Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.
Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.
Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.
Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.
Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.
Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:
Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 002
Rumah Besar
Ruang tunggu depan rumah Hartono terlalu dingin untuk dua orang yang baru turun dari perjalanan panjang.
Seline duduk di ujung sofa kulit warna krem, kedua lututnya rapat, tangan masih memegang tali ransel kecil di pangkuan. Darren duduk di sampingnya, punggung tegak seperti anak yang takut salah bernapas. Koper mereka diletakkan di dekat pintu, tampak semakin lusuh di atas lantai marmer yang begitu mengilap sampai bayangan lampu gantung terpantul di sana.
Di luar, matahari sudah turun. Di dalam, semuanya rapi, wangi, dan asing.
Seline mencoba tidak menatap terlalu lama pada vas porselen besar di sudut ruangan. Ia takut harga satu vas itu bisa membayar kontrakan lama mereka selama setahun.
"Kak," Darren berbisik, "boleh minum?"
Seline baru hendak menjawab ketika seorang perempuan berseragam abu-abu masuk membawa nampan. Di atasnya ada dua gelas air putih dan sepiring kecil biskuit.
"Silakan, Nona," ucap perempuan itu.
Seline berdiri sedikit karena kaget. "Terima kasih, Bi."
Perempuan itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Panggil saya Bi Zheng."
Nama itu diucapkan dengan lembut, tapi ada sesuatu yang membuat Seline merasa tidak sepenuhnya sendirian. Ia mengangguk.
"Terima kasih, Bi Zheng."
Darren mengambil gelas dengan dua tangan. Ia minum pelan, menahan diri agar tidak tampak terlalu haus. Seline melihat itu, lalu hatinya seperti diremas. Anak itu biasanya menenggak air tanpa pikir panjang. Di rumah ini, bahkan minum pun terasa harus dihitung.
Langkah sepatu terdengar dari lorong.
Seorang perempuan berusia empat puluhan masuk dengan dress sutra warna hijau tua, rambut disanggul rendah, wajahnya tersenyum sebelum matanya benar-benar sampai pada Seline. Itulah Tante Chen, atau Felicia Chen, adik dari ibu angkat Seline yang selama ini hanya hadir lewat telepon singkat dan kiriman uang yang makin jarang.
"Seline," katanya hangat. "Aduh, kalian sudah sampai dari tadi? Tante sibuk sekali di belakang. Maaf ya."
Seline berdiri. Darren ikut berdiri setelah melihat kakaknya.
"Tidak apa-apa, Tante. Kami juga baru sampai."
Kebohongan kecil itu keluar tanpa dipikirkan. Ia tidak ingin mengawali hari pertama dengan membuat Tante Chen malu di depan pelayan.
Tante Chen melangkah mendekat dan menyentuh bahu Seline, ringan sekali, seperti takut kusut karena terlalu lama menempel.
"Kamu makin besar ya. Terakhir Tante lihat kamu masih kecil sekali."
Seline tersenyum sopan. "Iya, Tante."
Padahal ia tidak ingat pernah benar-benar bertemu Tante Chen. Yang ia ingat hanya suara perempuan itu di telepon saat ibu angkatnya sakit, terdengar sibuk, tergesa, dan sedikit kesal karena diminta membantu.
Tatapan Tante Chen turun ke Darren.
"Ini Darren? Sudah tinggi juga."
Darren membungkuk canggung. "Selamat sore, Tante."
"Anak pintar." Tante Chen tersenyum, lalu menoleh ke Bi Zheng. "Koper mereka bawa ke kamar tamu belakang. Yang dekat koridor taman itu."
Bi Zheng tampak ragu sesaat. "Kamar belakang, Nyonya?"
"Iya. Di depan penuh. Michelle sedang menyiapkan acara, banyak keluarga datang beberapa minggu ini."
Seline menangkap jeda kecil dalam suara Bi Zheng. Kamar belakang. Koridor taman. Ia belum tahu artinya, tapi dari cara Tante Chen mengucapkannya, itu bukan tempat untuk tamu yang benar-benar ditunggu.
"Tante, kami tidak mau merepotkan," ujar Seline cepat. "Kamar mana pun tidak apa-apa."
"Memang tidak merepotkan," jawab Tante Chen, tetap tersenyum. "Tapi kamu harus tahu, rumah ini besar, aturannya juga banyak. Selama tinggal di sini, ikuti saja apa kata Tante. Jangan sungkan, tapi juga jangan sembarangan."
Seline mengangguk. "Saya mengerti."
"Pertama, makan malam keluarga biasanya pukul tujuh. Kalau tidak dipanggil, kamu makan di pantry sayap belakang. Kedua, jangan masuk ke lantai dua sayap utama tanpa izin. Itu area Oma dan keluarga inti. Ketiga, taman belakang ada beberapa rumah kecil. Jangan jalan-jalan ke sana, terutama yang paling ujung. Itu tempat Ko Kevin."
Nama itu membuat ujung jari Seline bergerak tanpa sadar.
Pria di mobil hitam tadi.
Tante Chen memperhatikan reaksinya, lalu tertawa kecil. "Kamu sudah bertemu dia di depan?"
"Hanya sebentar," jawab Seline.
"Ko Kevin memang begitu. Jangan dimasukkan hati kalau dia terlihat dingin. Dia bahkan begitu pada keluarga sendiri." Setelah berkata begitu, senyum Tante Chen menipis. "Tapi tetap ingat, jangan mengganggu dia. Dia tidak suka orang asing masuk ke wilayahnya."
Orang asing.
Seline menunduk sedikit. "Baik, Tante."
Darren membuka mulut, mungkin ingin membela kakaknya, tapi Seline lebih dulu menyentuh punggung tangannya. Anak itu diam dengan wajah kaku.
Bi Zheng memanggil pelayan laki-laki untuk membawa koper. Seline ingin mengambil sendiri koper birunya, tapi Tante Chen menghentikannya.
"Biarkan. Kamu sekarang tinggal di rumah Hartono. Tidak enak dilihat kalau tamu menarik koper sendiri."
Kalimat itu terdengar seperti kebaikan. Namun Seline merasakan duri kecil di dalamnya. Tamu. Bukan keluarga.
Mereka mengikuti Bi Zheng melewati lorong panjang. Rumah itu lebih besar dari yang terlihat dari luar. Ada ruang tamu utama dengan sofa besar, ruang makan yang mejanya bisa menampung belasan orang, dinding penuh foto keluarga, dan altar kecil dengan aroma hio yang samar. Beberapa pelayan berpapasan dan menunduk sopan, tapi mata mereka diam-diam melirik Seline dan Darren.
Di salah satu bingkai foto, Seline melihat Kevin berdiri di samping seorang pria setengah baya dan perempuan anggun. Wajah Kevin di foto itu sama datarnya seperti saat di mobil. Hanya posisi tubuhnya yang sedikit condong ke arah seorang wanita tua berambut putih di kursi tengah.
"Itu Oma Mei," kata Bi Zheng pelan, seolah tahu Seline sedang melihat. "Besok mungkin Nona dipanggil menghadap."
"Menghadap?" Darren mengulang, terdengar gugup.
Bi Zheng tersenyum. "Maksud saya, bertemu. Oma suka tahu siapa saja yang tinggal di rumah ini."
Seline menyimpan informasi itu baik-baik.
Kamar belakang yang diberikan pada mereka berada di ujung koridor yang lebih sepi. Jendelanya menghadap taman samping, bukan halaman utama. Ruangan itu bersih, tapi jelas jarang dipakai. Ada tempat tidur single, sofa panjang yang bisa dibuka menjadi ranjang kecil, lemari kosong, meja tulis, dan kipas angin tambahan meski AC sudah terpasang.
Darren meletakkan ranselnya di sofa. "Aku tidur di sini?"
"Untuk sementara," jawab Seline. "Nanti Kakak rapikan."
Bi Zheng membantu menaruh koper di dekat lemari. Ia sempat melirik pintu kaca kecil yang mengarah ke jalur taman.
"Nona, kalau malam sebaiknya jangan keluar lewat pintu itu. Jalan itu menuju bagian belakang."
"Bagian Ko Kevin?" tanya Darren polos.
Bi Zheng tidak langsung menjawab. "Salah satunya."
Seline mengangguk. "Kami tidak akan keluar tanpa izin."
Setelah Bi Zheng pergi, kamar itu menjadi hening. Heningnya berbeda dari rumah kontrakan mereka di Surabaya. Di sana, hening berarti tetangga belum pulang kerja atau listrik padam. Di sini, hening seperti dinding yang sengaja dibangun agar orang tahu tempatnya masing-masing.
Darren duduk di sofa, menatap sekeliling. "Kak, Tante Chen baik nggak?"
Seline membuka koper dan mengeluarkan handuk untuk Darren. "Kita baru datang. Jangan cepat menilai."
"Tapi dia bilang kita tamu."
Tangan Seline berhenti sebentar.
"Memang sekarang kita tamu."
"Sampai kapan?"
Seline menutup koper perlahan. "Sampai Kakak bisa berdiri sendiri dan kamu sekolah dengan baik."
Darren ingin menjawab, tapi suara ketukan terdengar dari pintu.
Seline membuka pintu.
Seorang gadis berdiri di luar kamar, mungkin seumuran atau sedikit lebih tua darinya. Kulitnya putih bersih, rambut panjangnya jatuh rapi di bahu, dan dress merah muda yang ia pakai terlihat sederhana hanya karena tubuhnya sudah terbiasa memakai barang mahal. Matanya tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke bagian paling dalam.
"Jadi kamu Seline?" tanyanya.
"Iya." Seline menahan pintu tetap terbuka setengah. "Kamu..."
"Vivian Liu." Gadis itu melirik ke dalam kamar, lalu ke koper tua di lantai. "Aku juga tinggal di sini. Bisa dibilang kita sama-sama keluarga luar."
Kalimat itu terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang sengaja diarahkan.
Seline tersenyum sopan. "Senang bertemu denganmu."
Vivian tertawa kecil. "Kamu sopan sekali. Dari Surabaya ya?"
"Iya."
"Jauh juga." Vivian melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Matanya menyapu kamar, sofa Darren, koper, lalu berhenti pada jaket Seline. "Tante Chen pasti repot mengurus kalian. Rumah ini memang besar, tapi bukan berarti semua orang bisa bebas bergerak."
Darren berdiri. "Kakakku tidak akan merepotkan siapa pun."
"Darren," tegur Seline.
Vivian menatap Darren, lalu tersenyum manis. "Lucu. Adikmu berani."
Seline melangkah sedikit di depan Darren. "Kalau ada aturan yang perlu kami tahu, kamu bisa bilang. Kami akan hati-hati."
Vivian mendekat sampai jarak mereka tinggal satu langkah. Wangi parfumnya lembut, tapi kehadirannya membuat udara kamar terasa lebih sempit.
"Bagus kalau kamu cepat mengerti." Vivian menurunkan suara, cukup pelan agar hanya Seline dan Darren yang mendengar. "Di sini, kamu harus tahu posisimu."