Banyu dan Alia sudah lama menjalin kasih, sejak mereka masih dibangku SMU sampai mereka sudah sama - sama bekerja. Banyak mimpi dan harapan yang ingin mereka wujudkan tapi semua itu terhalang oleh restu orang tua.
Banyu biru Aji berasal dari keluarga biasa saja pemilik restoran kecil yang sudah turun temurun warisan dari kakek dan nenek banyu, sementara keluarga alia berasal dari keluarga terpandang dan kaya raya.
Diam diam orang tua aliya tidak menyetujui hubungan mereka bahkan mereka sudah menyiapkan jodoh dan rencana untuk memisahkan aliya dan juga banyu.
Akankan cinta mereka bisa berlanjut atau akan menyerah dan kalah????
" Hai.....aku come back setelah lama tidak menulis.... semoga karyaku ini bisa dibaca dan diterima banyak pembaca"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bondan wardoyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Rumah kontrkan
Sore yang cerah cuaca juga tidak begitu panas cocok untuk jalan-jalan keluar. Pasutri baru ini akhirnya memutuskan untuk keluar jalan disekitar pantai dan berencana menikmati sunset sambil mencari makan malam. Mereka memutuskan untuk menyewa sebuah mobil kecil. Kebetulan Jenar sudah pernah ke lombok jadi Jenar tau beberapa tempat yang menurutnya cukup bagus untuk bersantai sambil menikmati sunset dipinggir pantai.
Banyu mengikuti rekomendasi dari Jenar mereka menuju ke cafe yang terletak di pinggir pantai dan memiliki pemandangan yang bagus. Sampai disana mereka duduk dan segera memesam makanan dan minuman juga cemilan. Pasangan ini masih tidak banyak mengobrol. Sikap Banyu yang masih dingin pada Jenar tidak bisa disembunyikan. Banyu masih merasa asing dengan istrinya. Seperti mau memulai obrolan saja dia masih bingung terkadang.
Sementara Jenar berusaha untuk bersikap baik dan berusaha memahami Banyu yang belum bisa melupakan Aliya. Ya Aliya yang masih begitu membekas di hati dan pikiran suaminya. Jenar sangat paham itu makanya dia yang berusaha lebih dulu, seperti menawarkan makan menceritakan hal-hal yang mungkin tidak begitu penting, untuk memancing Banyu untuk bicara walau tidak semudah yang Jenar pikirkan tapi fia tetap berusaha.
Suasana seperti ini malah mengingatkan Banyu pada Aliya. Mereka yang sering menghabiskan waktu berdua di kafe sambil ngobrol dan minum kopi. Mendadak Banyu membayangkan Aliya yang ada di depanya. Senyumnya candanya dan gara-gara itu membuat Banyu menjadi bete dan ingin segera kembali ke hotel saja.
Baru pukul sembilan malam Banyu sudah mengajak Jenar untuk kembali ke hotel saja. Jenar paham jika Banyu sudah tidak nyaman berada disini dan akhirnya mereka pulang ke hotel.
Dikamar Banyu hanya duduk termenung disamping kolam renang, entah apa yang dia pikirkan, Banyu tidak bisa fokus padahal ini adalah malam pernikahan, Banyu dan Jenar yang semestinya dihabiskan dengan indah dan romantis. Tapi sepertinya hari ini Banyu harus minta maaf kepada Jenar jika malem ini dia harus tidur sendiri dulu dan Banyu memilih tidur di sofa.
Jenar mengerti dan akhirnya dia tidur diranjang pengantin yang sudah di dekor sedemikian rupa sendirian. Malam yang harusnya hangat menjadi malam yang dingin dan sepi. Jenar berusaha memejamkan matanya tapi bercuma saja. Dia tidak bisa tidur begitu pula Banyu. Tapi mereka sama-sama diam dan pura-pura tidur. Sampai mereka lupa dan benar-benar tertidur mungkin sudah hampir pagi baru mereka tidur.
Jenar terbangun dan melihat Banyu masih tidur disofa, Jenar memandangi suaminya itu dari ranjangnya entah perasaan kecewa atau sedih membuat Jenar malas untuk bangun, dia menarik selimut dan kembali tidur, lagi pula hari ini juga dia tidak tau mau kemana mungkin sebaiknya tidur saja.
Begitulah dua hari mereka habiskan di lombok akhirnya mereka memutuskan pulang satu hari lebih cepat karena sudah bosan dan tidak tau harus ngapain.
Sampai dijakarta Banyu langsung mengajak Jenar pulang kerumah yang sudah banyu sewa, sementara mereka akan tinggal disini. perumahan bergaya minimalis dengan dua kamar dan ruang tamu serta dapur yang menyatu dengan ruang makan, kamar mandi dan ruang cuci serta ada taman kecil disana.
Banyu membuka kunci rumah itu dan semua sudah terlihat bersih dan rapi karena sebelumnya Banyu sudah menyuruh orang untuk membersihkannya.
"Ayo masuk Jenar, maaf ya aku hanya bisa sewa rumah ini."
"Gak papa Mas, saya akan ikut kemanapun kamu bawa saya."
"Rumahnya bagus, bersih rapi saya juga suka lingkungannya semoga tetangga kita baik-baik."
"Hari ini kita beres-beres untuk pindah kesini lalu besok kita bisa beraktivitas seperti biasa."
"Baik Mas."
Jenar juga tidak membawa banyak barang kerumah baru mereka, keduanya sama-sama membereskan pakaian mereka disusun dilemari masing-masing, karena ada dua lemari dikamar itu. Jenar sepertinya harus cukup berusaha kerasa dalam beradaptasi dengan kehidupanya yang baru.
Dia berdoa semoga bayang-bayang Aliya segera pergi dari hidup mereka. Dan mereka berdua bisa bahagia. Jenar tarik nafas dalam-dalam dan percaya semua pasti akan indah pada waktunya. Saat ini yang dibutuhkan adalah sabar.
"Mas bisa kita belanja ke super market ada barang-barang yang mau saya beli."
"Iya kulkas juga masih kosong gak ada isinya sekalian kita belanja untuk keperluan rumah."
Banyu dan Jenar akhirnya belanja berdua untuk keperluan rumah. Bahkan mereka belum punya piring dan gelas serta alat masak cuma ada kompor di dapur kecil mereka. Jenar yang memilih barang dan Banyu yang mendorong troli belanjaan. Troli mereka sudah lumayan penuh dengan perlengkapan makan, beberapa perlengkapan dapur dan juga alat kebersihan. Saatnya pindah ke bagian makanan.
"Mas kopi biasa yang mana?"
"Yang kanan."
Jenar selau bertanya barang yang mana yang biasa dipakai Banyu dan malam ini Jenar berencana untuk memasak makanan istimewa semoga Banyu suka. Dikasir saat semua sudah selesai dihitung Jenar mengambil dompetnya yang ingin mengambil kartu untuk membayar semuanya. Tapi Banyu bergegas membayar semuanya.
"Jenar mulai hari ini semua pengeluaran rumah saya yang tanggung kan kita sudah menikah, simpan saja uang kamu untuk ketuhan kamu."
"Tapi mas kebutuhan Jenar tadi banyak lho."
"Sudah tanggung jawab suami kan kebutuhan istri."
"Baiklah kalau begitu, tapi lain kali gak papa aku yang bayar kan kebutuhan buat sama-sama."
"Iya boleh."
Sampai dirumah Jenar menata semua belanjaan mereka tadi, dan sekaligus memasak untuk makan malam. Hari ini Jenar membuat pasta dengan daging cincang diatasnya serta saos yang dia beli tadi karena ingin praktis dan cepat mantang. Bau wangi tercium semerbak sepertinya masakan kali ini enak dan cukup untuk malam ini. Jenar segera memanggil Banyu untuk makam malam. Menu simpel dan bikin keyang.
Jenar bertanya bagaimana rasa masakannya kepada Banyu, ya dia menjawab datar saja enak. Walau Jenar sebenarnya mengharapkan pujian tapi ya sudahlah suaminya ini masih harus banyak belajar. Begitu selesai Banyu mencuci piringnya sendiri dan berkata terimakasih untuk makan malamnya.
Malam pun tiba setiap malam tiba pasti menimbulkan masalah karena bingung harus bagaimana. Banyu yang masih begitu dingin dan canggung masih memilih tidur disofa diluar kamar. Sementara malam ini akan menjadi malam panjang untuk Jenar dikamar sendirian tanpa kehangatan malam pengantin baru.
Bersabarlah Jenar semua pasti akan berubah seiring waktu. Suami mu belum mengenal mu dan sebaliknya barikan dia waktu.
Bersambung ke episode berikutnya. Jangan lupa like dan komen untuk semangatin aku si penulis amatir ini, terima kasih banyak.