NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

"Kenapa lu malah ketawa? Ada yang lucu?" tanya aku, bener-bener heran melihat reaksinya.

Astrid meredakan tawanya, lalu menggeleng pelan sambil menatap aku dengan mata yang lebih tenang. "Gak apa-apa, Ka. Cuma lucu aja lihat muka lu yang panik begitu. Gue tahu umur kita belum 20 tahun, dan gue tahu ini bakal berat banget. Tapi setelah Nyokap gak ada, gue belajar satu hal... hidup gak bakal nunggu kita siap buat jadi dewasa."

Aku hanya bisa terdiam mendengar jawabannya. Kami kembali melanjutkan obrolan panjang di dalam mobil di sepanjang perjalanan, membahas banyak hal acak untuk mengalihkan rasa tegang, sampai akhirnya mobilku berbelok dan berhenti tepat di depan pagar rumah sederhana milik Astrid.

...----------------...

Sesampainya di rumah Astrid, aku tidak langsung menyuruhnya turun. Kami berdua sempat mengobrol sebentar di dalam kabin mobil mengenai keputusan yang akan aku ambil selanjutnya untuk menghadapi masalah besar ini.

"Oke, udah sampe nih. Makasih ya, Ka, buat malem ini," ucap Astrid sambil memegang tas kainnya dan mulai bergerak membuka pintu mobil.

Saat Astrid sudah setengah jalan ingin keluar, aku refleks menahan gerakannya. "Tunggu sebentar Strid," ucap aku yang membuat Astrid terhenti dan kembali menoleh ke arahku.

Aku mencengkeram setir mobil dengan erat, mencoba menata kata-kata di dalam kepala aku. "Buat keputusan selanjutnya... tolong kasih gue waktu. Gue janji bakal selesain urusan gue dulu, abis itu gue bakal kasih kepastian ke lu. Gue janji Strid."

Astrid menatap aku selama beberapa detik, lalu dia mengukir senyuman tipis yang sangat maklum. "Yaa, gue paham kok. Gue juga awalnya butuh waktu sebulan buat bisa nerima kondisi gue yang sekarang. Tapi... tolong kasih kepastian ya Ka. Gue bakal terima setiap keputusan lu kok, apa pun itu."

Setelah mengucapkan itu, Astrid benar-benar turun dari mobilku dan berjalan pelan menuju halaman rumahnya. Sebelum membuka pintu rumah, dia sempat berbalik, lalu melambaikan tangannya kepada aku seolah olah mengatakan "hati-hati di jalan".

Dalam perjalanan pulang di keheningan malam Jakarta, pikiran aku pikiran ku bener bener kusut. Aku masih sangat kaget dan tidak menyangka dengan fakta yang baru terungkap sekarang. Di dalam mobil yang terasa sepi, aku memutar lagu 'Iris' milik Goo Goo Dolls lewat audio mobil, mendengarkan setiap liriknya Sambil membakar sebatang roko dan merenung memikirkan kesalahan kesalahan yang udah aku perbuat.

Aku juga mulai bertanya-tanya dalam hati aku sendiri, merasa sangat lelah dengan takdir. "Kenapa saat aku sudah mulai berubah menjadi lebih baik, malah ada banyak masalah yang bertambah?" pikir ku yang bener bener sudah merasa lelah.

...****************...

Hari Seninnya, aku masuk kampus seperti biasa. Semua rutinitas kuliah Teknik Informatika aku jalani dengan pikiran yang bercabang. Sorenya, saat jam pulang kampus, aku langsung bergegas menemui Liona di dekat fakultasnya. Tujuan aku cuma satu: membujuknya supaya tidak lagi ngambek gara-gara pembatalan janji hari Sabtu kemarin.

Awalnya Liona masih memasang wajah cuek dan membuang muka saat aku berdiri di depannya.

"Sayang, masih marah ya?" tanya ku pelan, mencoba meraih tasnya untuk membantunya membawakan, tapi dia langsung menjauhkan tas itu.

"Pikir aja sendiri. Kamu kan sibuk banget sama urusan internal keluarga kamu yang rahasia itu," sindir Liona ketus, melipat tangannya di dada sambil terus berjalan menuju gerbang kampus.

Aku mempercepat langkah untuk menyamai langkah kakinya. "Maaf banget, ya? Aku beneran gak ada niat buat ingkar janji. Gimana kalau sekarang aku tebus kesalahan aku? Aku traktir makan di tempat yang paling kamu pengen minggu ini. Gimana?"

Liona sempat menghentikan langkahnya, melirik ku dengan sebelah alis terangkat. "Beneran? Gak bakal tiba-tiba dibatalin lagi karena draf audit keuangan butik?"

"Gak bakal, Sayang. Janji deh. Apa sih yang enggak buat kamu?" rayu ku sambil tersenyum lebar.

Mendengar bujukan dan denger gombalan recehku, pertahanan Liona perlahan runtuh. Bibirnya yang tadinya mengerucut kesal kini mulai mengulum senyum tipis, walau dia masih gengsi. "Ya udah, tapi aku yang nentuin tempatnya ya! Gak mau tahu, harus tempat yang mewah!"

"Siap, Tuan Putri," jawab aku lega. Perasaannya akhirnya meluluh dan kami kembali mengobrol dengan nada manja seperti biasanya sepanjang jalan menuju mobil.

Aku pun membawanya pergi makan di sebuah restoran mewah pilihan Liona yang suasananya sangat elegan dan berkelas di pusat kota.

Begitu duduk dan melihat buku menu, Liona langsung berbinar-binar. Tanpa ragu, dia memesan makanan yang sangat banyak. Mulai dari hidangan pembuka, sup, steak wagyu, pasta, hingga beberapa menu penutup yang harganya selangit.

Tetapi setelah semua makanan itu datang dan ditata dengan rapi memenuhi meja, tidak ada satu piring pun yang habis dia makan. Liona hanya memakan satu atau dua suap dari setiap piring, lalu menggesernya begitu saja ke tengah meja dengan dahi tanpa beban.

Melihat pemandangan itu, memori aku mendadak berputar kembali ke malam kemarin lusa. Pikiranku langsung membandingkan dengan Astrid. Walaupun sama-sama aku yang bayar, tetapi Astrid memesan makanan yang sudah pasti dia habiskan sampai bersih tanpa sisa, dan harganya pun tidak terlalu mahal. Sedangkan Liona? Dia memesan makanan mahal dalam jumlah banyak, tetapi dicampakkan dan tidak dihabiskan begitu saja.

"Kok gak abis makannya, Sayang?" tanya aku sambil menaruh sendok, mencoba menahan kekesalan di dada.

"Yaa kan aku cuma mau nyicip aja, bukan makan sampai kenyang," balas Liona dengan wajah santai tanpa merasa bersalah sedikit pun sambil mengelap bibirnya dengan tisu.

"Yaa tapi abisin dong makanannya, Sayang. Tahu gitu, tadi pesennya jangan banyak-banyak kalau cuma buat dicicip," ucap ku yang mulai merasa kesal melihat makanan mahal itu terbuang sia-sia di depan mataku.

Liona langsung meletakkan garpunya, dahi cantiknya mengkerut terkejut dan matanya menatapku gak suka. "Hihh! Kan biasanya aku kalau makan juga begini, Arka. Dan kamu biasa aja tuh dari kemarin-kemarin, selalu nurutin aku. Kenapa sekarang kamu malah begini, sih? Kok malah di permasalahin?" tanya Liona balik protes dengan nada tidak terima.

"Yaa gak baik dong, Sayang. Pesen makan banyak, udah gitu mahal-mahal, tapi ujung-ujungnya gak abis dan dibuang-buang begitu," ucap ku, berusaha memberi pengertian sehalus mungkin agar tidak memicu keributan.

Liona malah mendengus, lalu menatap ku dengan pandangan meremehkan yang tipis. "Kamu... lagi kurang uang emang? Ya udah gak apa-apa, kalau kamu lagi seret, nanti biar aku aja yang bayarin semua makanan ini. Gak usah didebatin."

"Bukan masalah uangnya, Sayang!" ucap aku yang mulai tersinggung, namun kata-kataku langsung dipotong cepat oleh Liona.

"Terus masalah apa? Kamu kenapa sih kok tiba-tiba marah begini? Padahal harusnya di sini tuh aku yang marah gara-gara kemarin kita gak jadi main loh! Kenapa sekarang malah kamu yang sensian?" tanya Liona yang mulai meninggikan suaranya karena merasa dipojokkan dan disalahkan di tempat umum.

Aku memijat pelipisku yang mendadak terasa berdenyut, ngerasa energi aku habis menghadapi perdebatan ini. "Oke, oke, skip topik ini. Kita lanjut makan aja," balas ku yang merasa sangat cape dan memilih mengalah.

Jujur, sebelum bertemu Astrid malam itu, bersama Liona aku tidak pernah memikirkan hal-hal kecil seperti ini. Aku tidak pernah membanding-bandingkan Liona dengan siapa pun di dunia ini karena aku terlanjur menganggap sifat manjanya adalah hal yang biasa. Tetapi entah kenapa, pikiran ku jadi berubah aneh semenjak mendengar kabar kehamilan Astrid. Semua tindakan Liona malam ini mendadak kelihatan sangat egois dan kurang bersyukur di mata ku.

Aku dan Liona akhirnya kembali mengobrol dengan kaku sambil melanjutkan makan malam yang terasa hambar itu. Liona sibuk memainkan ponselnya sesekali, sementara aku menatap sisa-sisa makanan mahal di meja dengan kesal tersembunyi. Di tengah kecanggungan itu, aku mencoba membahas sesuatu yang terdengar sangat awkward dan mendalam untuk menguji hatinya.

"Sayang... seandainya tiba-tiba perusahaan Ayah aku bangkrut, terus aku mendadak jadi miskin dan gak punya apa-apa lagi... kamu masih mau nikah sama aku?" tanya ku, menatap matanya lekat-lekat.

Liona langsung tersedak minumannya kecil. Beliau meletakkan gelasnya dengan cepat. "What?! Kok tiba-tiba nanya gini, sih? Perasaan perusahaan keluarga kamu lagi baik-baik aja deh, gak ada masalah sama sekali," ucap Liona yang bener-bener terkejut mendengar pertanyaan random dari mulutku.

"Yaa gak apa-apa, cuma nanya aja. Pengen tahu isi hati kamu," ucap ku mencoba tersenyum santai menutupi kegelisahan.

Liona tampak berpikir sejenak, memutar bola matanya, lalu dia terkekeh pelan. "Hmm... kalau aku nih yaa... Walaupun aku tahu hal itu gak bakal pernah terjadi di hidup kamu karena keluarga Albian itu dapet draf sukses terus. Tapi, aku gak mau dinikahin sama kamu kalau kamu jadi miskin. Tapi tenang aja, aku bakal tetep nemenin kamu kok di samping kamu sampai kamu sukses lagi. Tapi... jangan lama-lama ya proses suksesnya, hehehe," ucap Liona sambil tertawa manja tanpa beban.

Deg.

Mendengar ucapan Liona barusan bener-bener membuat aku sangat terkejut. Hatiku mendadak terasa dingin, hampa, dan kosong seketika. Aku bener-bener tidak menyangka kalau akan keluar kata kata itu dari mulut wanita yang selama ini ku sayangi dan aku anggap tulus menerima diri ku apa adanya, bukan karena nama besar Albian di belakangku.

Aku hanya bisa tersenyum palsu menanggapi tawa manjanya, lalu menghabiskan waktu mengobrol sisa malam itu dengan pikiran yang makin kusut dan tak karuan. Dan malamnya, aku segera mengantar Liona pulang ke rumahnya tanpa banyak bicara lagi di sepanjang perjalanan, membiarkan keheningan mengambil alih isi kepala kami masing masing.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!