"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Pintu ruang operasi terbuka. Dokter dengan jas putih yang sudah kusut keluar, menyerahkan masker wajahnya pada perawat yang berjalan di sampingnya. Wajahnya tampak lelah, matanya sayu, tapi ada garis tipis lega di sudut bibirnya.
Rangga yang sedari tadi mondar-mandir langsung berhenti. Kakinya terpaku di tempat.
"Dokter... bagaimana...?" tanya Rangga sembari menghamoiri Dokter Rizal.
Dokter Rizal menatap Rangga, lalu menghela napas panjang. "Pasien sudah stabil, Mas. Pendarahannya berhasil kami hentikan. Tapi..." Dokter Rizal berhenti sejenak."Maaf, janinnya tidak bisa kami selamatkan."
Rangga tidak bergeming sedikitpun, raut wajahnya tersirat penyesalan yang dalam..
"Sekarang kami akan pindahkan pasien ke ruang ICU untuk observasi ketat dulu," lanjut dokter. "Nanti kalau kondisinya sudah benar-benar aman, kami pindahkan lagi ke ruang perawatan obstetri. Saya sarankan keluarga tidak boleh panik. Pasien butuh ketenangan."
Dokter Rizal lalu berjalan pergi, meninggalkan Rangga yang masih membatu di tengah koridor.
Dari ujung lorong, Pak Soerya berlari mendekat. Ia baru saja tiba setelah menyetir hampir setengah jam dalam kegelapan malam.
Dokter itu hampir berpapasan dengannya.
"Permisi, Dok," Pak Soerya menghentikan langkah dokter. "Saya ayah dari pasien. Anak saya, Meysa. Bagaimana keadaannya?"
Dokter menoleh, lalu mengulang penjelasannya dengan sabar. "Pasien sudah stabil, Pak. Tapi janinnya tidak bisa selamat. Kami akan pindahkan ke ICU dulu untuk observasi."
"Janin?" Pak Soerya mengernyit, kepalanya terasa berputar. "Maksud Dokter... anak saya hamil?"
Dokter mengangguk. "Iya, Pak. Sepertinya pasien terkena benturan yang cukup keras di bagian perut, sehingga ia mengalami keguguran. Kondisi janinnya juga lemah karena kurang gizi."
Kata-kata itu seperti palu godam yang menghantam kepala Pak Soerya berulang kali. Kakinya lemas. Tubuhnya oleng. Hampir saja ia jatuh jika tidak segera bersandar ke dinding.
Setelah dokter pergi, Pak Soerya mendekati Rangga...
"Rangga," panggilnya."Kamu tahu Meysa hamil,? Jawab Ayah!"
"Iya, Ayah," bisik Rangga akhirnya. "Rangga tahu."
"LALU KENAPA KAMU DIAM SAJA? KENAPA KAMU TIDAK MEMBERITAHU AYAHMU?" Pak Soerya mengusap wajahnya, lalu meninggalkan Rangga yang masih berdiri dengan tatapan kosong. Langkah kaki pria paruh baya itu cepat, meninggalkan putranya yang tenggelam dalam kesunyian yang dingin.
Ruang ICU berada di ujung lorong, dijaga oleh pintu kaca tebal yang tembus pandang. Pak Soerya masuk setelah mendapat izin dari perawat jaga. Matanya langsung tertuju pada tempat tidur di pojok ruangan, tempat Meysa terbaring..
Sebelum Pak Soerya menarik kursi dan duduk, Meysa membuka matanya.
"Ayah..." panggilnya lirih. Suaranya serak, hampir tidak terdengar di antara bunyi monitor detak jantung yang berdetak teratur. Matanya sembab, merah di ujung-ujungnya, dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Ayah... maafkan Meysa. Meysa tidak bisa menjaga—"
Kalimatnya terputus. Ia tidak sanggup mengucapkan kata itu. Tangannya yang lemah meraba perutnya yang rata.
Pak Soerya menarik kursi dan duduk di samping Meysa. Tangannya menggenggam erat jari-jari mungil menantunya itu. "Ayah yang seharusnya minta maaf sama kamu, Nak. Maafkan Rangga. Maafkan anak Ayah yang belum bisa jadi suami yang baik buat kamu."
Meysa menggeleng pelan, tapi air matanya tidak berhenti mengalir. "Maaf, Ayah. Sepertinya kali ini Meysa tidak bisa memaafkan Rangga."
Pak Soerya terdiam.
"Karena dia... Meysa kehilangan calon bayi." Suara Meysa bergetar, pecah di setiap suku kata. "Dia yang membunuh anaknya sendiri..."
Pak Soerya mengepalkan tangannya, kepalan yang kuat, membuat urat-uratnya tampak menonjol. Wajahnya merah menahan amarah yang tidak pernah ia rasakan pada anak kandungnya sendiri.
"YA ALLAH, YA TUHANKU, APA YANG DIA LAKUKAN?" gumam pak Soerya
"Ayah akan bicara dengan suamimu," ucap Pak Soerya, perlahan ia berdiri, melepaskan genggaman tangannya dari Meysa....
"Ayah..." Meysa memanggilnya dari belakang, tapi Pak Soerya sudah melangkah keluar dan tidak mendengarnya..
*
Rangga masih berdiri di tempat yang sama sejak satu jam lalu. ia belum melakukan apa pun selain menatap lantai keramik putih yang dingin.
Pintu ICU terbuka. Rangga melihat Pak Soerya dengan tangan mengepal, rahang mengeras.
PLAK!
Pak Soerya berdiri di hadapan Rangga, ia menampar anaknya..
Rangga langsung menunduk. Tidak berani menatap ayahnya. Tangannya terangkat, menyentuh pipinya yang perih. "Ayah... Rangga tidak sengaja menendang Meysa, Yah. Rangga—"
"Ayah tahu selama ini kamu tidak pernah mau menikahi Meysa. Ayah juga tahu kamu benci dengan perjodohan ini. Tapi Ayah tidak pernah menyangka kamu bisa sejahat itu pada istrimu sendiri." Suara Pak Soerya terdengar rapuh."Dia mengandung anakmu, Rangga..."
"Ayah... Rangga minta maaf, Rangga tau, Rangga salah—"
"MAAF? KAMU PIKIR MAAF BISA MENGEMBALIKAN NYAWA MANUSIA?" Pak Soerya menatap putranya. "Ayah kecewa sama kamu, jika saja Ayah tahu dari awal kamu memperlakukan Meysa dengan seperti ini, Ayah tidak akan meminta gadis itu untuk merawatmu ketika kamu sedang berjuang melawan hidup dan matimu!!" Pak Soerya tidak tahu harus berbuat apa, dalam hatinya ia berd'oa agar Meysa selalu kuat menjalani kehidupannya setelah ini!
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey