Hendry Wijaya mati di periode kiamat tahun ke-12, dicabik oleh zombie Lord-Level di sebuah reruntuhan bangunan dip Jakarta.
Lalu ia membuka mata—30 hari sebelum dunia berakhir.
Semua ingatan 12 tahun di neraka itu masih utuh: siapa yang akan berkhianat, di mana kristal langka tersembunyi, kapan gelombang zombie pertama menerjang, dan siapa anjing jalanan kotor yang kelak menjadi legenda bernama Raja.
Bedanya? Kali ini Hendry punya Ruang Dimensi—gudang tak terbatas di mana waktu berhenti. Sementara orang lain panik membeli mie instan, ia menimbun seribu ton beras, ratusan ton daging, senjata, obat-obatan, dan cukup solar untuk menghidupi sebuah kota.
Hari pertama kiamat: semua orang kelaparan. Hendry makan rendang.
Di dunia di mana satu kristal bisa memicu perang, Hendry duduk di atas gunung kristal yang tak seorang pun tahu keberadaannya.
Di dunia di mana Lord-Level bisa meratakan kota, Hendry tersenyum—karena dia tahu persis kapan mereka akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Benih Masalah
Ini bau ambisi yang dibungkus gula.
Melati tidak langsung masuk.
Ia berdiri di balik pintu dapur dengan gelas air panas di tangan, mendengar Crystal Susanto berbicara lembut kepada Mawar seolah mereka sudah lama menjadi saudari. Nada itu tidak salah. Kata-katanya juga tidak salah. Justru karena terlalu rapi, Melati makin tidak suka.
"Aku juga ingin berkontribusi," kata Crystal. "Kalau Kak Mawar mau ajari sedikit saja, aku bisa bantu lebih banyak orang."
Mawar menjawab tetap sopan. "Besok kita lihat dulu batas kemampuanmu. Healing tidak boleh dipakai sembarangan. Kalau dipaksa, tubuhmu sendiri yang rusak."
"Kak Mawar baik sekali."
"Mawar saja."
"Iya, Mawar."
Melati masuk sebelum Crystal sempat menambah pujian baru. "Mawar, istirahat."
Crystal menoleh, senyumnya tetap manis. "Kak Melati."
"Aku juga belum jadi kakakmu."
Senyum itu retak tipis, lalu kembali utuh. "Maaf."
Mawar memegang lengan Melati perlahan, isyarat agar tidak memperpanjang. Crystal mundur dengan kepala tertunduk, seolah dialah yang disakiti. Dua anggota baru yang lewat di koridor langsung melirik Melati dengan ekspresi canggung.
Melati melihat itu.
Bagus kalau musuh membawa parang. Jauh lebih mudah dibakar.
Musuh yang membawa wajah terluka membuat orang lain merasa bersalah bahkan sebelum tahu apa yang terjadi.
Keesokan paginya, Crystal mulai bekerja.
Ia tidak melanggar aturan besar. Ia tidak mencuri. Ia tidak membuka gudang. Ia tidak masuk villa utama. Ia hanya duduk di dekat area obat dan menawarkan healing ringan kepada orang yang lecet karena latihan, batuk karena semalam tidur di lantai, atau memar saat mengangkat karung beras.
Cahaya Tan mencatat semua itu di papan kerja. "Crystal, tiga healing ringan. Setelah itu berhenti. Kalau kemampuanmu habis, kamu justru jadi beban medis."
Crystal tersenyum. "Iya, Bu Cahaya."
Ia berhenti setelah tiga.
Tapi sebelum berhenti, ia selalu memilih orang yang bisa bicara banyak.
"Tidak apa-apa, Mas. Luka kecil begini jangan sampai infeksi."
"Aku cuma bantu sedikit. Kita semua kan harus saling jaga."
"Raja memang hebat, ya. Pasti butuh makanan banyak. Aku cuma kasihan sama anak-anak yang masih makan bubur."
Kalimat terakhir diucapkan sambil tersenyum sedih, seperti tidak sengaja.
Sore hari, bisik-bisik mulai terdengar di dekat tempat cuci piring.
"Anjingnya makan daging lagi?"
"Katanya karena Wakil Komandan."
"Tapi anak gue dari kemarin cuma bubur sama nasi putih."
"Stok mereka banyak, kan? Kemarin ada yang lihat beras segunung di gudang."
Fajar mencatat nama orang yang bicara. Ia tidak menegur. Perintah Hendry jelas: dengar, catat, jangan pecahkan sebelum tahu arah.
Melati tidak sesabar itu.
Malamnya ia masuk ke ruang kerja Hendry tanpa mengetuk panjang. Mawar ikut di belakangnya, wajahnya lebih cemas daripada marah.
"Crystal itu bermasalah," kata Melati.
Hendry sedang melihat papan stok sementara yang disusun Cahaya. Ia tidak tampak terkejut. "Duduk."
"Aku tidak mau duduk."
"Kalau berdiri membuatmu lebih mudah bicara, silakan."
Melati menarik napas tajam. "Dia mendekati Mawar. Dia healing orang kecil-kecil, lalu menyelipkan kalimat soal makanan, soal Raja, soal kamu punya banyak stok. Dia tidak mengatakan kamu jahat. Dia cuma membuat orang lain menyelesaikan kalimat itu sendiri."
Mawar duduk pelan. "Aku juga merasa dia terlalu cepat ingin dekat. Tapi dia belum melakukan sesuatu yang bisa dihukum."
"Makanya aku bilang sebelum dia punya kesempatan," balas Melati.
Hendry meletakkan kertas. "Tujuan Crystal bukan menjatuhkanku."
Melati mengerutkan dahi. "Lalu?"
"Dia ingin naik posisi."
Ruangan diam.
Hendry menunjuk papan nama anggota baru. "Dia punya Light Power Level 1. Cukup langka untuk membuat orang merasa aman, tapi terlalu lemah untuk menggantikan Mawar. Dia melihat Mawar dekat denganku, dihormati, dilindungi, dan punya peran inti. Jadi dia meniru jalurnya. Menjadi manis, berguna, rapuh, lalu membuat orang merasa dia pantas lebih dekat ke pusat."
Mawar menunduk, bukan karena malu, tetapi karena mulai memahami.
Melati mengepalkan tangan. "Jadi dia mau jadi perempuan di sampingmu?"
"Versi akhir dunia dari strategi naik kelas," jawab Hendry datar. "Dekat dengan sumber makanan, obat, senjata, dan keputusan."
"Kenapa tidak usir sekarang?"
"Karena kalau diusir sekarang, dia jadi korban. Orang yang sudah menerima healing kecil darinya akan berpikir kita takut pada perempuan baik. Aku butuh perilaku yang lebih jelas. Sementara itu, kita potong bahan bakarnya."
"Bahan bakarnya?"
"Ketidakjelasan."
Keesokan paginya, halaman depan berubah menjadi ruang briefing.
Cahaya memasang papan besar dari tripleks bekas. Di atasnya tertulis empat kolom: kerja, porsi, air, obat. Fajar berdiri di samping dengan buku catatan. Dewi duduk di dekat dapur, siap meledak kalau ada yang menuduhnya pilih kasih.
Hendry berdiri di depan lebih dari empat puluh orang.
"Mulai hari ini, semua orang tahu aturan porsi," katanya. "Porsi pemulihan untuk yang luka dan anak-anak. Porsi kerja untuk yang ikut dapur, bersih-bersih, angkut air, jaga anak, atau perbaikan. Porsi tempur untuk yang patroli dan bertarung. Porsi premium hanya untuk kontribusi risiko tinggi."
Raja duduk di sampingnya, dada membusung.
Hendry menepuk kepala Raja sekali. "Raja mendapat daging karena dia membunuh zombie, menjaga malam, dan kemarin membantu menghentikan racun. Kalau ada yang ingin porsi Raja, silakan ambil tugas Raja."
Tidak ada yang bicara.
Bagus tersenyum lebar. "Tugasnya termasuk disuruh gigit orang jahat, ya."
Raja menggonggong singkat, seperti menyetujui kontrak kerja.
Beberapa orang tertawa. Ketegangan turun sedikit.
Hendry melanjutkan. "Sebagian stok akan dicatat terbuka: beras keluar per hari, air bersih keluar per hari, obat keluar per hari. Stok inti tidak akan dibuka. Yang merasa keberatan boleh keluar dengan porsi perjalanan satu hari. Tidak ada yang ditahan."
Cahaya menunjuk kolom kerja. "Nama yang belum punya tugas, daftar ke saya. Tidak semua orang harus bertarung, tapi semua orang harus berguna."
Crystal berdiri di baris ketiga. Senyumnya masih ada, tetapi kali ini matanya tidak tersenyum.
Karena isu yang ingin ia tiup baru saja kehilangan kabut.
Setelah briefing, Hendry tidak membiarkan orang kembali menjadi penonton.
Ia membawa mereka ke halaman latihan.
"Zombie Level 0 dan Level 1 bukan dewa," katanya sambil menunjuk patung latihan dari karung pasir dan pakaian bekas. "Kalian kalah bukan karena tidak punya kemampuan. Kalian kalah karena panik, sendiri, dan serakah."
Bagus memukul karung dari depan sampai terayun.
"Jangan seperti Bagus kalau badan kalian bukan badan Bagus."
"Bos, itu hinaan atau pujian?"
"Peringatan medis."
Tawa muncul lagi.
Hendry mengambil tongkat kayu dan memukul bagian belakang kepala patung. "Target utama: belakang kepala, lutut, pergelangan. Jangan mengejar Kristal sendirian. Tiga orang satu kelompok. Satu mengalihkan, satu menjatuhkan, satu menghabisi. Kalau teman jatuh, tarik. Kalau zombie terlalu banyak, mundur. Yang mati karena serakah tidak akan mendapat upacara."
Fajar membagi kelompok. Budi yang terlalu bersemangat langsung disuruh Bagus mengulang langkah mundur dua puluh kali. Sari membantu membuat area gelap kecil sebagai simulasi kehilangan arah. Awan membuat lantai licin tipis untuk melatih keseimbangan. Melati menunjukkan api kecil untuk memaksa zombie imajiner mundur tanpa membakar teman sendiri.
Orang-orang yang kemarin hanya menunggu makanan mulai bergerak.
Pelan, canggung, takut.
Tapi bergerak.
Mawar berdiri di sisi lapangan, mengawasi luka ringan. Crystal juga ada di dekatnya. Setiap kali seseorang memuji Hendry, Crystal ikut tersenyum. Setiap kali Mawar dipanggil, senyumnya menegang sedikit.
Hendry melihat semuanya.
Ia tidak perlu terburu-buru.
Benih masalah sudah kelihatan. Sekarang ia hanya perlu membiarkannya tumbuh cukup tinggi untuk dipotong di depan semua orang.
Menjelang sore hari kedua latihan, teriakan datang dari luar perimeter selatan.
"Zombie! Ada yang terkepung!"
Fajar langsung berlari ke arah suara. Hendry, Bagus, Raja, dan Melati bergerak menyusul. Di belakang pagar luar, seorang anggota baru terjatuh di dekat mobil rusak. Lima zombie Level 1 mengelilinginya.
Tapi sebelum Hendry memberi perintah, kepala zombie pertama sudah pecah.
Sebuah tongkat panjang menghantam dari samping. Lalu kedua, ketiga. Gerakannya kasar, tetapi kuat. Dalam beberapa detik, lima zombie itu roboh.
Pria yang memegang tongkat berdiri di atas kap mobil. Tubuhnya tinggi besar, rambutnya berantakan, bajunya terbuka memperlihatkan dada penuh bekas luka. Di belakangnya berdiri lebih dari tiga puluh orang dengan tampang jalanan, senjata campuran, dan senyum yang terlalu percaya diri.
Pria itu mengangkat tongkat ke bahu.
"Oi!" suaranya menggelegar. "Bos Cluster Pondok Indah!"
Raja memperlihatkan gigi.
Pria itu tertawa. "Gue Si Preman. Mau ngobrol nggak?"