NovelToon NovelToon
The Architecture Of Us

The Architecture Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 : Tamu Yang Tak Diundang Di Lobi Kantor

Sesuai janjinya, malam itu sekitar pukul 19.00 WIB, mobil SUV hitam Aeros sudah terparkir di area depan gedung firma hukum tempat Sael bekerja. Ia mematikan mesin mobilnya, duduk bersandar sembari melirik jam tangan digitalnya setiap beberapa menit.

Hingga sebuah getaran di ponselnya memecah keheningan. Sebuah pesan singkat dari Sael masuk.

[ 𝐏𝐞𝐬𝐚𝐧 𝐒𝐚𝐞𝐥 ]

𝘈𝘬𝘶 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘶 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯 𝘬𝘦 𝘭𝘰𝘣𝘪, 𝘒𝘢𝘬.

Aeros langsung menegakkan tubuhnya. Ia merapikan sedikit kerah kemejanya, menyunggingkan senyum tipis. Dengan langkah mantap, Aeros keluar dari mobil, berniat menyambut Sael langsung di depan lobi.

Namun, begitu Aeros melangkah mendekati pintu kaca lobi yang transparan, senyum di wajahnya lenyap seketika.

Di dalam lobi yang terang benderang itu, Sael tidak sendirian. Ia sedang berdiri berhadapan dengan seorang pria yang mengenakan setelan jas rapi tanpa dasi.

Arka, Laki-laki yang memberikan botol vitamin dan duduk berdua dengan Sael di rumah makan kemarin sore.

Aeros mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana, ia bisa melihat ekspresi Sael dengan jelas. Meski Sael memasang wajah tenangnya yang biasa, ia terlihat mendengarkan ucapan Arka dengan serius. Sementara Arka, pria itu menatap Sael dengan binar mata yang tidak bisa dibohongi—sorot mata penuh kekaguman yang sangat Aeros kenali, karena ia pun selalu menatap Sael dengan cara yang sama secara sembunyi-sembunyi.

"Ini berkas kasus untuk besok, Sael. Jangan begadang lagi buat bacanya, oke?" terdengar samar suara Arka saat pintu lobi otomatis sedikit terbuka.

Sael menerima map dari tangan Arka dan mengangguk pelan. "Iya, makasih."

Tepat setelah itu, Arka mengulurkan tangannya, berniat untuk menepuk bahu Sael dengan akrab.

Aeros melangkah maju dengan cepat, mendorong pintu kaca lobi dengan hentakan yang cukup kuat. Langkah kaki Aeros yang berat langsung menarik perhatian dua orang yang sedang mengobrol itu.

"Sael," panggil Aeros.

Sael menoleh, sedikit terkejut melihat Aeros yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya. "Eh, Kak Aeros? Udah sampai?"

Arka ikut menoleh, menatap Aeros dari atas ke bawah. Sudut bibir Arka terangkat tipis, menyadari ada ketegangan yang mendadak dibawa oleh pria asing di depannya ini.

"Mobil udah siap di depan. Ayo balik, Tante udah nungguin buat makan malam," ujar Aeros.

Sael mengerjapkan matanya, agak bingung, ia hanya mengangguk untuk merespon Aeros.

Sael beralih menatap Arka. "Arka, aku duluan ya."

Arka tidak langsung menjawab, ia menatap Aeros lurus-lurus, membaca keposesifan yang terpancar jelas dari cara berdiri Aeros di dekat Sael. Sebagai pria dewasa, Arka tahu persis apa arti tatapan dingin Aeros padanya.

Arka tersenyum tipis, lalu mengangguk ramah pada Sael. "Iya, Sael. Hati-hati di jalan. Sampai ketemu besok di kantor."

"Ayo," titah Aeros lagi, kali ini tangannya bergerak refleks menyentuh punggung Sael, membimbing gadis itu untuk berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.

Keheningan menyelimuti kabin mobil SUV hitam itu.

Sael, tidak menyadari perubahan pada diri Aeros dengan sifat cueknya ia sudah tenggelam dalam dunianya sendiri. Di bawah temaram lampu dasbor dan sorot lampu jalanan yang silih berganti menerangi wajahnya, Sael sibuk membaca dokumen di dalam map yang tadi diberikan oleh Arka.

Sesekali jemari lentiknya membalik halaman kertas dengan helaan napas pendek, matanya bergerak lincah memindai setiap kalimat. Baginya, urusan pekerjaan jauh lebih penting untuk dipikirkan daripada menebak-nebak isi kepala tetangganya yang super moody itu.

Sementara itu, Aeros mencengkeram kemudi mobil dengan sangat erat. Matanya memang menatap lurus ke jalanan di depan, namun seluruh fokus dan telinganya tersita oleh bunyi gesekan kertas yang dibalik oleh Sael.

Rasa cemburu yang membakar sejak di lobi tadi belum juga padam.

"Fokus banget," sindir Aeros akhirnya, memecah keheningan. "Dokumen dari cowok tadi sepenting itu sampai nggak bisa dibaca besok di kantor?"

Sael mendongak. "Ini berkas kasus buat sidang besok pagi, Kak. Kalau nggak aku pelajari malam ini, bisa berantakan di depan hakim."

"Nggak profesional," cibir Aeros ketus, melampiaskan kekesalannya. "Harusnya dia kasih berkas itu dari siang, bukan pas jam pulang kantor. Alasan aja dia, pengen ngobrol lebih lama sama kamu"

Mendengar tuduhan yang tidak berdasar itu, Sael akhirnya menutup map di pangkuannya dengan bunyi 𝘱𝘳𝘢𝘬 yang cukup keras.

Ia memutar tubuhnya menghadap Aeros, menyipitkan matanya dengan tatapan heran sekaligus jengkel.

"Kak Aeros kenapa sih? Dari tadi pagi nyebelin banget," tanya Sael langsung. "Arka itu rekan setim di firma. Dia baru beresin draf ini sore tadi makanya baru bisa dikasih sekarang. Nggak ada hubungannya sama sengaja cari alasan atau apa."

Mendengar Sael membela Arka dengan begitu gamblang, rahangnya mengeras. Mobil mendadak direm sedikit mendadak saat lampu merah di depan mereka menyala, membuat tubuh Sael agak maju tertahan oleh sabuk pengaman.

Aeros menoleh, menatap Sael lurus-lurus.

"Aku cuma nggak mau kamu dimanfaatkan, Sael. Cowok kayak dia... Aku tahu persis cara pandangnya ke kamu," desis Aeros.

Sael mengerjapkan matanya lambat. Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata.

"Cara pandang... gimana maksudmu, Kak?" tanya Sael pelan.

Aeros tidak langsung menjawab. Isyarat lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Pria itu mengalihkan pandangannya kembali ke jalanan, menginjak pedal gas, dan melajukan SUV hitamnya.

Aeros merutuki dirinya sendiri. Ia hampir saja melewati batas aman yang selama ini ia jaga mati-matian.

"Bukan apa-apa," sahut Aeros dingin,

"Aku cuma mau bilang, nggak semua laki-laki yang bersikap baik di kantor itu murni mau jadi rekan kerja."

Sael mendengus pelan, bersandar kembali ke jok mobil sambil melipat kedua tangannya di depan dada, "Aku tahu."

"Terserah," jawab Aeros singkat.

Begitu mobil berbelok memasuki halaman rumah Sael, Aeros mematikan mesin.

Sael melepas sabuk pengamannya, lalu meraih tas dan map kerjanya. Sebelum membuka pintu, ia menoleh ke arah Aeros yang masih menatap lurus ke depan kemudi.

"Makasih udah dijemput, Kak. Dan... soal yang tadi, nggak usah terlalu dipikirin. Arka cuma rekan kerja, dia orangnya baik kok." ucap Sael.

Aeros menoleh lambat, menatap wajah Sael. "Masuk sana. Tante udah nungguin."

Sael mengangguk sekali, lalu turun dari mobil. Begitu pintu mobil tertutup, Aeros menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi, memejamkan mata rapat-rapat.

𝘚𝘪𝘢𝘭𝘢𝘯, 𝘚𝘢𝘦𝘭. 𝘖𝘵𝘢𝘬 𝘬𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘨𝘪𝘭𝘢 𝘤𝘶𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘪𝘬𝘪𝘳𝘪𝘯 𝘵𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘤𝘰𝘸𝘰𝘬 𝘪𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘨𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘩𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪, batin Aeros frustrasi, memukul kemudi mobilnya pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!