"Kakak, aku haus. Ambilin minum, dong!"
"Aku enggak sedih lagi, karena punya suami sebaik Kakak."
"Kakak udah maafin aku. Tapi Kakak enggak peluk aku."
Juan tak pernah mengira hidupnya akan berubah seperti ini.
Istri yang dulu bersikap dingin, tidak peduli, bahkan pernah meremehkannya karena kelumpuhannya, kini justru terus menempel di sisinya.
Sebuah kecelakaan telah merenggut sebagian ingatan Ailin.
Wanita itu melupakan tahun-tahun penuh kebencian di antara mereka. Melupakan luka yang pernah tercipta. Melupakan alasan mengapa ia begitu membenci suaminya.
Yang tersisa hanyalah Ailin dengan kepribadian ceria, banyak bicara, penuh perhatian, dan tanpa sadar terus membuat jantung Juan berdebar.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juan kembali memiliki harapan.
Namun harapan itu datang bersama ketakutan.
Karena cepat atau lambat, ingatan Ailin akan kembali.
Dan saat hari itu tiba...
Akankah wanita itu tetap memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joy Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 ~ Bukan Orang Asing Lagi
"Emang aku harus ingat apa?" Ailin bertanya sedikit panik. Keningnya berkerut, keduanya matanya bergerak tidak tenang.
"Kau kembali ke brankar dulu, ya! Nanti baru ku ceritakan." Lulu mendekatinya, dengan pelan ia menuntun Ailin. Meski panik, wanita itu akhirnya menurut, mengikuti langkah Lulu yang pelan.
"Kamu tahu alasannya?" tanya Ailin saat pantatnya baru menyentuh kasur. Tak sabaran sama sekali.
Lulu diam sejenak, wajahnya menunjukkan keengganan untuk berbicara. "Haish. Aku sebenarnya enggak enak untuk mengatakannya."
"Kenapa?"
"Kau pasti malu."
Ailin mengerutkan kening. "Malu kenapa? Katakan saja!"
"Baiklah kalau kau memaksa." Gadis itu mendekat, duduk di sebelah sang kakak ipar yang sudah penasaran setengah mati. Lalu berbisik dengan pelan seolah itu rahasia besar yang sama sekali tak boleh diungkapkan.
"Dulu kau itu cinta mati sama kakakku, sayangnya kakakku enggak suka dan akhirnya menolakmu. Karena patah hati kau menyayat perut bawah mu sendiri, lalu mengatakan enggak bisa punya anak lagi. Meminta kakakku untuk tanggung jawab." Lulu berkata dengan dramatis. Ia menggeleng pelan, menunjukkan wajah tidak habis pikir akan masa lalu itu.
Sementara itu Ailin menggeleng pelan, alisnya nyaris menyatu tidak percaya. "Hah? Enggak mungkin ah. Aku enggak segila itu."
"Huh, enggak percaya ya sudah, aku kan cuma cerita saja. Lagi pula kau juga sudah lupa. Tapi ada bagusnya kau lupa, kau jadi enggak perlu merasa malu lagi." Lulu melirik dari sudut matanya, melihat Ailin yang tengah berpikir keras.
"Kalau aku segila itu, masa kakakmu mau nikah sama aku?"
Lulu terdiam sejenak. Membuat Ailin memasang wajah curiga. "Tuh kan, kamu asal ngomong?"
"Nggak! Aku nggak asal ngomong. Kalau nggak percaya, coba kamu tanya kakakku!" Lulu menyangkal dengan cepat. Menunjukkan wajah meyakinkan agar Ailin percaya.
"Nggak, deh. Kalau beneran kan aku yang malu sendiri."
"Tapi... bentar!" Wanita itu lalu mengambil dokumen di atas nakas, membuka dan mengambil foto pernikahan yang ia temukan tadi.
"Kamu bilang aku cinta mati sama kak Juan. Tapi kenapa di sini wajahku seperti mau ke medan perang?"
Lulu yang melihat foto itu terdiam sejenak, sebelum kembali mendongak dan menatap wajah Ailin dengan tidak enak hati. "Ya itu karena kau sedang menahan sakit. Setelah sadar, kau langsung memaksa kakakku tanggung jawab."
Ailin mengedipkan mata beberapa kali. Memasang wajah antara percaya dan tidak percaya.
Melihat itu Lulu meraih tangannya yang memegang foto. "Aku tahu kau sulit untuk percaya. Tapi memang itu kenyataannya."
Ailin bergeming murung, sementara Lulu menoleh ke arah lain. Mengigit bibirnya yang ingin sekali tertawa keras.
"Enggak pernah terpikirkan. Ada hari di mana aku bisa mempermainkan wanita ini," batin gadis itu sembari menahan tawa.
Di saat yang sama, pintu ruangan terbuka, terlihat dokter masuk bersama seorang perawat. Sementara Juan mengikuti di belakang.
Pria itu mengernyit saat merasakan ada yang berbeda. Ia menatap sang adik yang langsung berdiri canggung, sementara Ailin dengan patuh membiarkan sang dokter memeriksa tangannya.
Juan kembali menatap sang adik, namun gadis itu malah menunjukkan wajah bingung. Seolah bertanya kenapa sang kakak menatapnya seperti itu.
Setelah dokter dan perawat pergi, Juan mendekati Ailin. Ia menatap wanita itu lama. "Kenapa?" tanya Ailin dengan wajah bingung.
Juan berdehem pelan. Seingatnya sebelum ia pergi tadi, Ailin tengah gaduh karena bekas operasinya. Namun saat ia kembali, wanita itu sangat tenang. Saking tenangnya malah terlihat aneh.
"Kamu enggak mau bertanya sesuatu?"
"Enggak." Ailin menjawab cepat, sangat cepat hingga Juan belum sempat mengatup bibirnya.
Pria itu kembali menoleh pada sang adik, curiga. Namun Lulu langsung menggeleng dengan cepat, kedua tangannya juga terangkat dan melambai. "Aku enggak mengatakan apa pun."
Setelahnya kondisi hening beberapa saat, Ailin pun jadi pendiam. Merasa situasi tidak sekundusif tadi, Lulu segera meraih tasnya. "Kak, aku masih ada kelas. Aku pergi dulu," ujarnya dan berlari keluar ruangan.
Ditinggal berdua dengan sang suami, Ailin semakin merasa canggung. Ia membaringkan tubuhnya, lalu memejamkan mata tanpa mengatakan apa pun lagi.
"Tanganmu masih sakit?" tanya Juan ingin memulai percakapan.
Ailin membuka mata, menatap Juan sebentar sembari menggeleng pelan.
"Enggak lagi, sekarang aku mau tidur sebentar," balasnya pada sang suami.
Meski masih merasa aneh, Juan akhirnya bergerak kembali ke meja dan melanjutkan pekerjaannya. Namun ia tidak tenang, sebentar-sebentar ia akan menoleh dan memastikan sang istri baik-baik saja.
"Dia ... apa ingatannya kembali?" gumam pria itu pelan. Mendadak hatinya merasa kecewa, ternyata kebahagiaan mereka hanya sesaat. Saat Ailin mengingat lagi, keadaan akan kembali seperti dulu. Ailin yang membencinya, dan keluarga yang jauh dari kata hangat.
...
Beberapa jam kemudian Ailin akhirnya bangun. Wanita itu bersyukur karena matanya ternyata bisa bekerjasama. Sekarang ia tidak begitu merasa canggung lagi.
Wanita itu menoleh pada Juan yang masih berkutat dengan dokumen dan laptopnya. Ia berdehem pelan, lalu tersenyum manis saat Juan menoleh. "Kak, aku haus."
"Oke." Juan langsung bergerak, tanpa sadar ia terlihat begitu bersemangat. Mungkin karena sang istri tidak sependiam tadi lagi.
"Minumlah!" pinta Juan sembari menyodorkan gelas minuman. Ailin mengangguk, menerima suapan air dari sang suami dengan kedua mata berseri-seri.
"Sudah, terima kasih, Ka...."
Ucapan Ailin tertahan di dalam mulut. Wanita itu menganga lebar ketika melihat Juan minum dari sedotan bekasnya.
"Kenapa?" tanya Juan setelah selesai minum malah mendapati sang istri yang menatap syok.
"I-itu. Bekasku...."
Juan menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum tipis namun hanya sekilas. Setelahnya pria itu kembali mendatarkan wajah dan dengan cuek berkata, "Kita bahkan pernah lebih jauh dari ini ...."
"STOP!" Ailin mengulurkan tangannya untuk menutup bibir sang suami. Wajahnya panik, namun tampak lucu di mata Juan
"Aku enggak mau dengar lagi! Enggak mau!" Wanita mengerutkan kening lalu menutup wajah dengan kedua tangan, malu bercampur kesal.
"Baiklah. Kalau begitu kita bicarakan hal lain saja. Kata dokter, masih ada beberapa pemeriksaan. Kalau hasilnya bagus, kamu sudah boleh pulang."
"Beneran?" Ailin menurunkan tangannya, menatap penuh semangat sang suami yang mengangguk.
"Bagus sekali. Kakak enggak tahu aku sudah hampir mati kebosanan di sini."
.
.
.