Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.
Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.
Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?
Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Empat
"Kau kenal Baskara?" Tanya Ganesha saat mereka berjalan.
"Bukankah semua orang mengenal dia?" Aruna balik bertanya.
"Maksudku mengenal secara personal."
"Tidak. Aku bahkan tidak ingat namanya."
Kening Ganesha mengerut, "Lalu bagaimana dia bisa menawarkan pakaian ganti padamu? Dan aku tak percaya kau menolaknya, Una!"
"Nah, jangan tanya aku. Aku saja bingung tadi. Lagipula aku tidak menerima pemberian orang asing."
Ganesha menatap tak percaya lalu tertawa, ia merangkul lengan Aruna gemas, "Ketika semua orang berusaha dekat dengannya, kau malah menolak mentah-mentah pemberian Baskara. Jika para fansnya tahu, mereka akan mencacimu."
"Bukan hal baru untukku," dengus Aruna.
Mereka berjalan bersisian hingga tiba di luar gedung sekolah, mobil jemputan Ganesha sudah menunggu. Sang supir langsung dengan sigap membukakan pintunya untuk anak itu.
"Pulang denganku, ya?" pinta Ganesha.
"Ibumu takkan suka jika aku ikut denganmu. Pulanglah."
Ganesha cemberut, ia tak mengerti kenapa ibunya tidak menyukai Aruna hanya karena ia merupakan anak angkat dari keluarga Adijaya. Padahal ia sendiri tak masalah dengan itu karena hanya Aruna yang benar-benar tulus berteman dengannya tanpa ada maksud tertentu. Berkali-kali Ganesha mencoba menjelaskan hal itu pada sang ibu, tapi menurut ibunya takkan ada keuntungan apa pun bagi mereka jika Ganesha terus berteman dengan Aruna.
"Ibu takkan tahu. Ayolah~"
"Aku tak yakin soal itu, Ganes," kekeh Aruna sembari melirik supir Ganesha yang berdehem pelan. Mungkin menyadari maksud ucapannya, karena sang supir akan selalu melapor tentang apapun pada ibu anak itu, termasuk dengan siapa Ganesha pulang sekolah.
"Menyebalkan! Seandainya aku bisa membujuk ibu! Pasti akan menyenangkan jika kau menginap di rumahku!" jeritnya kesal.
Sekali lagi Aruna tertawa dan mengusak lembut kepala Ganesha, anak itu memang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Lain kali, aku janji. Sekarang pulanglah."
"Kau janji?!"
"Iya, Ganes."
"Okey!" Ganesha memekik ceria lalu masuk ke dalam mobil sembari melambai kecil pada Aruna. Tak lama mobil anak itu sudah pergi meninggalkan pekarangan sekolah. Aruna menghela nafas dan akan berjalan sebelum sebuah mobil hitam lainnya berhenti di depannya.
"Nona Aruna!"
Ah, itu supir kelurga Adijaya yang memang di tugaskan mengantar jemput dirinya. Padahal saat pagi tadi jelas-jelas ia langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun, tak disangka malah di jemput begini.
"Nona, kenapa pergi sendirian tadi pagi? Saya cemas sekali anda kenapa-kenapa!" ucap pria itu yang Aruna taksir usianya sekitar 20 tahunan lebih.
"Kau cemas padaku atau cemas di marah oleh Ayah?"
Pria itu tersentak kaget lalu menggeleng cepat, "Tentu saya cemas dengan anda, Nona! Bisa-bisanya anda berkata begitu,"
Aruna terkekeh, "Kau tak perlu bersikap baik padaku. Aku hanya anak angkat yang sewaktu-waktu dapat dibuang. Jadi kau takkan mendapatkan keuntungan apa pun dariku."
"Nona, kenapa berkata begitu? Maaf jika sikap saya membuat anda tidak nyaman, tapi dulu saya memiliki adik perempuan seumuran Nona jika saja ia masih hidup. Kecelakaan membuat saya kehilangan adik saya satu-satunya. Saya tahu ucapan saya tidak sopan, tapi bagi saya Nona seperti adik saya sendiri," ucap pria itu dengan kepala menunduk.
Hening sesaat sebelum Aruna menghela nafas pelan, ia tahu jika pria itu memang tulus padanya. Sejak pertemuan awal mereka dulu, pria itu memperlakukannya lebih baik ketimbang keluarga angkatnya sendiri.
"Oke..oke..aku hanya bertanya. Kau tidak menangis, kan?" ledek Aruna.
"Saya tidak menangis, Nona!"
Tawa Aruna pecah, "Baiklah ayo pulang."
"Nona, jangan tertawa~"
Pria itu membukakan pintu mobil untul Aruna sebelum ia juga naik dan menyetir kembali pulang.
Tak butuh waktu lama mereka tiba di kediaman mewah Adijaya. Saat turun dari mobil, Aruna di sambut oleh kepala pelayan dirumah itu—Sammy. Tidak biasanya seperti ini.
"Selamat datang kembali, Nona muda. Tuan Besar menunggu anda diruangan."
Oh, pantas saja. Ternyata pria tua itu ingin bertemu dengannya. Aruna hanya mendengus dan berjalan mendahului Sammy menuju ruangan sang kepala keluarga. Ini pertama kalinya ia bertemu lagi dengan pria itu semenjak waktunya di putar kembali. Lagipula, ia tak punya alasan untuk bertemu dengannya.
Pria itu hanya membutuhkan kehadirannya sebagai pengganti si bungsu kesayangannya yang meninggal karena sakit. Terakhir kali mereka bertatap muka ketika ia di jemput di panti asuhan 2 tahun lalu, setelahnya Aruna tidak pernah melihat pria itu lagi.
Lalu kenapa sekarang tiba-tiba ingin bertemu?
Ketika tiba di depan pintu ruangannya, Sammy langsung mengetuk dengan sopan.
"Tuan Besar, Nona muda sudah datang."
"Masuk," suara berat yang penuh dengan wibawa itu terdengar dari dalam.
Sammy membuka pintu dan mempersilahkan Aruna masuk, setelah anak itu masuk ia menutup pintunya pelan. Sedangkan Aruna berjalan mendekat dan berdiri tak jauh dari posisi pria itu di meja kerjanya. Meski sudah tak muda lagi, tapi pria itu masih tampak gagah dan berkarisma, tidak heran beberapa wanita muda ataupun menjanda mengejarnya untuk di jadikan suami.
Namanya Elvio Edgar Adijaya.
Namun, sifatnya yang dingin dan tak tersentuh membuat usaha para wanita-wanita itu gagal. Lalu kenapa Ayana berhasil meluluhkannya? Kalau dipikir kembali, bukankah itu aneh?
"Aruna, ayah dengar kau membuat masalah di sekolah," ucapnya tiba-tiba.
Aruna mengerjap sejenak dan menghela nafas, dari sekian banyak kata kenapa tidak menyapa lebih dulu atau setidaknya menanyakan harinya di sekolah. Tapi itu tidak mungkin mengingat sifat pria itu yang dingin.
"Aku tidak membuat masalah," jawab Aruna tanpa ragu, menatap dengan berani mata pria itu.
"Ayah mendapat telepon dari keluarga Rasyid bahwa kau menyiram minuman pada Paula dan mempermalukannya. Bukankah Ayah menyuruhmu untuk sekolah dengan baik dan bukan untuk membuat masalah?"
Ini percuma.
Bahkan ia tak diberi kesempatan untuk menjelaskan, tapi sudah mendapat tuduhan hanya karena berdasarkan laporan sepihak. Lagipula apa yang ia harapkan dari sosok kepala keluarga yang membiarkannya mati mengenaskan di tangan suaminya sendiri? Menjelaskan semuanya hanya akan membuat dirinya terlihat seperti membuat pembelaan dan Aruna tak mau itu.
"Maafkan aku, Tuan. Aku takkan melakukannya lagi, aku akan minta maaf padanya besok. Jangan cemas karena aku takkan mencoreng nama Adijaya dan mempermalukanmu."
"Aruna, bukan itu maksudku."
"Aku mengerti dan aku juga menyadari tempatku, jadi anda tak perlu khawatir, Tuan. Maaf kalau aku tidak sopan tapi aku lelah dan ingin istirahat jika Tuan tak keberatan. Permisi," ucap Aruna yang lalu pergi begitu saja tanpa membiarkan Elvio mengucapkan apa pun.
Sementara sang kepala keluarga menatap kepergian Aruna dengan kebingungan.
"Tuan dia bilang?" gumamnya tak percaya. Padahal seingatnya dulu gadis kecil itu selalu memanggilnya Ayah dengan senyuman lebar. Ia memang risih dan tidak pernah menggubris panggilannya, tapi mendengar anak itu memanggilnya dengan sebutan 'Tuan' membuat dadanya terasa sesak. Bahkan kini senyuman lebar itu tidak terlihat lagi.
Kenapa ia merasa terganggu dengan perubahan Aruna?
***
Sementara Aruna berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua paling ujung. Di depan pintu kamarnya, Mia sudah menunggu dan langsung membungkuk sopan ketika Aruna tiba. Perubahan sikap Mia begitu kentara setelah apa yang Aruna lakukan tadi pagi. Bahkan ia menyadari perubahan sikap para pelayan lainnya di rumah megah itu. Sepertinya apa yang di alami oleh Mia sudah tersebar dan di dengar para pelayan lainnya.
"Selamat datang kembali, Nona."
"Hmm," hanya itu respon Aruna dan langsung masuk ke kamarnya diikuti Mia. Pelayan itu membantu melepas ransel dipunggungnya dan meletakkannya di atas kursi lalu berdiri dan menunggu perintah selanjutnya. Aruna sendiri hanya diam dan berganti pakaian seragam sekolahnya dengan pakaian biasa.
"Seragamnya buang dan katakan pada Sammy aku butuh yang baru," kata Aruna sembari memberikan seragamnya yang dipenuhi noda makanan itu pada Mia.
"Saya mengerti. Lalu nona, anda ingin menu makan siang apa?" tanya Mia.
"Tidak. Aku hanya ingin istirahat. Kau keluarlah, aku akan panggil kalau membutuhkanmu," ucap Aruna sembari duduk di pinggir ranjangnya.
Mia mengangguk dan keluar dari kamar tanpa mengatakan apa pun. Sementara Aruna langsung membaringkan tubuh dan menutup matanya sejenak. Baru sehari dan ia sudah selelah ini. Rasanya ia ingin kabur dari tempat ini, tapi dengan keadaannya yang seperti ini pasti akan sulit.
Apa yang bisa di lakukan tubuh sekecil ini untuk bertahan hidup? Bisa saja Aruna kembali ke Panti Asuhannya yang dulu, tapi ia tak mau kembali merepotkan ibu panti dan membuat wanita itu cemas.
Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan sekarang adalah bertahan dan mengumpulkan uang untuk pergi jauh. Kemana saja tak masalah asal ia bisa lepas dari keluarga Adijaya.
Aruna berguling ke samping dan menekuk tubuhnya sendiri seperti janin, seolah melindungi tubuh kecilnya yang lemah dari semua rasa sakit. Ia takut, ia tak ingin mengalami penderitaan yang sama lagi. Ia ingin hidup tanpa menderita. Ia ingin bebas.
Tuhan, kali ini biarkan aku bahagia.