Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Letusan energi spiritual
Setelah keluar dari ruang dimensi, Reina semakin menyadari bahwa dunia ini menyimpan terlalu banyak rahasia.
Langit pagi mulai terang. Badai salju masih turun, meski tidak sedahsyat semalam.
Tanpa membuang waktu, Reina segera bersiap dan pergi menuju bandara untuk terbang ke Utara. “Sarah juga pasti pergi ke sana… Tapi di mana dia?”
Reina mencoba mencari keberadaan Sarah dan Dio di bandara.Namun sampai pesawat lepas landas ia tetap tidak menemukan mereka.
Reina menatap keluar jendela pesawat. Hamparan salju putih menutupi hampir seluruh kota. Dunia terasa asing. “…Aku masih bingung. Apa Sarah juga terlahir kembali seperti diriku? Kalau tidak… bagaimana dia bisa mengetahui energi spiritual, kiamat, bahkan liontin merah?”
Semakin dipikirkan semuanya terasa semakin aneh. Dan tiba-tiba Reina teringat sesuatu sebelum kematiannya di kehidupan sebelumnya.
Saat itu dunia telah berubah menjadi neraka. Monster dan siluman berkeliaran di mana-mana. Di tengah hutan belantara, Reina, Dio, dan Sarah membangun sebuah kamp kecil untuk beristirahat setelah berburu monster.
Inti kehidupan monster sangat berharga bagi para kultivator. Karena energi di dalamnya dapat memperkuat tubuh.
Namun malam itu ternyata adalah malam pengkhianatan. Sebelum tidur, Dio diam-diam memberikan air yang telah dicampur racun kepada Reina. Racun itu menahan aliran energi meridian di tubuhnya. Membuat kekuatan Reina melemah drastis. Sementara itu Sarah sengaja memancing monster menuju area kamp.
Monster tingkat rendah memang mudah dibunuh bagi Dio dan Sarah. Namun tidak bagi Reina yang tubuhnya telah diracuni.
Reina bertarung mati-matian sendirian. Luka demi luka memenuhi tubuhnya. Sedangkan Dio dan Sarah hanya menonton dari atas pohon sambil tertawa.
Tak peduli seberapa keras Reina meminta pertolongan mereka tetap diam. Sampai akhirnya Reina tumbang bersimbah darah. Dan tepat saat monster hendak memakannya Dio turun dan membunuh monster itu hanya dengan satu tebasan.
Seolah sejak awal mereka memang menunggu Reina kalah. Sarah kemudian berjalan mendekati Reina yang sekarat. Senyumnya begitu dingin. “Reina… Kamu benar-benar bodoh. Kamu hanyalah pion untuk merebut posisi tokoh utama. Dan ternyata… merebut semuanya darimu jauh lebih mudah dari yang kubayangkan.”
Sarah tertawa pelan sambil mengangkat liontin merah milik Reina. “Terima kasih karena sudah menyerahkan liontin ini kepadaku. “Berkat kebodohanmu… aku bisa menjadi tokoh utama sebenarnya.”
Pandangan Reina mulai kabur. Pendengarannya perlahan menghilang. Dan kegelapan mulai menelannya. Reina langsung tersadar dari ingatannya. Tubuhnya sedikit gemetar. “Tidak… Kali ini aku tidak akan membiarkan semuanya terulang.” Tatapannya perlahan berubah dingin.
Karena badai salju semakin parah, area sekitar gunung menjadi sangat sepi. Hanya ada beberapa anggota militer yang berjaga.
Dan tentu saja Sarah juga berada di sana.
“Nona, area ini berbahaya.”
“Sebaiknya Anda kembali.”
Salah satu anggota militer mencoba menghentikan Reina.
Namun Reina langsung menunjuk Sarah. “Kalau dia boleh masuk, kenapa aku tidak?”
Anggota militer itu langsung gugup. “Ehh… anu… Dia bagian dari tim kami…”
Santo yang berdiri di dekat tenda ikut menoleh. Namun sebelum situasi menjadi aneh Dio datang menghampiri. "Wah. Kukira siapa. Ternyata mantan tunangan.” Dio tertawa mengejek. "Kenapa? Sudah tidak tahan dan mau minta balikan?”
Reina langsung muak mendengar suaranya. Salah satu anggota militer ikut tertawa.
“Meskipun Nona Reina cantik… sepertinya yang bisa dibanggakan cuma keluarganya yang kaya.”
Tatapan Reina langsung berubah dingin. Namun sebelum ia bicara Sarah tiba-tiba melangkah maju. “Sudahlah Dio... Bagaimanapun juga Reina sudah jauh-jauh datang ke kota Utara. Lebih baik dia ikut bersama kita saja.”
Senyum Sarah terlihat lembut. Namun bagi Reina senyum itu terasa menjijikkan. “Dua bajingan…” gumam Reina dalam hati.
Dio akhirnya mengangkat bahu. “Baiklah. Masuk saja.”
Namun Reina justru menatap mereka dengan jijik. “Dengar baik-baik. Kita sudah benar-benar putus. Kalian memang cocok. Sama-sama sampah.”
Suasana langsung membeku. Reina kemudian melangkah melewati mereka. Namun sebelum pergi ia berhenti sejenak. “Oh ya. Jaga sikap kalian. Karena kalau aku mau… aku bisa membuat kalian diusir dari kota ini.”
Tatapan tajam Reina membuat Dio dan Sarah tidak bisa berkata-kata.
Beberapa jam kemudian gunung mulai menunjukkan tanda-tanda erupsi. Tanah bergetar ringan.
Hewan-hewan mulai berlarian panik. Sepuluh menit kemudian guncangan menjadi semakin kuat. Banyak pohon tumbang. Bahkan beberapa anggota militer mulai kesulitan berdiri.
“Ketua!”
“Kalau terus seperti ini kita bisa mati tertimpa pohon!” teriak Santo.
Reina langsung mencoba berpikir cepat. “Jangan bergerak sembarangan!”
“Kita tetap di sini sampai letusan selesai!”
Namun Dio langsung membentaknya. “Diam, Reina! Aku pemimpin di sini! Semua ikut denganku maju ke depan!”
Para anggota langsung ragu. Namun sebelum mereka bergerak Reina kembali berteriak.
“BERHENTI! Kalian tidak merasakan energi aneh itu?! Kalau sekarang kalian mendekat, tubuh kalian bisa hancur!”
Dan tanpa diduga Sarah justru ikut mendukung Reina. "Benar. Itu energi spiritual yang belum stabil. Kalau terserap terlalu banyak, tubuh kita bisa meledak.”
Dio langsung mempercayai Sarah. “Semua tunggu sampai keadaan tenang!”
Reina hanya mendengus pelan.
Sementara itu Sarah mulai merasa ada yang salah. “Menurut alur novel…Seharusnya Reina tidak mengetahui apa pun tentang kultivasi…Kok bisa berubah?”
Sarah langsung memanggil sistemnya.
DING!!
Seekor kucing kecil berbulu biru muncul di hadapannya.
[Kenapa memanggilku? Aku sedang menonton anime.]
Sarah langsung kesal. “Bukankah seharusnya Reina tidak tahu soal energi spiritual?”
Sistem itu langsung memindai Reina. Beberapa detik kemudian ekspresinya berubah aneh.
[Eh…]
[Sepertinya ada bug.]
“Apa?”
[Jiwa Reina terdeteksi telah bereinkarnasi.]
[Dan liontin merah surgawi sudah menyatu dengannya.]
Sarah langsung membelalak. “Apa?! Itu tidak ada di cerita asli!”
[Ya… jadi selamat berjuang.]
BYEEE~
DING!!
Sistem langsung menghilang.
“Sistem sialan!!”bSarah hampir meledak karena marah.
Namun saat itu—
DUAARRRR!!!
Gunung akhirnya meletus. Ledakan besar mengguncang seluruh area. Api, lava, dan asap hitam memenuhi langit.
Dan di tengah kekacauan itu Sarah melihat sebuah kesempatan. Perlahan ia mendekati Reina. Lalu berbisik pelan di telinganya.
“Reina… Meskipun kamu terlahir kembali…Posisi tokoh utama tetap akan menjadi milikku.”
Dan—
DORONG!!
Tubuh Reina langsung terjatuh ke dalam jurang retakan akibat gempa.
“AAAAAHHHH!!” Reina berusaha meraih sesuatu.
Namun tidak ada yang bisa digapai. Tubuhnya terus jatuh ke dalam kegelapan. Air matanya mulai mengalir. “Apakah…Aku gagal lagi…?”