NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:924
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Hari ini, Disty kembali masuk sekolah lagi setelah kemarin sempat izin. Tanda kepemilikan yang Javeno tinggalkan juga sudah mulai pudar dan bisa ia tutupi dengan cushion juga.

Disty kembali belajar dan mendengarkan guru yang menerangkan di depan. Tapi gangguan Zaffar juga kembali ia terima.

"Kamu kemarin kenapa nggak sekolah? Aku udah bawain bekal sandwich lagi padahal," ujar Zaffar berbisik pelan.

"Hari ini juga bawa lagi," kata Zaffar meletakkan kotak bekal di hadapan Disty. "Kalau kamu udah sarapan, bisa makan ini untuk siang," lanjutnya.

Disty yang diam tanpa menanggapi, ia hanya fokus pada pelajaran yang sedang di terangkan, lalu menulis dengan tenang tanpa mau terusik dengan Zaffar yang terus berusaha mengajaknya bicara.

"Hari ini aja plis lo berhenti Zaf, yang kena akibatnya bukan lo, tapi gue," batin Disty menyuarakan apa yang ia inginkan. Yang tidak bisa di dengar oleh Zaffar.

Tapi seandainya Zaffar mendengar pun, pria itu juga pasti tidak akan berhenti begitu saja.

"Tapi kalau belum sarapan makan aja dulu Dis, aku bantu tutupin lagi pake buku biar nggak ketahuan. Kalau ketahuan aku yang bakal nyerahin diri buat gantiin hukuman kamu," kata Zaffar.

Sana gantiin hukuman dan serahin diri ke Javeno. Rasanya Disty ingin mengeluarkan suara seperti itu pada Zaffar. Tapi itu tidak akan mungkin ia lakukan.

"Disty," panggil Zaffar karena Disty bahkan tidak melirik kearahnya untuk sekedar menyuruh dia diam.

Kringg

Bel istirahat berbunyi, membuat guru dan murid keluar dari kelasnya.

Zayna berdiri dari tempatnya duduk dan menghampiri Disty yang sedang membereskan perbukuan nya.

Zaffar mendongak menatap Zayna. "Zaffar udah bilang kan, kalau Zayna nggak perlu ganggu Disty lagi," katanya sedikit menegaskan.

"Bukannya lo yang ganggu Disty ya? Nggak sadar diri?" tanya Zayna membuat Zaffar mengepalkan tangan dalam diam.

Zayna malah semakin berani padanya setelah kemarin.

"Disty risih sama Zayna," kata Zaffar mulai menajam.

Zayna berdecih sinis. "Tapi kalau di lihat, Disty malah lebih risih ke lo daripada ke gue nggak sih? Tapi lo nya aja yang nggak sadar diri," ucapnya berbicara fakta.

Zaffar tidak tahan, ia berdiri dan menatap Zayna dengan tajam.

"Apa? Lo ngerasa tersinggung?" Zayna seolah menantang Zaffar sekarang ini.

"Padahal yang gue bilang juga fakta," lanjut Zayna berani.

Zaffar tidak jadi bicara pada Zayna, ia menahan pergelangan tangan Disty yang ingin keluar meninggalkan kelas.

"Gue belum selesai bicara sama lo, Dis," kata Zaffar penuh penekanan.

Disty menatap Zaffar, lalu melepaskan tangan pemuda itu darinya dan tetap keluar dari kelas.

"Lihat. Kayaknya lo yang seharusnya jangan ganggu Disty. Jangan pura-pura polos plus ramah lagi di depan semua orang, karakter lo busuk!" cetus Zayna sebelum keluar kelas dan berlari mengejar Disty.

"Bangsat," umpat Zaffar pelan dan ikut keluar.

Disty berhenti, membuat Zayna ikut berhenti juga.

"Lo mau kemana?" tanya Zayna pelan.

Disty diam memberi tatapan tajam, seolah berbicara dari mata kalau Zayna jangan mengikuti dirinya lagi.

Zayna menghela napas. "Oke deh, gue ke kantin duluan. Jangan lupa makan ya," katanya tersenyum sebelum pergi.

Disty menatap kepergian Zayna sebentar, sebelum melanjutkan langkahnya menuju kelas XII IPA 2, di mana kelas Javeno berada.

Disty menyembulkan kepalanya, biasanya Javeno memang jarang keluar dari kelas. Pemuda itu lebih suka bermain game dan merokok sampai jam pelajaran mulai lagi. Atau bahkan Javeno duduk diam sendiri di rooftop.

Disty masuk ke dalam saat melihat Javeno yang duduk di bangku pojok. Bermain game dan merokok.

Javeno mematikan rokoknya saat menyadari Disty duduk di sebelahnya, mengipas tangannya agar asap cepat pergi. Tapi matanya tetap fokus di ponsel.

"Jav," panggil Disty pelan dan bersandar di lengan Javeno. Matanya ikut melihat game yang sedang Javeno mainkan.

"Hm," sahut Javeno tetap fokus pada game.

"Aku lapar, boleh makan di kantin?" tanya Disty meminta izin dengan hati-hati.

"Hm," dehem Javeno menjawab. Mengiyakan juga tanpa suara lebih.

Disty menegapkan tubuhnya dengan mata berbinar dan senyum merekah yang benar-benar tersenyum tanpa sebuah paksaan atau senyum yang sedang menutupi luka.

Sangat jarang Javeno memberi izin ini, di kantin terlalu ramai dan pasti banyak interaksi. Disty selalu di kelas atau di taman, ada siswa yang akan mengantar atas permintaan Javeno.

Disty menghilangkan senyum sejenak dan jantung nya berdebar.

"Dan kalau_ aku duduk sama Zayna, makan bareng sama interaksi lebih_ mungkin?"

Pertanyaan itu mampu membuat Javeno mengalihkan pandangan dari game, menatap Disty yang segera menunduk. Takut.

"Hm!"

Disty langsung menatap Javeno lagi dengan binar matanya yang kembali.

"Beneran?" tanyanya memastikan. Hatinya berbunga saat mendapat izin kecil itu.

"Iya," jawab Javeno mengelus kepala Disty. "Hanya Zayna 'kan?" tanyanya memastikan.

Disty dengan cepat mengangguk. "Iya," jawabnya.

"Sana," kata Javeno memberi izin.

"Makasih." Disty dengan cepat mencium pipi Javeno tanpa di minta, lalu ia dengan cepat berlari keluar dengan raut yang bahagia. Tidak bisa ia sembunyikan, membuat siswa/i yang melihat merasa heran.

Tumben Disty bisa seceria itu tanpa muka datar yang cuek?

Disty menormalkan wajah saat sudah di kantin, memesan bakso dan ia mencari Zayna yang melambaikan tangan sekarang.

Disty mendekat dan duduk, membuat Zayna juga bahagia.

"Gue juga pesan bakso nih," kata Zayna excited memperlihatkan bakso nya yang sudah selesai ia racik.

Disty mengangguk saja dan mulai meracik bakso nya sebelum nanti di makan.

"Gue mau tanya boleh nggak?" Zayna sangat hati-hati, takut Disty malah pergi dan tidak jadi makan bersamanya karena ia terlalu berisik.

Disty mengangguk lagi dan mengaduk bakso agar tercampur dengan saos, kecap dan sambal.

"Kemarin lo nggak masuk kenapa? Lo baik-baik aja kan? Atau lo sakit? Sorry, tapi gue cuma khawatir," kata Zayna tulus.

Disty diam, lalu menatap Zayna yang memperlihatkan gurat khawatir padanya.

"Dia.. khawatir sama gue?" batin Disty.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!