Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia—wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.
"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.
"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.
"Nyonya, Tuan tidak mau berceri!" -Ervan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10 ~ Kenapa Pergi
Hezlin tertegun sejenak, matanya sedikit melebar mendengar ajakan itu. Ia sama sekali tidak menyangka Kael akan mengajaknya ke acara setingkat itu. Apalagi selama menjadi istri Garra, pria itu pun tidak pernah sekalipun melibatkannya dalam acara-acara bisnis atau pertemuan para petinggi perusahaan.
"Tapi... apakah pantas aku ikut serta ke acara sebesar itu?" tanyanya ragu. "Aku kan masih karyawan biasa di sini, dan belum tentu aku bisa mengikuti pembicaraan di antara para pemilik perusahaan besar."
Kael menggeleng pelan, lalu bersandar santai di kursinya dengan tatapan tenang.
"Tidak perlu khawatir. Aku mengajakmu bukan karena status jabatan, tapi karena aku ingin kamu mulai mengenal lingkungan ini secara langsung. Di acara seperti itu, banyak hal yang tidak tertulis di berkas kerja sama, di situlah letak peluang dan informasi yang paling berharga. Lagipula, kehadiranmu hanya sebagai pendampingku, tidak ada beban khusus yang harus kau pikul."
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada yang lebih meyakinkan.
"Anggap saja ini bagian dari pembelajaran. Dan jujur saja, aku juga butuh teman bicara yang bisa dipercaya."
Hezlin menarik napas panjang, mempertimbangkan ajakan itu. Di satu sisi ia merasa ragu, tapi di sisi lain ia sadar ini kesempatan bagus untuk memperluas wawasannya, apalagi jika nanti ia harus benar-benar berdiri sendiri tanpa dukungan siapa pun.
"Baiklah," jawabnya akhirnya dengan senyum tipis. "Kalau kamu mengizinkan dan menganggapnya perlu, aku bersedia datang."
Mendengar jawaban itu, Kael tersenyum lebih lebar.
"Bagus. Aku akan kirimkan detail waktunya nanti. Persiapkan dirimu saja, tidak perlu gugup. Aku yakin kamu akan terbiasa nantinya."
Hezlin mengangguk mantap, lalu mengumpulkan sedikit sisa berkas di meja sebelum berpamitan.
"Baik, aku mengerti. Terima kasih atas kesempatan ini."
"Hem,"
Setelah pintu tertutup, Kael kembali menatap berkas di hadapannya dengan fokus.
••
••
Malam harinya, baru saja Hezlin melangkah masuk ke dalam apartemennya dan meletakkan tas di meja, ponsel di saku celananya berdering nyaring. Ia segera mengangkatnya, dan suara akrab di seberang sana terdengar jelas begitu saja.
"Hezlin! Bagaimana kabarmu?" sapa Rachel dari balik sambungan telepon.
"Baik Rachel.."
"Oh iya, bagaimana dengan pekerjaan barumu di sana? Apa kamu merasa nyaman?" tanya Rachel dengan nada antusias, seolah sudah tak sabar ingin mendengar kabar terbaru.
Hezlin tersenyum tipis, lalu duduk di tepi sofa sambil melepas sepatunya.
"Aku baik-baik saja, Rachel. Pekerjaannya juga berjalan lancar, jauh lebih baik dari yang aku bayangkan sebelumnya. Semua orang di sana ramah, dan tugas-tugasnya juga masih bisa aku ikuti," jawabnya dengan nada lega.
"Syukurlah kalau begitu! Aku sempat khawatir, takut kamu akan kesulitan atau merasa tidak nyaman di tempat baru," sahut Rachel. "Ngomong-ngomong, ada hal menarik yang terjadi atau kabar apa saja yang bisa kau ceritakan hari ini?"
Hezlin terdiam sejenak, lalu mengingat ajakan Kael tadi siang. Ia pikir tidak ada salahnya menceritakannya pada sahabatnya itu.
"Sebetulnya ada satu hal... Bosku mengajakku mendampinginya ke pesta pertemuan tahunan para pemilik dan petinggi perusahaan minggu depan. Awalnya aku ragu, tapi akhirnya aku menyetujuinya juga."
Di seberang telepon, suara Rachel terdengar lebih bersemangat lagi.
"Wah, itu kabar yang bagus sekali! Itu artinya dia mempercayaimu, bukan? Acara seperti itu biasanya hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu saja. Ini kesempatan bagus buatmu untuk mulai membangun jaringan sendiri."
Hezlin menghela napas pelan, setuju dengan ucapan sahabatnya itu.
"Iya, aku juga berpikir begitu. Tapi jujur saja, aku sedikit gugup. Karena aku belum pernah menghadiri acara formal seperti itu sebelumnya."
"Tenang saja," hibur Rachel lembut. "Kamu bisa melakukannya. Lagipula kamu tidak sendirian disana. Aku yakin kamu akan cepat menyesuaikan diri."
"Hmm.. Mungkin begitu,"
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah makan? Ada tempat baru yang enak, tidak jauh dari apartemenmu. Bagaimana kalau kita mencobanya?" tanya Rachel tiba-tiba.
Mendengar itu, wajah Hezlin kembali terlihat lebih cerah.
"Boleh juga. Aku belum sempat menyiapkan apa-apa di sini. Tunggu sebentar ya, aku mandi dan berganti pakaian dulu, nanti aku kabari lagi."
"Oke, aku tunggu. Sampai ketemu!"
Suara sambungan terputus. Hezlin meletakkan ponselnya di meja, lalu berdiri berjalan menuju kamar tidur. Namun belum sempat ia melangkah jauh, tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi nyaring.
Ting... tong...
Hezlin terdiam seketika, langkahnya terhenti. Alisnya berkerut bingung. Ia baru saja berbicara dengan Rachel, dan belum memberitahu siapa pun alamat tempat tinggal barunya ini. Siapa yang mungkin datang?
Dengan hati-hati, ia melangkah mendekati pintu, lalu langsung membukanya sedikit. Begitu wajah orang di luar terlihat jelas, matanya terbelalak lebar dan tubuhnya seolah membeku karena terkejut.
"Garra..." bisiknya pelan pada dirinya sendiri.
Namun itu tidak berlangsung lama. Ia segera melipat kedua tangannya di depan dada, berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Cepat sekali Ervan mencari tahu tempat tinggalku yang baru. Asisten pribadimu itu memang sangat hebat," sindir Hezlin dengan nada datar.
Namun Garra tidak menyahut sepatah kata pun. Ia hanya diam menatap lekat-lekat wajah wanita keras kepala yang berdiri di hadapannya itu.
"Kenapa kamu pergi?" tanya Garra lurus ke inti.
•
•
❤️