NovelToon NovelToon
Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:24.2k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.

Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.

Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar kos Bayu yang tipis, menyilaukan matanya. Pemuda itu terbangun dengan perut keroncongan. Ia melirik jam di ponselnya yang layarnya retak. Pukul delapan pagi di hari Sabtu.

Bagi kebanyakan pekerja kantoran di Jakarta, hari Sabtu adalah waktunya balas dendam untuk tidur seharian atau nongkrong di kafe estetik. Tapi bagi Bayu, hari ini adalah penentuan hidup dan mati.

Ia bangkit dari kasur busanya yang menipis, meraih dompet kulitnya yang sudah mengelupas. Ia mengeluarkan dua lembar uang dua puluh ribuan.

"Empat puluh ribu rupiah. Kalau aku gagal hari ini, besok aku benar-benar puasa mutih sampai gajian turun," batin Bayu.

Ia menatap kacamata berbingkai kawat yang tergeletak di atas meja lipatnya. Benda itu tampak sangat biasa, persis seperti kacamata minus murah yang dijual di pinggir jalan. Namun, Bayu tahu bahwa benda itu adalah tiketnya untuk keluar dari neraka kemiskinan.

Setelah mandi seadanya dan menenggak air putih untuk mengganjal perut, Bayu segera berangkat. Tujuannya hanya satu: Pasar Poncol, surga barang bekas dan loak di Jakarta Pusat.

Perjalanan menggunakan angkot memakan biaya lima ribu rupiah. Kini uangnya tersisa tiga puluh lima ribu.

Sesampainya di Pasar Poncol, udara panas Jakarta langsung menyambutnya. Aroma karat, debu, dan peluh bercampur menjadi satu. Ratusan pedagang menggelar lapak mereka di atas terpal, trotoar, bahkan di pinggir rel kereta api. Mulai dari sepatu bekas, jam tangan mati, onderdil motor karatan, hingga guci-guci kusam yang diklaim sebagai barang antik.

Suasana sangat bising. Suara tawar-menawar terdengar di setiap sudut.

"Ayo, Mas! Sepatunya masih mulus ini, kulit asli, baru dipakai bule sekali!" teriak seorang pedagang paruh baya sambil memukul-mukul sol sepatu bot kusam.

"Alah, kulit asli dari mana, Bang? Ini mah imitasi, lemnya aja udah ngelupas. Dua puluh ribu deh angkut," tawar seorang pembeli.

Bayu berjalan menyusuri lorong sempit di antara lapak-lapak itu. Ia menarik napas panjang, menenangkan debar jantungnya, lalu memakai kacamata dari sakunya.

Begitu gagang kacamata itu terselip di telinganya, pandangannya berubah.

Dunia di depannya kini dipenuhi oleh kotak-kotak informasi biru transparan yang melayang di atas setiap benda. Bayu menoleh ke arah sepatu bot yang sedang ditawar tadi.

[Sepatu Pabrikan Massal. Material: Kulit Sintetis Kualitas Rendah. Usia: 4 Tahun. Nilai Pasar: Rp 15.000.]

Bayu tersenyum tipis. Penawaran si pembeli tadi ternyata masih kemahalan lima ribu rupiah.

Ia mulai berjalan lebih dalam, menyisir lapak demi lapak. Matanya bergerak cepat, memindai ratusan barang dalam hitungan menit. Harapannya melambung tinggi, namun kenyataan menamparnya dengan cepat.

[Jam Tangan Tembaga. Usia: 10 Tahun. Nilai Pasar: Rp 50.000.]

[Kamera Analog Rusak. Usia: 15 Tahun. Nilai Pasar: Rp 30.000.]

[Guci Tanah Liat Replika. Usia: 2 Bulan. Nilai Pasar: Rp 20.000.]

Dua jam berlalu. Keringat mulai membasahi kemeja flanel usang yang dipakai Bayu. Matahari semakin terik. Perutnya berbunyi semakin nyaring. Dari ratusan barang yang ia pindai, tidak ada satu pun yang nilainya melebihi cepek atau seratus ribu rupiah. Kebanyakan memang murni sampah.

"Mencari barang antik asli di antara tumpukan sampah di era modern ini memang seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Para pedagang ini tidak bodoh, mereka pasti sudah memilah barang yang bagus untuk dijual ke kolektor," batin Bayu mulai frustrasi.

Ia duduk sejenak di sebuah bangku kayu kosong di dekat perlintasan kereta, melepas kacamatanya, dan mengusap wajahnya yang kotor oleh debu. Sisa uangnya hanya tiga puluh lima ribu. Jika ia tidak menemukan apa-apa sampai siang ini, ia harus menyerah dan pulang.

"Minum, Mas? Es teh manisnya segar, cuma tiga ribu!" seorang ibu penjual minuman asongan menyodorkan botol plastik ke arahnya.

Bayu menelan ludah. Tenggorokannya sangat kering. Ia mengambil satu botol dan memberikan uang lima ribu.

"Kembaliannya, Mas," kata ibu itu.

"Makasih, Bu," jawab Bayu sambil menerima dua lembar uang seribu. Saldo: Rp 32.000.

Air dingin itu sedikit menjernihkan pikirannya. Ia tidak boleh menyerah. Kacamata ini adalah keajaiban. Kalau ia menyia-nyiakannya, ia pantas menjadi karyawan rendahan seumur hidup.

Bayu memakai kembali kacamatanya dan berjalan menuju area paling ujung pasar. Area ini lebih sepi, biasanya ditempati oleh pedagang tua yang hanya menjual rongsokan murni yang tidak laku di lapak depan.

Ia berhenti di depan sebuah lapak terpal biru yang sangat kotor. Penjualnya adalah seorang kakek kurus bertopi pudar yang sedang mengantuk sambil merokok kretek. Barang dagangannya sangat menyedihkan. Ada radio transistor yang bodinya pecah, setrika arang berkarat, tumpukan paku bekas, dan majalah-majalah era sembilan puluhan yang sudah dimakan rayap.

Bayu memindai asal-asalan lapak tersebut.

[Setrika Arang. Usia: 40 Tahun. Nilai Pasar: Rp 40.000.]

[Radio Rusak. Usia: 25 Tahun. Nilai Pasar: Rp 5.000.]

Bayu menghela napas, bersiap untuk berbalik pergi. Namun, sudut matanya menangkap sesuatu dari ujung pandangannya. Ada sebuah cahaya keemasan yang sangat terang, berbeda dari warna biru transparan yang biasa ia lihat.

Jantung Bayu seakan berhenti berdetak.

Ia menoleh perlahan ke arah sumber cahaya itu. Cahaya itu berasal dari sebuah mangkuk kusam berwarna abu-abu kehitaman yang tergeletak di pojok terpal. Mangkuk itu tertutup debu tebal, noda tanah, dan sialnya, sedang digunakan oleh si kakek penjual sebagai asbak. Beberapa puntung rokok dan abu berserakan di dalamnya.

Bayu memusatkan pandangannya ke mangkuk kotor itu. Kotak informasi sistem perlahan terbuka, menampilkan teks berwarna emas yang membuat napas Bayu tercekat di tenggorokan.

[Mangkuk Porselen Kekaisaran Ming - Era Xuande]

[Material: Porselen Glasir Biru dan Putih Kualitas Tinggi]

[Usia: 590 Tahun]

[Status: Terlapisi kerak lumpur dan getah, kondisi fisik 95 persen utuh tanpa retak.]

[Nilai Pasar Perkiraan: Rp 450.000.000 - Rp 600.000.000]

1
ラマSkuy
/Proud/
ラマSkuy
nah MC begini yang gua demen 👍
ラマSkuy
wah apakah bukan hanya Bayu yang punya sistem jadi selain MC ada lagi yang punya sistem. tapi unik juga ya biasanya sistemnya itu menyatu dengan jiwa MC tapi ini dihpnya MC
ラマSkuy
nice 👍
Ironside
Bagus Kak /Smile/, btw mana Insectnya /Curse//Curse//Curse/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
ラマSkuy
waw/Sly/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
terserah anda Thor /Ok//Good/
Mamat Stone
pasti salah kaprah 🤣👻
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!