Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04.
Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih satu jam, mereka akhirnya tiba di Jakarta.
Papa Alesha memilih menggunakan pesawat karena tidak bisa berlama-lama di Jakarta. Setelah mengantar Alesha ke rumah orang tuanya, ia harus segera kembali ke Bandung untuk menyelesaikan berbagai pekerjaannya yang masih menumpuk.
Di luar bandara, seorang sopir sudah menunggu kedatangan mereka. Begitu seluruh barang selesai dimasukkan ke bagasi mobil, mereka pun langsung berangkat menuju mansion keluarga Wijaya.
Sepanjang perjalanan, Alesha hanya diam sambil menatap pemandangan di balik jendela mobil.
Di pangkuannya, Pingky tampak meringkuk tenang di dalam keranjang. Bebek kesayangannya itu sudah terlelap sejak mereka meninggalkan bandara.
Sementara itu, Pak Arya yang sejak tadi memperhatikan putrinya hanya bisa melirik sekilas.
Melihat Alesha terus diam, hatinya sedikit terasa tidak tega. Namun, ia tahu keputusan ini harus diambil agar putrinya belajar dan tidak terus mengulangi kesalahan yang sama.
Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elite yang dipenuhi deretan mansion megah.
Beberapa menit berselang, kendaraan itu berhenti tepat di depan gerbang sebuah mansion bergaya modern.
Sang sopir segera turun untuk membuka pintu, sementara para asisten rumah tangga yang telah menerima kabar kedatangan mereka bergegas menyambut di halaman.
Alesha mengangkat pandangannya perlahan. Tatapannya tertuju pada mansion yang sudah lama tidak ia kunjungi.
"Sudah sampai," ucap Pak Arya pelan.
Alesha mengangguk kecil, lalu turun dari mobil sambil membawa keranjang Pingky. Bebek itu ikut terbangun dan mengeluarkan suara pelan.
Belum sempat mereka melangkah masuk, pintu mansion terbuka lebar.
Seorang pria dan wanita paruh baya berjalan keluar dengan senyum hangat di wajah mereka.
"Alesha!"
Suara penuh kerinduan itu langsung membuat Alesha menoleh.
Alesha langsung tersenyum lebar.
"Oma... Opa..."
Ia berlari kecil menghampiri keduanya tanpa bisa menyembunyikan rasa rindunya.
Oma segera merentangkan tangan, lalu memeluk cucunya dengan erat.
"Ya ampun, cucu Oma akhirnya datang juga. Oma kangen sekali sama kamu."
Alesha membalas pelukan itu sambil tersenyum.
"Alesha juga kangen, Oma."
Di samping mereka, Opa hanya tersenyum hangat sebelum mengusap lembut puncak kepala Alesha.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Semoga perjalananmu tidak terlalu melelahkan."
"Baik, Opa. Tadi di pesawat juga cuma sekitar satu jam."
Pak Arya kemudian melangkah mendekat.
"Pa, Ma... untuk sementara Alesha akan tinggal di sini."
Opa dan Oma saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk pelan.
"Tenang saja. Selama di sini, biar Alesha menjadi tanggung jawab kami."
Pak Arya tersenyum tipis.
"Terima kasih, Pa, Ma. Saya harus kembali ke Bandung hari ini juga karena masih banyak pekerjaan yang menunggu."
Mendengar itu, Alesha hanya menundukkan kepala pelan. Meski sudah mengetahui rencana tersebut, tetap saja ada rasa berat saat harus berpisah dengan papanya.
"Eh, kamu tidak menginap dulu?" tanya Oma Sarah dengan nada penuh harap.
Pak Arya menggeleng pelan.
"Tidak, Ma. Saya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Nanti kalau sudah ada waktu luang, saya pasti datang lagi."
Oma Sarah menghela napas pelan, lalu mengangguk.
"Baiklah, jangan terlalu memaksakan diri bekerja."
Pak Arya tersenyum tipis.
"Iya, Ma."
"Kevin mana, Ma?" tanya Mama Alesha sambil melihat ke sekeliling.
Oma Sarah tersenyum tipis.
"Kevin lagi keluar. Katanya mau nongkrong sama teman-temannya. Mungkin sebentar lagi juga pulang."
"Begitu ya," jawab Mama Alesha sambil mengangguk pelan.
Pak Arya menatap putrinya dengan serius.
"Ingat, Alesha. Kalau kali ini kamu masih membuat ulah, Papa benar-benar akan mengirimmu ke luar negeri untuk tinggal bersama Om Bram."
Belum selesai mendengar ancaman itu, wajah Alesha langsung berubah.
"Pa... jangan, deh."
"Kamu ingat, kan, bagaimana Om Bram mendidik orang?"
Alesha spontan bergidik ngeri.
Tentu saja ia ingat.
Om Bram adalah adik papanya yang terkenal sangat disiplin dan tegas. Tinggal bersamanya jelas jauh lebih mengerikan daripada dimarahi Papa.
"Iya... Alesha janji bakal jadi anak baik," ucapnya cepat sambil mengangguk berkali-kali.
"Sudahlah, jangan menakut-nakuti cucu kesayangan Opa begitu, Arya," tegur Opa sambil menggeleng pelan.
Ia lalu merangkul bahu Alesha dengan penuh kasih sayang.
"Selama di sini, Alesha tenang saja. Opa yang akan menjagamu."
Mendengar itu, Alesha langsung tersenyum lebar dan mengangguk semangat.
"Terima kasih, Opa!"
Pak Arya melirik jam tangan di pergelangan tangannya.
"Pa, Ma, Alesha... kami pamit dulu."
Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya dan Alesha, ia bersama sang istri berjalan menuju mobil.
Karena sudah tidak ada penerbangan ke Bandung pada hari itu, mereka memutuskan pulang menggunakan mobil yang dikemudikan sopir.
Meski perjalanan akan memakan waktu lebih lama, Pak Arya tetap harus kembali karena masih banyak pekerjaan yang menunggunya di Bandung.
Mobil perlahan meninggalkan halaman mansion.
Alesha berdiri di samping Oma dan Opa, melambaikan tangan hingga mobil yang membawa kedua orang tuanya benar-benar menghilang dari pandangan.
Suasana mendadak terasa lebih sepi.
Oma Sarah merangkul bahu cucunya dengan lembut.
"Ayo masuk, Sayang. Oma sudah menyiapkan makanan kesukaanmu."
Alesha mengangguk pelan.
"Iya, Oma."
Baru beberapa langkah berjalan, Pingky yang sedari tadi diam di dalam keranjang tiba-tiba mengeluarkan suara nyaring.
"Kwek... kwek..."
Opa menoleh sambil tertawa kecil.
"Nah, ternyata cucu Opa datang bawa tamu juga."
Alesha tersenyum malu.
"Ini Pingky, Opa. Bebek peliharaan Alesha."
Opa mengangguk sambil memperhatikan Pingky yang kini menoleh ke segala arah dengan rasa penasaran.
"Lucu juga. Boleh tinggal di sini, asal jangan bikin onar seperti pemiliknya."
"Hah? Opa..."
Alesha langsung mengerucutkan bibir, sementara Oma hanya terkekeh melihat tingkah keduanya.
Suasana mansion yang semula terasa sunyi pun perlahan dipenuhi tawa mereka.
Setelah suasana kembali tenang, seorang pelayan menghampiri mereka sambil membungkukkan badan.
"Oma, kamar Nona Alesha sudah kami siapkan."
Oma Sarah mengangguk pelan.
"Bagus. Tolong bawa koper-kopernya ke kamar."
"Baik, Nyonya."
Beberapa pelayan segera mengangkat koper-koper Alesha dan membawanya ke lantai dua.
"Ayo, Oma antar kamu ke kamar," ujar Oma Sarah sambil menggandeng tangan cucunya.
Alesha mengikuti langkah Oma dan Opa menyusuri lorong mansion yang luas. Sesekali ia mengamati setiap sudut rumah yang terasa begitu megah.
Tak butuh waktu lama, mereka pun tiba di depan sebuah pintu berwarna putih.
Oma Sarah membuka pintu itu perlahan.
"Mulai hari ini, kamu tinggal di kamar ini."
Mata Alesha langsung membulat.
Kamarnya sangat luas, didominasi warna putih dan krem, dengan balkon yang menghadap ke taman belakang mansion. Di salah satu sudut ruangan terdapat rak buku, meja belajar, serta lemari pakaian yang ukurannya hampir memenuhi satu dinding.
"Wow..."
Alesha melangkah masuk sambil memutar pandangannya ke seluruh ruangan.
"Kamarnya bagus banget."
Opa tersenyum melihat reaksi cucunya.
"Kalau ada yang kurang, bilang saja. Opa suruh pelayan menyiapkannya."
Alesha langsung mengangguk semangat.
"Siap, Opa!"