Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Benih yang Tumbuh dalam Sembunyi
Hari-hari di Hutan Bambu Ungu berlalu seperti aliran air parit yang tenang namun pasti. Bagi Dewi Shen Liya, waktu delapan puluh hari yang telah lewat di dunia fana ini terasa jauh lebih nyata daripada ratusan tahun yang ia habiskan di atas singgasana awan Alam Langit.
Di tempat terpencil ini, tidak ada intrik politik yang licik, tidak ada tatapan penuh kepalsuan, dan yang paling penting: tidak ada Dewa Tinggi Ling Cang yang mengincarnya sebagai tumbal kekuasaan.
Namun, kedamaian itu tidak lantas membuat hati Shen Liya sepenuhnya tenang.
Siang itu, matahari bersinar terik, menembus sela-sela rindangnya daun bambu. Shen Liya sedang berdiri di samping rak anyaman, dengan teliti memilah kelopak bunga Xian-Cao yang telah mengering. Gerakan jemarinya yang lentik kini terlihat jauh lebih luwes daripada hari pertama ia mencoba membantu.
Gaun katun sederhana berwarna putih polos yang ia kenakan bergerak lembut diterpa angin gunung.
Tiba-tiba, rasa pusing yang teramat sangat menghantam kepalanya. Pandangan Shen Liya mendadak berputar, membuat dunianya seolah terbalik dalam sekejap.
"Ugh..."
Shen Liya mengerang pelan, refleks mencengkeram pinggiran rak bambu untuk menahan berat tubuhnya agar tidak ambruk. Sebelah tangan lainnya bergerak cepat menyentuh dadanya yang mendadak terasa sesak dan mual. Rasa mual ini bukan berasal dari sisa racun Jue Qing San—ia tahu benar perbedaannya.
Ini adalah pergolakan energi murni yang menolak makanan fana biasa, sebuah reaksi penolakan yang hanya terjadi ketika rahim seorang dewi sedang membentuk sebuah kehidupan baru.
Dari arah belakang, sepasang tangan yang kokoh dan hangat dengan cekatan menangkap sepasang bahunya, menstabilkan posisi berdirinya sebelum lutut Shen Liya sempat menyentuh tanah.
Aroma akrab kayu bambu basah dan hawa dingin yang menenangkan langsung menyelimuti indra penciumannya. Tanpa menoleh pun, Shen Liya tahu siapa pria itu.
"Sudah kubilang berkali-kali, jika tubuhmu belum pulih sepenuhnya, jangan memaksakan diri bekerja di bawah terik matahari," suara Gu Jue terdengar rendah dan dingin dari balik punggungnya, mengandung ketegasan yang tidak bisa dibantah.
Gu Jue membalikkan tubuh Shen Liya secara perlahan agar menghadap ke arahnya. Sepasang mata sehitam tinta milik sang Raja Iblis menyipit tajam, menatap lekat-lekat wajah Shen Liya yang tampak lebih pucat dari biasanya. Namun, yang membuat tatapan Gu Jue menajam bukanlah warna kulit sang Dewi, melainkan riak energi spiritual yang ia rasakan mengalir di balik kulit pergelangan tangan wanita itu.
Sebagai penguasa tertinggi Alam Kegelapan, kepekaan indra Gu Jue berada di tingkat yang mengerikan. Saat menyentuh bahu Shen Liya tadi, ia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Ada sebuah denyut kehidupan sekecil biji sawi yang mulai berakar di dalam pusat rahim Shen Liya. Denyut itu memancarkan frekuensi spiritual yang sangat unik—perpaduan antara kehangatan cahaya keemasan langit dan secercah hawa dingin pekat yang terasa sangat familier di hatinya.
Energi dingin ini... milikku, batin Gu Jue terkesiap, meski ekspresi wajah manusianya tetap datar tanpa cela.
Gu Jue langsung menyadari apa yang terjadi. Penyatuan spiritual darurat yang mereka lakukan pada malam pertama ternyata telah memicu penciptaan takdir baru. Wanita langit di hadapannya ini... sedang mengandung darah dagingnya.
Seorang anak blasteran antara dewa tertinggi dan raja iblis sedang tumbuh dalam sembunyi di dalam rahim yang suci itu.
Shen Liya yang tidak menyadari isi pikiran Gu Jue, segera menarik bahunya mundur, melepaskan diri dari sentuhan pria itu dengan canggung. Jantungnya berpacu liar, bukan hanya karena pusing, tetapi juga karena rasa takut jika "Gu Jue" sang tabib manusia bisa mendeteksi rahasia kehamilannya.
"Aku tidak apa-apa, Tuan Gu Jue. Hanya pusing sedikit," kilat Shen Liya, memalingkan wajahnya dan mencoba kembali mengambil kelopak bunga kering yang berjatuhan di tanah. "Aku hanya butuh minum air hangat."
Gu Jue menatap tangan Shen Liya yang sedikit gemetar di atas tanah.
Rasa bersalah, tanggung jawab, dan sekerat kehangatan asing yang belum pernah ia rasakan selama ribuan tahun mendadak bercampur aduk di dalam dada sang Raja Iblis. Anak itu adalah anaknya. Dan wanita di depannya ini adalah ibu dari anaknya, terlepas dari fakta bahwa mereka berasal dari dua ras yang ditakdirkan untuk saling memusnahkan.
"Duduklah di bawah pohon," perintah Gu Jue, suaranya sedikit melunak, sebuah perubahan kecil yang jarang terjadi. Ia mengambil alih keranjang bambu dari tangan Shen Liya. "Aku akan menyeduh teh herbal khusus untuk meredakan mualmu."
Shen Liya tertegun sejenak mendengar kata "mual" keluar dari mulut Gu Jue. Apakah dia tahu? pikirnya panik. Namun, ia segera menepis pikiran itu. Gu Jue hanyalah tabib manusia biasa; tidak mungkin seorang mortal bisa mengendus kehamilan seorang dewi di tahap awal seperti ini.
Shen Liya akhirnya menurut dan berjalan pelan menuju bangku batu di bawah pohon persik yang mulai menumbuhkan kuncup bunga kecil.
Sore harinya, setelah meminum teh herbal yang anehnya langsung menenangkan gejolak di perutnya, Shen Liya duduk menyendiri di dalam kamar pondok kayu.
Suasana kamar sudah remang-remang karena matahari mulai tenggelam di balik ufuk barat. Shen Liya kembali menyentuh perutnya, melepaskan pelindung spiritual kecil yang sengaja ia pasang di sekitar rahimnya agar tidak terdeteksi oleh radar luar. Begitu sekat itu dibuka, sebuah pendaran cahaya keemasan tipis bercampur sulur hitam halus berpendar di balik kulit perutnya.
"Gu Yu..." bisik Shen Liya secara insting, sebuah nama yang tiba-tiba terlintas di kepalanya. Nama yang berarti "Alam Semesta". "Ibu akan melindungimu, apa pun yang terjadi."
Air mata kebingungan mengalir di pipi sang Dewi. Di satu sisi, ia merasa terhormat karena dipercayakan sebuah kehidupan baru yang murni. Namun, di sisi lain, ketakutan yang teramat sangat mencengkeram jiwanya.
Jika Dewa Tinggi Ling Cang atau sekutu langitnya mengetahui bahwa ia mengandung seorang anak di dunia fana—terlebih lagi anak yang memiliki distorsi energi asing yang pekat—mereka tidak akan hanya mengincar tubuhnya sebagai wadah kekuatan, melainkan akan memusnahkan janin ini karena dianggap sebagai aib dan ancaman bagi kesucian ras dewa.
Aku tidak boleh membiarkan mereka menemukan anak ini, tekad Shen Liya mengeras di dalam hati.
Sementara itu, di halaman depan pondok, malam telah jatuh sepenuhnya. Kabut Hutan Bambu Ungu bergulung tebal, menciptakan dinding pemisah yang semakin pekat dengan dunia luar.
Gu Jue berdiri tegak di tengah halaman, membelakangi pintu pondok yang tertutup. Jubah rami abu-abunya berkibar pelan ditiup angin malam yang menusuk tulang. Pria itu mengangkat tangan kanannya ke udara. Seketika itu juga, sepasang matanya yang sehitam tinta berubah menjadi warna ungu menyala yang mengerikan—wujud asli dari kekuatan Mo Jue, sang Raja Iblis.
Wusss!
Dari ujung jari-jarinya, sulur-sulur energi hitam sepekat malam melesat keluar, merayap cepat ke arah pagar pembatas pondok dan menyatu dengan tanah. Gu Jue sedang memperkuat Segel Penjerat Jiwa yang ia pasang sebelumnya.
Kali ini, ia tidak hanya memasang perisai penyamaran aura untuk Shen Liya, melainkan melapisinya dengan kutukan pembatas dimensi tingkat tinggi yang dirancang khusus untuk mengunci dan menyerap setiap riak energi dari benih iblis kecil yang baru tumbuh di dalam pondoknya.
Ia tahu, energi campuran dari anaknya kelak akan jauh lebih kuat dan lebih mudah memicu radar Alam Langit maupun faksi-faksi haus darah di Alam Iblis. Sebagai seorang ayah dan penguasa, ia harus memastikan sangkar kebohongan ini tidak tertembus oleh siapa pun.
"Tumbuhlah dengan aman di dalam sana, Kecil," gumam Gu Jue rendah, matanya yang ungu menatap jendela kamar Shen Liya yang memancarkan cahaya lilin redup. "Ayahmu akan memastikan tidak ada satu pun dewa atau iblis dari dunia atas yang bisa menyentuh ibumu... atau dirimu."
Gu Jue menghentakkan kakinya ke tanah, mengunci perisai gaib tersebut hingga kembali menjadi transparan dan tak kasat mata. Begitu segel selesai dipasang, matanya kembali berubah menjadi hitam pekat, dan ia kembali menjadi Gu Jue—sang tabib manusia biasa yang dingin dan acuh tak acuh.
Malam itu, di bawah atap pondok kayu yang sederhana, dua makhluk tertinggi dari dunia berbeda tidur dalam kesunyian yang sarat akan rahasia besar. Shen Liya merajut rencana dalam diam untuk melindungi bayinya dari amarah langit, tanpa menyadari bahwa pria yang tidur di ruangan sebelah telah membentangkan seluruh sayap kegelapannya demi membentengi kehidupan kecil mereka dari badai tiga alam yang kian mendekat.