NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Pergi Ke Pengasingan

Luvya tengah duduk tenang di sofa dekat jendela, matanya fokus menelusuri barisan kalimat di dalam buku sejarah dunia yang ia temukan di perpustakaan kecil kamarnya. Ia perlu memahami geografi tempat ini jika ingin melarikan diri nanti. Namun, ketenangannya pecah saat pintu kamarnya terbuka dengan kasar.

​Brak!

​Willy masuk dengan napas tersengal-sengal, wajahnya yang biasanya kuyu kini tampak berseri-seri penuh harapan. "Nona! Nona Luvya!"

​Luvya menurunkan bukunya, keningnya berkerut bingung. "Ada apa, Willy? Kenapa kau tergopoh-gopoh seperti itu?"

​"Tuan Duke... Tuan Duke baru saja memberi perintah!" Willy menyatukan kedua tangannya di depan dada, matanya berkaca-kaca karena bahagia. "Anda akan dikirim ke Akademi, Nona! Akademi pusat di ibu kota! Beliau ingin Anda mendapatkan pendidikan terbaik. Oh, syukurlah, akhirnya Tuan Duke melihat keberadaan Anda!"

​Tanpa menunggu jawaban Luvya, Willy langsung berlari ke arah lemari besar, mulai membongkar pakaian-pakaian tebal Luvya dengan semangat yang meluap-luap. "Kita harus menyiapkan pakaian hangat yang paling bagus. Anda harus terlihat cantik saat tiba di sana."

​Luvya terpaku di tempatnya. Ia menatap punggung Willy yang sibuk, lalu sebuah tawa renyah namun getir bergema di dalam batinnya.

​Akademi? batin Luvya sinis. Kebohongan yang sangat rapi, Duke. Kau benar-benar monster yang luar biasa.

​Luvya tahu persis di novelnya tidak ada cerita Luvya masuk Akademi. Duke Vounwad hanya ingin membuangnya ke Kuil Penitensi, sebuah tempat pengasingan berkedok kuil penebusan dosa yang mengerikan, di mana para "pendosa" dipaksa bekerja keras dalam kesunyian. Akademi hanyalah bumbu agar kepergiannya tidak dipertanyakan oleh para pelayan mansion.

​Luvya mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Butiran putih mulai jatuh dari langit yang kelabu, menutupi taman mansion dengan selimut es yang tipis.

​Salju? Luvya tersentak.

​Sebagai Lily yang berasal dari yang tidak turun salju, ia tidak pernah merasakan musim salju secara langsung. Rasa kagetnya berubah menjadi kekhawatiran. Ia segera bangkit dan mendekati jendela, menyentuh kaca yang terasa sedingin es.

​Sial, kenapa harus musim salju? pikirnya panik. Sedingin apa nanti jalanan yang harus kutempuh?

​Ia melirik ke arah kotak kecil yang tersembunyi di balik bantal sofanya. Sebuah kotak yang berisi perhiasan emas dan perak yang sudah ia kumpulkan diam-diam. Kalung permata misterius itu juga sudah ia amankan di dalam saku rahasia gaunnya.

​Namun, sebuah keraguan tiba-tiba melintas di pikirannya. Ia menatap telapak tangan kecilnya yang mungil dan ringkih.

​Aku hanya seorang anak kecil berusia dua belas tahun, kalau aku pergi ke toko gadai sendirian dengan perhiasan mahal ini, apakah mereka akan percaya? Ataukah aku justru akan dirampok dan dibunuh di gang gelap sebelum sempat sampai ke panti asuhan?

​Logika Lily yang berusia 20 tahun mulai berputar cepat. Dunia luar di musim salju jauh lebih kejam daripada yang ia bayangkan. Ia butuh rencana yang lebih matang daripada sekadar melarikan diri dengan modal nekat.

Luvya mengangguk pelan pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debaran jantung yang sedari tadi menggila. Logikanya sebagai wanita dewasa kembali bekerja.

​Benar, aku tidak perlu setakut itu, batinnya sambil memperhatikan Willy yang masih sibuk memilah gaun-gaun bulu. Dunia ini sangat gila hormat. Selama aku memakai baju mewah yang menunjukkan statusku sebagai bangsawan, orang-orang di toko gadai atau pasar gelap tidak akan berani macam-macam. Mereka akan mengira aku adalah rona muda yang sedang menjalankan tugas rahasia keluarganya atau sekadar anak bangsawan yang sedang memberontak.

​Status sebagai putri Duke Vounwad, meski ia dibenci di dalam rumah ini adalah perisai terkuatnya di luar sana. Tidak ada rakyat jelata atau pedagang licik yang mau berurusan dengan hukum karena menipu seorang bangsawan tinggi. Selama ia bisa menjaga dagunya tetap tegak dan bicaranya tetap angkuh, masalah identitas itu seharusnya selesai.

​"Nona, ini gaun beludru biru tua dengan kerah bulu rubah," Willy berseru sambil menunjukkan sebuah gaun yang tampak sangat hangat dan mahal. "Ini cocok untuk perjalanan jauh ke Akademi. Anda akan terlihat sangat anggun!"

​Luvya tersenyum tipis, kali ini senyumannya lebih bermakna taktis. "Pilihkan yang paling tebal dan paling mewah, Willy. Aku ingin meninggalkan kesan yang tak terlupakan saat aku pergi nanti."

​Kesan bahwa aku tidak akan pernah kembali ke neraka ini lagi, tambahnya dalam hati.

​Luvya kemudian kembali menatap kotak perhiasannya. Ia sudah memutuskan. Begitu kereta kuda yang seharusnya membawanya ke "Akademi" itu keluar dari gerbang wilayah Vounwad, ia harus segera mencari celah untuk menghilang. Di tengah badai salju yang mulai turun, jejak kakinya akan tertutup dengan cepat, dan ia akan memulai hidup baru sebagai orang biasa.

Namun, di tengah persiapannya, bayangan wajah Kael yang kaku mendadak melintas di pikirannya. Luvya terdiam sejenak.

​Kael baru saja berjanji padaku. Apakah dia akan sadar kalau aku dibohongi oleh Duke? Apakah dia akan mencariku saat tahu aku tidak pernah sampai ke Akademi?

​Luvya menggelengkan kepala cepat, mengusir pikiran itu. Ia tidak boleh goyah. Keselamatannya adalah prioritas utama sekarang.

......................

​"Sudah siap, Nona. Semuanya sudah dimasukkan ke dalam bagasi kereta," bisik Willy pelan. Suaranya terdengar serak, mungkin karena ia tidak tidur semalaman karena terlalu bersemangat sekaligus sedih akan berpisah dengan Luvya.

​Luvya melirik ke arah jendela. Langit masih berwarna biru gelap kehitaman, matahari bahkan belum menunjukkan tanda-tanda akan terbit. Salju yang turun semalam telah menumpuk, menciptakan kesunyian yang ganjil di seluruh area mansion.

​"Kenapa sepagi ini, Willy?" tanya Luvya, meskipun ia sudah tahu jawabannya.

​"Tuan Duke bilang perjalanan ke Akademi sangat jauh, Nona. Beliau ingin Anda sampai sebelum badai salju berikutnya datang," jawab Willy jujur tanpa curiga sedikit pun.

​Luvya menarik napas panjang, merapatkan jubah bulu biru tuanya. Di balik gaun mewahnya, ia bisa merasakan beban perhiasan yang ia jahit di lapisan dalam kain, serta kalung misterius yang kini tersembunyi di balik kerahnya.

​Pagi buta adalah waktu terbaik untuk membuang mayat atau menghilangkan jejak seseorang, batin Luvya sinis.

​Mereka berjalan menyusuri lorong mansion yang sepi. Tidak ada pelayan lain yang mengantar, hanya Willy dan dua orang pengawal bertubuh besar dengan wajah asing yang sudah menunggu di dekat kereta kuda. Luvya sempat menoleh ke arah sayap timur, arah arena militer.

​Apakah Kael sudah bangun? Apakah dia tahu aku pergi sekarang?

​Satu langkah, dua langkah, Luvya akhirnya menaiki tangga kereta kuda. Begitu pintu ditutup, Willy melambaikan tangannya dengan air mata yang mulai menetes. Kereta pun mulai bergerak, membelah keheningan pagi yang membeku.

​Di dalam kereta yang berguncang, Luvya duduk tegak. Matanya menatap keluar jendela, memperhatikan gerbang mansion Vounwad yang perlahan menjauh. Ia sudah merencanakan titik di mana ia akan berpura-pura sakit agar kereta berhenti, lalu melarikan diri ke dalam hutan pinus yang lebat.

​Kereta telah menempuh perjalanan sekitar satu jam, keluar dari wilayah utama kediaman Duke. Saat kereta melambat di sebuah tikungan yang tertutup salju tebal, Luvya merasa inilah saatnya.

​"Maaf, bisakah kalian berhenti sebentar? Perutku mendadak sangat sakit," ucap Luvya dengan suara yang dibuat selemah mungkin.

​Kereta berhenti dengan sentakan pelan. Namun, bukannya pintu dibuka oleh pengawal dengan sopan, pintu kereta justru ditarik paksa dari luar oleh salah satu pria berwajah dingin tadi.

​Luvya bersiap untuk melompat, namun gerakannya membeku. Pria itu tidak memberikan tangannya untuk membantu, melainkan langsung merangsek masuk dengan sebuah kain hitam di tangannya yang berbau tajam bahan kimia.

​"Maaf, Nona. Ini perintah langsung," ucap pria itu datar.

​"Apa—?!"

​Sebelum Luvya sempat berteriak atau melawan, tangan besar pria itu sudah membekap mulut dan hidungnya dengan kain tersebut. Luvya meronta, kakinya menendang-nendang kecil, namun tubuh anak kecilnya sama sekali bukan tandingan pria dewasa itu.

​Pandangannya mulai mengabur. Rasa kantuk yang sangat berat menyerangnya secara instan.

​Duke... kau benar-benar bajingan.

​Lalu, semuanya menjadi gelap. Keberangkatan menuju "Akademi" itu secara resmi berubah menjadi perjalanan menuju neraka yang bernama Kuil Penitensi.

...****************...

Di ruang kerja Duke yang megah, aroma cerutu mahal menyerbak di antara keheningan. Gogrid berdiri tegak di depan meja besar, memberikan laporan dengan suara rendah.

​"Tugas selesai, Yang Mulia. Gadis itu sudah dalam perjalanan menuju Kuil Penitensi dengan penjagaan ketat. Tidak ada hambatan."

​Duke Vounwad mengembuskan asap cerutunya ke udara, sebuah senyuman tipis yang mengerikan muncul di wajahnya. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kebesarannya, merasa seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.

​"Bagus," ucap Duke dingin. "Sekarang, pastikan informasi ini terkubur sedalam mungkin. Jangan biarkan satu kata pun bocor ke telinga pelayan mansion atau pihak luar."

​Gogrid mengangguk patuh. "Lalu, apa yang harus kita katakan jika ada yang bertanya tentang kepergiannya ke Akademi?"

​Duke mengetukkan jemarinya di atas meja kayu ek. "Kabarkan pada semua orang bahwa kereta kuda yang membawanya diserang oleh kawanan binatang buas di tengah badai salju. Katakan bahwa anak haram itu telah tewas tercabik-cabik, dan para pengawal yang bersamanya juga gugur dalam tugas."

​Gogrid terdiam sejenak. "Kita akan kehilangan satu unit kereta kuda mewah untuk sandiwara ini, Yang Mulia."

​Duke tertawa pendek, tawa yang kering tanpa perasaan. "Hanya satu kereta kuda? Itu harga yang sangat murah untuk menyingkirkan noda di keluarga Vounwad selamanya. Hancurkan keretanya, bunuh kuda-kudanya, dan buat TKP itu terlihat senyata mungkin. Aku ingin semua orang percaya bahwa Luvya Vounwad sudah tidak ada lagi di dunia ini."

​Ia menatap ke luar jendela, ke arah jalanan yang tertutup salju tebal.

​"Biarkan dia membusuk di Kuil Penitensi sebagai pendosa tanpa nama. Dari detik ini, dia bukan lagi putriku."

Siang itu, salju turun semakin lebat, seolah-olah langit ikut berduka atas apa yang baru saja terjadi. Seluruh pelayan mansion dikumpulkan di aula tengah. Gogrid berdiri di depan mereka dengan wajah kaku, membacakan pengumuman yang baru saja diperintahkan oleh Duke.

​"Dengan berat hati, kami sampaikan bahwa kereta yang membawa Nona Luvya menuju Akademi telah diserang oleh kawanan binatang buas di pegunungan es. Tidak ada yang selamat dalam tragedi itu. Nona Luvya... dinyatakan telah tewas."

​Hening sejenak, sebelum akhirnya suara tangisan pecah memenuhi ruangan.

​"TIDAK! ITU TIDAK MUNGKIN!" Willy jatuh terduduk ke lantai. Ia meraung histeris, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Gaun yang tadi pagi ia siapkan dengan penuh harapan kini hanya menjadi kain penuh duka. "Nona... Nona kecilku yang malang! Harusnya aku tidak membiarkannya pergi sepagi itu! Harusnya aku ikut!"

​Willy terus meratap, memanggil-manggil nama Luvya dengan pilu. Para pelayan lain mencoba menenangkannya, meski wajah mereka pun tampak pucat ketakutan.

​Namun, di sudut aula yang remang, Kael berdiri tegak seperti patung es. Ia adalah satu-satunya orang yang sama sekali tidak mengeluarkan suara. Tidak ada air mata, tidak ada raungan, bahkan napasnya pun terdengar sangat teratur.

​Wajahnya datar, hampir menyerupai mayat. Matanya yang biru tua menatap lurus ke arah pintu ruang kerja Duke di lantai atas, pintu kayu besar yang tertutup rapat, di mana ia tahu monster yang sebenarnya sedang bersembunyi di balik kematian palsu ini.

1
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!