NovelToon NovelToon
Sekretaris Kaku VS CEO Random

Sekretaris Kaku VS CEO Random

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rara_R

Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.

​Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Kamar mandi tamu di kediaman Baskara berukuran hampir sama dengan luas seluruh kamar kos Kirana. Setelah membersihkan diri dan mengeringkan rambutnya yang lepek dengan hairdryer yang disediakan pelayan, Kirana menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai emas itu. Untung gaun marunnya tidak terkena noda, hanya sedikit lembap di bagian bawah.

Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian yang mulai menipis.

"Ini hanya makan malam" gumam Kirana. "Anggap saja ini rapat pemegang saham eksternal yang agak cerewet" lanjutnya.

Begitu keluar dari kamar tamu, Kirana mendapati Radit sudah menunggunya di lorong. Pria itu sudah berganti pakaian menggunakan kemeja kasual milik adiknya yang tertinggal di rumah ini. Rambutnya yang biasa ditata rapi menggunakan gel kini dibiarkan jatuh acak-acakan yang membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda dan sialnya, dia terlihat jauh lebih tampan.

"Lama sekali, Kirana. Aku hampir mengira kamu tersedot ke dalam lubang toilet" cerocos Radit begitu melihat Kirana.

"Saya hanya harus memastikan penampilan saya tidak memalukan, Pak... maksud saya, Radit" ucap Kirana memutar bola mata malas.

"Bagus. Kamu menyesuakan diri dengan cepat" ucap Radit tersenyum puas. Dia kemudian menekuk siku tangan kanannya, isyarat menyodorkan celah untuk Kirana. "Silakan, Pihak Kedua. Gandeng lengan Pihak Pertama dengan penuh perasaan" lanjutnya.

Kirana menatap lengan itu seolah-olah itu adalah ular kobra yang siap mematoknya kapan saja. Namun, demi profesionalitas kerja dan nominal bonus yang dijanjikan, dia menyelipkan jemarinya ke lengan Radit. Jantungnya berkhianat lagi, benda itu memberikan ketukan aneh yang dengan cepat-cepat dia abaikan.

Ruang makan keluarga Baskara didominasi oleh meja kayu jati panjang yang bisa menampung dua puluh orang. Namun malam ini, hanya ada tiga set piring yang tertata rapi di sana. Di ujung meja, Sofia Baskara sudah duduk dengan anggun sambil memegang secangkir teh hangat.

"Duduk-duduk" sapa Sofia begitu melihat keduanya masuk. "Jangan tegang begitu, Kirana. Anggap saja seperti rumah sendiri, meskipun rumah ini memang agak terlalu besar untuk dihuni sendiri" lanjutnya.

Mereka berdua duduk berdampingan di sisi kanan meja. Aroma sup ayam hangat langsung menusuk ke hidung, membuat perut Kirana yang belum sempat diisi sejak siang tadi berbunyi pelan. Beruntung, suara hujan di luar cukup keras untuk menyamarkan bunyi memalukan itu.

Pelayan mulai menyendokkan sup ke mangkuk mereka masing-masing. Begitu pelayan pergi, Sofia meletakkan cangkirnya. Detik itu juga, Kirana merasa atmosfer di ruangan itu berubah menjadi ruang sidang pengadilan.

"Jadi, Kirana" ucap Sofia memulai, matanya menyipit penuh selidik. "Radit bilang kalian sudah pacaran selama tiga bulan. Tapi anehnya selama tiga bulan ini dia sama sekali tidak pernah bercerita padaku. Biasanya, kalau Radit punya mainan baru eh maksud Ibu, pacar baru dia pasti langsung pamer" lanjutnya.

Radit hampir tersedak supnya sendiri mendengar ucapan sang ibu.

"Ibu, Kirana ini bukan sekadar pacar. Dia ini spesial. Makanya aku simpan rapat-rapat sampai hubungan kami benar-benar matang" ucap Radit.

"Oh, ya?" ucap Sofia sambil menopang dagu dengan kedua tangannya, matanya menatap Kirana. "Kalau begitu Kirana, coba ceritakan pada Ibu. Apa yang membuatmu tertarik pada anak bodohku ini? Setahu Ibu, kamu adalah sekretaris terbaik yang pernah dimiliki perusahaan setelah masa jabatan Sekretaris Rita selesai. Kamu pintar, disiplin, dan bersih dari skandal. Kenapa kamu mau sama cowok yang koleksi boneka karetnya lebih banyak daripada koleksi dasinya?" lanjutnya mencoba mengkorek cerita di balik berita mendadak itu.

Kirana langsung menelan ludah. Pertanyaan ini tidak ada di dalam lampiran simulasi tanya-jawab yang sempat dia bayangkan di dalam mobil. Dia melirik Radit, meminta bantuan lewat kode mata. Namun Radit justru asyik mengunyah daging ayam dengan wajah tanpa dosanya, seolah-olah dia ingin melihat bagaimana Kirana mengatasi situasi ini.

"Kurang ajar" batin Kirana berteriak.

Kirana meletakkan sendoknya dengan perlahan, membuat bunyi dentingan halus di atas porselen mahal itu. Lalu dia memaksakan senyum tulus sebaik mungkin, dia menatap Sofia langsung di matanya.

"Di tempat kerja, Radit maksud saya, Pak Radit memang terlihat... tidak biasa Ibu" ucap Kirana, dia memilih kata 'tidak biasa' sebagai pengganti dari kata 'gila'. "Dia sering membuat keputusan spontan yang membuat seluruh divisi pusing. Tapi, di balik semua kerandomannya itu, saya melihat sisi lain dari dirinya yang tidak dilihat orang lain" lanjutnya.

"Sisi lain seperti apa?" tanya Sofia menaikkan sebelah alisnya.

Kirana memutar otaknya dengan kecepatan penuh.

"Dia... dia adalah pria yang sangat peduli. Contohnya seperti tadi. Di tengah hujan badai, saat mobil kami mogok, dia tidak memikirkan dirinya sendiri atau jas mahalnya. Dia justru memastikan saya tetap kering dengan memberikan jas hujan, dan dia sendiri berjalan di sisi luar jalan untuk melindungi saya dari cipratan air. Bagian luar tubuhnya mungkin terlihat acuh tak acuh dan kekanak-kanakan, tapi hatinya sangat dewasa dan kompeten" ucap Kirana.

Mendengar kalimat panjang itu membuat Radit terpana. Dia menghentikan kunyahannya dan menatap Kirana dari samping. Sial, akting sekretarisnya ini terlalu sempurna. Mengapa kata-kata bohong itu terdengar sangat meyakinkan di telinganya? Bahkan Radit sendiri saja hampir percaya kalau dia adalah pria segentleman itu.

Sofia terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawaban Kirana. Perlahan, senyum kepuasan muncul di wajah wanita paruh baya itu.

"Jawaban yang bagus" ucap Sofia. "Kamu melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Itu artinya kamu benar-benar memperhatikannya, bukan cuma karena dia bosmu atau karena nama belakangnya adalah Baskara" lanjutnya.

Kirana menghela napas lega dalam hati. Satu poin untuknya. satu poin terlalu sedikit tidak sih?.

Namun, kepuasan Kirana tidak bertahan lama. Radit, dengan segala kebiasaan impulsifnya yang menyebalkan, tiba-tiba merasa perlu untuk menambahkan bumbu pada kebohongan mereka.

-Bukan cuma itu, Ibu" ucap Radit tiba-tiba sambil merangkul bahu Kirana dan menariknya mendekat. "Kirana ini bahkan sudah merencanakan masa depan bersamaku. Kemaren dia bilang, semisal kalau nanti kami menikah, dia mau punya anak kembar tiga supaya rumah kami ramai seperti pasar malam" lanjutnya dengan tersenyum lebar.

"Uhuk!"

Kali ini Kirana yang benar-benar tersedak air liurnya sendiri. Dia menatap Radit dengan mata membelalak lebar.

"Anak kembar tiga? Pasar malam? Di kontrak tidak ada pasal tentang program KB!" teriak Kirana dalam hati.

"Benarkah?" ucap Sofia. Matanya langsung berbinar-binar mendengar kata 'menikah' dan 'anak kembar'. Ini adalah topik favorit semua ibu-ibu di muka bumi. "Astaga, Kirana! Ibu sudah mendambakan cucu sejak lima tahun lalu! Kembar tiga? Ibu sangat setuju! Nanti kamar bayinya bisa kita renovasi di sayap rumah bagian barat" lanjutnya dengan ekspresi bahagia.

Kirana hanya bisa tersenyum kaku, sementara tangannya yang berada di bawah meja bergerak menuju ke paha Radit. Dengan prediksi yang luar biasa, Kirana mencubit paha Radit dengan sekuat tenaga dan memutarnya sembilan puluh derajat.

Radit langsung tersentak, wajahnya mendadak memerah menahan sakit yang luar biasa di pahanya. Namun, dia berusaha tetap tersenyum di depan ibunya. "A-ah, iya Ibu... Kirana memang sangat menyukai anak-anak. Benar kan, Sayang?" Radit meringis sambil menggertakkan giginya, mencoba melepaskan tangan Kirana yang mencubitnya seperti tang.

"Tentu saja, Sayang" ucap Kirana dengan suara yang manis namun penuh ancaman terselubung. "Tapi tentu saja, kita tidak boleh terburu-buru. Semua butuh proses yang... matang" lanjutnya.

Makan malam pun berlanjut dengan obrolan seputar masa kecil Radit yang memalukan yang sengaja dibongkar oleh ibunya sendiri sebagai bentuk balas dendam karena Radit jarang pulang. Kirana mendengarkan dengan saksama, sesekali dia juga mencatat dalam hati kelemahan-kelemahan bosnya itu yang bisa dia gunakan sebagai senjata pemeras di kemudian hari.

Sekitar jam sembilan malam, hujan akhirnya reda, menyisakan udara malam yang dingin yang menusuk tulang dan aroma tanah yang basah.

"Ibu, kami harus pamit pulang. Besok pagi-pagi sekali ada rapat dewan direksi" ucap Radit sambil berdiri.

Sofia ikut berdiri dan mengantar mereka sampai ke pintu depan. Sopir pribadi Radit ternyata sudah datang mengantarkan mobil cadangan yang tidak mogok.

Sebelum Kirana melangkah keluar, Sofia menahan lengan Kirana dengan lembut. Wanita tua itu menatap Kirana dengan tatapan yang sangat hangat, berbeda jauh dengan tatapan menyelidik di awal makan malam tadi.

"Kirana" ucap Sofia dengan nada yang cukup pelan agar tidak di dengar oleh Radit yang sedang berbicara dengan sopir di dekat mobil. "Terima kasih ya. Sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu, Radit selalu memakai topeng 'bos yang menyebalkan dan konyol' untuk menyembunyikan kesedihannya dan beban berat perusahaan. Tapi malam ini, Ibu melihat dia tertawa lepas lagi. Tolong jaga dia untuk ibu ya?" lanjutnya.

Mendengar itu Kirana terpaku, lidahnya mendadak kelu. Kalimat Sofia barusan menghantam lubuk hatinya yang paling dalam. Ada rasa bersalah yang teramat sangat yang tiba-tiba merayap di dadanya. Mereka sedang membohongi seorang ibu yang tulus berharap anaknya bahagia.

"I-iya, Ibu. Saya... saya akan berusaha melakukan yang terbaik" ucap Kirana lirih, sebuah kalimat yang terasa ambigu bahkan bagi dirinya sendiri. Apakah dia melakukan yang terbaik sebagai sekretaris kontrak, atau sebagai sesuatu yang lain?

Di perjalanan pulang, suasana hening di dalam mobil menyelimuti. Radit fokus menyetir, sementara Kirana menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu jalanan yang memantul di genangan air.

"Hei" panggil Radit memecah keheningan. "Pahaku sepertinya biru gara-gara cubitanmu tadi. Kamu punya dendam kesumat apa gimana sih? " lanjutnya.

"Anda pantas mendapatkannya. Dari mana ide konyol tentang anak kembar tiga dan pasar malam itu muncul? Itu benar-benar di luar kontrak, Radit" ucap Kirana tanpa menoleh.

"Ya maaf. Habisnya ibuku kelihatan bahagia sekali. Lagipula, rencanaku berhasil, kan? Dia benar-benar menyukaimu" ucap Radit terkekeh pelan.

Kirana menghela napas, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Radit. Wajahnya tidak lagi ketus, melainkan tampak serius dan sedikit lesu.

"Radit... Ibumu orang yang sangat baik. Beliau sangat menyayangimu. Apa kamu tidak merasa bersalah sudah membohonginya seperti ini?" ucap Kirana.

Pertanyaan Kirana membuat senyum di wajah Radit perlahan memudar. Pegangannya pada setir mobil sedikit mengerat. Keheningan kembali merayap di antara mereka, namun kali ini lebih pekat dari sebelumnya.

"Aku tau" ucap Radit pelan, suaranya terdengar berat dan lelah, sangat berbeda dari nada bicaranya yang biasa. "Tapi... Ini satu-satunya cara agar dia berhenti menjodoh-jodohkanku dengan anak-anak rekan bisnisnya yang hanya mengincar aset Baskara Group. Aku hanya ingin melindunginya dari kekecewaan yang lebih parah" lanjutnya dengan pandangan tetap lurus ke depan

"Dan untuk melakukan itu, aku butuh kamu, Kirana. Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan" tambah Radit dengan melirik sekilas Kirana.

Kirana menatap mata Radit yang terpantul di kaca spion tengah. Di sana, dia tidak melihat si CEO random yang menyebalkan. Tapi dia melihat seorang pria yang kesepian dan sedang memikul beban berat di pundaknya sendirian. Dan tanpa Kirana sadari, benteng pertahanan yang selama ini dia bangun kokoh di sekitar hatinya, mulai retak sedikit demi sedikit.

1
paijo londo
q salut sama keterusterangan Kirana tentang masa lalunya yg kelam tnpa kebohongan untuk mengatakan yg sebenarnya pada Radit itu yg membuat mereka kompak dan kerjasama mereka jadi sukses💪💪💪
paijo londo
🤔🤔q yakin pasti itu paman Radit yg pengen depak Radit dari posisi ceo
paijo londo
ternyata oh ternyata sifat random Radit menurun dari nyonya Sofia y🤭🤭
paijo londo
tuh kan Radit bos yg benar2 ajaib sifatnya🤭🤭🤭paling2 yang setress sekertarisnya karena hidupnya yg teratur jadi jungkir balik kenak mental karna Radit 🤣🤣
paijo londo
mampir thor biasanya kalo q baca novel lainnya yg bersifat ksku kayak kanebo kering tuhosnya ya🤔🤔laaa ini kebalik yg sifatnya ajaib tuh malah bosnya yg kyak kanebo kering sekertarisnya unik banget moga ceritanya seunik sifat bosnya y yang penuh keajaiban🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!