Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 28.
Pagi hari menyelimuti Romanov Medical Center dengan suasana yang jauh lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Namun ketenangan itu hanya tampak di permukaan.
Di lantai paling atas, ruang rapat keluarga Romanov dipenuhi para petinggi organisasi. Peta wilayah kota terpampang di layar besar, dipenuhi tanda merah yang menunjukkan lokasi penyerangan semalam.
Leon Romanov berdiri di depan meja panjang. "Sembilan belas orang kita gugur."
"Tiga gudang logistik rusak, dua jalur distribusi senjata terpaksa ditutup sementara." Antonio menyilangkan kedua lengannya.
Salah seorang komandan menambahkan, "Musuh datang dengan persiapan yang sangat matang. Mereka mengetahui rute konvoi dan waktu keberangkatan kita secara tepat."
"Itu berarti..." Antonio mengembuskan napas pelan. "...ada informasi yang bocor."
Tatapan semua orang langsung berubah tajam, Leon mengangguk pelan. "Mulai hari ini, seluruh akses informasi dibatasi. Semua jadwal pengiriman diubah setiap enam jam. Aku ingin mencari tahu siapa yang bermain di belakang layar."
"Bukan hanya kebocoran informasi." Velicia yang sejak tadi duduk diam akhirnya berbicara.
Semua mata tertuju padanya. "Serangan semalam, bukan untuk membunuh Ayah."
"Lalu?"
"Mereka mengincarku."
Antonio mengernyit. "Apa dasar pemikiranmu?"
"Mereka menggunakan sniper untuk menargetkanku lebih dulu. Setelah gagal, mereka mencoba menerobos mobilku. Itu bukan pola serangan untuk menghancurkan konvoi, tetapi untuk menangkap atau membunuh satu target."
Leon perlahan mengangguk. "Aku juga berpikir begitu."
Kalau benar target utama mereka adalah Velicia, berarti perang sudah memasuki babak baru.
Di ruang perawatan.
Lorenzo baru saja selesai diperiksa dokter.
"Peluru berhasil diangkat sepenuhnya, tapi luka di dada Anda cukup serius. Setidaknya dua minggu Anda tidak boleh bergerak berlebihan."
Lorenzo mengangkat sebelah alis. "Dua minggu?"
"Kalau Anda memaksakan diri, jahitannya bisa terbuka kembali."
Dokter belum selesai berbicara ketika pintu terbuka, Velicia masuk membawa termos kecil.
"Nona Romanov." Dokter langsung mengangguk hormat.
Velicia membalas anggukan itu.
"Bagaimana kondisinya?"
"Stabil."
"Terima kasih."
Setelah dokter keluar, ruangan kembali sunyi. Lorenzo memandang Velicia yang sedang menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk.
"Aku tidak menyangka."
Velicia tidak mengangkat kepala. "Menyangka apa?"
"Putri Romanov bisa memasak."
"Bukan aku yang memasak." Velicia tersenyum tipis.
"Lalu?"
"Aku hanya memastikan rasanya."
"Itu tetap mengejutkan."
Velicia mengembuskan napas kecil. "Kau terluka karena melindungiku, setidaknya izinkan aku melakukan hal sederhana."
"Kalau aku terus terluka..." Lorenzo menatap wanita itu lekat. "...apa kau akan terus datang menjagaku?"
Velicia akhirnya mengangkat kepala, tatapan mereka bertemu. "Lorenzo... jangan bercanda dengan nyawamu."
Nada suara Velicia terdengar tenang, namun justru karena itulah Lorenzo tahu... wanita itu benar-benar mengkhawatirkannya.
Sementara itu.
Markas Kensington.
Michael sedang memeriksa laporan penyerangan Romanov ketika Aaron masuk membawa sebuah map baru.
"Tuan."
"Ada apa?"
"Kita mendapat tamu."
"Siapa?"
Aaron tampak ragu. "Sania. Apa saya perlu mengusirnya?"
Michael langsung menghentikan pekerjaannya, ia menarik nafas dalam-dalam. "Suruh masuk."
Pintu terbuka perlahan, Sania melangkah masuk dengan pakaian sederhana. Wajahnya terlihat pucat, jauh berbeda dibanding wanita anggun yang dulu tinggal di Mansion Kensington.
Michael memandang wanita itu dengan ekspresi datar. "Apa maumu?"
"Aku... ingin bicara." Sania menggenggam tas kecil di tangannya.
"Kita sudah tidak punya urusan."
"Aku tahu." Sania menarik napas panjang. "Tapi kali ini berbeda."
Michael tetap diam.
"Aku datang bukan untuk meminta kembali."
"Lalu?"
Sania menatap pria itu. "Aku ingin memperingatkanmu."
"Tentang apa?" Tatapan Michael berubah tajam.
"Black Throne."
Nama itu langsung membuat seluruh ruangan menjadi sunyi, Sania melanjutkan dengan suara pelan. "Mereka sedang mengincarmu."
Michael tidak langsung menjawab, Ia hanya memandang wanita itu seolah sedang membaca pikirannya.
"Apa kau sekarang bekerja untuk mereka?"
Sania tampak terkejut. "Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena hanya orang dalam yang tahu rencana mereka."
Sania buru-buru menggeleng. "Aku dipaksa."
"Dipaksa?"
"Mereka mengancam akan membunuhku."
Michael tersenyum tipis. "Lucu sekali...“
"Maksudmu?"
"Dulu aku mungkin akan langsung mempercayaimu. Tapi sekarang..." Michael berdiri dari kursinya, wajahnya terlihat sangat dingin. "...aku sudah belajar dari kesalahanku, Sania."
Sania merasakan jantungnya berdegup lebih cepat, pria di depannya bukan lagi Michael yang mudah dipermainkan dengan air mata. Tatapannya jauh lebih dingin, jauh lebih hati-hati. "Michael, aku tidak berbohong padamu. Aku sungguh-sungguh dengan semua yang kukatakan."
Michael melangkah perlahan mendekati Velicia, langkahnya terhenti hanya ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa langkah. Tatapannya lurus menatap wanita yang pernah menjadi istri dari kakaknya itu, sementara rahangnya mengeras seolah sedang menahan begitu banyak penyesalan.
"Sania, aku memang pernah mencintaimu. Tapi cinta itu... sudah lama mati."
Kata-kata pria itu menghantam Sania lebih keras daripada tamparan.
"Aku menyakiti Velicia karena terlalu mempercayaimu." Michael melanjutkan tanpa mengubah ekspresi dinginnya. "Aku kehilangan keluargaku, karena kebohonganmu. Dan sekarang... kau datang lagi membawa cerita baru. Maka katakan padaku, kenapa aku harus percaya padamu lagi?"
Sania kehilangan jawaban, lalu air matanya berjatuhan.
Namun Michael sama sekali tidak tergerak.
"Aaron."
"Ya, Tuan."
"Antarkan dia keluar."
Sania buru-buru berkata, "Michael, dengarkan aku dulu. Kalau kau tidak segera bertindak, Black Throne akan menghancurkan Kensington!"
Michael berhenti melangkah, tanpa menoleh ke arah wanita itu ia berkata, "Kalau itu benar, aku akan menghadapinya. Kalau itu bohong, jangan pernah datang lagi menemuiku."
Sania hanya bisa menatap punggung pria itu, Ia sadar jika Michael memang masih menyesali tentang Velicia. Dan pria itu, memang tidak mencintai dirinya lagi.
Namun, misi organisasi Black Throne tetap harus berhasil. Apa pun risikonya, dia tidak boleh gagal. Karena hanya dengan menyelesaikan misi itu, ia memiliki kesempatan untuk membalas dendam kepada orang-orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Di luar markas Kensington, sebuah mobil hitam telah menunggu.
Joseph Bonanno duduk di kursi belakang. Begitu Sania masuk, pria itu tersenyum tipis.
"Bagaimana?"
"Dia berubah." Sania mengepalkan tangannya.
Joseph sama sekali tidak tampak terkejut.
"Dia tidak mempercayaiku lagi."
"Itu lebih menarik."
Sania menoleh. "Apa maksudmu?"
"Kalau Michael sudah tidak bisa dimanipulasi dengan cinta, berarti kita harus menghancurkannya dengan perang."
Mobil perlahan melaju meninggalkan markas Kensington. Tak satu pun dari mereka menyadari, sebuah motor hitam mengikuti dari kejauhan. Pengendaranya mengenakan helm penuh. Begitu mobil Joseph menghilang di tikungan, pria itu menekan tombol kecil di balik sarung tangannya.
"Target bergerak."
"Tetap ikuti, jangan sampai mereka sadar." Suara Antonio Romanov terdengar dari alat komunikasi.
"Baik." Pria itu menjawab singkat.
Motor kembali melaju, perburuan diam-diam pun dimulai.
Di balik permainan yang saling mengintai itu, tak seorang pun menyadari bahwa Ramon juga sedang mencari Sania. Dan kali ini, pria itu telah mengetahui satu rahasia yang akan mengubah segalanya—Sania telah menggugurkan anak mereka. Itu menjadi awal dari ledakan emosi yang akan menyeret semua pihak semakin dalam ke dalam perang tanpa jalan kembali.