Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Pembunuhan Pertama
Luvya hanya bisa terbaring kaku, matanya sedikit terbuka melihat bayangan si Bapak di balik remang cahaya lilin. Suara gesekan kain terdengar, disusul suara ikat pinggang yang dilepas paksa. Luvya merasakan mual yang luar biasa hebat saat melihat pria itu melepaskan pakaian bawahnya.
Di sana, di tengah kegelapan yang busuk itu, si Bapak menunjukkan niat kejinya yang paling murni. Sesuatu yang menegang sempurna itu tampak seperti monster yang siap menerkam Luvya yang tak berdaya.
Luvya mencoba menggerakkan lidahnya, mencoba mengeluarkan suara atau setidaknya menggigit bibirnya sendiri agar rasa sakit fisik bisa mengalahkan efek obat bius, namun rahangnya masih terasa seperti terkunci besi.
Pria itu kembali mendekat, merangkak di atas ranjang kayu yang berderit, lalu mencondongkan wajahnya yang penuh keringat ke arah telinga Luvya.
"Cobalah jadi anak pintar seperti yang lain," bisik si Bapak, suaranya kini terdengar seperti desisan ular yang lapar. "Kita bisa gunakan mulut manismu itu untuk memuaskanku. Jangan melawan, Luvya atau pelajaran ini akan jadi jauh lebih menyakitkan."
Luvya bisa merasakan napas panas pria itu menyentuh kulit wajahnya. Jiwa Lily di dalam dirinya menjerit, mengutuk setiap inci keberadaan pria ini. Ia merasa sangat terhina. Tubuh remaja yang baru saja menyadari kedewasaannya ini kini malah dipandang sebagai objek pemuas nafsu oleh orang yang seharusnya menjaganya.
Tidak... jangan di sini... jangan sekarang...
Luvya mengumpulkan seluruh kemarahan yang ia miliki. Ia memfokuskan sisa mana yang tercecer di perutnya yang mulas, mencoba menyalurkannya ke arah ujung jarinya atau giginya. Ia tahu, kalau dia tidak melakukan sesuatu dalam hitungan detik, ia akan kehilangan harga dirinya di tangan iblis berbaju pemuka agama ini.
Di saat si Bapak mulai menarik rambut Luvya untuk memaksa wajahnya menghadap ke arahnya, Luvya merasakan sebuah sentakan energi dingin mulai merayap di sumsum tulang belakangnya.
Itu bukan mana miliknya, bukan juga kekuatan Zargous yang biasa ia rasakan. Sesuatu yang jauh lebih purba dan gelap seolah merasuki otot-ototnya yang lumpuh, mengambil alih kendali raga remajanya dalam sekejap.
Tepat saat si Bapak hendak melakukan tindakan kejinya, tubuh Luvya bergerak sendiri dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagi seorang anak kecil.
SRET!
Luvya melompat dari ranjang, gerakannya luwes seperti kucing pemangsa. Sebelum si Bapak sempat menyadari apa yang terjadi, Luvya sudah menyambar pisau buah perak yang tergeletak di atas meja kerja di sudut ruangan.
"Apa—?! Bagaimana bisa—"
Kalimat si Bapak terputus. Luvya menerjang tanpa suara. Tatapan matanya kosong, namun tangannya bergerak dengan presisi yang mematikan.
JLEB! JLEB! JLEB!
Luvya menusukkan pisau itu tepat ke jantung si Bapak. Berkali-kali. Ia tidak bisa berhenti. Darah hangat menyembur, membasahi wajah pucat Luvya dan mewarnai baju tidur putihnya yang tadinya bersih menjadi merah pekat yang mengerikan. Suara rintihan si Bapak perlahan meredup, digantikan oleh suara genangan darah yang tumpah ke lantai batu.
Luvya terengah-engah, tangannya yang menggenggam pisau masih gemetar hebat. Ia menatap mayat pria di bawahnya dengan ngeri. Ia tidak tahu siapa atau apa yang baru saja menggerakkan tubuhnya, tapi kekuatan itu terasa asing sekaligus haus darah.
"Kabur, Luvya... Pergi sekarang!"
Sebuah bisikan halus namun mendesak bergema di dalam kepalanya. Suara itu bukan suara Lily, bukan pula suara Luvya yang asli. Itu suara lain yang sangat kuat.
Seketika, kesadaran Luvya kembali pulih sepenuhnya. Efek obat bius itu lenyap, digantikan oleh adrenalin yang memuncak. Ia tersadar melihat kondisinya yang bersimbah darah. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Luvya bergegas keluar dari ruangan itu melalui bayang-bayang koridor.
Ia berlari kembali ke kamarnya, jantungnya berdegup seirama dengan langkah kakinya. Di dalam kamar, dengan gerakan panik namun teratur, ia membongkar tempat persembunyiannya.
Luvya tidak memedulikan baju tidurnya yang merah karena darah. Ia hanya tahu satu hal. Malam ini adalah malam kebebasannya, atau malam kematiannya. Dengan tas yang tersampir di bahu, Luvya menatap pintu kamarnya untuk terakhir kali, bersiap untuk menghilang ke dalam kegelapan hutan dan memulai hidup sebagai buronan yang mematikan.
Luvya berlari menembus kegelapan lorong kuil, mengabaikan denyut di perutnya dan bau amis darah yang melekat kuat di baju tidurnya. Ia menuju gudang tua yang terpencil, tempat pintu rahasia menuju bawah tanah berada.
Begitu pintu berat itu tertutup di belakangnya, kegelapan total menyambut. Namun, Luvya tidak ragu sedikit pun. Selama setahun terakhir, ia telah melewati jalan ini berkali-kali dalam ingatannya, setiap lekukan dinding batu, setiap tangga yang licin karena lumut, dan setiap celah sempit telah ia hafal di luar kepala.
Ia berjalan tanpa lampu, jemarinya hanya sesekali menyentuh dinding untuk memastikan arah. Dalam kegelapan itu, Luvya merasa lebih aman daripada di bawah cahaya lampu kuil yang penuh kepalsuan. Suara langkah kakinya bergema pelan, menemaninya menelusuri terowongan panjang yang seolah tak berujung.
Setelah waktu yang terasa sangat lama, ia mulai mencium bau tanah lembap dan udara hutan yang segar. Sebuah titik cahaya samar muncul di kejauhan. Luvya mempercepat langkahnya hingga akhirnya ia mendorong pintu kayu kecil yang tersembunyi.
Krieeet
Luvya keluar dari gubuk tua di tengah hutan, tempat yang sama yang ia lewati bersama Desmond setahun lalu. Ia tidak berhenti untuk beristirahat. Dengan tas berisi emas dan dokumen yang ia peluk erat di dadanya, ia mulai membelah rimbunnya pepohonan.
Hutan musim gugur itu terasa sunyi dan mencekam. Daun-daun kering berderik di bawah kakinya yang terus melangkah. Luvya terus berjalan, menjauh dari kuil, menjauh dari mayat si Bapak, dan menjauh dari masa lalunya yang kelam.
Perlahan, warna langit mulai berubah dari hitam pekat menjadi biru tua yang dingin. Cahaya fajar mulai mengintip di antara celah dahan pohon, menyinari baju tidur putih Luvya yang kini dipenuhi bercak merah yang mengering, sebuah tanda permanen bahwa masa mudanya telah dibaptis dengan darah.
Luvya berhenti sejenak di sebuah aliran sungai kecil. Ia menatap pantulan dirinya di air yang jernih saat matahari mulai terbit. Wajahnya yang berusia empat belas tahun tampak jauh lebih tua dari usianya.
Luvya berlutut di tepi sungai, tangannya yang gemetar mengambil air dingin untuk membasuh wajah dan lehernya. Ia menggosok baju tidur putihnya dengan kasar, membiarkan aliran sungai membawa pergi sisa-sisa darah si Bapak yang mulai mengering. Ia terus mencuci hingga kain itu hanya menyisakan warna pucat yang basah kuyup, meski noda haid di bagian bawahnya masih tersisa, pengingat alami bahwa tubuhnya kini benar-benar telah berubah.
Setelah merasa cukup bersih, Luvya berdiri dengan napas yang masih belum teratur. Pikirannya kalut.
"Kenapa..." gumamnya lirih. "Kenapa semalam aku bisa sekejam itu?"
Ia mencoba mengingat gerakan tangannya saat menusuk jantung pria itu berkali-kali. Rasanya seperti menonton film, dia ada di sana, tapi bukan dia yang memegang kendali. Kekuatan asing itu memberinya kekuatan, tapi juga meninggalkan rasa hampa yang mengerikan. Namun, Luvya segera menggeleng kuat-kuat. Tidak ada waktu untuk menyesal.
"Persetan dengan alur aslinya," desis Luvya tajam. "Kalau aku tidak membunuhnya, akulah yang akan hancur malam ini."
Luvya yakin, saat matahari sudah benar-benar naik nanti, Kuil Penitensi akan gempar. Desmond dan para petinggi sekte pasti akan mengadakan rapat darurat begitu menemukan mayat si Bapak yang bersimbah darah. Mereka akan mencarinya. Mereka akan memburu "Berkat" mereka yang hilang.
Tanpa alas kaki, Luvya mulai melangkah keluar dari rimbunnya hutan. Setiap kali kakinya yang halus menginjak kerikil tajam atau ranting patah, ia hanya meringis kecil, menahan sakit yang tak seberapa dibanding rasa mulas di perutnya.
Baju tidurnya yang tipis melekat dingin di kulitnya yang basah, membuatnya menggigil saat angin fajar menerpa. Dengan rambut pirang pucat yang kusut dan tas berisi emas yang ia dekap erat, Luvya berjalan tertatih menuju desa terdekat yang mulai terlihat di kejauhan.
Ia tampak seperti anak yatim piatu yang malang atau korban kecelakaan, namun di dalam tasnya, ia membawa dokumen yang bisa meruntuhkan sebuah kekaisaran.
Aku butuh pakaian baru. Aku butuh sepatu. Dan aku butuh tempat untuk bersembunyi sebelum mereka menyisir jalanan ini, batin Luvya sambil menatap asap dari cerobong asap rumah-rumah desa di depannya.