NovelToon NovelToon
One Piece: Puppet System

One Piece: Puppet System

Status: tamat
Genre:Sistem / Anime / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: RabilMuhammadTahir

Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.

Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.

Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Badut, Pencuri, dan Jentikan Api

​Kapal dagang Oceanic Trade membelah ombak Laut Timur dengan tenang. Angin buritan meniup layar utama, mendorong kapal berukuran sedang itu melaju dengan kecepatan stabil menuju konstelasi pulau yang dikenal sebagai Kepulauan Organ.

​Di salah satu kabin VIP yang terletak di dek atas—kemewahan yang baru bisa Muzan beli setelah merampok brankas Kapten Morgan—remaja berusia empat belas tahun itu duduk bersila di atas ranjang yang empuk. Ruangan itu memiliki jendela bundar kecil yang menghadap ke laut, membiarkan cahaya matahari siang menyinari wajahnya yang pucat. Pakaiannya yang kini bersih dan elegan membuatnya terlihat seperti tuan muda dari keluarga bangsawan yang sedang bepergian.

​Namun, di balik penampilan luar yang tenang itu, pikiran Muzan sedang beroperasi pada tingkat komputasi yang menakutkan. Dengan 636 Poin Kekuatan Mental yang dimilikinya, ia tidak memerlukan tidur yang panjang. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya dalam pelayaran ini untuk menyelami ruang mental sistemnya, mempelajari dua kartu as terbarunya: Roy Mustang dan Gaara.

​Muzan memejamkan mata, memfokuskan kesadarannya pada data karakter Kolonel Mustang.

​«"Menyelaraskan memori otot: Roy Mustang (Flame Alchemy)."»

​Seketika, pikiran Muzan dipenuhi oleh rumus-rumus kimia, pemahaman mendalam tentang komposisi gas di atmosfer, kepadatan oksigen, dan reaksi pembakaran. Ilmu Alkimia di dunia Fullmetal Alchemist berpusat pada Hukum Pertukaran Setara (Equivalent Exchange). Namun, sistem telah mengadaptasi kemampuan ini ke dalam hukum fisika One Piece.

​Di dunia ini, stamina mental dan energi vital Muzan bertindak sebagai pengganti "Tenaga Tektonik" yang biasanya digunakan oleh alkemis. Sarung tangan kain putih Mustang yang terbuat dari bahan pyrotex (kain pemantik api) dan disulam dengan lingkaran transmutasi berfungsi sebagai katalis. Melalui boneka Mustang, Muzan dapat memanipulasi konsentrasi oksigen di udara, menciptakan jalur gas yang padat menuju target, dan hanya dengan satu jentikan jari—SNAP!—percikan api kecil dari sarung tangan itu akan menyulut jalur oksigen tersebut menjadi ledakan api yang luar biasa destruktif.

​Kemampuan ini mengerikan, batin Muzan, menganalisis potensi destruktifnya. Mustang bukanlah petarung jarak dekat seperti Giyu atau petarung kecepatan tinggi seperti Zenitsu. Dia adalah artileri taktis. Selama ada oksigen di udara, serangannya tidak bisa dihindari, tidak bisa diblokir oleh baja, dan memiliki area hancur yang luas. Ini adalah counter mutlak bagi pengguna buah iblis tipe Paramecia seperti Buggy.

​Muzan kemudian beralih menganalisis Gaara.

​Kendi labu raksasa di punggung Gaara berisi pasir yang telah dicampur dengan chakra—yang di dunia ini diterjemahkan sebagai 'Energi Spiritual yang dipadatkan'. Pasir itu bergerak layaknya entitas hidup, merespons kehendak Muzan (melalui Gaara) dengan kecepatan tinggi untuk melindungi tubuh dari segala jenis serangan fisik, bahkan tanpa Muzan perlu secara sadar memerintahkannya. Ini adalah Perisai Pasir Absolut.

​Lebih dari itu, Gaara bisa memanipulasi pasir di sekitarnya atau menghancurkan mineral tanah untuk menciptakan lebih banyak pasir. Di medan perang darat, Gaara adalah dewa pengendali kerumunan (Crowd Control). Kemampuannya membungkus lawan dengan Peti Mati Pasir (Sabaku Kyu) dan meremukkannya (Sabaku Soso) adalah cara eksekusi yang paling brutal namun efisien.

​"Empat slot boneka. Neji untuk pengintaian intelijen. Gaara untuk pertahanan mutlak dan penyusupan area. Mustang untuk pemusnah massal. Dan Giyu sebagai pengawal pribadiku jika ada yang berhasil menembus pertahanan," gumam Muzan, membuka matanya. Sebuah senyuman dingin yang teramat tipis terukir di bibirnya. "Buggy si Badut bernilai Lima Belas Juta Belly. Ditambah lagi, obsesinya pada harta karun pasti membuat pangkalannya menyimpan kekayaan bernilai puluhan juta Belly. Aku akan mengambil semuanya."

​Sore harinya, kapal dagang Oceanic Trade tidak berani merapat langsung ke pelabuhan utama Orange Town. Kabar bahwa kota itu telah dikuasai oleh Bajak Laut Buggy telah menyebar luas melalui koran News Coo. Kapal dagang itu membuang sauh di sebuah pelabuhan kecil yang ditinggalkan di pulau tetangga, bagian dari gugusan Kepulauan Organ.

​"Kapal akan berlabuh di sini selama satu hari untuk mengisi air bersih dari sumber mata air di bukit," pengumuman dari kapten kapal terdengar. "Para penumpang dilarang keras menyeberang ke pulau utama. Orange Town saat ini berada di bawah kendali bajak laut berbahaya!"

​Muzan tidak mempedulikan peringatan itu. Memanfaatkan keramaian para pelaut yang sedang menurunkan tong-tong air kosong, ia mengenakan jubah hitamnya, menarik kerudungnya hingga menutupi sebagian wajah, dan menyelinap turun dari kapal tanpa terdeteksi.

​Kota Orange Town terletak tidak terlalu jauh. Ia hanya perlu menyewa atau 'meminjam' sebuah perahu dayung kecil yang tertambat di pinggir pantai untuk menyeberang ke pulau utama. Tubuh aslinya yang kurus mengayuh perahu itu dengan tenaga seadanya, namun air laut yang tenang membuat perjalanannya lancar.

​Setibanya di pesisir Orange Town, matahari mulai meredup, menyisakan warna senja yang kelam. Pemandangan kota itu cukup memprihatinkan. Deretan rumah berbata rapi dan jalanan yang tertata indah kini dipenuhi oleh puing-puing bangunan. Kawah-kawah besar bekas ledakan menghiasi beberapa sudut kota, asap hitam masih mengepul tipis dari sisa kebakaran. Ini adalah karya dari Buggy Ball—meriam peledak khusus milik kelompok bajak laut badut tersebut.

​Kota itu sunyi senyap. Tidak ada warga sipil yang terlihat. Berdasarkan ingatan Muzan tentang alur One Piece, sebagian besar warga Orange Town telah dievakuasi ke tempat perlindungan di seberang pulau, meninggalkan kota mereka untuk dijarah oleh kru Buggy.

​Muzan berjalan perlahan memasuki jalanan kota yang kosong. Suara langkah sepatunya bergema pelan. Ia tidak menuju ke pusat kota. Seperti biasa, prioritas utamanya adalah mengamankan lokasi strategis bagi tubuh aslinya.

​Ia menemukan sebuah gedung bertingkat tiga yang tampaknya merupakan bekas kantor walikota atau perpustakaan, terletak sekitar enam ratus meter dari alun-alun utama tempat pangkalan Buggy berada. Gedung itu sudah ditinggalkan, namun strukturnya masih sangat kokoh dan memiliki menara pandang kecil di atapnya.

​Muzan naik ke lantai paling atas, memasuki sebuah ruangan yang dipenuhi rak buku kosong, lalu duduk bersandar di dekat jendela yang sedikit terbuka. Angin sore meniup jubahnya.

​"Operasi dimulai," bisik Muzan.

​Ia memanggil panel sistemnya. "Keluarkan Neji Hyuga."

​Pilar cahaya ungu bermanifestasi di dalam ruangan. Neji Hyuga muncul dengan pakaian putih klan-nya yang khas, wajahnya tanpa emosi, siap menerima perintah.

​"Keluarkan Gaara."

​Di samping Neji, pilar cahaya ungu kedua muncul. Remaja berambut merah dengan lambang 'Cinta' di dahinya berdiri tegak. Kendi labu raksasa di punggungnya memancarkan hawa kering yang menyerap kelembapan ruangan. Pandangan kosong Gaara terlihat jauh lebih mengintimidasi daripada Neji karena aura membunuh bawaan dari karakter tersebut, meski saat ini ia sepenuhnya dikendalikan oleh sistem.

​Muzan memindahkan sepuluh persen kesadarannya ke Gaara (hanya untuk membuatnya standby dan siap bergerak otonom ringan) dan memindahkan empat puluh persen kesadarannya ke Neji. Sisa lima puluh persen ia simpan untuk tubuh aslinya dan satu slot serangan yang akan ia gunakan nanti. Berkat 636 Poin Mentalnya, pembagian beban ini terasa seringan bernapas.

​Melalui Neji, Muzan mengaktifkan Byakugan.

​Urat-urat nadi bermunculan di pelipis sang ninja klan Hyuga. Dunia seketika meledak menjadi penglihatan x-ray hitam putih dengan radius mencapai hampir empat kilometer. Seluruh Orange Town kini berada di bawah pengawasan mutlak sang dalang.

​Muzan memindai kota tersebut.

​Di sebuah jalanan dekat pelabuhan timur, ia melihat pergerakan. Seorang gadis muda berambut jingga pendek, mengenakan kaus bergaris, sedang berlari mengendap-endap sambil membawa gulungan peta. Nami sang pencuri bajak laut.

​Di dekatnya, berjarak satu jalan, Byakugan menangkap pemandangan yang cukup komikal. Seorang pemuda bertopi jerami (Monkey D. Luffy) sedang diserang oleh kru Buggy karena masalah burung raksasa. Tak lama kemudian, Nami bertemu dengan Luffy, dan sebuah kesepakatan kelicikan mulai terjalin di antara mereka. Nami berniat menyerahkan Luffy kepada Buggy sebagai umpan agar ia bisa mencuri harta sang badut.

​Alur cerita berjalan persis seperti kanon, pikir Muzan dingin. Nami akan mengikat Luffy dan membawanya ke markas Buggy. Ini memberiku waktu yang sempurna untuk mengatur formasi serangan.

​Muzan mengarahkan pandangan Byakugan-nya ke pusat kota, tepat di atap sebuah bar besar yang menghadap alun-alun utama. Di sanalah markas Buggy berada.

​Di atas atap yang luas itu, Muzan melihat sebuah tenda sirkus besar yang dibelah menjadi dua. Di singgasana kayu, duduklah kapten bajak laut itu. Buggy memiliki hidung merah bulat yang besar dan mencolok seperti tomat, mengenakan topi kapten berwarna oranye, dan riasan wajah badut yang aneh. Ia sedang tertawa keras sambil minum-minum.

​Di sampingnya berdiri Mohji si Penjinak Binatang buas dengan rambut yang anehnya menyerupai telinga hewan peliharaannya, seekor singa raksasa bernama Richie. Tak jauh dari situ, Cabaji si Ahli Akrobat Udara sedang memutar-mutar pedangnya sambil mengendarai sepeda roda satu di atas pagar atap.

​Namun, yang paling menarik perhatian Byakugan Muzan bukanlah para petarung aneh itu, melainkan sebuah tenda penyimpanan yang dijaga ketat di belakang singgasana Buggy.

​Penglihatan x-ray Muzan menembus kanvas tenda tersebut. Di dalamnya, terdapat gunungan harta karun. Puluhan peti berisi batangan emas murni, perhiasan mutiara, mahkota-mahkota hasil rampokan, dan tumpukan uang kertas Belly yang jumlahnya diperkirakan mencapai belasan hingga dua puluh juta Belly. Obsesi Buggy terhadap harta benar-benar tidak main-main.

​"Harta utama ditemukan. Dan Buggy ada di posisinya," Muzan menarik senyum licik. "Gaara, saatnya bekerja."

​Muzan memberikan perintah mental yang kompleks kepada boneka Gaara. Tugas Gaara bukanlah bertarung secara terbuka. Ia ditugaskan untuk menyusup ke bawah tanah alun-alun kota, bergerak perlahan menggunakan manipulasi pasirnya untuk menghindari deteksi, dan menempatkan dirinya tepat di bawah bangunan bar markas Buggy. Begitu kekacauan utama meledak, Gaara akan menyusup ke tenda penyimpanan harta, menyedot seluruh harta itu ke dalam jangkauan 5 meter dari tubuhnya, dan membiarkan sistem mengonversi semuanya ke dalam Belly Counter.

​Gaara tidak merespons dengan kata-kata. Pemuda berambut merah itu hanya berbalik, dan dengan gerakan tangan yang pelan, pasir dari dalam kendi labunya mengalir keluar layaknya air. Pasir itu menembus lantai kayu gedung tempat Muzan bersembunyi, menciptakan lubang kecil menuju tanah di bawahnya, dan Gaara perlahan tenggelam ke dalam bumi, bergerak di bawah tanah menuju markas Buggy dengan sunyi.

​Kini, Muzan hanya perlu menunggu pemicu (trigger).

​Sekitar tiga puluh menit kemudian, drama yang ditunggu-tunggu akhirnya berpuncak.

​Melalui Byakugan, Muzan melihat Nami telah berhasil menipu Luffy. Pemuda karet itu kini berada di dalam sebuah sangkar besi padat di tengah atap bar, tak berdaya. Nami telah berpura-pura bergabung dengan kelompok Buggy. Namun, Buggy, dalam sifatnya yang curiga dan kejam, memerintahkan Nami untuk membuktikan kesetiaannya dengan menembakkan Buggy Ball langsung ke arah sangkar Luffy menggunakan meriam raksasa yang telah disiapkan.

​Kepanikan terlihat jelas di wajah Nami. Ia adalah seorang pencuri, bukan pembunuh berdarah dingin. Tangan gadis itu bergetar hebat saat memegang sumbu api. Hatinya menjerit menolak tindakan itu.

​Tepat ketika ketegangan mencapai puncaknya dan kru Buggy menyoraki Nami untuk segera menembak, sebuah sosok melompat dari bangunan di seberang, mendarat dengan keras di atas atap bar.

​Roronoa Zoro telah tiba.

​Zoro berdiri tegap, ketiga pedangnya masih tersarung. Auranya memancarkan niat membunuh yang tajam, membuat kru bajak laut kelas teri Buggy menelan ludah ketakutan.

​"R-Roronoa Zoro!" teriak Buggy terkejut, hidung merahnya kembang kempis. "Apa yang dilakukan Pemburu Bajak Laut sepertimu di sini?! Kau mau mengambil kepalaku?!"

​Zoro tersenyum meremehkan. "Tidak tertarik. Tapi, aku harus mengambil temanku yang bodoh di dalam sangkar itu."

​Buggy tertawa keras. "Zyahahahaha! Menarik! Cabaji, Mohji, mundurlah! Biarkan Kapten Buggy yang hebat ini menunjukkan kemampuannya pada pendekar pedang amatir ini!"

​Muzan, yang melihat adegan itu dari jarak jauh, tahu bahwa ini adalah momen di mana Zoro akan menebas Buggy menjadi beberapa bagian, hanya untuk menyadari bahwa Buah Iblis Bara Bara no Mi membuat Buggy kebal, dan akhirnya Buggy akan menusuk perut Zoro dengan pisau dari belakang.

​"Cukup bermain-main," bisik Muzan, matanya berkilat dingin. "Ini adalah panggungku. Aku tidak akan membiarkan Zoro mendapatkan cedera yang akan mengganggu rencanaku, dan aku tidak akan membiarkan bajak laut badut itu merusak harga diri seorang pendekar pedang."

​Di ruang mentalnya, Muzan memberikan satu perintah mutlak.

​"Keluarkan Roy Mustang."

​Di alun-alun kota, di bawah atap bar tempat kekacauan sedang berlangsung, pilar cahaya ungu meledak di udara kosong. Cahaya itu tidak terang, namun hawa panas yang dibawanya seketika membuat suhu di sekitar alun-alun melonjak naik secara drastis.

​Di atap bar, Zoro baru saja menempatkan tangannya pada gagang Wado Ichimonji, bersiap menarik pedangnya untuk menebas Buggy yang tertawa congkak.

​Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot militer yang berat bergema dari tangga luar bangunan bar. Langkah itu begitu konstan, tenang, dan dipenuhi oleh otoritas yang tidak wajar.

​TAP... TAP... TAP...

​Seluruh kru Buggy, Zoro, Nami, dan bahkan Luffy di dalam sangkar menoleh ke arah sumber suara.

​Dari balik bayang-bayang tangga, muncullah sesosok pria dewasa. Ia mengenakan seragam militer berwarna biru pekat dengan tanda pangkat emas di kerahnya. Sebuah mantel pelindung berwarna hitam tersampir elegan di bahunya, berkibar pelan terkena angin sore. Wajah pria itu sangat tampan, dengan rambut hitam pendek yang tertata rapi. Namun, mata gelapnya menatap sekelompok bajak laut di depannya layaknya menatap kumpulan sampah yang tak berharga.

​Roy Mustang telah memasuki medan pertempuran.

​Zoro mengerutkan kening, insting bertarungnya seketika berteriak waspada. Pria berseragam biru ini tidak membawa pedang, tidak membawa senapan, hanya mengenakan sarung tangan kain putih dengan pola aneh. Namun, tekanan udara di sekitarnya terasa sangat menyesakkan.

​"Siapa kau?!" teriak Buggy, merasa terganggu karena pertunjukannya diinterupsi. Hidung merahnya berkedut marah. "Angkatan Laut?! Pangkatmu tidak terlihat seperti perwira di East Blue! Beraninya kau menyela urusan Kapten Buggy!"

​Mustang—yang kini sepenuhnya dikendalikan oleh kesadaran Muzan—tidak menjawab secara langsung. Muzan menyesuaikan suara boneka itu agar terdengar datar, penuh perhitungan, dan mengandung penghinaan kasta tinggi yang menjadi ciri khas Mustang.

​"Seorang badut sirkus, hewan sirkus peliharaan, dan kumpulan preman rendahan," suara Mustang memecah keheningan atap bar tersebut, bergema jelas ke telinga semua orang. Tangannya yang terbungkus sarung tangan pyrotex perlahan diangkat sebatas dada. "Kalian menyebut diri kalian bajak laut? Menyedihkan. Udara di kota ini terasa kotor karena napas kalian."

​"BAJINGAANN!!" raung Mohji si Penjinak Binatang, wajahnya memerah karena hinaan tersebut. "Richie! Cabik-cabik pria sombong itu menjadi daging cincang!"

​Singa raksasa bernama Richie mengaum dahsyat. Ukurannya setinggi gajah kecil. Singa itu melompat ke depan, membuka rahangnya lebar-lebar dengan deretan gigi setajam pedang, bersiap untuk menerkam dan menelan kepala Mustang bulat-bulat.

​Zoro memegang gagang pedangnya, berniat membantu orang asing itu jika perlu. Nami menjerit ketakutan dan menutup matanya.

​Namun, Mustang bahkan tidak mundur satu sentimeter pun. Wajahnya tetap sedingin es. Mata gelapnya menatap singa raksasa yang melayang di udara ke arahnya.

​Muzan, melalui tubuh Mustang, memfokuskan mentalnya. Alkimia Api tidak bekerja seperti sihir biasa. Ia menggunakan pengetahuan ilmiah. Dalam sepersekian detik, Muzan mengatur kepadatan gas atmosfer. Ia menarik seluruh molekul oksigen di sekitar hidung dan mulut singa itu, mengompresnya, lalu menciptakan sebuah jalur oksigen pekat yang tipis lurus dari sarung tangan kanannya langsung menembus ke dalam tenggorokan Richie yang terbuka.

​Singa itu berada berjarak tiga meter darinya.

​Lalu, Mustang menggesekkan ibu jari dan jari tengahnya.

​SNAP!

​Suara jentikan jari itu terdengar nyaring dan tajam bagaikan letusan cambuk.

​Sebuah percikan api kecil tercipta dari gesekan kain pyrotex. Percikan itu tidak menyebar; ia langsung menyambar jalur oksigen padat yang telah disiapkan Muzan dengan kecepatan kilat, merambat lurus ke depan, dan masuk tepat ke dalam tenggorokan singa raksasa tersebut.

​BHOOOOOOOMMMMM!!!!!!

​Ledakan api yang sangat dahsyat dan memekakkan telinga meledak tepat di wajah dan bagian dalam mulut singa itu. Api berwarna oranye dan merah menyala menelan seluruh tubuh bagian depan Richie. Gelombang kejut dari ledakan itu menyapu dek atap, menerbangkan beberapa anak buah Buggy hingga jatuh ke jalanan di bawah.

​Udara mendadak menjadi sepanas oven. Asap hitam tebal mengepul.

​"ROOOOOAARRRRRRR!!!"

​Auman ganas singa itu berubah menjadi jeritan keputusasaan yang sangat menyedihkan. Binatang buas secara alami takut pada api, dan ledakan langsung dari jarak dekat itu membakar surai, wajah, dan menghanguskan bagian dalam mulutnya. Tubuh Richie seberat ratusan kilogram itu terlempar ke belakang layaknya boneka kain yang putus talinya, menabrak Mohji hingga keduanya terpelanting menghantam dinding bar dan pingsan dengan luka bakar yang mengerikan.

​Keheningan yang mencekik seketika turun ke atas atap.

​Zoro melepaskan pegangannya dari gagang pedang. Mulutnya sedikit terbuka. Mata pendekar pedang itu membelalak ngeri melihat sisa-sisa api yang masih menyala di lantai kayu atap.

​"A-Apa... apa yang dia lakukan?" bisik Zoro tak percaya. "Tidak ada peluru... Tidak ada meriam... Hanya sebuah jentikan jari?!"

​Luffy di dalam sangkar menempelkan wajahnya ke jeruji besi, matanya berbinar-binar seperti bintang. "UWOOOOO! PAMAN ITU BISA MENGELUARKAN API DARI JARINYA! KEREEENNN!"

​Nami jatuh terduduk, kakinya kehilangan tenaga melihat destruksi instan tersebut.

​Buggy ternganga. Topi bajak lautnya sedikit miring. Keringat dingin sebesar biji jagung mengalir di wajah badutnya. Anak buah terkuatnya, Mohji dan Richie, dikalahkan dalam waktu kurang dari satu detik hanya dengan satu jentikan jari.

​"B-B-Buah Iblis?!" teriak Buggy histeris, menunjuk Mustang dengan jari bergetar. "Kau pemakan Buah Iblis tipe Logia Api?! B-Bukannya kekuatan itu hanya mitos di East Blue?!"

​Mustang (Muzan) menurunkan tangannya, menatap sisa-sisa asap dari ujung jarinya dengan ekspresi bosan.

​"Buah Iblis?" Mustang mendengus pelan, sebuah senyum arogan terukir di bibirnya. "Jangan samakan aku dengan kelemahan yang membuat penggunanya ditolak oleh lautan. Ini adalah sains. Ini adalah alkimia."

​"A-Alkimia?! Apa itu?!" Buggy mundur beberapa langkah. Kesombongannya telah menguap sepenuhnya. Ia berteriak pada sisa anak buahnya. "CABAJI! SEMUANYA! SERANG DIA BERSAMAAN! TEBAS KEPALANYA!"

​Cabaji, sang kepala staf yang ahli akrobat, menggertakkan giginya. Ia memacu sepeda roda satunya, meluncur cepat di sepanjang pagar atap. Menggunakan momentum putaran, ia melompat tinggi ke udara, menghunuskan pedang panjangnya untuk menebas leher Mustang dari sudut atas.

​Di saat yang sama, belasan kru bajak laut Buggy mencabut pedang dan senapan mereka, menyerbu Mustang dari arah depan dan samping, mencoba membanjiri pria berseragam militer itu dengan jumlah.

​"Mati kau, Pria Sombong!" teriak Cabaji dari udara.

​Di dalam kamar perpustakaan yang sepi, mata asli Muzan menyipit.

​"Bodoh."

​Melalui Mustang, Muzan sama sekali tidak melihat ke arah serangan. Ia hanya menggeser kuda-kudanya sedikit ke belakang, memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana militer dengan santai, sementara tangan kanannya perlahan diangkat kembali.

​Kali ini, Muzan tidak membuat satu jalur oksigen sempit. Ia memanipulasi seluruh aliran oksigen di separuh dek atap bar tersebut. Ia memadatkan atmosfer di sekitar kelompok bajak laut yang sedang berlari, dan menyebarkan konsentrasi yang sangat tinggi tepat di lintasan jatuhnya Cabaji.

​Zoro, yang memiliki insting bertahan hidup luar biasa, tiba-tiba merasakan udara di sekitarnya menjadi sangat tipis hingga ia sulit bernapas. Rambut di lengannya berdiri.

​"Luffy! Nami! Tunduk!!!" teriak Zoro, melempar tubuhnya sendiri ke lantai atap dan menutupi kepalanya dengan lengan.

​SNAP!

​Satu jentikan jari.

​Namun kali ini, efeknya adalah kiamat kecil.

​Seluruh ruang di depan Mustang—meliputi area selebar lima belas meter persegi—meledak dalam gelombang kejut api raksasa. Itu bukanlah ledakan bola api biasa, melainkan ledakan volumetrik yang membakar seluruh molekul oksigen di area tersebut secara serentak.

​BOOOOOOOOOOOMMMMMMMM!!!!!!!!

​Suara ledakan itu terdengar hingga ke pulau tetangga. Pilar api berwarna oranye kemerahan membumbung setinggi puluhan meter ke udara, membelah langit senja Orange Town. Suhu panas yang gila mencairkan kaca-kaca jendela di bangunan sekitarnya.

​Belasan kru Buggy yang sedang berlari tersapu seketika oleh gelombang badai api. Senapan mereka meleleh, pedang mereka bengkok. Mereka terlempar ke segala arah seperti dedaunan kering yang dibakar, menjerit dalam penderitaan sebelum kehilangan kesadaran karena kekurangan oksigen dan benturan fisik.

​Cabaji, yang berada di udara, tidak sempat berbuat apa-apa. Api menyelimutinya sepenuhnya, membakar pakaian akrobatnya dan menghanguskan kulitnya. Ia jatuh berdebum ke lantai atap yang hangus dalam kondisi tak sadarkan diri, sepeda roda satunya meleleh menjadi gumpalan besi tak berbentuk.

​Angin panas berhembus sangat kencang, menerbangkan debu dan abu hitam ke udara.

​Saat asap api perlahan menipis, terlihatlah hasil dari satu serangan tersebut. Separuh dari dek atap bar itu telah lenyap, berubah menjadi kawah kayu yang hangus terbakar. Sisa-sisa anggota kru Buggy berserakan, merintih tanpa daya atau pingsan total.

​Luffy yang berada di dalam sangkar besi tidak terkena langsung, namun wajahnya belepotan arang hitam, matanya melebar seukuran piring. Zoro yang tiarap di dekat sangkar merasa punggung pakaiannya nyaris terbakar. Nami gemetar hebat, menangis ketakutan di balik meriam Buggy Ball yang entah bagaimana masih utuh di luar jangkauan ledakan.

​Di tengah lautan api kecil yang masih menjilat-jilat lantai kayu, Roy Mustang berdiri tegak tanpa sehelai benang pun dari seragam militernya yang terkena abu. Matanya yang gelap, yang diterangi oleh cahaya api, menatap lurus ke arah Buggy.

​Kapten Buggy adalah satu-satunya orang dari kelompoknya yang tersisa dalam keadaan berdiri. Ia berada tepat di tepi ledakan, tubuhnya gemetar hebat hingga lututnya saling beradu. Topi bajak lautnya telah hangus ujungnya.

​Buggy sadar, kemampuan memotong dirinya dengan Bara Bara no Mi sama sekali tidak ada gunanya menghadapi monster yang membakar udara itu sendiri. Jika ia memisahkan tubuhnya, potongan tubuhnya hanya akan lebih mudah terbakar.

​"B-B-Bajingan... S-Siapa kau sebenarnya?!" teriak Buggy, air mata ketakutan menggenang di matanya. "Kenapa kau mengincar Kapten Buggy?!"

​Mustang mengarahkan tangannya yang berbalut sarung tangan pyrotex tepat ke wajah Buggy.

​"Aku tidak mengincar Kapten Buggy," ucap Mustang dengan suara berat yang menakutkan. Ibu jarinya bersiap untuk menjentik. "Aku hanya mengincar nilai buronan Lima Belas Juta Belly yang menempel di kepalamu yang jelek itu."

​Di saat yang sama, tanpa disadari oleh siapapun di atas atap karena kepanikan ledakan, Neji Hyuga sedang melaporkan dari kejauhan.

​"Host, Gaara telah berhasil menyusup ke ruang penyimpanan harta di lantai bawah bar."

​Di dalam kamar perpustakaan, Muzan tersenyum lebar.

​"Sedot semuanya, Gaara. Kosongkan Orange Town. Dan Mustang... habisi badut itu."

​SNAP!

​Jentikan jari ketiga menggema di Orange Town, menjadi penutup dari mimpi buruk sang Kapten Bajak Laut yang percaya bahwa dirinya tak terkalahkan. Fajar era baru di East Blue kini telah ditunggangi oleh monster yang jauh lebih mematikan dari Angkatan Laut maupun Bajak Laut: seorang dalang tanpa nama.

1
variable of ancient
batu gravitasi bukanya udah dipasang thor
Bintang Surya
lanjutttt
Bintang Surya
upp terus thor
Jane R.S
lanjut upp
Axel
thor sebaiknya pakai kalimat dewa, jangan pakai kalimat tuhan
Rabil Muhammad Tahir: terimakasih saran nya dan saya sudah revisi ya 🙂‍↕️
total 1 replies
Bintang Surya
uppp thor
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Blue Lock München Gaiden
MP
gas
Bintang Surya
uppppp
Rabil Muhammad Tahir: makasih komennya 😭😭 jadi terharu ada yang semangat sama novel saya
total 1 replies
Bintang Surya
lanjut plisss
Bintang Surya
bagus
Bintang Surya
pliss upp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!