NovelToon NovelToon
Rekan Kerja, Mantan Pengantin

Rekan Kerja, Mantan Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: linda huang

Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.

Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.

Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.

Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.

Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab16

Damien menatap Evelyn beberapa saat setelah mendengar peringatan itu, tetapi wanita itu sama sekali tidak memberikan reaksi. Ia lalu berjalan keluar dari ruang interogasi. Damien melirik tahanan itu untuk terakhir kalinya sebelum ikut keluar.

Brak.

Pintu ruang interogasi tertutup.

Di ruang observasi, Kapten Wong, Wesley, A Fei, dan anggota Tim A lainnya langsung menoleh ke arah mereka.

"Apa dia mengatakan sesuatu lagi?" tanya Wesley.

"Aku tidak tahu apa maksud peringatannya, tapi dia jelas mengetahui lebih banyak tentang pelaku utama," jawab Evelyn sambil meletakkan map di atas meja.

Kapten Wong mengangguk pelan. "Setidaknya kita berhasil mendapatkan kemajuan setelah lima tahun."

"Orang itu sangat loyal pada dalangnya. Dia tidak akan mudah berbicara, tetapi reaksi dan ekspresinya sudah memberikan cukup banyak informasi," ujar Damien.

"Jadi menurutmu dia benar-benar anak buah pelaku?" tanya Wesley.

"Ya, dan kemungkinan bukan bawahan biasa," jawab Damien.

Suasana ruangan kembali serius.

Kapten Wong menatap ke arah ruang interogasi melalui kaca satu arah. "Perketat penjagaan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada tahanan itu."

"Baik, Kapten," jawab A Fei.

Semua orang kembali membahas hasil interogasi dan petunjuk yang mereka dapatkan hari itu.

Sementara di dalam ruang interogasi, pria yang diborgol itu masih duduk diam dengan kepala tertunduk.

Namun perlahan, senyum tipis muncul di sudut bibirnya.

Seolah semua yang terjadi masih berada dalam perhitungannya.

Dan kalimat yang ia ucapkan sebelum mereka pergi terus terngiang di benak Damien.

"Awasi dia baik-baik."

"Apa maksud dengan 'awasi dia baik-baik'?" gumam Damien sambil melirik ke arah Evelyn.

Wanita itu duduk di mejanya sambil membaca berkas kasus tanpa sedikit pun memedulikan tatapan Damien.

Seolah peringatan dari tahanan tadi tidak berarti apa-apa baginya.

"Detektif Shen, sesuatu terjadi," seru Joy yang baru saja masuk ke ruangan.

"Ada apa?" tanya Evelyn sambil mengangkat kepalanya dari berkas.

"Adikmu ditahan polisi karena berkelahi di klub malam," jawab Joy.

Ucapan itu langsung membuat suasana ruangan menjadi hening.

"Berkelahi?" Evelyn mengernyit. "Dia penakut. Mana mungkin bisa berkelahi?"

"Masalahnya karena seorang pria. Eve Shen melukai wanita yang ditemuinya di klub malam. Sekarang korbannya ingin menuntut."

Evelyn hanya mengangguk tipis.

"Lakukan sesuai prosedur. Tidak perlu perlakuan khusus."

Setelah mengatakan itu, ia kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.

"Evelyn, kau tidak berencana melihatnya?" tanya Kapten Wong.

"Tidak."

Jawabannya tegas dan dingin.

"Bagaimanapun dia tetap adikmu," ujar Andy.

Evelyn menutup map di tangannya lalu menatap Andy.

"Anak selingkuhan papaku mana mungkin layak menjadi adikku? Hanya mamaku yang terlalu baik hati sampai mau menerimanya di rumah."

Tidak ada yang berani menanggapi.

Semua orang tahu hubungan Evelyn dengan keluarga Shen tidak pernah baik.

Di sudut ruangan, Damien terdiam sambil menatap wanita itu.

Ingatan lama perlahan muncul kembali di benaknya.

"Sejak dulu Ronald Shen selalu memihak Eve. Apa pun yang terjadi, pria itu akan lebih dulu membela putri kesayangannya. Sementara Evelyn sering kali diabaikan."

Sementara itu, di kantor polisi sektor kota.

Eve Shen duduk di ruang tunggu dengan wajah pucat.

Tidak lagi terlihat sikap angkuhnya seperti biasanya.

Di hadapannya, seorang wanita muda duduk sambil memegangi pipinya yang masih memerah akibat tamparan dan dorongan yang dilakukan Eve di klub malam.

"Kami sudah menghubungi keluarga Nona Shen," ujar salah seorang polisi.

Tak lama kemudian, pintu kantor polisi terbuka.

Seorang pria paruh baya masuk dengan langkah cepat.

Ronald Shen.

Wajahnya tampak suram saat melihat putrinya berada di kantor polisi.

"Papa!" seru Eve sambil berdiri.

Ronald langsung menghampirinya.

"Apa yang terjadi?"

"Aku hanya bertengkar sedikit dengannya. Tapi dia sengaja membesar-besarkan masalah ini," keluh Eve sambil menunjuk wanita korban.

Korban itu langsung berdiri.

"Sedikit? Kau yang lebih dulu menyerangku!"

"Cukup!" bentak Ronald.

Ia kemudian menoleh kepada polisi yang bertugas.

"Petugas, saya ayahnya. Saya datang untuk menyelesaikan masalah ini."

Polisi itu mengangguk.

"Korban ingin mengajukan tuntutan. Namun jika kedua belah pihak mencapai kesepakatan, masalah ini bisa diselesaikan sesuai prosedur yang berlaku."

Ronald menghela napas panjang.

Lalu ia menatap putrinya dengan kesal.

"Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu untuk tidak membuat masalah."

Eve langsung menundukkan kepala.

Namun beberapa detik kemudian, Ronald kembali melunak.

"Baiklah, aku akan menjadi penjamin untuk sementara."

Mendengar itu, Eve langsung menghela napas lega. "Terima kasih, Papa."

"Detektif, aku ingin dia mengganti biaya pengobatan lukaku ini," kata wanita korban sambil menunjuk Eve.

"Benar. Tuan Shen, Anda harus bertanggung jawab atas kejadian ini. Jika tidak, korban berhak melanjutkan proses hukum terhadap putri Anda," ujar Joy.

"Baiklah, saya mengerti," jawab Ronald.

Setelah itu, Ronald melihat ke sekeliling ruangan.

"Di mana Evelyn? Bukankah seharusnya dia yang menyelesaikan masalah adiknya?"

Joy tersenyum canggung.

"Maaf, Tuan Shen. Detektif Shen sangat sibuk. Kadang bahkan waktu makannya saja tidak teratur."

"Dia kakak Eve. Seharusnya dia yang datang, bukan aku," ujar Ronald dengan tidak puas.

"Papa, Kak Evelyn pasti masih membenciku, jadi dia tidak mau membantuku," kata Eve dengan nada sedih.

"Nanti Papa akan memberinya pelajaran," ucap Ronald.

"Beri pelajaran pada siapa lagi, Tuan Shen?"

Suara dingin itu membuat semua orang menoleh.

Evelyn berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan di saku jaketnya.

Tatapannya tenang, tetapi dingin.

Ronald langsung mengernyit.

"Evelyn."

"Tuan Shen, walaupun aku tidak melakukan kesalahan, bukankah Anda selalu ingin memberiku pelajaran?" sindir Evelyn.

"Evelyn, kenapa kau tidak datang membantu adikmu?" tanya Ronald dengan tegas.

"Tuan Shen, Anda sudah lupa? Bukankah Anda yang mengatakan aku bukan putrimu lagi? Jadi dari mana datangnya adikku?" jawab Evelyn datar. "Lagipula kalau seseorang berbuat salah, dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. Aku tidak bisa membantunya."

"Kak Evelyn, aku tahu kau membenciku karena Papa lebih menyayangiku, tapi jangan selalu membuat Papa marah," ujar Eve dengan wajah sedih.

"Eve Shen, kalau kau suka bermanja dengannya, lanjutkan saja. Aku tidak membutuhkannya," jawab Evelyn.

..."Evelyn, apa kau sudah cukup?" bentak Ronald. "Adikmu terlibat perkelahian dan kau bahkan tidak bertanya apakah dia baik-baik saja. Sebaliknxa, kau malah menyalahkannya. Kenapa setelah sekian tahun sifatmu masih tidak berubah?"...

Evelyn tersenyum tipis.

Namun senyum itu tidak mencapai matanya.

"Tuan Shen, justru sifatku sudah banyak berubah."

Ronald mengernyit.

"Aku bisa menangkap penjahat, menghadapi pembunuh, dan tidak takut mati. Aku juga tidak pernah menyusahkan kalian lagi."

Tatapan Evelyn kemudian beralih ke arah Eve.

"Tidak seperti anak kesayanganmu yang hanya tahu hidup berfoya-foya dan membuat masalah."

"Evelyn!" bentak Ronald.

Namun Evelyn sama sekali tidak terpengaruh.

Ia menatap ayahnya dengan tenang.

"Kalau tidak ada hal lain, selesaikan saja urusan putrimu. Aku masih punya banyak pekerjaan."

Setelah mengatakan itu, Evelyn berbalik dan berjalan pergi.

"Tidak berguna, pantas saja kau ditinggalkan saat itu," gumam Ronald.

Evelyn yang mendengar ucapan ayahnya ia menghentikan langkahnya.

1
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
wow thor bacanya sambil tahan nafas
Kinara Widya
lanjut kak
Umi Kolifah
apakah Evelyn sebenarnya bukan anak Ronald tapi anak steve
lin sya
koq saling cinta tp saling bnci, tdk saling trbuka dan tdk saling prcya satu sama lain, tp diprtemukan lgi dlm satu krjaan, damien butuh extra keras kalo mau luluhin evelyn, ibaratnya kalo sudah trluka dan membekas akan sulit lgi prcaya
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
penasaran memang thor knp smpe Damien pergi disaat-saat peristiwa penting
Dian Fitriana
update
kitty ❤
lanjut Thor 🔥
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
lanjut
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
aq setuju sama Evelyn ngpn bantu eve
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
double update ya thor🫶
Rini Yusnani
rasa rasanya pingin kirim santet ke damian
Rini Yusnani
bertemu gundul mu itu👊
Rini Yusnani
sok peduli lu damian,ganti aja namamu jadi siluman jijik liat kamu dah buat evelyn sampai depresi😠
Dian Fitriana
update
Kinara Widya
lanjut
Anonim
Harus tunggu 2-3 hari baru up 1 bab dan ternyata pendek😃
🌸🍾⃝ sᴀͩᴋᷞᴜͧʀᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ⍣⃝🦉
masih penasaran thor kenapa Lu pergi disaat mau nikah
Kinara Widya
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!