NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~14

Mas Charis berdiri di ambang pintu selama beberapa detik tanpa mengucap sepatah kata pun. Kehadirannya yang tiba-tiba sukses membuat Zizan, Dafa, dan Ares yang sedang bersenda gurau langsung ketakutan hingga gemetaran. Di saat santri lain sedang sibuk bekerja bakti, mereka bertiga malah asyik bercanda di dalam kamar.

Suasana di dalam kamar seketika berubah menjadi sangat menegangkan. "Sedang apa kalian?" tanya Mas Charis. Tatapannya dingin, suaranya terdengar tegas berwibawa, dengan kedua tangan yang dikaitkan di belakang punggung.

"Maaf, Mas," jawab Ares yang mulai merinding ketakutan.

"Kenapa minta maaf? Saya bertanya, sedang apa kalian di sini?" Nada suara Mas Charis semakin tinggi, menuntut jawaban.

Semua orang di dalam kamar langsung terbungkam. Tidak ada satu pun yang berani bersuara atau sekadar menatap wajah sang senior. Mereka sadar penuh telah melakukan kesalahan karena tidak langsung ikut bekerja bakti, melainkan malah berlama-lama bersenda gurau di kamar hingga tertangkap basah.

"Kalian tahu sekarang waktunya apa? Kerja bakti, bukan malah bersenda gurau di kamar. Malu kepada santri-santri kecil yang ada di luar," tegas Mas Charis.

Napas ketiganya kian tertahan mendengarkan teguran yang menghunjam itu. Mas Charis kemudian menatap salah satu dari mereka dengan pandangan yang semakin tajam.

"Meskipun kamu seorang ketua pimpinan pendidikan, setelah pekerjaanmu selesai, cari pekerjaan lain di pondok. Ikut bekerja bakti, jangan hanya duduk diam," lanjut Mas Charis tanpa ekspresi sama sekali.

"Baik, Mas. Saya segera menyusul untuk bekerja bakti," jawab Zizan cepat untuk memecah ketegangan.

Tanpa menunggu balasan lebih lanjut, Mas Charis langsung berbalik dan meninggalkan kamar tersebut.

"Huft, akhirnya kita bisa bernapas lagi. Dari tadi rasanya seperti mau sesak napas," gumam Ares sambil meletakkan tangan di dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar kencang akibat ketakutan.

"Mas Charis tuh apa bisanya cuma marah-marah aja ya, kenapa nggak dengerin penjelaskan kita coba? Biarin aja biar cepat tua. Benar-benar nggak sabaran. Biasanya kita juga selalu ikut bekerja bakti. Ini baru beristirahat sebentar aja udah dimarahi kayak gini. Benar-benar keterlaluan," gerutu Dafa dengan nada kesal.

Zizan dengan sikap dewasanya, mencoba menenangkan hati kedua temenannya yang sedang sangat kacau. Ia tertawa mendengar kata-kata Dafa barusan.

"Ulangi, Daf, apa tadi? nggak dengerin penjelasan kita? Orang kita ditanya cuma gemeter diem aja, boro-boro mau jelasin mau napas aja rasanya sembab. "gumam Zizan dengan tawanya.

"Ya, tuh gara-gara Mas Charis sendiri, datang-datang tiba-tiba marah-marah, kan jadi aku nggak bisa jelasin yang sebenarnya terjadi." Dafa terus mencari pembelaan masih belum Terima atas kejadian barusan.

"Iya bener banget tuh, coba kalau datang-datang nanyanya Pelan-pelan halus, terus nggak langsung pakai pandangan dingin terus nadanya datar gitu, ya kita takut lah, secara dia senior mana berani kita ngelawan." ketua Ares menimpali.

Zizan hanya tertawa geli mendengar ocehan kedua sahabatnya itu, Akhirnya ia mengambil posisi duduk di tengah keduanya dan merangkul pundak mereka berdua. Dengan sedikit nasihat kecil. Agar hati mereka lebih tenang.

"Istigfar, Bro. Wajar kalau Mas Charis bersikap kayak itu, kita emang bercanda di waktu yang nggak tepat. Udah jangan salahin Mas Charis terus dia cuma jalanin tugas yang di amanahkan ke dia dari Abah. Nanti kalu posisi kita udah seperti Mas Charis pasti kita faham seberapa pentingnya kedisiplinan dan tanggung jawab. Sudah, ayo cepat kita ke sana sebelum Mas Charis kembali lagi ke kamar ini," ajak Zizan.

Zizan lalu menarik tangan kedua sahabatnya yang sudah telanjur lemas karena baru saja ditegur dengan keras. Ia sengaja bergerak cepat sebelum Dafa dan Ares semakin mengomel tidak keruan.

Akhirnya, dengan tubuh yang agak lunglai dan hati yang masih dongkol, mereka bangkit lalu berangkat menuju lokasi kerja bakti. "Ikhlas, ikhlas ya Allah, ikhlas," gerutu Dafa di sepanjang jalan.

Sementara itu, Ares masih merasa sangat lemas. Ia menghela napas panjang lalu mengikuti cara Dafa agar hatinya bisa menjadi lebih tenang. "Ikhlas, ikhlas, ikhlas."

Keduanya tampak kompak berkomat-kamit merapalkan kata "ikhlas" sepanjang jalan menuju area kerja bakti di halaman depan asrama putra.

Sementara itu, Zizan hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah konyol kedua temannya yang berjalan gontai di sisi kanan dan kirinya.

***

Hari semakin sore. Charis bergegas menuju ndalem setelah dipanggil oleh Abah. Ia menunggu di ruang tamu dengan takzim. Dalam diam dan kepala tertunduk, ia melewatkan lima menit yang terasa panjang sampai akhirnya Abah datang, lalu duduk tepat di hadapannya.

"Charis, jadi begini. Apakah Zizan sudah menyampaikannya kepadamu?" tanya Abah santai, namun tetap sarat wibawa.

"Zizan? Pesan apa?" batin Charis bingung.

"Belum, Abah," jawab Charis tegas.

"Oh iya, jadi begini..." Abah kemudian menceritakan detail tentang perlombaan yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

"Terkait lomba itu, Abah sudah menunjuk Zizan dan Zia sebagai delegasi pesantren kita. Karena itu, Abah minta bantuanmu untuk menemani Zizan mendaftarkan mereka berdua besok. Untuk urusan data, nanti kamu minta langsung ke Zizan dan Zia saja."

"Baik, Abah," jawab Charis mantap.

"Ya sudah kalau begitu. Kamu boleh kembali."

Setelah menyalami Abah, Charis berjalan menyusuri jalanan kompleks pesantren menuju asrama. Namun, langkahnya terhenti saat matanya melihat Salsa yang sedang menyapu halaman depan ndalem sendirian.

Tatapan Charis langsung tertuju pada tangan Salsa yang terbalut perban, luka akibat kecerobohannya kemarin. Rasa bersalah dan khawatir seketika bercampur aduk.

Menepis rasa ragu, ia memberanikan diri menghampiri gadis itu. "Assalamualaikum, Mbak," sapa Charis pelan.

Salsa yang sedang fokus menyapu sama sekali tidak menyadari kehadiran seseorang. Ia tersentak kaget. "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Salsa gugup.

Seketika, keduanya kompak menundukkan pandangan ke arah tanah, menjaga pandangan.

"Kok sendirian, Mbak? Yang lain pada ke mana?" tanya Charis, mencoba mencairkan suasana yang mendadak kaku.

"Yang lain? Maksudnya Zia?" goda Salsa dengan senyum tipis, mencoba bercanda.

Wajah Charis memanas. "B-bukan begitu. Maksudnya, kok kamu sendirian menyapu di sini? Kan tanganmu sedang sakit."

Salsa tertegun. Senyumnya tertahan mendengar perhatian spontan dari Charis. "Iya, tadi sama Zia. Tapi dia sedang ke belakang sebentar."

"Maaf... apakah tangannya sudah lebih baik?" tanya Charis, nadanya bergetar cemas.

"Eh, sudah, Mas. Hanya luka kecil, tidak apa-apa kok. Saya masih bisa beraktivitas seperti biasa. Tenang saja," gumam Salsa, berusaha menenangkan raut khawatir di wajah Charis.

"Sekali lagi, saya minta maaf, ya."

"Aman, Mas. Santai saja."

"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu."

Namun, saat Charis baru saja membalikkan badan, Ia menoleh sedikit dan melihat Salsa yang meringis kecil, kesusahan menggenggam gagang sapu karena luka di tangannya. Melihat pemandangan itu, dada Charis rasanya sesak oleh rasa tidak tega. Langkah kakinya menolak untuk pergi. Ia berbalik arah, berjalan cepat mendekati Salsa.

"Serahkan sapunya kepada saya, Mbak," pinta Charis tiba-tiba.

Salsa mengernyitkan dahi, bingung. "Untuk apa, Mas?"

"Sudah, serahkan saja."

Gagang sapu itu berpindah tangan. Salsa hanya bisa terpaku dengan jantung yang berdebar tak karuan, sementara sedikit senyum tulus pelan-pelan terbit di bibirnya melihat punggung laki-laki itu.

"Terus, saya ngapain, Mas?" tanya Salsa canggung.

"Sudah, duduk saja di sana."

Salsa menurut. Ia duduk di bawah pohon rindang tak jauh dari sana. Dengan perasaan yang tidak bisa dikendalikan, matanya diam-diam mengikuti setiap gerak-gerik laki-laki di depannya. Charis, sosok yang tiba-tiba saja menyelinap dan mengisi ruang paling sunyi di hatinya. Perhatian kecil yang sederhana itu perlahan mencairkan hati Salsa yang sudah lama membeku.

Sore itu berubah dramatis. Charis sibuk menyapu, sementara Salsa memperhatikannya dari bawah pohon. Memang ada jarak di antara mereka, mata merekapun tak saling bertatapan, namun obrolan mereka mengalir begitu saja, hanyut dalam gurauan hangat.

"Itu... yang sebelah sana masih kotor," tunjuk Salsa ke arah depan Charis.

"Mana? Sini? Sini? Atau yang ini? Perasaan sudah bersih deh," sahut Charis sambil celingukan.

"Ih, bukan yang itu! Itu lho, agak ke kiri sedikit!"

"Mana? Saya beneran nggak lihat."

"Itu di sebelah kakimu, Mas!" Salsa tertawa renyah melihat kebingungan Charis yang tidak kunjung menemukan daun kering yang ia maksud. tawa mereka bersahutan, menghidupkan suasana halaman ndalem yang tadinya sepi.

Namun, di tengah hangatnya canda tawa. Di balik tembok pembatas halaman, seseorang berdiam diri. Sosok itu hanya terdiam tanpa kata, menyaksikan setiap senyuman dan kedekatan mereka dengan dada yang terasa begitu perih.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!