kecil. Tapi tiga ratus enam puluh lima hari terasa seperti seumur hidup ketika taruhannya adalah kebebasannya sendiri.
Malamnya, Alena duduk sendirian di balkon sempit apartemen kosnya, memandangi lampu-lampu kota yang berkedip tak peduli pada kehidupan siapa pun yang sedang hancur di baliknya. Ponselnya bergetar. Pesan dari sahabatnya, Tania.
Tania: Gimana? Ayah lo udah cerita?
Alena: "Udah. Aku disuruh nikah sama pewaris Mahardika. Yang di kursi roda itu."
Tania: ANJIR SERIUS?? Itu kan yang foto-fotonya sering muncul di majalah bisnis. Katanya dingin banget orangnya.
Alena: Aku mau nikah bukan karena cinta, Tan. kalau Aku nggak mau nikah, keluarga aku abis.
Tania: Lo yakin bisa jalanin ini?
Alena menatap layar cukup lama sebelum menjawab.
Alena: Nggak ada pilihan lain. Aku cuma perlu bertahan setahun. Itu aja.
Ia meletakkan ponsel, memeluk lututnya sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak sore tadi, ia membiarkan air mata benar-benar jatuh—bukan karena takut menikahi orang asing, tapi karena menyadari betapa kecilnya kendali yang ia punya atas hidupnya sendiri.
Besok paginya, kesepakatan itu resmi ditandatangani di kantor pengacara keluarga Mahardika. Ruangan itu dingin, formal, dipenuhi orang-orang berjas yang bicara seolah Alena hanyalah satu klausul dalam kontrak, bukan manusia yang sedang mempertaruhkan hidupnya.
Ibu Adrian, seorang wanita anggun bernama Ratna Mahardika, menyambutnya dengan senyum yang terlalu sempurna untuk terasa tulus.
"Selamat datang di keluarga kami, Alena. Aku harap kamu mengerti, pernikahan ini murni kesepakatan bisnis. Adrian tidak butuh cinta. Dia hanya butuh status pernikahan yang sah di depan dewan direksi."
"Saya mengerti, Bu."Jawab Alena
"Setelah satu tahun, kalian bercerai baik-baik. Kamu bebas, keluargamu aman. Sederhana, kan?"
Alena mengangguk, meski di dalam dadanya ada sesuatu yang berdenging tidak nyaman—sebuah firasat kecil bahwa tidak ada apa pun dalam hidup yang benar-benar sesederhana itu.
Pintu ruangan terbuka. Dan untuk pertama kalinya, Alena melihat langsung sosok yang fotonya sudah ia pandangi semalaman.
Adrian Mahardika didorong masuk dengan kursi rodanya, mengenakan kemeja putih yang disetrika sempurna, rahangnya tegas, matanya tajam menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun berusaha terlihat ramah.
Ia berhenti tepat di hadapan Alena. Diam beberapa detik, mengamatinya dari atas ke bawah seperti sedang menilai barang, bukan calon istri.
"Jadi kamu," katanya akhirnya, suaranya datar tapi tajam, "yang akan menyelamatkan keluargaku dari skandal pernikahan paksa."
"Dan kamu," balas Alena, mencoba menahan getar di suaranya, "yang akan menyelamatkan keluargaku dari kebangkrutan. Kurasa kita berdua sama-sama terjebak, Pak Adrian."
Untuk sepersekian detik, sesuatu berkelebat di mata pria itu—bukan marah, bukan juga tersinggung. Lebih mirip... terkejut. Seolah tidak ada satu pun orang yang pernah membalas ucapannya seperti itu.
"Jangan kasihan padaku," ucapnya pelan, hampir seperti peringatan.
"Saya juga nggak kasihan," jawab Alena cepat. "Saya cuma capek dikira harus takut sama orang yang katanya nggak bisa apa-apa."
Ratna yang berdiri di sisi terlihat menahan senyum kecil, seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang jarang terjadi di rumah itu.
Adrian menatap Alena lebih lama dari yang seharusnya, sebelum akhirnya memutar kursi rodanya sendiri, meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun lagi.
Alena menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Ia pikir pertemuan pertama itu sudah berakhir.
Ia salah.
Malam itu, ketika ia dibawa ke kediaman keluarga Mahardika untuk pertama kalinya dan melewati koridor menuju kamar yang disiapkan untuknya, ia melihat sesuatu dari celah pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.
Sesosok bayangan berdiri tegak di depan jendela, tanpa kursi roda sama sekali.
Alena berhenti, jantungnya berdetak cepat. Ia mengucek matanya, yakin itu hanya efek lelah setelah hari yang panjang.
Tapi bayangan itu masih di sana. Berdiri. Tegak. Menatap keluar jendela seolah dunia ada dalam genggamannya.
Dan sedetik kemudian, sosok itu berbalik—dan menatap lurus ke arah pintu, tepat ke arah Alena.