Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 MALAM YANG MANIS
Beberapa jam berlalu. Pesta meriah itu telah selesai.
Meninggalkan momen indah dan penting bagi Erlangga maupun Aline.
Kini Erlangga dan Aline sudah berada di dalam kamar pengantin yang ada di hotel itu.
Erlangga menatap istrinya sejenak, balutan Ball Gown berwarna putih yang melekuk indah ditubuh istrinya membuat ia kehilangan fokus. Namun, dengan cepat ia mengusir pikiran-pikiran itu.
"Mau langsung istirahat atau mau mandi dulu?" tanya Erlangga.
Aline yang sedang duduk di samping tempat tidur menoleh sejenak. "Aku mau mandi dulu." jawab Aline suaranya nyaris seperti bisikkan.
Erlangga mengangguk mengerti, ia membuka almari dan mengeluarkan piyama yang sudah di siapkan lalu menyerahkan nya kepada Aline.
"Baju gantinya."
Aline menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar. Jujur saja ia masih gugup apalagi sekarang status mereka sudah menjadi suami istri.
Ia masuk ke dalam kamar mandi. Saat berada di dalam tampaknya Aline kesusahan membuka resleting gaun itu yang posisinya ada di belakang.
"Kok nggak bisa sih!" Aline masih terus meraih resleting itu. Namun, tangannya tetap tidak sampai.
"Aku malu kalau harus minta tolong sama Erlangga." bisiknya tampak frustasi.
Di sisi lain, Erlangga yang baru saja melepaskan jasnya mengkerutkan keningnya saat melihat pintu kamar mandi masih tertutup, sudah tiga puluh menit. Namun, Aline tidak kunjung keluar apa terjadi sesuatu di dalam. Pikirnya.
Ia melangkah mendekat ke arah pintu untuk sejenak ia terdiam, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetuknya.
TOK! TOK! TOK!
"Aline apa kamu baik-baik saja?" tanya Erlangga yang mulai merasa cemas.
Beberapa menit tidak ada jawaban.
Sementara di dalam Aline masih berusaha membuka resleting itu. Saat mendengar suara pintu diketuk ia mulai gelisah. "Ok, tarik napas dulu..." bisiknya mencoba menenangkan kegelisannya.
Hingga akhirnya ia memutuskan untuk meminta bantuan Erlangga.
CEKLEK!
Pintu itu terbuka seketika Aline menyembulkan kepalanya yang membuat Erlangga yang berada di depan pintu tersentak kecil.
"Aline apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu lama sekali berada di dalam."
Aline tersenyum kikuk, sebelum menjawab pertanyaan itu, wajahnya masih terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya.
"Erlangga..." panggilnya pelan dengan suara yang hampir seperti desiran angin.
"Kenapa? Hmm, ada yang kamu butuhkan?"
"Aku kesulitan untuk membuka gaun ini, bisakah bantu aku membukakan resletingnya." pinta Aline dengan wajah memerah.
Erlangga mengulum senyum, saat melihat wanita yang kini sudah menjadi istrinya yang tampak masih malu-malu malah membuatnya terlihat semakin menggemaskan.
Tanpa menjawab kalimat itu, Erlangga langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Tindakannya yang langsung tiba-tiba itu membuat Aline yang berada di dalam semakin merasakan gelisah. Ia masih belum terbiasa dengan kedekatannya dengan pria yang kini sudah menjadi suaminya.
Tangan Erlangga mulai membuka resleting itu. Ia menelan ludahnya susah payah saat pandangannya tertuju pada punggung putih dan mulus milik istrinya. Namun, dengan cepat ia berhasil mengendalikan dirinya.
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau kamu kelamaan di sini bisa-bisa kamu masuk angin, Aline." bisik Erlangga suaranya terdengar lembut dan penuh perhatian.
Aline yang mendenger itu seketika meremang saat merasakan hembusan napas hangat suaminya pada tengkuk lehernya. Ia menggit bibir bawahnya berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Setelah berhasil membuka resleting itu, Erlangga membalikkan tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya. Kini keduanya saling berhadapan.
Aline yang merasakan hampir tidak ada jarak di antara mereka dengan refleks melangkah mundur.
Erlangga yang melihat istrinya terlihat gugup dan mencoba menjauh darinya, perlahan ia mendekat kembali dan mengikis jarak di antara mereka. Hingga Aline semakin merapat pada tembok kamar mandi tangannya tanpa sengaja menyenggol keran shower.
Seketika guyuran air membasahi mereka.
Aline terkejut, Ia hendak menghindar dari sana. Namun kakinya tiba-tiba saja tergelincir dan dengan sigap Erlangga menangkap istrinya agar tidak terjatuh.
Seketika, waktu seolah berhenti saat itu juga. Di antara keduanya hanya suara jantung mereka yang berdebar tidak terkontrol dan deru napas yang saling menyapa wajah masing-masing. Suara gemericik air yang terdengar semakin menambah suasana intim di antara mereka.
Erlangga menatap setiap pahatan wajah istrinya, hidung kecil, bulu mata yang lentik, mata bulat yang berkedip-kedip, pandangan terakhir jatuh pada bibir merah muda istrinya yang membuatnya seolah kehilangan kesadarannya.
Perlahan Erlangga mendekatkan wajahnya ke arah Aline. Tanpa kata-kata yang terucap. Sebuah ciuman yang lembut dan penuh perasaan mendarat di bibir istrinya.
DEGH!
Jantung Aline terasa ingin terlepas dari tempatnya, tubuhnya membeku di pelukkan suaminya, ciuman itu semakin lama semakin menuntut sampai ia kesulitan untuk bernapas.
Di sisi lain, Erlangga semakin terbawa susana, ia semakin memperdalam ciuman itu membelitkan lidahnya dengan milik Aline lalu menyusuri setiap area gusi seolah sedang menghitungnya.
"Mmmpppssss..." Aline yang mulai kehilangan napasnya. Ia berusah memukul dada bidang suaminya.
Erlangga yang mendapatkan pukulan itu dari tangan kecil istrinya, tidak sakit. Namun, mengembalikan kesadarannya atas tindakkan spontan yang ia lakukan terhadap istrinya, perlahan ia menarik wajahnya lalu membantu istrinya dengan lembut agar berdiri tegak.
Ia terdiam sejenak rasa bersalah mulai menyelimuti hatinya. Ia melihat bibir istrinya yang bengkak karena ulahnya, dengan cepat mematikan sower dan memberikan handuk kecil pada istrinya. Saat melihat tubuh kecilnya mulai menggigil.
"Maaf, aku lepas kendali... sebaiknya bersihkan dirimu dan jangan lama-lama." Setelah mengatakan itu dengan cepat Erlangga ke luar dari kamar mandi meninggalkan Aline yang terperangah dengan kejadian itu.
Aline menatap punggung suaminya yang menghilang di balik pintu, lalu menyentuh bibirnya merasakan sisa-sia ciuman mereka.
"Apa yang barusan terjadi." bisiknya tidak percaya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat merasakan kedua pipinya mulai memanas.
Di dalam kamar, Erlangga tampak frustasi, dengan cepat ke luar dari kamar dan memilih untuk membersihkan dirinya di kamar lain sambil menenagkan dirinya.
"Tahan Erlangga, dia baru saja sah menjadi istrimu dan jangan buat dia takut dengan tindakkan agresif yang barusan kamu lakukan." ucapnya pada dirinya sendiri.
Saat ke luar dari kamar tanpa sengaja Erlangga berpapasan dengan sang kakak.
Bram yang melihat penampilan sang adik yang tampak kacau, seketika tawanya meledak saat itu juga.
"Hahaha.... apa yang Kakak bilang kalau kamu memang sudah tidak tahan, makannya ingin cepat-cepat menikahi Aline." ledek Bram.
Erlangga yang mendapatkan ledekan itu malu bukan main. Namun, apalah daya mau berkilah pun tidak ada gunanya apalagi berhadapan dengan sang kakak.
Bram menghentikan tawanya saat melihat wajah adiknya yang memerah, menahan malu.
"Ingat dia sedang hamil, jangan bertindak gegabah yang akan membahayakan mereka." peringatan Bram penuh perhatian untuk sang adik.
Erlangga mengangguk tegas. "Aku tau, Kak! Aku tidak akan sebodoh itu."
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣